Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 167 S2 (Ngidam Anak Sultan)


__ADS_3

Ivan merasa kelelahan sekembalinya dari Bandung. Ia merasa tidak sanggup menyetir sendiri, hingga akhirnya meminta Hari yang mengantarnya ke apartemen. Dengan kasar Ivan melemparkan jasnya di sembarang tempat. Ia langsung mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Rasa segar terasa di tubuhnya sekarang.


Sebuah tangan tiba-tiba memeluk tubuhnya yang tidak tertutup selembar benang pun. Ivan terkejut. Ia menepis tangan yang semakin erat memeluk tubuhnya.


“Aku merindukan saat-saat seperti ini,” Sandra kini berdiri di hadapannya dengan tubuh polos seperti dirinya, “Aku tau kau juga menginginkannya.”


Dengan kasar Ivan mendorong tubuh Sandra. Ia menyudahi mandi dan mengambil handuk dengan cepat. Tanpa mempedulikan Sandra ia buru-buru mengenakan pakaian santai tidak ingin terjebak dengan permainan Sandra.


Sandra tersenyum sinis saat Ivan  meninggalkannya sendiri. Dengan cepat ia meraih bathrobe yang tersimpan dalam lemari kecil di kamar mandi. Ia keluar dengan santai sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Tatapan Sandra memandang meja yang berisi berbagai alat perawatan pria. Ia tersenyum sambil merabanya satu demi satu. Senyumnya semakin lebar membayangkan Ivan yang tak lama lagi akan menemuinya. Ia yakin, Ivan tak mungkin bisa menolak pesonanya. Karena ia tau, Ivan bukan tipe laki-laki yang biasa berganti pasangan, walaupun sebelum bersamanya Ivan sering terlibat kencan singkat dengan model terkenal.


Sandra meraih tas  mengeluarkan minyak wangi dan menyemprotkan ke seluruh tubuhnya. Ia akan menghabiskan malam ini bersama Ivan. Dengan santai ia menggantungkan  handuk di kapstok. Tanpa sungkan ia membuka bathrobe dan membaringkan tubuhnya yang polos di kasur sambil membaui aroma tubuh Ivan di selimut serta bantal dan guling yang ia gunakan.


Ivan tersenyum sinis begitu keluar dari apartemen. Ia meminta Hari tidur di apartemennya karena ia ingin pulang ke rumah mamanya. Padahal saat sampai di apartemen, selesai mandi ia akan langsung tidur. Namun rasa lelahnya langsung sirna melihat keberadaan Sandra di apartemennya. Bukannya bernaf**, malah ia merasa jijik mengingat Sandra tidak hanya berhubungan dengannya tapi juga dengan lelaki lain.


“Kenapa bos meminta aku tidur di apartemen?” Hari merasa heran melihat Ivan dengan wajah datarnya yang memintanya kembali ke apartemen, saat ia sudah setengah perjalanan.


Kalau saja bukan Ivan yang memintanya, tak mungkin ia melakukan tindakan bodoh itu. Rumahnya dengan apartemen Ivan menghabiskan waktu 4 jam jika lewat tol. Kalau saja Ivan tidak menggajinya mahal, nggak mungkin ia berbalik.


“Ada model terkenal di dalam. Mungkin kamu ingin kehangatan malam ini,” jawabnya santai sambil memasuki mobilnya, “Smart locknya masih yang lama belum ku ganti.”


Hari mengerutkan jidatnya. Selimut malam menunggu di apartemen Ivan. Siapa gerangan? Hari merasa penasaran. Ia tau, perempuan yang dekat dengan Ivan pasti yang high class, bukan yang abal-abal.


Ivan merasa kesal sendiri, memang kesalahannya belum mengganti pasword masuk apartemen sehingga Sandra masih bebas keluar masuk di sana. Besok Ivan berencana akan memanggil Sandra beserta pihak management. Ia akan bertindak tegas, jika Sandra masih nekad mengganggunya, ia langsung memecatnya dan memblack list  nama Sandra baik di dunia film maupun permodelan.


Saat melaju menuju kediaman mamanya tak terasa Ivan melihat Hasya dan Valdo sedang mengantri  di sebuah kedai kaki lima. Ivan memelankan mobilnya  melihat  antrian orang yang membeli bebek goreng. Dengan cepat Ivan mencari tempat lapang dan segera memarkirkan mobilnya.


Tanpa sepengetahuan keduanya Ivan ikut mengantri. Ia memakai masker dan jaket hodynya sehingga tidak ada yang mengenal dirinya.


“Kalau tiap malem kaya gini melayani ngidam anak sultan rontok juga badan,” keluh Valdo, “Perasaan waktu kamu ngidam Babby A nggak kaya gini juga deh yang ….”


Hasya mencubit pinggang  suaminya, “Namanya juga ngidam mas. Syukur-syukur lho ade mau makan. Nanti kalau sakit dan ada masalah dengan kandungan ade apa mas mau dituntut sama calon ayahnya debay si xpander itu.”


“Xpander?” Ivan terkejut mendengar sebutan dari saudari Khaira untuknya. Ia hanya geleng-geleng kepala.


Aroma bebek panggang membuat Ivan merasa ngiler. Padahal selama ini ia belum pernah mencicipi kuliner sebangsa unggas tersebut. Ia pun merasa tidak sabar, masih ada 8 orang yang mengantri termasuk dirinya dan sepasang suami istri yang masih berdebat di depannya.


“Ya, mas tau. Mas Ariq juga sudah mengingatkan jangan sampai ade kenapa-napa. Janin yang dikandungnya anak milyarder. Coba kalau ayah calon debaynya ada di sini, biar dia tau gimana repotnya ngurus kemauan si jabang bayi ….” Valdo meringis merasakan cubitan di perutnya.

__ADS_1


“Udah jangan mengeluh lagi. Tuh pesanan udah datang. Kasian ade nunggu lama duduk di pojokan sendirian, mana diliatin om-om ganjen di depannya lagi.”


Senyum yang sempat terbit di wajah Ivan saat mendengar perkataan Valdo langsung sirna saat Hasya berbicara. Spontan ia mengikuti pandangan Hasya. Benar apa yang dikatakannya, dua laki-laki yang usianya di atas Ivan mulai senyum-senyum sambil menatap Khaira yang asyik memainkan ponsel sambil memandang Hasya dan Valdo yang masih mengantri menunggu pesanan.


Taklama senyum tipis terbit di wajahnya melihat kedua saudaranya berjalan dengan membawa menu lengkap di kedua tangan  masing-masing.


Ivan pun langsung membayar menu untuk mereka berempat, dan santai berjalan mendekati kursi kosong di hadapan kedua lelaki ganjen yang melirik sambil main mata pada Khaira yang terkadang melihat kedua lelaki iseng itu.


Melihat kedatangan Ivan kedua om-om ganjen langsung terdiam, tidak berani berbuat iseng lagi, dan sibuk berbicara lain. Ivan tersenyum sinis menatap keduanya.


“Sudah punya keluarga di rumah juga, tapi masih sempat-sempatnya godain calon istriku,” batin Ivan dalam hati.


Ivan merasa kehangatan saat mengingat bahwa kini ia bisa menemani calon istri dan anaknya yang masih ada dalam kandungan Khaira.


“Untung ya de, kamu itu ngidamnya bebek bakar aja. Mosok tiap malem ngapelin bebek bakarnya cak Kusno. Apa nggak bosen? Coba dong sesekali ngidamnya makan di restoran mahal, atau jalan-jalan ke luar negeri kaya artis di tv itu,” Valdo masih meledek Khaira, “Cuma cape juga kalau tiap malam nongkrong di sini. Bisa-bisa jatah malam mas berkurang, udah kecapean berdiri ngantre …. ”


“Apaan sih mas?” kembali cubitan Hasya di tangan Valdo membuatnya menghentikan perkataan nyeleneh Valdo.


“Aku kan udah bilang pada mas dan mbak, biar pak Kusni aja yang antar aku kemari,” Hasya berusaha membela diri, “Nggak tau juga sih, kenapa ya jadi seneng makan bebek bakar di sini. Padahal saat masih bersama aa Abbas aku tuh paling ngga tahan dengan aroma asapnya itu….”


Sontak suasana hening mendengar perkataan Khaira. Valdo dan Hasya saling berpandangan, sementara Ivan yang berada di belakang keduanya terdiam. Ia sadar, bahwa keterikatan  Khaira terhadap Abbas masih terlalu kuat.


“Alhamdulillah,” Khaira menyudahi makannya dengan perasaan puas sambil mengelus perutnya, “Kenapa rasanya kali ini lebih enak dari kemaren-kemaren?”


Hasya dan Valdo berpandangan. Keduanya berpandangan merasa heran melihat Khaira yang tampak bersemangat menghabiskan bebek bakar yang ada di hadapannya hingga ludes tak bersisa. Perasaan sih sama aja, ngga ada beda.


“Besok malam ke sini lagi nggak?” Valdo sudah berancang-ancang untuk pindah menu, karena ia merasa bosan dan enek dengan bau asap.


“Lihat maunya debay aja deh.” Khaira mengusap perutnya dengan mesra ketika sudah berdiri.


Ivan yang sengaja memasang kamera di gelas minuman dapat melihat semua kelakuan Khaira. Kehangatan langsung menjalari hatinya. Ingin rasanya ia memeluk sosok anggun penuh kelembutan yang kini kelihatan lebih berisi dengan aura kecantikan yang semakin bersinar.


“Yang sabar ya uwa Valdo,” ledek Hasya pada suaminya, “Yang namanya anak sultan tu semaunya aja.”


“Enak aja gue dipanggil uwa,” Valdo merasa gemes dengan candaan istrinya.


“Emang cocok kok. Lihat tuh dek, kalo udah di rumah pake sarungan udah gitu perut masmu makin gendut aja.”


Khaira tersenyum melihat obrolan receh keduanya, “Udah malam juga. Pulang yok, debaynya udah cape nih, pengen bobo.”

__ADS_1


“Siap tuan putri,” Valdo segera mengacungkan jempolnya pada Khaira, “Jangan keluyuran lagi ya nak. Uwa udah capek juga. Pengen kejar setoran malam ini.”


“Emang uwa Valdo, kalo yang satu itu nggak ada capenya.”


Ivan tersenyum mendengar obrolan santai ketiganya. Rasa bahagia melihat sang pujaan menjalari hatinya memberikan kehangatan ke seluruh jiwa dan raga. Ia merasa berhutang budi pada Hasya dan suaminya yang begitu perhatian. Dapat ia lihat Khaira tampak sehat dan tidak kekurangan satu apapun.


Ia menghirup aroma wangi lembut yang tertangkap indera penciumannya saat Khaira berjalan melewatinya dengan santai sambil tertawa kecil mendengar  ledekan Valdo pada sang istri.


Saat Valdo hendak membayar menu yang telah mereka nikmati, kasir mengatakan bahwa semuanya telah dibayar. Valdo merasa heran karena tidak mengenal siapa pun yang berada di warung kaki lima itu.


Pelayan langsung menunjuk Ivan yang segera menundukkan wajah dan memakai masker serta hodynya karena pandangan ketiganya kini tertuju padanya. Untung saja mereka tidak menghampiri, ia  merasa lega.


Begitu ketiganya keluar dari warung dan menuju mobil yang terparkir, baru Ivan keluar. Perasaannya sangat senang dan bahagia malam ini, yang sudah lama tidak pernah ia rasakan. Bahagianya sederhana.


Saat terbangun di pagi hari, Sandra tersenyum puas. Ia benar-benar menikmati permainan panas yang sudah lama tidak ia lakukan bersama Ivan.  Ia tidak sadar jam berapa Ivan kembali ke kamar, karena lampu kamar sudah dimatikan tinggal tersisa lampu tempel yang membuat suasana begitu romantis.


Sandra membelai tangan kekar yang masih setia memeluknya. Ia yakin, tambang emasnya telah kembali. Ia mulai memikirkan untuk vakum sementara dari dunia model dan keartisan yang telah membesarkan namanya. Ia merasa bosan dan lelah mengikuti jadwal yang begitu mengikat membuatnya tak bisa bernafas.


Hubungan terlarangnya dengan Bobby berakhir begitu saja, karena Bobby kini kembali ke kampung halaman dan bekerja dengan pamannya di kampung mengelola meubel yang cukup laris di sana.


Kini ia ingin menikmati rasanya menjadi nyonya bos. Sandra teringat perkataan Guntur ketika bertemu dirinya saat  pemotretan di Dago kemaren. Guntur sempat menceritakan rencana lamaran yang telah dibuat Ivan untuknya membuat perasaan bahagia membuncah di hatinya. Ia merasa senang, karena Ivan telah menyiapkan kejutan romantis yang telah ia nantikan selama ini.


"Yang, hari sudah pagi. Apa masih pengen lanjut beberapa ronde lagi?" Sandra bertanya dengan manja karena merasa lengan kekar itu tidak melepaskan dirinya.


"Hm .... "


Sandra terkejut. Suara itu ...


Sontak ia menoleh ke belakang.


"Siapa kamu?" Mata Sandra membulat begitu melihat lelaki asing yang berada satu kasur dengannya dengan kondisi tubuh polos sama seperti dirinya.


Hari tersenyum menyeringai membuat Sandra semakin kesal.


"Terima kasih atas malam yang indah,"  dengan santai Hari turun dari tempat tidur dan mulai memungut pakaiannya yang tercecer di lantai dengan senyum puas, langsung ngeloyor santai menuju kamar mandi.


"Dasar anj***!" Sandra memaki  penuh emosi. Ia tidak menyangka Ivan telah mempermainkannya dan menjadikannya perempuan murahan untuk melayani asistennya yang terkenal mata keranjang dan suka bermain perempuan.


Happy Monday.  Sayang semua ...... Semoga Author khilaf terus ya ....

__ADS_1


__ADS_2