
Ivan tak bisa menolak keinginan Intan yang terus merayunya untuk makan siang di restoran yang cukup mewah di pinggiran kota. Memasuki restoran azan Zuhur terdengar hingga ia meminta Danu meminggirkan mobil, karena ia ingin melaksanakan salat Zuhur di masjid yang lokasinya berseberangan dengan restoran yang akan mereka singgahi.
“Makan aja dulu Mas. Salatnya ntar aja .... “ Intan berusaha menghentikan keinginan Ivan.
Danu yang berada di posisi kemudi jadi heran dengan pikiran perempuan cantik yang mengaku dekat dengan bosnya itu.
“Pakaian aja tertutup, tapi belum sinkron dengan mulutnya .... “ batin Danu sambil memandang Intan sekilas dari dashboard.
“Kamu pesen aja dulu. Aku akan menyusul nanti,” ujar Ivan sambil melemparkan senyum membuat hati Intan berbunga-bunga.
Ia yakin, akan ada celah untuk mendekati lelaki yang begitu berkharisma di matanya. Tatapannya langsung melotot melihat pandangan sinis Danu dari kaca dashboard.
“Ngapain liat-liat?” ketusnya pada Danu.
Danu hanya menggelengkan kepala tak percaya melihat tingkah Intan. Ia tidak menyangka perempuan yang selama ini begitu anggun dan tampak dewasa saat bertemu dan melayani nasabah serta klien bisa bersifat seperti ulat saat bertemu dengan bosnya.
Memang selama ini Berli, ustadz Hanan serta dirinya lah yang telah menandatangani MOU tentang kerjasama pembayaran para konsumen yang memesan perumahan yang jadi produk andalan perusahaan properti bosnya.
Tapi ketika ustadz Hanan menyebut tentang Ivan, Intan penasaran dan meminta Danu untuk mempertemukan mereka. Akhirnya dengan terpaksa Danu menuruti keinginan manajer bank tempat mereka melakukan penandatanganan kontrak kerja sama.
Ivan menyelesaikan salat Zuhur dengan diikuti Danu berjalan di belakangnya. Ia membuka ponsel untuk melihat kalau ada yang menghubunginya.
“Astaga .... “ Ivan menggelengkan kepala dengan perasaan kesal melihat ponselnya drop.
Ia lupa mencash. Semalaman Embun memainkan ponselnya hingga tertidur bersama Fajar dan ia tidak memperhatikan kondisi batere saat berangkat dari rumah.
Intan benar-benar mendominasi percakapan. Ivan hanya tersenyum tipis melihat antusias perempuan yang menceritakan masa muda mereka saat masih bertetangga.
“Kita pulang sekarang,” Ivan berkata tegas pada Danu.
Ia tau, Intan telah membuang waktunya terlalu banyak. Padahal ia telah mempunyai rencana untuk berduaan dengan Khaira dan mengajaknya untuk menikmati kulineran luar di siang hingga menjelang malam.
“Mas, jalan dulu yok. Mumpung aku masih di sini. Minggu depan aku ada kegiatan di Jakarta .... “ Intan masih berusaha menahan Ivan.
“Maaf!” Ivan tersenyum datar sambil melirik jam di pergelangan tangannya, “Sudah waktunya aku menjemput bundanya anak-anak.”
Danu tersenyum puas mendengar ucapan bosnya. Ia tau, Ivan hanya menghargai keberadaan Intan mengingat keduanya pernah bertetangga di masa lalu. Tapi melihat gerak-gerik Intan, ia yakin ada maksud yang tersirat dari segala tingkah lakunya selama kebersamaan yang terjadi seharian ini.
Memasuki gapura, keduanya dikejutkan dengan suara sirine ambulans yang keluar dari lingkungan pondok pesantren.
Ivan merasa ada sesuatu yang tidak nyaman hadir tiba-tiba mengganggu perasaannya.
“Ada musibah apa sehingga ambulans keluar dari sana?” Ivan memandang ambulans dengan perasaan khawatir.
Danu menggelengkan kepala cepat. Ia segera menghentikan mobil di depan kantor, dan membukakan pintu untuk Ivan dan Intan yang keluar bersamaan.
“Mas gak antar aku pulang?” tanya Intan manja.
Sikap Intan benar-benar membuat Danu merasa muak. Ia dan Ivan masih berdiri menunggu Intan yang akan kembali ke mobilnya yang terparkir dengan sopir yang masih menunggu dengan sabar.
__ADS_1
“Maaf Intan. Untuk selanjutnya kamu bisa menghubungi Danu,” Ivan berkata dengan tegas.
Ia menyadari bahwa Intan bukanlah anak remaja untuk berbasa-basi, tetapi perempuan dewasa yang menginginkan hal lebih. Dan ia sangat paham akan hal itu.
“Assalamu’alaikum Pak .... “ tiba-tiba pak Kusno takmir masjid pondok datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
“Ada apa pak Kusno?” Ivan memandang pak Kusno dengan heran, karena tak biasanya takmir masjid itu datang menemuinya.
“Bundanya si kembar .... “ pak Kusno belum selesai berbicara.
“Apa yang terjadi dengan Rara?” Ivan langsung memotong ucapan pak Kusno.
“Ibu pingsan saat di mushola ..... “
“Astagfirullahaladjim ....” Ivan terkejut mendengar ucapan pak Kusno, “Sekarang bunda dimana?”
“Sudah dibawa ambulans ke puskesmas terdekat.”
“Ayo ikut saya,” Ivan berkata pada pak Kusno tanpa memperhatikan sekelilingnya.
Dengan cepat Ivan meraih kunci mobil di tangan Danu dan membawa pak Kusno bersamanya.
Intan terdiam melihat kejadian di depan matanya. Ia tak menyangka sikap Ivan langsung berubah kaku mendengar kejadian yang menimpa istrinya.
“Maaf Bu. Kami permisi. Ibu bisa kembali,” Danu berkata dengan sopan pada Intan dan berjalan cepat menghampiri Ivan yang baru saja menutup pintu mobil.
Dalam perjalanan Ivan berusaha menahan kekesalan hatinya karena tidak berada di sisi sang istri.
Ingin rasanya Ivan melempar ponselnya untuk membuang amarah yang terasa memecahkan kepala. Ia mengusap wajah dengan kesal. Dalam waktu 5 jam ia melewatkan untuk menghubungi sang istri karena terlalu sibuk dengan aktivitas di kantor dan ....
“Danu, jangan pernah biarkan perempuan tadi datang kemari. Kalau perlu pindahkan kerja sama dengan bank lain,” Ivan berkata dengan gusar.
Akhirnya ia memutuskan untuk tidak menerima semua yang berkaitan dengan Intan dan kerja sama dalam jangka panjang.
Danu hanya mengangguk pelan. Ia tidak berani menjawab karena khawatir dengan bosnya yang masih dikuasai emosi mengetahui sang istri pingsan dan dibawa oleh laki-laki lain.
Ia tau bahwa ustadz Hanan dan ustadzah Fatimah sedang berada di kampung orangtuanya. Keduanya sedang bebahagia, karena setelah sekian lama menanti, ustadzah Fatimah hamil disaat usianya telah menginjak 41 tahun.
Dan semua benar-benar merupakan anugerah dan kebahagiaan terbesar bagi keduanya. Ivan telah diberitahu ustadz Hanan bahwa istrinya menjelang melahirkan hingga akhirnya dibawa ke rumah orangtuanya hingga masa nifasnya selesai demi keselamatan dan kelancaran persalinan yang telah ditunggu selama belasan tahun.
“Selain ustadz Helmi siapa lagi lelaki yang bersama istriku?” Ivan tak bisa membuang rasa penasarannya.
Danu tersenyum kecil tetapi hanya di dalam hati mendengar pertanyaan bosnya. Ia yakin bosnya kalut. Ia saja merasa khawatir dengan peristiwa yang menimpa nyonya, apalagi si bos. Pikirannya melayang saat mengingat ambulans yang berpapasan dengan mereka tadi.
“Seharusnya ambulans tadi langsung kita cegat,” Ivan berkata dengan wajah muram.
“Berdoa saja Pak, semoga kondisi ibu tidak mengkhawatirkan,” pak Kusno berusaha menenangkan Ivan yang tampak gusar dan menghela nafas dengan kasar.
Memasuki gerbang puskesmas, belum sempat Danu memarkirkan mobil Ivan langsung membuka pintu dan menerobos dengan cepat. Langkah lebarnya mengantarkan Ivan pada petugas admin yang berada di aula puskesmas kelas II yang juga menerima rawat inap.
__ADS_1
“Di mana istri saya?” kejar Ivan dengan cepat begitu melihat perawat jaga yang berdiri di meja admin.
“Maaf Pak, siapa nama istrinya?” Perawat yang ber-name tag Riri bertanya dengan sopan.
“Pak Ivan .... “ suara ustadz Helmi membuat Ivan segera mengalihkan pandangan padanya.
“Di mana istri saya?” Ivan langsung memberondong ustadz Helmi yang kini berada di hadapannya.
“Mari saya antar,” ustadz Helmi berkata dengan sopan melihat wajah Ivan yang memandangnya dengan tatapan tak senang.
“Beliau sedang diperiksa bidan,” ujar ustadz Helmi dengan tenang.
Keduanya berjalan berdampingan. Ustadz Helmi menahan senyum melihat Ivan yang wajahnya menampakkan kekhawatiran luar biasa.
“Di sini kamarnya,” ustadz Helmi menunjukkan ruangan dimana keberadaan Khaira.
Ivan melihat ustadzah Ainur dan dua orang santriwati yang menganggukkan kepala dengan santun padanya.
“Terima kasih atas bantuan ustadz Helmi dan ustadzah .... “ Ivan merendahkan suara saat mengucapkan rasa terima kasih pada mereka yang telah membawa istrinya.
Dengan perasaan berdebar Ivan memasuki ruangan dimana Khaira sedang berbaring diperiksa oleh seorang bidan.
“Sayang .... “ Ivan memanggil istrinya dan langsung berdiri di sampingnya untuk melihat kondisi sang istri yang tampak pucat dengan keringat dingin yang mengalir.
Ia meraih jemari sang istri dan mengecupnya tanpa mempedulikan senyum bidan senior yang memeriksa Khaira.
“Terima kasih bu Ratna,” ujar Khaira lirih pada bidan senior yang telah berpengalaman menangani perempuan dalam kondisi sepertinya.
“Sudah berapa lama bunda tidak datang bulan?” Bunda Ratna bertanya pelan begitu selesai memeriksa tensi Khaira.
“Sudah hampir sebulan Bu .... “
Perasaan Ivan menegang mendengar jawaban sang istri. Jantungnya mulai berdegup tak beraturan.
“Lho .... ?” Bidan Ratna mengerutkan jidatnya.
“Memang kami sedang program Bu,” cepat Ivan menjawab dengan senyum yang terukir di bibirnya.
“Bagaimana Bunda .... “ tatapan bidan Ratna kembali pada Khaira.
“Setahunan ini memang mens saya tidak lancar, tetapi masih rutin.”
Senyum terbit di wajah bidan Ratna, “Saya rasa bunda hamil. Untuk kepastiannya bisa USG ke dr. Indra, SPOg.”
“Alhamdulillah ya Allah .... “ Ivan mengucap syukur mendengar ucapan bidan Ratna.
Tanpa mempedulikan keberadaan bidan Ratna ia memberikan kecupan bertubi-tubi pada wajah sang istri, membuat wajah Khaira memerah menahan malu.
“Mas .... “ Khaira menahan wajah Ivan.
__ADS_1
“Permisi Bunda, Ayah .... “ Bidan Ratna tersenyum kecil ketika melangkahkan kaki keluar dari ruangan.