Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 151 S2 (Kau Telah Ku Tandai)


__ADS_3

Ivan membuka mata saat merasakan cahaya mentari menyilaukan matanya. Tidurnya  sangat pulas. Baru kali ini ia merasa tenang dan lelap dalam tidur.  Senyum terbit di wajah tampannya mengingat apa yang telah terjadi tadi malam.


Ia tersadar, teringat dengan Rara wanita yang membuatnya bertekuk lutut atas permainan yang ia lakukan hingga membuatnya terjebak dan tak bisa mengakhirinya sampai titik di mana ia memperoleh kepuasan yang tak pernah ia rasakan.


Dengan cepat Ivan bangkit dari tempat tidur dan memandang sekelilingnya. Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang lain di ruangan itu selain dirinya. Mata Ivan terpaku melihat bercak merah yang hampir mengering di seprai tempat tidur yang putih dan bersih.


“Astaga …. “ Ivan memegang kepala dengan kedua tangannya menyadari apa yang telah ia lakukan tadi malam.


Bayangan tentang perbuatan yang telah ia lakukan terhadap janda Abbas kembali berputar memenuhi kepalanya. Ia tidak menyangka bahwa ia telah merenggut sesuatu yang bukan miliknya.


“Aku telah merampas kehormatan Rara,” batin Ivan mulai dihinggapi perasaan bersalah sekaligus cemas.


Bagaimana bisa ia melakukan perbuatan terkutuk itu. Ivan menggelengkan kepala tak percaya. Akal sehat yang ia miliki  hilang hanya karena  perasaan yang ia miliki terhadap seorang perempuan muda yang tak lain adalah janda temannya sendiri.


Ivan menatap kamar mandi, dengan perlahan ia berjalan dan membuka pintu. Kosong, tidak ada siapa pun. Ia berjalan menuju wastafel dan mulai mencuci muka di sana. Ivan terkejut saat menatap tubuhnya. Dadanya yang tegap dengan 6 roti sobek penuh dengan cakaran.


Ia tersenyum misterius sambil menelusuri bekas cakaran dengan jemarinya. Bukan hanya satu tetapi banyak, sehingga seperti lukisan abstrak yang menghiasi dada bidangnya yang putih.


Samar-samar Ivan mendengar ketukan di pintu. Ia mengerutkan keningnya dengan rasa heran. Akhirnya Ivan berjalan dan membuka pintu.


Anwar terkejut melihat seorang lelaki muda yang membuka pintu kamar Rara hanya menggunakan handuk dengan rambut masih acak-acakan dengan wajah bantalnya.


Ivan ingat sosok itu, lelaki yang bersama Rara selama beberapa hari ini yang  membuat emosinya memuncak. Senyum meremehkan terbit di wajah  Ivan mengingat dialah yang telah memiliki kehormatan perempuan yang telah merendahkannya.


“Mana Rara?” Anwar langsung menerobos masuk.


Sudah hampir satu jam dia menunggu di depan kamar tapi tak ada tanda-tanda yang menunjukkan keberadaan Khaira. Ia mencoba menghubungi ponsel, tapi sama saja tidak ada jawaban. Karena penasaran ia langsung mengetuk pintu, dan keterkejutan tergambar jelas di wajahnya saat melihat wajah tampan dengan muka bantal yang hanya menggunakan handuk keluar dari kamar yang ia ketahui tempat Khaira menginap.


“Dia tidak berada di sini,” jawab Ivan santai mengamati kelakuan Anwar yang penasaran hingga meneliti dengan seksama.


“Aku tidak percaya.” Anwar memandang Ivan dengan tajam.


Tatapannya beralih pada menu makan malam yang tidak tersentuh sama sekali. Ia kembali menatap Ivan, “Kenapa anda berada di kamar ini?”


“Apa hakmu melarangku di kamar ini? Aku punya uang untuk menyewa kamar mana pun yang ku mau,” Ivan duduk dengan santai.


Tangannya meraih remote tv dan mulai menyalakannya tanpa mempedulikan Anwar yang masih penasaran dengan keadaan kamar yang tampak hening.


Dengan perasaan berat Anwar keluar dari kamar itu. Berbagai pertanyaan hinggap dikepalanya mengingat Khaira tidak memberitahukan keberangkatannya yang secara dadakan.


Ivan tersenyum sinis begitu Anwar berlalu dari hadapannya. Pintu kamar terbuka lagi, ia merasa bahwa Anwar yang kembali.

__ADS_1


“Bagaimana hasilnya?” Edward langsung memberondongnya dengan pertanyaan.


Ivan tidak menyangka kalau Edward akan mengunjunginya secepat ini. Dengan santai ia bangkit dari kursi dan mengambil ponsel di kamar menghubungi Hari untuk membawakan pakaiannya.


Edward hanya menggelengkan kepala melihat kelakuannya. Saat melihat Ivan kembali dari kamar, dengan jelas ia melihat lukisan indah di dada Ivan. Matanya terbelalak tak percaya, apalagi dengan penampilan Ivan yang masih muka bantal dan hanya berbalut handuk.


“Wah, banyak sekali lukisan abstrak yang tergambar di dadamu.” Edward mencibirnya, “Seperti yang ku katakan kamu akan terbakar.”


“Dia virgin.” Ivan berkata menatap Edward dengan wajah berubah suram.


“Wah, kamu sangat beruntung. Bagaimana rasanya?” Edward menatapnya dengan antusias, walau pun sedikit keheranan karena suara Ivan tidak bersemangat.


“Aku menyesal melakukannya. Rasanya aku mengkhianati Abbas temanku.” Ivan menutup wajahnya dengan kedua tangan berusaha mengusir kegundahan yang menyelimuti perasaannya tiba-tiba.


“Gentlemen dong. Kamu harus minta maaf dengan temanmu,” Edward jadi bingung melihat sikap Ivan.


“Dia sudah meninggal,” suara Ivan makin berat.


“Kamu nikahi saja. Aku yakin setiap perempuan pasti akan senang hati jika seorang Alexander Ivandra datang  melamarnya.”


Ivan terdiam. Apa semudah itu? Apa Rara akan menerima lamarannya setelah ia melakukannya dengan paksa? Bagaimana jika Rara menolaknya?


“Selama ini aku telah salah sangka,” Ivan berdiri berjalan menjauh menuju jendela, dan mulai melihat  pemandangan di luar sambil menghela nafas berat.


Edward tak berkomentar, ia ingin mendengarkan kelanjutan perkataan Ivan untuk mengetahui sampai di mana drama percintaan  yang sedang dihadapi temannya itu.


“Aku terlalu meremehkan perempuan itu sejak awal. Tidak ada yang istimewa pada sosoknya. Aku menyangka dia hamil sebelum pernikahannya dengan Abbas. Bahkan menuduhnya  bermain dengan laki-laki lain sepeninggal temanku.”


Edward hanya manggut-manggut mendengar cerita Ivan, “Kenapa kamu jadi semelow ini? Apa karena kamu telah jatuh cinta padanya?”


“Aku berusaha mengingkari perasaan itu,” Ivan menggelengkan kepalanya teringat wajah menyedihkan yang berurai air mata saat ia telah melakukan perbuatan terlarangnya.


“Sekarang di mana perempuan itu?” Edward mulai penasaran melihat ruangan yang hanya ada mereka berdua.


Ivan menggelengkan kepala tak bersemangat. Perasaan berdosa terhadap almarhum Abbas juga bayangan sendu wajah Rara membuatnya malas untuk melakukan apa pun.


“Ayolah Lex. Apa kau tidak ingin tau siapa yang melindungi perempuan itu dan membawanya pergi dari sini?”


“Apa yang akan kau lakukan?” Ivan menatap Edward dengan malas.


“Kita lihat cctv untuk mengetahui jam berapa ia pergi?”

__ADS_1


“Untuk apa aku mengetahui itu?”


“Kenapa kau jadi sebodoh ini. Perasaanmu pada perempuan itu memang membuatmu jadi manusia paling bodoh yang ku kenal.” Edward mulai memakinya karena kesal menghadapi Ivan yang tak bergeming dari posisinya yang masih berdiri dekat jendela.


Ketukan di pintu menghentikan pembicaraan keduanya. Tampak Hari memasuki kamar suite itu sambil membawa paper bag.


Ivan menatap Hari sekilas. Ia harus kembali ke Jakarta secepatnya dan meluruskan permasalahan yang terjadi antara ia dan Khaira.


“Kamu dan Gisel harus mengatur jadwal model yang akan melakukan pemotretan untuk perusahaan tuan Edmond. Sore nanti aku akan kembali ke Jakarta.”


“Baik tuan.” Hari berkata dengan cepat.


Ia tidak menyangka Ivan akan meninggalkan Paris secepat ini. Padahal dari bisik-bisik yang ia dengar dari sesama model termasuk Sandra, Ivan akan berada di Paris selama 5 hari, tapi kenyataannya baru saja 3 hari dia sudah akan kembali.


“Cukup kamu saja yang tau kepulanganku. Tidak usah bicara dengan yang lain. Segala pembiayaan langsung kirim ke emailku. Sesampai di Jakarta Roni yang akan mengurusnya.”


“Baik tuan.” Hari berkata sambil menganggukkan kepala, “Saya permisi.”


Ivan mengangguk dan meraih paper bag yang terletak di atas meja, kemudian sosok kokohnya menghilang di balik pintu kamar.


Satu jam kemudian Edward dan Ivan sudah duduk dengan santai di ruangan kontrol cctv. Seorang operator kepercayaan Edward segera membuka rekaman mulai jam delapan malam.


Ivan melihat dengan seksama saat Khaira dan  Anwar yang berbincang sebentar di depan pintu kamar hingga akhirnya Khaira memasuki kamar dan dua body guardnya yang sudah stay menjaga depan pintu.


Alur yang ia dan Edward atur mulai berjalan. Saat dua orang perempuan muda mengundang kedua body guard datang ke ruangan Edward dan dijamu Edward dengan wine berkelas. Dan kemunculan Ivan yang menggantikan OB mengantarkan makan malam pesanan Anwar untuk Khaira menjadi penutup malam itu hingga tepat pukul 2 dini hari tampak ia keluar dengan travel bag yang sudah siap. Dengan langkah terseok-seok Khaira melangkah mengikuti kedua body guard.


Hati Ivan terasa hampa melihat kepergian sosok yang telah mengunci hatinya dengan kuat. Ia tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya. Perasaan berdosa juga kehilangan seolah bersaing membuat hatinya merasa sedih.


“Kalau kau mencintainya kejarlah.”


“Aku tidak yakin dia menerimaku.”


“Kenapa kamu jadi pesimis?”


“Entahlah …. “


“Aku yakin kamu bisa menaklukkannya. Setiap perempuan akan tersentuh dengan perhatian. Aku akan membantumu untuk mendapatkan cintamu.”


Ivan tersenyum tipis. Secercah semangat  hinggap di hatinya, “Yah, aku akan menemuimu. Karena kau telah ku tandai.”


Dukung dan tetap semangat ya!

__ADS_1


__ADS_2