Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 45


__ADS_3

Siang itu terjadi kesibukan di rumah Hani, karena Hesti dan ibunya akan kembali dari rumah sakit. Dengan gaya angkuh Dewi mendorong kursi roda Hesti melewati Hani yang menyambut mereka di depan pintu.


Andre dan Yuni saudara Hesti juga turut berkunjung ke rumah mereka. Dewi merasa bangga memiliki menantu kaya seperti Faiq. Ia terus memuji Faiq di depan anak dan menantunya yang lain.


Hani menghela nafas, kehadirannya tidak dianggap Dewi. Mereka sibuk sendiri dengan segala aktivitasnya. Padahal Hani sengaja tidak ke kantor untuk menyambut tamu di rumah mereka. Faiq telah memintanya untuk menjamu keluarga Hesti yang akan berkunjung.


“Apa ibu ingin makan siang sekarang?” Hani menawari Dewi serta anak dan menantunya yang ikut bersama mereka.


“Kau tidak perlu mengaturku. Ini rumah menantuku, berarti rumah anakku juga. Jika aku ingin makan, aku bisa ambil sendiri. Kamu tidak berhak mengaturnya.”


“Baik, bu.” Hani mengangguk dengan hormat.


Mobil Faiq memasuki rumah. Ia sengaja pulang jam makan siang, karena menghargai tamu yang berkunjung ke rumahnya. Dengan cepat ia menghampiri Hani yang masih menyiapkan makan siang untuk ketiga buah hatinya.


“Assalamu’alaikum, sayang…” Faiq menyapa Hani yang tidak menyadari kedatangannya. Ia mengecup kening Hani sekilas.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Tumben mas pulang jam segini?” Hani terkejut menyadari Faiq sudah berdiri di sampingnya.


“Mas ingin menemui saudara Hesti. Barusan ibunya menelpon memberi tahu bahwa mereka sudah tiba di rumah.”


“Ya, mas. Aku barusan menyiapkan makan siang. Tetapi bu Dewi bilang…”


“Eh, menantuku sudah pulang?” Dewi langsung menghampiri Faiq dengan wajah sumringah, “Kenapa nggak langsung lihat istrinya di kamar. Tuh, Hesti udah kangen ketemu nak Faiq…”


Mendengar ucapan Dewi, Faiq merasa tidak nyaman dengan Hani. Ia memandang wajah istrinya yang berubah memerah, tapi Hani tetap meneruskan pekerjaannya. Ia memalingkan muka dari Faiq yang berdiri di sampingnya.


“Mari, nak. Ibu kenalkan sama Agus suami Yuni dan Rina istri Andre. Mereka sudah menunggumu sejak tadi.” Tanpa menghiraukan keberadaan Hani, Dewi langsung menggandeng Faiq.


“Maafkan saya, bu.” Faiq melepaskan tangan Dewi, “Silakan ibu duluan, saya akan menunggu istri saya.”

__ADS_1


Melihat penolakan Faiq membuat Dewi merasa kesal. “Dasar janda …” umpatnya dalam hati, “Lihat saja, taklama lagi Faiq akan meninggalkanmu…” Dengan perasaan tidak nyaman ia melangkah meninggalkan dapur.


“Mas tidak perlu melakukan ini.” Hani berusaha menahan air matanya. Ia harus kuat, karena Faiq bersamanya.


“Mari kita temui mereka bersama.” Faiq menggenggam tangannya dan berjalan menuju kamar tamu yang kini ditempati Hesti yang sedang bercengkrama dengan saudara dan iparnya.


Dari dalam kamar terdengar percakapan yang serius. Yuni memuji Hesti yang berhasil dinikahi Faiq walaupun hanya sebagai istri kedua, dan ia berharap pernikahan kakaknya itu bisa dilegalkan.


“Assalamualaikum…” Faiq mengetuk pintu.


“Wa’alaikumussalam…” Andre membuka pintu kamar, dan terkejut melihat kemunculan Faiq sambil menggenggam jemari Hani dengan erat.


“Terima kasih karena sudi mampir di kediaman kami. Perkenalkan ini istri saya Hani.” Sambil tersenyum Faiq memperkenalkan Hani pada saudara dan ipar Hesti. “Maafkan kami, karena belum bisa menjamu tamu dengan baik.”


Dewi dan Hesti berpandangan tidak suka. Tapi dengan cepat mereka merubah wajahnya dengan mengulas senyum palsu.


“Nggak apa-apa, nak Faiq. Ibu sudah sangat bersyukur karena nak Faiq mau menerima Hesti untuk tinggal satu atap dengan nak Faiq.”


Ia ingin menunjukkan kepada keluarga Hesti bahwa ia sangat mencintai istrinya, dan tidak mungkin membagi hatinya pada siapapun termasuk Hesti.


“Wah, ibu sangat setuju. Memang sudah selayaknya seperti itu.” Dewi merasa tidak nyaman melihat kemesraan yang ditunjukkan Faiq secara terang-terangan.


“Bagaimana kondisi kakimu, apa sudah ada perubahan?” Faiq mengalihkan tatapannya pada Hesti yang masih duduk di kursi roda.


“Tiga hari lagi harus kontrol, mas. Dokter Ivan menyarankan untuk tetap menggunakan kursi roda.” Ujar Hesti lirih.


“Apa ibu dan yang lain tidak merasa lapar, istriku sudah menyiapkan makanan sejak tadi.” Faiq memandang Hani dengan senyum mesranya.


Saudara serta ipar Hesti dapat melihat perlakuan Faiq terhadap istrinya, dan mereka menyangsikan ucapan Dewi yang terlalu membesarkan bahwa antara Faiq dan Hesti saling mencintai satu sama lain.

__ADS_1


Hani menyiapkan makan siang keluarga Hesti dengan cepat. Faiq turut andil membantunya. Tatapan Dewi nyalang menatap Faiq yang tetap berada di sisi Hani.


“Apa nak Faiq tidak ikut makan siang bersama?” Dewi menawari Faiq yang berdiri di samping Hani.


Faiq tersenyum sambil menggelengkan kepala, “Saya makan bersama anak-anak, bu. Si kecil selalu minta disuapin sama saya.” Ia berkata dengan bangga.


Dewi tersenyum kecut mendengar jawaban Faiq. Ia memang belum bertemu ketiga anak mereka. Ia jadi penasaran dengan wajah anak-anak Hani, yang membuat Faiq begitu menyayangi anak-ank tirinya.


“Papa udah puyang?” suara kenes Hasya mengejutkan mereka yang masih menikmati makan siang.


“Ya, sayang. Aduh cantiknya putri papa ini.” Faiq langsung menghujani Hasya dengan kecupan-kecupan di pipi cubbynya.


“Wah, cantiknya putri mbak Hani.” Yuni tak bisa menahan perkataannya.


“Terima kasih.” Hani tersenyum tipis.


“Jika Hesti mempunyai anak kelak, pasti juga cantik. Hesti kan tidak kalah menarik.” Dewi menyela ucapan Yuni.


Faiq mengerutkan jidatnya mendengar ucapan Dewi. Tetapi ia tak ingin berlama-lama berada di antara mereka.


“Saya permisi ke atas, memanggil si kembar untuk makan siang.” Pamit Faiq.


“Ya, mas.” Hani menganggukkan kepala.


Dewi memandang Hani dengan raut tidak senang, “Mulai sekarang kamu harus sadar, bahwa suamimu bukan milikmu seorang. Dia juga mempunyai istri yang lain…”


“Ibu…” Hesti menghentikan perkataan ibunya.


“Kita lihat saja, sampai dimana kamu mampu bertahan…” Dewi meninggalkan meja makan dengan cepat. Ia telah menyusun rencana untuk mendekatkan Faiq dan putrinya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2