Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 295 S2 (Resepsi Fahri)


__ADS_3

Suasana hotel begitu megah dan meriah saat Ivan menggendong si kembar di kanan dan kiri sementara Khaira menggandeng tangannya begitu memasuki ballroom hotel tempat pelaksanaan resepsi Fahri.


Tamu dari berbagai kalangan sudah banyak memenuhi ballroom yang luas penuh dengan pernak-pernik dekorasi indah.


“Assalamu’alaikum Tante .... “  Khaira menyapa Hartini yang berdiri di samping Indah.


“Sayangku Rara .... “ Hartini langsung memeluk Khaira dengan penuh kehangatan, “Sudah lama kita tidak bertemu.”


“Tante selalu segar dan cantik,” Khaira memuji Hartini dengan tulus.


“Ah,” Hartini tersenyum lebar sambil merapikan rambutnya yang bersanggul tinggi, “Kamu selalu bisa membuat tante senang. Sayangnya kamu bukan menantu tante ....”


Ivan yang berdiri di samping Khaira tersenyum kecut mendengar perkataan Hartini. Fajar dan Embun sudah gelisah pingin turun dari gendongan sang ayah, apalagi melihat pernak-pernik dekor yang begitu memanjakan mata.


“Ayah, tulun ... “ Embun menggeliatkan badannya dari lengan Ivan.


“Baik sayang .... “ Ivan membungkukkan badannya menurunkan Fajar dan Embun.


“Mas .... “ Khaira terkejut melihat Ivan membiarkan si kembar yang mulai berjalan melihat-lihat balon dan bunga warna-warni yang menghiasi ballroom yang sangat luas dan megah itu.


“Jangan khawatir sayang, mas akan mengikuti mereka .... “ Ivan mengelus pundak Khaira, “Mungkin si kembar bosan terus-terusan di rumah.”


“Kita langsung salaman sama pengantin saja. Aku gak mau Fajar dan Embun kecapean, apalagi tamu semakin ramai.”


“Gak enak sama om Sadewo kalau kita langsung pulang,” Ivan tidak menyetujui saran Khaira, “Bentar lagi ya, biarkan Fajar dan Embun menikmati kesenangan mereka.”


“Baiklah mas, saya menyetujui keinginanmu,” Khaira mengangguk pelan begitu Ivan berlalu mengikuti langkah si kembar yang sudah bersemangat melihat keramaian dan kemegahan di dalam ballroom.


Ivan tak mempedulikan keramaian pesta. Ia terus mengikuti dan mengamati aktivitas Fajar dan Embun yang mulai kelelahan setelah mengelilingi ballroom melihat-lihat berbagai pernak-pernik hiasan pesta pernikahan.


“Mas Alex .... “ suara perempuan membuat Ivan memalingkan wajah dari Fajar dan Embun yang kini duduk menikmati es krim di sudut ballroom.


“Emma .... “ Ivan mengernyitkan dahinya memandang perempuan berpakaian tertutup yang berdiri dengan senyum menawannya.


“Syukurlah kamu masih mengingatku,” Emma merasa senang karena Ivan masih mengingatnya.


Ia adalah mantan model plus yang bekerja di manajemen artis milik Ivan. Keduanya pernah menjalin  hubungan walau pun tidak saling mengikat. Emma selalu meluangkan waktunya buat Ivan hingga Sandra  bergabung membuat kisah mereka berakhir begitu saja.


“Aku hampir tidak mengenalmu,” Ivan tersenyum tipis melihat penampilan Emma yang berbeda dengan saat terakhir mereka bersama.


“Manusia pasti berubah,” Emma berkata dengan santai, “Kamu juga sama, semakin matang.”


Tak bisa Emma menyembunyikan rasa kagumnya pada si boss yang pernah mengisi hari-harinya menjadi lebih berwarna saat menjadi model terkenal di agensi Ivan.


“Bagaimana kabar mas Alex sekarang?” Emma tak bisa menahan rasa ingin taunya.


Melihat Ivan sekarang dengan kumis dan cambang tipis yang menghiasi wajahnya membuat kadar ketampanan Ivan berkali lipat, membuat ia membayangkan masa lalu mereka yang saling menghangatkan.


“Astaga .... “ Ivan menepuk jidatnya dengan cepat.


Matanya langsung memandang kursi tempat Fajar dan Embun yang kini telah kosong. Karena obrolannya dengan Emma membuatnya melupakan keberadaan si kembar. Ia yakin Khaira pasti akan marah karena membiarkan si kembar berkeliaran tanpa pengawasannya.


“Maaf Emma, aku harus pergi,” Ivan berkata dengan cemas matanya mengitari sekeliling tempat ia berdiri karena tidak melihat keberadaan si kembar.


“Mas .... “ Emma berusaha menghadang langkah Ivan.


Ia masih ingin berbincang lebih lama dan bernostalgia tentang masa lalu mereka. Pertemuan dengan Ivan membuatnya berangan lebih. Sepuluh tahun tidak bertemu membuat rasa yang pernah ada secara perlahan bangkit kembali. Walau ia tau, Ivan tak pernah menganggapnya lebih. Tak bolehkah ia berharap, apa lagi ia melihat Ivan hanya sendirian di pesta yang begitu megah.


Khaira kini sedang berbincang dengan Indah dan kedua mempelai yang kini bergabung di bawah. Keduanya telah turun dari kursi pelaminan untuk menyapa para tamu  yang masih terus berdatangan.


“Mana Ivan?” Fahri memandang Khaira dengan lekat, perempuan yang pernah mencuri hatinya dan tidak mungkin ia miliki.


“Sama si kembar mas,” Khaira menjawab sekadarnya.

__ADS_1


Tatapannya beralih pada istri Fahri yang memandangnya dengan tatapan berbeda. Khaira memandang Sikha istri Fahri.


“Selamat ya Mbak, semoga penikahannya samawa dan segera mendapatkan momongan,” ujar Khaira tulus sambil mengulurkan tangannya.


“Terima kasih,” Sikha menjawab dingin saat menyambut salam Khaira.


Ia tidak suka memandang perempuan yang pernah hadir di hati sang suami. Ia mengetahuinya karena Fahri yang pernah curhat saat ia mulai mendekati Fahri di tempat tugas yang sama.


Ia begitu mengagumi Fahri yang sangat santun dan sopan, tidak pernah memandang lawan jenis lebih dari  tiga detik saat berbicara. Kedekatan mereka sebagai rekan kerja di kampus tempat keduanya bekerja sebagai dosen mulai menimbulkan rasa nyaman yang membuatnya tak ingin jauh dari Fahri. Dengan terus terang Fahri mengakui pernah menyukai bahkan mencintai seorang perempuan yang kini telah menikah dengan sepupunya sendiri.


Sikha penasaran dengan cerita Fahri. Ia berusaha menjadi sahabat dan penghibur di kala Fahri merasa suntuk dan bosan dalam menjalani rutinitas pekerjaannya. Hingga delapan tahun kemudian, Fahri mulai membuka hati atas kebaikan dan perhatian yang ia berikan.


Dan hari ini, tepat delapan tahun ia berjuang dan bertahan untuk menunggu Fahri membuka hati. Sikha merasa bahagia, karena dirinyalah yang kini menjadi pendamping Fahri tanpa ada siapa pun lagi yang menjadi bayangannya.


Ia memandang Khaira dengan raut meremehkan. Perempuan bercadar dengan postur tubuh yang lumayan. Ia merasa Khaira tidak ada apa-apanya dibanding dirinya. Walau ia tau, dari manik mata Khaira telah membuat siapa pun tidak akan melepas pandangan dari bening dan teduhnya mata itu.


“Selamat Bro,” Denis yang baru datang langsung memeluk Fahri yang tersenyum sumringah menyambut kedatangannya.


“Masih betah melajang?” Fahri memandang Denis yang datang sendirian.


“Akhir tahun ini pasti,” jawab Denis santai.


Tatapannya sendu memandang Khaira yang sedang bercakap dengan mamanya. Perempuan yang pernah ia targetkan untuk menjadi ratu dalam rumah tangganya. Tapi takdir berkehendak lain.


Ia memang sudah menjalin hubungan serius dengan perempuan yang juga bekerja pada perusahaan yang ia rintis. Namanya Melia, perempuan lajang yang usianya lebih muda dua tahun darinya. Melia membuatnya merasa nyaman dan keduanya sering bepergian bersama hingga percikan asmara tak bisa dihindari diantara keduanya.


Mereka masing-masing terlibat percakapan serius tapi tetap santai. Khaira masih berbincang dengan tante Indah.


“De, mana si kembar?” Hasya yang datang hanya berdua dengan Valdo langsung menyapanya karena melihat Khaira sendiri.


“Sama ayahnya,” Khaira menjawab dengan santai.


“Aku tidak melihat si kembar, yang ada hanya Xpander  yang sedang berbincang dengan seorang perempuan,” Hasya berkata terus terang.


Khaira terkejut mendengar perkataan Hasya.  Perasaannya jadi tidak nyaman. Ia bergegas melangkah meninggalkan Hasya dan Valdo.


“Mau kemana De?” Rheina yang baru datang bersama Ali, Ariq dan Ira menghadang langkahnya yang terburu-buru.


“Mau cari Fajar dan Embun,”  tanpa menoleh ke belakang Khaira bergegas. Pikirannya sudah tidak menentu membayangkan si kembar yang kebingungan diantara keramaian tamu dalam kemeriahan pesta. Ia berjalan sambil melayangkan pandangan berusaha menemukan keduanya.


Perasaan Khaira semakin tidak nyaman. Sudah hampir setengah jam ia mengitari ballroom, tapi belum melihat sosok mungil si kembar di tengah ramainya tamu yang terus berdatangan. Keringat mulai mengucur dengan kecemasan yang melingkupi hatinya.


“Bunda .... “ suara Fajar membuat Khaira menghentikan langkahnya dan mencari sumber suara.


“Fajar .... “ mata Khaira berkaca-kaca melihat si kembar berada dalam gendongan ustadz Helmi.


“Saya melihat keduanya berjalan menuju pintu keluar,”  ustadz Helmi  berkata pelan melihat wajah Khaira yang tampak cemas dan langsung meraih Fajar dari gendongannya.


“Terima kasih  Ustadz,” Khaira mengucap syukur dalam hati melihat si kembar sudah berada di hadapannya dan Fajar sudah dalam gendongannya sekarang.


Embun masih anteng dalam gendongan ustadz Helmi. Ia merasa kelelahan dan tangannya memeluk leher ustadz Helmi dengan erat.


Perasaan hangat menyelimuti hati ustadz Helmi. Dulu ia pernah berangan untuk mendekati bundanya si kembar, apalagi si kembar cukup dekat dengannya. Tapi semenjak ustadz Hanan curhat  tentang keinginan ustadzah Fatimah bermadu dengannya membuat ustadz Helmi menarik diri. Selamanya ia hanya mengagumi tanpa melibatkan perasaan lebih di dalamnya.


Khaira memandang ustadz Helmi sekilas. Penampilannya malam ini benar-benar berbeda. Kesehariannya di pondok hanya sarungan, tapi kali ini setelan jas lengkap membuatnya ....


“Astagfirullahalajim,” Khaira mengucap menyadari pikiran aneh yang hinggap di kepalanya.


“Mempelai wanita adalah sepupuku,” ujar ustadz Helmi menyadari pandangan Khaira yang bingung dengan keberadaannya di pesta pernikahan.


Khaira tersenyum sambil menganggukkan kepala, “Maafkan saya Ustadz. Bisakan ustadz mengantarkan Embun pada papanya,”  Khaira mengarahkan pandangan pada Ariq dan saudaranya yang lain yang masih terlibat obrolan dengan kedua mempelai.


“Tidak masalah Ustadzah,” ustadz Helmi berkata dengan senyum yang tak hilang dari wajah tampannya.

__ADS_1


Ivan yang khawatir karena tidak melihat si kembar masih berjalan berusaha menemukan keduanya. Ia benar-benar menyesal karena melayani Emma, mantan modelnya yang kini telah berubah penampilan membuat ia terjebak dalam pembicaraan yang tak penting sehingga kehilangan jejak Fajar dan Embun.


“Shit!” ia mengepalkan tangan dengan kesal.


Matanya menatap satu demi satu para tamu yang lewat dan menanyai mereka kalau melihat si kembar. Setiap yang ditanya hanya menggelengkan kepala. Ivan dapat membayangkan raut kecewa dari wajah Khaira jika ia tak kembali membawa Fajar dan Embun di hadapannya.


Ia melirik jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Artinya ia telah membiarkan si kembar selama kurang lebih satu jam. Dengan perasaan kalut akhirnya ia melangkah mendekati pelaminan yang kini kosong karena sepasang pengantin sudah membaur dengan para tamu.


“Hei .... “ Hasya terkejut melihat Khaira yang kembali dengan Fajar dan Embun tetapi ada lelaki asing yang menggendong Embun yang telah tertidur dengan nyaman di dekapannya.


“Kenalkan mbak, ustadz Helmi. Beliau adalah pengajar di ponpes Al-Itjtihad,” Khaira memperkenalkan ustadz Helmi pada semua saudaranya yang kebetulan sudah mau pamit pada kedua mempelai.


Ustadz Helmi mengulurkan tangannya pada saudara laki-laki Khaira yang berada di hadapannya.


“Kok Embun bisa lengket banget?” Hasya berbisik pelan pada Khaira yang berdiri di sampingnya.


“Sejak kecil si kembar sudah biasa main di rumah ustadzah Fatimah. Keduanya akrab dengan para ustadz dan ustadzah di pondok,” Khaira menjelaskan dengan pelan.


“Xpander mana?” mata Hasya jelalatan menatap sekelilingnya, “Apa masih asyik ngobrol dengan ntah perempuan mana lagi .... “


“Ustadz, biar Embun sama mas Ariq,” Khaira meminta Ariq mengambil Embun dalam gendongan ustadz Helmi.


Ia mengulurkan Fajar pada Valdo yang berdiri di samping Hasya. Ia merasa lelah menggendong Fajar yang mulai menguap, karena kecapean berjalan melihat keindahan ballroom.


Ivan yang baru sampai di tengah-tengah keluarganya terkejut melihat Embun yang berada dipelukan laki-laki yang tidak asing di matanya. Ia berusaha mengingat. Akhirnya Ivan tau bahwa lelaki yang menggendong Embun adalah lelaki yang sama saat membawa Fajar ke rumah sakit. Berarti selama ini keduanya sudah saling mengenal dekat.


“Sayang .... “ suara Ivan membuat suasana hening seketika.


Khaira memandangnya sekilas, dan mengalihkan tatapannya pada Hasya yang sudah cemberut melihat kedatangan Ivan. Ia tidak tau harus berkata apa. Dalam hati ia merasa kecewa karena Ivan membiarkan si kembar tanpa pengawasan darinya.


“Biar Embun sama saya,” tanpa menunggu jawaban ustadz Helmi, Ivan langsung meraih Embun yang tertidur dengan lelap.


“Baiklah mas Fahri, kami pamit. Semoga pernikahannnya langgeng dan samawa,” Ariq mulai mendekati Fahri dan istrinya untuk menyalami Fahri dan menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis pada Sikha.


“Terima kasih,” Fahri memeluk Ariq dengan perasaan haru. Ia merasa tersanjung dengan kehadiran semua saudara Ariq kecuali Junior dan adiknya yang tidak bisa datang karena kandungannya yang sudah besar dan tinggal menunggu persalinan di Tokyo.


Satu demi satu saudara Khaira mulai berpamitan kini menyisakan Hasya dan Valdo, Khaira, Ivan dan ustadz Helmi yang masih diam tanpa suara. Sebenarnya Hasya sudah ingin menyusul Ariq, Ali dan Fatih beserta istri mereka, tapi karena Fajar masih dalam gendongan suaminya terpaksa ia ikut menunggu.


“Terima kasih atas bantuan ustadz Helmi,” akhirnya Khaira memecah keheningan yang terjadi diantara mereka bertiga.


“Kalian saling mengenal?” Fahri memandang Khaira dan ustadz Helmi bergantian.


“Kami sama-sama tinggal di pondok dan mengabdikan diri di sana,” jawab ustadz Helmi merendah.


Sikha tertegun melihat lelaki gagah yang memandang sepupunya dengan raut tak senang mendengar perkataannya.


“Terima kasih ustadz,” akhirnya ucapan itu mengalir juga di bibir Ivan. Ia tidak ingin menambah masalah antara dirinya dan Khaira yang baru saja memulai hubungan yang mesra.


“Sama-sama pak Ivan. Saya menganggap si kembar bukan orang lain lagi, sudah seperti anak sendiri,” ustadz Helmi berkata dengan jujur, karena itulah yang ada di hatinya yang terdalam.


“Sayang, kita pulang sekarang,” Ivan menatap Khaira yang dibalasnya dengan anggukan.


Sikha melihat wajah-wajah lelaki yang berada di sampingnya yang memandang Khaira dengan lekat. Kini ia dapat melihat lelaki yang kadar ketampanannya melebihi Fahri begitu memperhatikan Khaira yang tampak datar melihat kehadirannya. Ia pun menyadari bahwa sepupunya ustadz Helmi juga tak mengalihkan pandangan dari Khaira. Ia merasa kecil hati.


Setelah bersalaman dengan kedua mempelai akhirnya Hasya, Valdo, Ivan dan Khaira segera berlalu dari hadapan mereka.


Selama di dalam mobil Khaira tidak berbicara. Ia dan Ivan duduk berdampingan dengan si kembar yang tidur lelap dalam pangkuan masing-masing.


“Sayang aku .... “


Khaira memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya di jok tidak tertarik mendengar perkataan Ivan. Ia pingin marah, tapi toh tak ada gunanya.


Melihat Khaira yang enggan mendengar ucapannya bahkan memiringkan tubuh dan memejamkan mata, membuat Ivan mengutuk dirinya sendiri atas kejadian di resepsi Fahri. Ia menyesali kesalahannya membuat si kembar terlepas dari pantauannya. Ia yakin, hari-hari ke depan akan menghadapi kecuekan sang istri atas kelalaiannya malam ini.

__ADS_1


***Dukung dan pantau terus ya. Gak akan ada pelakor dan pebinor lagi. Tinggal melihat kecemburuan Ivan dalam menjalani kehidupan berumah tangga menjelang kehamilan menuju anak ketiga. Dijamin seru dan tambah baper. Sayang untuk readerku semua. Jangan lupa: like\, komentar dan votenya agar otor lebih semangat.***


__ADS_2