Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 279 S2 (Kepergian Laras)


__ADS_3

Ivan terpaku, bayangan akan kepergian Abbas langsung berkelebat di kepalanya. Ia memandang Khaira yang menangis dalam pelukan Ariq. Rasa bahagia bercampur nestapa menyelimuti hatinya.


“Tante pasti sembuh …. “ Ariq menggenggam jemari Laras berusaha menguatkannya.


Laras sudah tidak mampu berbicara. Perasaannya lega karena keinginannya untuk menyatukan Ivan dan Khaira telah tercapai.  Air matanya mengalir tak berhenti. Ali dan Fatih bergantian menyalami Laras yang sudah semakin pucat.


“Ra … “ suara Laras terdengar semakin pelan.


Khaira mendekat dan menggenggam tangan mertuanya yang semakin dingin. Ia tidak mampu menahan tumpahan air matanya yang mengalir menganak sungai.


“Ka …mu … I … vann … ha … rus … ba …ha …gia …”


“Iya mah …. hu … hu … hu …. “  Khaira tak bisa menahan isaknya lagi. Airmata kembali terjun bebas mengaliri pipinya.


Ia menangis tersedu-sedan di pinggir bed Laras. Bibirnya sudah tak mampu berucap. Melihat Laras yang mulai kesulitan bernafas membuat kenangan akan kepergian Abbas bersarang di kepalanya.


“Van …. “ jemari Laras menggapai meminta Ivan mendekat.


Ivan berdiri tepat di samping Khaira yang masih terisak memeluk tubuh lemah Laras. Jemari Ivan menggenggam tangan Laras.


Dengan pelan Laras melepaskan jemari Ivan dan meraih jemari Khaira yang mengusap tangan kirinya yang berada di atas perutnya. Perlahan ia menyatukan jemari Ivan dan Khaira kemudian menggenggamnya erat.


Ivan merasakan kehangatan  saat jemarinya menyentuh jemari Khaira dalam genggaman tangan mamanya.  Ia memandang lekat perempuan yang mulai ia ikhlaskan tetapi takdir Allah telah  mengembalikan Khaira di sampingnya.


“Innalillahi wainna ilaihi rojiun …. “ KH. Abdullah mengguman pelan.


Ivan terperangah. Ia memandang wajah mamanya yang kini terpejam, senyum tergambar jelas di sudut bibirnya.


“Innalillahi wainna ilaihi rojiun …. “ bibir Ivan bergetar saat mengucapkannya.


Isak tangis Khaira tak mampu ia tahan. Ia berduka atas kepergian mertuanya. Walau pun sempat membuat luka, tapi kebaikan Laras selama ia menjadi menantunya akan selalu ia kenang seumur hidupnya.


“Van, kita langsung mengurus jenazah mamamu …. “ tepukan Ali di pundaknya membuat Ivan tersadar dari keterpakuannya.


Khaira tidak mampu mengangkat tubuhnya saat ucapan KH. Abdullah serta Ivan tetangkap telinganya. Ia tidak menyangka Laras akan pergi secepat ini meninggalkan dunia. Baru saja tadi malam ia mendengar curahan hati dan permintaan Laras agar ia dan Ivan kembali bersama menjadi keluarga yang utuh bagi pertumbuhan dan perkembangan Fajar dan Embun di masa depan.


“Yang …. “  Ivan  menggoyang pundak Khaira yang masih tertelungkup di tubuh Laras.


“Jangan-jangan Rara pingsan lagi  …. “ Fatih  berkata pelan.


Benar saja apa yang dikatakan Fatih, Khaira sudah tidak sadarkan diri mendengar perkataan Ivan saat mengetahui mamanya telah meninggal dunia.


“Menyusahkan saja,” Fatih  ngedumel menyaksikan Khaira yang tidak bergerak karena shock mendengar kepergian mertuanya yang telah mengorbankan dirinya untuk keselamatan dirinya  dan si kembar.

__ADS_1


“Biar aku yang membawa Rara …. “ Ivan mencegah Fatih yang mulai mengulurkan tangannya ke pinggang  Khaira.


“Kamu harus mengurus tante Laras,” potong Fatih cepat, “Sore ini juga jenazah beliau sudah harus dikebumikan.”


Ivan terdiam. Ucapan Fatih cukup masuk akal. Yang harus ditanggulangi sekarang adalah jenazah mamanya yang sudah harus dilakukan prosesi fardhu kifayah. Yang terpenting Khaira mulai detik ini sudah menjadi istrinya dan itu ibadah seumur hidup yang bisa dilakukan setelah pengurusan jenazah selesai.


“Ustadz Hanan sudah meminta petugas fardhu kifayah datang. Akan dibawa kemana jenazah tante Laras?”  Ali menatap Ivan yang masih kebingungan.


“Langsung ke rumah mama saja mas,” Ivan harus memberi keputusan yang cepat.


Semua harus dilakukan secara cepat, tidak boleh ditunda-tunda lagi. Karena semakin lama dibiarkan akan memberatkan bagi si mayat. Dan menyegerakan adalan lebih baik.


Ia merasa dejavu saat melihat ketiga saudara iparnya; Ariq, Fatih dan Valdo bersama supir ambulan mendorong brankar yang berisi jenazah mamanya. Di belakangnya Ali mendorong kursi roda Khaira yang mulai sadar beberapa saat yang lalu saat petugas medis mencabut alat-alat medis yang masih terpasang di tubuh Laras.


Bayangan Roni dan petugas medis yang mendorong jenazah Abbas dengan Khaira di belakangnya yang duduk di kursi roda didorong oleh Junior berkelebat di kepalanya.  Ia tidak bisa memandang wajah istri Abbas karena saat itu Khaira menundukkan kepala dalam keadaan berduka.


Kini Ivan merasa berada di posisi itu. Allah telah memberikan musibah yang begitu besar padanya dengan mengambil mamanya, perempuan yang selalu membelanya disaat ia selalu melakukan kesalahan, bahkan menyemangati dan memberinya penghiburan saat ia berada di kondisi terburuk.


Ivan berprasangka baik kepada Allah, bahwa itu adalah penghapus dosanya kepada almarhum Abbas. Dan ia ikhlas menjalani semua itu. Ia menatap Khaira yang tertunduk lesu dengan tangan menutup wajah di kursi roda yang didorong Ali mengiringi jenazah mamanya.


Ingin rasanya ia memeluk untuk saling menguatkan. Dalam kesedihan yang ia rasakan karena kehilangan perempuan satu-satunya yang selalu mendukungnya sejak lahir hingga saat ini, terselip juga rasa bahagia yang membuatnya memiliki semangat baru.


Ia kehilangan mama untuk selamanya, tetapi ia kembali mendapatkan perhatian dari saudara iparnya yang selalu siaga mendampinginya di saat seperti ini. Dan terlebih lagi bidadari surganya telah kembali dalam pelukan.


Saat tiba di kediaman mamanya keluarga besar telah berkumpul. Om Sadewo dan tante Indah sebagai perwakilan tuan rumah telah menyambut para pelayat dari rekan sosialita almarhumah Laras maupun rekan bisnisnya.


“Cepatlah ganti pakaianmu, kita akan segera pergi ke pemakaman,” Ariq berbisik padanya ketika ia masih bingung harus berbuat apa saat jenazah sedang dimandikan.


Dengan tak bersemangat Ivan melangkah ke kamarnya di atas. Dari tangga tempatnya berjalan saat ini  tak sengaja ia melihat Khaira yang menangis sambil memeluk si kembar di ruang keluarga bersama keempat saudari iparnya yang berusaha menyemangati dan menguatkannya.


“Ya, Allah hamba harus kuat,” Ivan bermonolog dalam hati, “Sekarang aku mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi istri dan anak-anakku.”


Serasa mendapat spirit baru, membuat Ivan melangkah dengan pasti. Segala keputusasaan dan kebimbangan yang sempat hadir di hatinya langsung sirna. Ia harus kuat mulai detik ini. Sekarang bukan dirinya, tapi ada Khaira dan anak-anak yang harus ia lindungi.


Harta berharga yang akan  ia jaga seumur hidup dengan segenap jiwa dan raganya. Tak akan ia mengambil resiko sekecil apa pun yang akan membuatnya terpisah dengan orang-orang terkasihnya.


Saat ia turun ke bawah, jenazah mamanya sudah dikafani tinggal wajahnya saja yang dibiarkan terbuka.


“Mungkin ada sanak keluarga yang ingin memberikan ciuman perpisahan untuk almarhumah nyonya Larasati binti H. Darmono Priawan,”  perkataan ustadz Hanan membuat Ivan mendekat.


Ia tau, ini adalah komunikasi terakhir yang akan terjadi antara ia dan mamanya. Setelah ini tidak adalagi kenangan yang tertinggal akan wajah cantik mamanya selain dari album foto yang tersisa. Ivan mendekat ke wajah Laras yang pucat tetapi memancarkan senyum kebahagiaan dari bibirnya yang selalu mengucapkan kata-kata lembut dan bijak.


Sebelum mencium Laras, Ivan berbisik lama di telinga jenazah mamanya yang telah terbujur kaku untuk mengucapkan kata-kata terakhir serta doa tulus buat sang mama.

__ADS_1


“Mah… aku mengucapkan terima kasih atas perjuangan terhebat yang mama lakukan untukku …. “ Ivan menahan sesak di dadanya. Tak terasa setitik air mata jatuh membasahi kumis dan jenggotnya yang sampai saat ini masih betah menghiasi wajah tampannya.


“Mama perempuan sempurna yang aku miliki di dunia ini ….” Ivan menarik nafas untuk menetralisir suasana hatinya yang mendadak melow.


“Aku berjanji akan menjaga anugerah terindah yang mama wasiatkan untukku …. “ Ivan menutup matanya agar airmatanya tidak menetes. Ia harus kuat, “Aku tidak akan menyia-nyiakan perjuangan mama hingga akhir demi kebahagiaanku bersama Rara dan si kembar.”


Ivan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.


“Mama perempuan terhebat yang Allah anugerahkan menjadi jalan surgaku ….”  Ivan menggigit bibirnya pelan berusaha menguatkan hati untuk memberikan kata kenangan terindah dan doa terbaik buat mamanya.


“Surga Allah telah menanti mama …. “ Ia tidak mampu berkata lagi.


Dengan segenap cinta dan kasih sayang sebagai seorang anak Ivan mencium kening mamanya untuk yang terakhir kali.


“Van …. “ Ali menepuk pundaknya dari belakang.


Ivan mundur ke belakang. Ia melihat Khaira yang sudah berada di sampingnya begitu ia duduk di samping  jenazah Laras.  Pandangannya menatap Khaira yang beranjak mendekati jenazah.  Tampak mata Khaira  memerah dengan sisa-sisa air mata yang  kelihatan di sudut matanya.


Khaira memejamkan mata sesaat sebelum membisikkan kata-kata terakhir untuk mantan yang kini telah kembali menjadi mertuanya.


“Maa … maafkan aku yang belum bisa menjadi menantu yang baik buat mama dan mas Ivan …. “ Khaira menghela nafas secara perlahan, “Aku juga mohon maaf karena telah menyembunyikan keberadaan si kembar dari mama dan mas Ivan selama ini.“


Ia memandang wajah pucat mertuanya yang kini terbujur kaku dengan perasaan berkecamuk. Beban emosional yang bercampur aduk di benaknya susah untuk Khaira ungkapkan. Tapi kenangan selama lima hari saat si kembar opname di rumah sakit membuatnya sadar bahwa Ivan dan mamanya telah menjadi ayah dan eyang yang sempurna untuk si kembar.


Bagaimana mungkin ia masih menyangsikan ketulusan yang terpancar dari sikap serta perilaku selama kebersamaan mereka di rumah sakit.


Laras telah membuktikan bahwa ia adalah mertua dan eyang siaga bagi menantu dan cucu kembarnya yang begitu banggakan. Tak kenal lelah ia membantu Khaira dan menggantikannya jika ia ada keperluan mendesak yang tak bisa ia tinggalkan.


Begitu pun Ivan, ia telah menjadi sosok ayah siaga sejak awal si kembar masuk rumah sakit. Walau pun ia berusaha memalingkan wajah saat mata bertemu, tapi ia melihat kesungguhan yang terpancar di wajah Ivan.


Tidak mungkin selamanya ia menutup mata dan hati atas semua perbuatan yang telah dilakukan Ivan dan mamanya sebagai pembuktian kesungguhan mereka dan pertanggungjawaban atas kesalahan mereka di masa lalu.


“Demi mama yang telah berkorban buat aku dan Fajar …. “  Khaira menarik nafas dengan pelan dan menghelanya secara perlahan,  “Aku akan berusaha menjadi istri yang baik bagi mas Ivan seperti keinginan mama …. “


Ia mencium kening Laras selama beberapa menit dan memejamkan mata berusaha mengingat kenangan terakhir bersama mertuanya yang kini telah pergi meninggalkan dunia  untuk selama-lamanya.


“Mama  eyang terbaik dan terhebat yang akan selalu ku ceritakan pada Fajar dan Embun. Walau pun mama telah tiada, nama mama akan selalu  abadi dalam hati kami. Surga Allah menanti mama …. “


Khaira mundur kembali dan duduk di sisi Ivan dengan wajah tertunduk berusaha menguatkan hatinya akan kepergian perempuan yang telah mengorbankan dirinya untuk keselamatan ia dan Fajar.


Ivan tau, bukan hanya dirinya yang kehilangan. Dari apa yang ia lihat, Khaira pun sangat kehilangan mamanya. Kini ia yakin saatnya mereka berdua saling menguatkan. Bukan hanya mereka berdua, tapi saudara Khaira akan menjadi tim yang solid dan menjadikan mereka keluarga yang hebat dan saling menguatkan  saat tertimpa musibah seperti saat ini.


***Jangan lupa komentar\, vote\, like\, kopi dan bunganya  sebagai mood booster author ya.  Mungkin kisah perjuangan cinta Ivan untuk meraih hati Khaira tinggal beberapa bab lagi akan berakhir. Tetap dukung ya. Salam sayang untuk readerku  yang setia dengan semua dukungan yang diberikan.

__ADS_1


Author merasa tersanjung dan terharu sekaligus baper atas semua yang telah reader berikan  bagi karya author yang  BARU BELAJAR BERKARYA INI.


Semoga readerku tersayang selalu sehat dalam menjalani aktivitas di mana pun berada ...  ***


__ADS_2