Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 82


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Rudi sudah datang membawakan pakaian serta sarapan untuknya. Faiq merasa beruntung pada saat seperti ini Rudi sudah bekerja padanya. Dan ia sangat dapat diandalkan.


“Apa yang harus saya lakukan, bos?” Rudi menatap Faiq dengan cemas.


Keduanya duduk di sofa di dalam ruang inap Hani. Rudi dapat mengetahui kesedihan yang menimpa Faiq. Ia tak berani bersuara. Keduanya terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing. Faiq menghela nafas berat. Matanya menerawang jauh menatap kesunyian di pagi yang dingin itu. Ia masih memikirkan tindakan yang akan ia lakukan jika pengirim  foto di ponsel Hani ditemukan.


“Bos…” Rudi menepuk bahu Faiq.


Faiq mengalihkan pandangannya pada ponsel Hani yang tergeletak di atas meja. Tangannya meraih ponsel dan mengulurkan pada Rudi.


“Tindakan apa yang akan kau lakukan jika berada di posisiku?”  tanya Faiq dengan pikiran yang masih melayang jauh.


Rudi mengamati ponsel Hani. Tangannya dengan lincah membuka dan langsung melihat isi ponsel tersebut.  Tanpa berpikir panjang Rudi sudah yakin bahwa pelakunya adalah Hesti. Karena ia sudah mencurigai sejak awal. Walaupun bisa jadi, Hesti bekerja sama dengan orang lain untuk mengambil foto-foto saat kebersamaan mereka.


“Bagaimana menurutmu?” Faiq menatap Rudi yang masih asyik membuka galeri foto.


“Tanpa ku katakan, pasti bos sudah bisa menebak pelakunya.” Jawab Rudi lugas.


“Aku tidak yakin…” Faiq tidak ingin gegabah menuduh orang sembarangan, ia khawatir menjadi fitnah.


“Bukankah aku sudah sering memperingatkanmu, Hesti tidak seperti yang bos pikirkan.” Rudi dengan cepat menyela, “Aku sudah mengenal Hesti lama. Aku yakin dia tidak bermain sendiri. Lihatlah kondisi mbak Hani, apa bos masih membelanya?”


Faiq mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, “Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri atas peristiwa yang menimpa Rara.”


“Apa yang bisa ku lakukan, jika bos masih bersikap setengah hati untuk mencari pelaku yang mengirim foto-foto kebersamaan kalian.”


“Aku hanya ingin memastikan, karena aku tidak ingin sembarangan menuduh.”

__ADS_1


“Baiklah, aku akan berusaha mencari pelakunya.”


Rudi mengundurkan diri dan pamit untuk kembali ke kantor. Hari ini ia akan mendampingi pak Arman untuk bertemu klien mereka dari  Jerman. Faiq tidak tau berapa lama ia akan mengambil cuti untuk mendampingi Hani hingga ia terbangun dari tidur panjangnya.


Ia sudah menelpon kedua orangtuanya yang kini berada di Inggris. Faiq hanya menceritakan garis besarnya saja, bahwa Hani telah melahirkan sepasang bayi kembar. Untuk kondisi Hani dan kedua bayinya Faiq masih merahasiakan kebenarannya.


Wajah Faiq kelihatan tegang, kantung matanya tampak menghitam. Sudah hampir satu minggu ia melewatkan tidur, karena menjaga Hani. Sedetik pun ia tidak ingin meninggalkan istrinya. Trauma Faiq atas kejadian yang menimpa Hani masih  melekat di otaknya.


Setiap hari tanpa mengenal lelah Faiq mendampingi Hani. Ia selalu membisikkan kata-kata cinta serta untaian doa untuk kesadaran istrinya. Faiq sudah tidak memperhatikan keadaan dirinya.


Kini sudah hampir sebulan Hani masih terlelap dalam tidur panjangnya. Saat membaca al-Qur’an dari ponselnya samar-samar Faiq mendengar suara ribut dari depan pintu. Setelah menutup bacaannya, Faiq melangkah menuju pintu. Saat membuka pintu sebuah pukulan keras menghantam rahangnya membuat Faiq terkejut.


“Jika aku tau mbak Hani bakal mengalami kejadian ini, tak ku izinkan ia ikut pulang denganmu.” Ujar Hanif dengan wajah penuh amarah.


“Nak Hanif, tahan emosimu.” Marisa menahan tangan Hanif yang kembali ingin melayangkan pukulannya ke wajah Faiq.


Ningsih juga menceritakan bahwa si kembar dan Hasya dibawa Adi dan Linda ke rumah mereka bersama Lina, karena tidak ada yang mengurus mereka selama Hani dirawat di rumah sakit. Faiq pun jarang pulang ke rumah, siang dan malam ia menemani Hani dan menanti kesadarannya.


Di sinilah kini mereka berada. Marisa tidak mengerti dengan ucapan Hanif, yang ia tau semuanya baik-baik saja. Berita kecelakaan yang menimpa Hani baru ia terima seminggu yang lalu. Marisa mengetahui hal tersebut karena Linda yang menelponnya, menanyakan keberadaannya.


“Entah kenapa hidup mbak Hani selalu diliputi kemalangan. Jika aku tau bakal seperti ini, dari awal tidak ku izinkan kau menikahi mbak Hani.” Hanif masih emosi melihat Faiq yang terdiam tak bersuara.


“Apa ada yang tidak ibu ketahui selama ini?” Marisa melayangkan pandangan pada Faiq dan Hanif secara bergantian.


“Tanyakan pada anak ibu yang sok jadi pahlawan ini. Lihat saja, jika mbak Hani sadar aku akan membawanya pulang kembali ke Medan.”


“Kamu tidak bisa melakukan hal itu padakau. Rara adalah istriku. Apapun yang terjadi dia tetap bersamaku.” Akhirnya Faiq mengeluarkan suara. Ia tidak sanggup jika harus berjauhan kembali dengan istri dan anak-anaknya.

__ADS_1


“Kalian ini sudah dewasa, tapi berkelakuan seperti remaja. Semua ini harus dibicarakan dengan kepala dingin. Kita ini keluarga, ibu tidak ingin kamu berdua terlibat pertengkaran.”


Marisa menasehati keduanya, terutama Hanif yang masih dilanda emosi tinggi. Wajahnya memerah dengan rahang mengeras.


Faiq keluar dari ruangan, membiarkan Hanif melihat keadaan Hani yang sampai saat ini belum ada perubahan signifikan. Ia duduk di samping kedua orang tuanya yang memandang  penuh tanya. Dengan raut sedih Faiq menceritakan semua tanpa terlewat sedikit pun. Ia benar-benar menyesal karena telah terpedaya untuk kedua kali. Dan kali ini lebih fatal, mengakibatkan Hani mengalami koma.


Marisa dan Darmawan menggelengkan kepala tak percaya mendengar cerita Faiq. Saat Hanif  sudah keluar dari ruangan, keduanya dengan menggunakan protokol kesehatan memasuki ruangan Hani.


Air mata Marisa langsung bercucuran saat melihat menantu kesayangannya terbaring tak berdaya dengan peralatan medis yang melingkupi tubuhnya. Darmawan memeluk bahu istrinya yang tampak terpukul.


“Mungkin ini teguran buat Faiq dan kita juga karena terlalu melepaskan mereka berdua. Mulai besok aku akan kembali ke perusahaan, biar Faiq fokus merawat istrinya.” Ujar Darmawan sambil menggandeng Marisa yang tampak lemah setelah keluar dari ruangan Hani.


“Aku juga ingin merawat cucu-cucuku.” Marisa menyambut baik keinginan suaminya.


Kini ketiganya memasuki ruang NICU untuk melihat cucu kembar mereka. Perasaan terharu bercampur sedih menggelayuti hati Marisa saat melihat cucu kembarnya. Matanya berkaca-kaca melihat sepasang bayi kembar yang sangat tampan dan cantik, perpaduan wajah Faiq dan Hani. Rambut hitam tebal keduanya membuat Marisa tersenyum tipis.


“Cucu kita, mas…” Ia memandang Darmawan dengan perasaan bahagia.


“Ya. Kini aku benar-benar menjadi seorang kakek.” Darmawan mengusap bahu istrinya dengan perasaan bangga sekaligus sedih melihat kondisi yang dialami menantu dan cucu kembarnya.


Terjadi perang dingin antara Faiq dan Hanif. Setiap Faiq mengajaknya berbicara Hanif tidak pernah peduli. Ia marah karena Faiq yang masih berhubungan dengan keluarga Hesti. Walau pun semenjak Hani mengalami koma, Faiq tidak pernah meninggalkannya walau sedetik pun.


Keadaan yang dialami Hani membuat Hanif harus bolak-balik Jakarta-Medan. Tapi demi kesembuhan sodara satu-satunya Hanif tak mempedulikannya masalah biaya. Ia ingin yang terbaik bagi saudara satu-satunya yang ia miliki.


 


 

__ADS_1


__ADS_2