Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 163 S2 (Semua Akan Baik-baik Saja)


__ADS_3

Hasya menyimak perkataan Ariq. Ia masih menyimpan berbagai pertanyaan yang membuatnya ragu untuk mengatakan pada kakak tertua mereka. Dan Hasya yakin Ariq pun terlalu berhati-hati untuk menceritakan hal yang paling sensitif  pada adik mereka. Tetapi akhirnya Hasya tidak bisa menahan rasa ingin taunya.


“Apa mas mencurigai sesuatu seperti perasaanku?” Hasya menatap Ariq dengan jidat berkerut.


Fatih hanya terdiam mendengar percakapan keduanya. Ia masih menunggu kedatangan Ali yang berjanji akan menemui mereka begitu sampai di Indonesia, dan tiba di rumah Hasya.


Ariq mengangguk cepat, “Mas masih menunggu kabar Charles di Paris untuk meminta rekaman cctv selama Rara menginap di hotel. Mas sangat yakin peristiwa itu terjadi di hotel. Saat  pemeriksaan dokter yang ada di bandara Changi, meminta Rara untuk dibawa ke dokter obgyn karena dalam keadaan hamil muda sehingga mudah capek dan kondisinya lemah.”


Hasya menggeleng-gelengkan kepala, berat rasanya ia mempercayai apa yang diceritakan Ariq. Ia merasa sangat sedih, tanpa terasa air mata Hasya mengalir. Ia tidak menyangka musibah bertubi-tubi yang menimpa adik kesayangan mereka. Belum satu tahun kepergian Abbas, kini Khaira mengalami pelecehan yang mengakibatkan dirinya hamil.


“Ya Allah kuatkanlah ade menghadapi segala  musibah ini …. “ gumannya lirih sambil membayangkan wajah murung Khaira saat tiba di rumahnya tadi.


“Assalamua’laikum …. “ Ali tiba di hadapan mereka dengan wajah tegang.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” ketiganya menjawab serentak.


Ali duduk di hadapan mereka dengan wajah yang sulit terbaca. Tapi dari sorotnya dapat diketahui bahwa ia menahan amarah luar biasa.


“Aku sudah bertemu dan berbicara dengan paman Hanif. Dia sangat terkejut saat mengetahui peristiwa yang menimpa Rara,” ujar Ali pelan.


“Paman berkata apa?” kejar Ariq penasaran. Ia sendiri melupakan bahwa mereka memiliki paman yang seorang pengacara, dan tentu lebih paham dengan masalah yang kini dihadapi.


“Paman bilang tidak mungkin kita menuntut Ivan, karena yang dirugikan di sini adalah Rara. Kita terima lamarannya, segera menikahkan mereka agar tidak membuat dosa lebih lama. Kasian janin yang dikandung Rara kalau kita menunda-nunda pernikahan mereka,” Ali berkata dengan emosional, “Rasanya aku belum puas menghajarnya tadi pagi.”


“Mas nggak bisa bertindak main hakim sendiri. Kalau sampai lelaki itu mati, mas bisa masuk penjara. Lantas gimana nasib ade dan  bayinya kelak,” Hasya berkata pelan sambil menatap Ali dengan tajam.


Ia sadar, siapa pun pasti emosi mendengar masalah yang dihadapi saudaranya. Tapi dalam hal ini mereka harus berkepala dingin dalam menghadapi kejadian yang menimpa Khaira. Dan sangat disyukuri bahwa pelaku pelecehan mau bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.

__ADS_1


“Sekarang tinggal tugas kamu untuk berbicara dari hati ke hati dengan Rara. Coba kamu tanyakan alasan dia pergi mengikuti Junior dan Afifah. Bujuk Rara agar bisa menerima lamaran Ivan,” Ariq memandang Hasya dan berkata dengan pelan, “Mas yakin, Khaira belum bisa melupakan Abbas. Mungkin karena itulah … bisa jadi ia ingin menyembunyikan diri menutupi kehamilannya. Junior pun belum tau bahwa kejadiannya seperti ini. Mas belum sempat bercerita padanya.”


“Aku mengerti mas,” Hasya menganggukkan kepala, “Aku akan berbicara dengan ade saat kondisinya mulai pulih.”


“Mas pun akan membicarakan masalah ini dengan oma dan bu Ila. Beliau juga harus tau apa yang dialami Rara, dan mas akan menyampaikannya secara hati-hati,” ujar Ariq.


Tak lama kemudian Valdo sudah kembali dari rumah sakit. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Akhirnya Hasya mengajak semua untuk  makan siang bersama karena memang sudah waktunya,  ketiganya tidak menolak. Sudah lama juga mereka tidak berkumpul makan siang bersama  seperti ini.


Valdo menatap ketiga saudara iparnya yang berwajah tegang saat menikmati makan siang bersama. Ia tidak berani banyak bicara saat makan, hanya sesekali menjawab pertanyaan Ariq seputar masalah pekerjaan yang ia hadapi.


Saat makan siang selesai, ketiga saudara Hasya pamit untuk kembali ke rumah masing-masing menyisakan Hasya yang masih terpaku di meja makan. Ia belum bisa berpikir jernih. Kejadian yang menimpa Khaira sangat mengejutkan. Dan ia tidak tau harus mulai dari mana untuk berbicara dengan Khaira. Masalahnya tidaklah sederhana.


“Masalah apa yang membuatmu jadi murung seperti ini?” Valdo duduk di samping Hasya yang belum beranjak dari meja makan.


Hasya masih termangu sehingga tidak mendengar perkataan suaminya. Pikirannya menerawang jauh. Mengingat almarhum Abbas, walau pun jarang bercengkrama dengannya tapi kenangan tentang Abbas membuatnya jadi sedih. Abbas laki-laki yang baik, dan selalu melindungi Khaira. Tidak pernah ia mendengar cerita Khaira yang menyudutkan Abbas atau pun dikecewakan Abbas dalam kebersamaan yang terjalin antara adiknya dan almarhum.


Mata Hasya mengerjab, air matanya langsung jatuh menetes bersama kesedihan yang kian menggayut di hatinya. Ia tidak sanggup mengatakan pada Valdo.


Melihat kondisi istrinya yang tampak sedih, Valdo langsung menarik istrinya ke dalam pelukan. Ia tidak tau apa yang dirasakan Hasya sehingga tidak mampu berkata sepatah pun. Ia hanya mampu memberikan pelukan hangat untuk menenangkan istrinya.


“Ih, mama dan papa pacaran …. “ celetukan Aqeela putri mereka yang baru pulang dari sekolah yang dijemput pak Kusni membuat Hasya melepaskan diri dari dekapan hangat suaminya.


“Mama lagi sedih sayang. Tuh liat air mata mama …. “ Valdo tersenyum lembut pada Hasya yang buru-buru menghapus air mata yang masih tergenang di pelupuk matanya.


“Sini Aqeela peluk,” putri sambungnya itu langsung memeluk Hasya dengan erat membuatnya merasa agak baikan.


Hasya tersenyum seraya menepuk pundak mungil yang berada di pelukannya. Valdo membelai kepala istrinya yang tertutup hijab. Rasa lega hinggap di hatinya melihat senyum terbit di wajah istrinya. Ia belum berani untuk bertanya lebih lanjut. Ia akan menunggu sampai Hasya siap bercerita padanya.

__ADS_1


Pukul tiga sore Hasya mengantarkan makanan ke kamar Khaira. Ia masih menunggu mungkin saja Khaira merasa lapar. Tapi hingga waktu Asar tiba, tidak ada kemunculan Khaira, akhirnya Hasya berinisiatif untuk mengantarkannya ke kamar.


Saat mengetuk pintu kamar tidak ada jawaban, Hasya langsung masuk saja karena pintunya kebetulan tidak terkunci. Ia melihat  Khaira sedang melaksanakan salat Asar. Hasya duduk di samping sofa tunggal yang berada di samping tempat tidur.


Khaira menyimpan perlengkapan salat dan terpaku melihat Hasya yang duduk di hadapannya dengan senyum lembut. Hati Khaira merasa terenyuh, tanpa berkata apa-apa ia langsung menubruk Hasya dan tersungkur di hadapan kakak perempuannya itu. Perasaan bersalah karena menyembunyikan kehamilannya membuat Khaira tak mampu membendung air mata. Ia langsung menangis terisak-isak berusaha menumpahkan segala kesedihan yang telah menyesakkan dada selama hari-hari belakangan ini.


“Menangislah bila itu membuatmu merasa lega …. “ ujar Hasya lirih, tak urung air matanya juga terjun bebas mengaliri pipinya.


Sebagai sesama perempuan ia dapat merasakan apa yang dialami Khaira. Perasaan hancur, terluka dan terhina terkumpul menjadi satu, dan itu sangat menyakitkan. Bila tidak ada dukungan keluarga seperti yang biasa disiarkan di media massa, banyak korban yang nekad mengakhiri hidup. Dan Hasya cukup bersyukur karena Khaira tidak melakukannya.


“Aku malu mbak, karena tidak mampu menjaga diri dan kehormatan keluargaa …. “ Khaira berusaha menahan isak tangisnya.


Hasya menangkup wajah Khaira dengan kedua tangannya. Dapat ia lihat wajah sembab Khaira dengan air mata menggenangi pelupuk matanya. Dengan jemarinya Hasya berusaha menyeka air mata yang terus mengalir tak berhenti di mata bening adiknya.


“Tidak ada yang menyalahkan ade. Semua adalah musibah,” Hasya menyunggingkan senyum berusaha menguatkan Khaira, “Kita semua akan mendukungmu.”


“Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan. Aku benci dengan lelaki itu.” Raut kemarahan tampak di matanya yang kini sudah tidak mengalirkan air mata lagi.


“Yang sabar ya,  semua akan baik-baik saja. Mas Ariq, Mas Ali dan seluruh keluarga akan mendampingimu melalui musibah ini. Jadi jangan pernah merasa hancur. Kita akan melindungi dan bersama menghadapi semua,” ujar Hasya pelan, “Sekarang ade makan dulu, tadi siang udah kelewat makannya. Kasian janin di dalam perut ade.”


Khaira mengangguk walau pun dengan hati yang belum sepenuhnya lega. Ia tidak tau, langkah apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Tapi ia sangat bersyukur karena semua saudaranya mendukung dan memahami keadaannya.


Hasya melihat Khaira yang mulai tenang dan menuruti kata-katanya untuk menikmati hidangan yang telah ia sediakan.


“Kalau kamu pingin makan apa pun bilang sama mba, pasti akan mba dan mas siapkan buatmu,” Hasya berkata dengan senang karena melihat Khaira menghabiskan soto ayam dan telur puyuh yang tampak mengundang selera.


Dukung terus ya, happy week end! Semoga author kalap hingga crazy up hingga minggu esok. Sayang reader semua....

__ADS_1


__ADS_2