Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 126 S2 (Menjelang Pernikahan)


__ADS_3

Khaira masih asyik di gerai berlian menggantikan Marisa yang kini sudah tidak mampu lagi untuk mengelola  ‘Kara Jewellery’ yang kini semakin bersinar setelah  Khaira aktif  dalam mempromosikan diberbagai media online serta menggandeng desiner berlian dari luar negeri untuk membuatkan pesanan dari pejabat hingga artis terkenal.


Ia sudah berjanji untuk fitting baju pernikahan di butik Rhaina siang ini. Tapi nampaknya keinginannya belum terlaksana karena banyaknya pengunjung yang datang untuk melihat desain terbaru berlian yang telah ia rilis melalui medsosnya.


“Wah, ini cantik sekali!” seorang perempuan dengan  rambut sebahu dicat pirang tiba-tiba  sudah berdiri di hadapannya bersama dua orang rekannya.


Khaira tersenyum tipis melihat Susi dan Novi, karyawannya yang sudah berbisik-bisik melihat ketiga perempuan yang tampak antusias melihat aneka perhiasan yang ditampilkan.


Ia masih memosting cincin berlian terbaru yang didatangkan dari Perancis oleh sahabat  Marisa yang seorang desainer perhiasan ternama. Pelanggan yang datang di gerai ‘Kara Jewellery’ sudah paham kualitas yang disediakan.


Oleh karena itu Khaira tidak segan memasok berlian dari mulai 1 karat hingga 50 karat. Dukungan finansial dari Marisa serta saudaranya yang lain membuat Khaira menjadi sosok yang dikagumi para pengusaha berlian se-Indonesia, walau pun selama ini ia selalu bersembunyi di belakang nama besar Marisa. Sehingga orang tidak akan pernah menyangka bahwa gadis sederhana yang selalu  ada di gerai berlian terbesar di Jakarta itu adalah pewaris Kara Jewellery.


Andini  sebagai asisten kepercayaan  Marisa yang umurnya hampir 40 tahun  kini menjadi tangan kanan Khaira dalam mengelola Kara Jewellery.


“Mbak, apa perlu saya menghampiri mereka?” tanya Andini pelan. Walaupun usianya lebih tua dari Khaira, tapi ia segan untuk memanggil nama karena itu sama saja tidak sopan dengan majikan.


“Biarkan saja. Toh, mereka masih cuci mata. Kalau udah ketemu yang cocok dan pasti baru ditanya,” jawab Khaira santai sambil melanjutkan memoto koleksi terbaru.


Notif pesan masuk di ponsel membuat Khaira menghentikan aktifitasnya. Dengan pelan ia meletakkan  kamera seri terbarunya untuk mendukung foto perhiasan yang ia posting melalui ponsel. Khaira tersenyum membaca pesan dari Abbas.


“Jadi minder punya calon istri yang punya toko berlian terbesar di Jakarta. Sedangkan cincin pengikat yang aa beri hanya cincin emas 5 gram yang nggak nyampe 24 karat,”  tulisan Abbas dengan emot sedih.


Dengan cepat Khaira membuat video singkat dirinya sambil mengucap I love you tanpa suara dengan menunjukkan cincin emas di jari manisnya, langsung mengirimkan video tersebut untuk membalas pesan Abbas.


Khaira senyam-senyum melihat emot peluk yang dikirim Abbas barusan. Ia tidak menyadari salah satu perempuan yang kelihatan paling cantik dengan berpakaian seksi sudah berdiri di hadapannya.


“Aku mau lihat yang itu!” tunjuknya pada Khaira.


“Biar saya yang ambilkan, mbak,” sela Novi cepat. Ia merasa tidak enak pada Khaira.


“Aku mau dia yang ambilkan.” Perempuan itu berkata dengan kasar sambil menunjuk Khaira yang memandangnya dengan kening berkerut, karena baru kali ini mendapat konsumen yang tidak ada sopan santun dalam berbicara.


“Maafkan saya, mbak. Tapi …. “ Novi masih bersikeras.


“Apa kamu tidak tau siapa aku?” perempuan itu semakin kesal karena Khaira masih menatapnya dengan santai.


“Emangnya mbak siapa?” pancing Khaira tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, karena ia memang tidak mengenal perempuan cantik yang berdiri di depannya.


“Kamu tau pemilik New Star Corp? Dia adalah calon tunanganku. Mudah baginya untuk membeli semua perhiasan di sini.” Perempuan itu masih berkata dengan arogannya.


Khaira mengalah, ia mulai memberikan perhatian lebih pada perempuan yang masih memandangnya remeh.


“Mbak mau pilih yang mana?” Khaira mulai mengeluarkan koleksi cincin pertunangan yang menjadi koleksi termahal yang dimiliki gerainya.


“Mau pilih yang mana San?” temannya yang bernama Fani mulai menyolek Sandra melihat Khaira mengeluarkan 3 koleksi cincin pertunangan terbaru yang baru didatangkan seminggu dari Paris.


“Yang ini  5 karat, ini 10 karat dan yang ini 25 karat.” Khaira menjelaskan ketiga cincin berlian yang memancarkan keindahan di depan ke tiga model dan artis terkenal tersebut.

__ADS_1


Akhirnya Khaira mengetahui ketiganya begitu Susi mengirim chat yang langsung ia baca dengan cepat.


“Berapa harga yang ini?” Cilla teman Sandra menunjuk cincin yang bernilai 25 karat.


“I karat berlian kisaran harganya 174 juta rupiah. Untuk yang 25 karat seharga 4 milyar 300 jutaan,” jawab Khaira.


“Wah, San. Katanya kamu pengen lamaran di kapal pesiar. Cocok nih cincin 4 m ini.” Fani mulai memanasi-manasi Sandra.


“Tenang aja, nggak lama lagi acara pertunanganku dengan mas Ivan akan tersebar seantero negeri,” jawab Sandra pongah, “… cincin itu akan segera melingkar di jemariku.”


“Sandra gitu lho,” sambung Cilla cepat.


Khaira tersenyum sinis menanggapi kelakuan para artis di depannya.  Ia segera merapikan posisi cincin untuk memasukkan kembali ke tempatnya.


“Hei pelayan, tunggu sebentar!” dengan angkuhnya Sandra menahan tangan Khaira yang bersiap mengangkat ketiga kotak cincin, “Aku akan memoto cincin ini dan mengirim ke calon tunanganku.”


“Baiklah,” Khaira tersenyum tipis dan membiarkan Sandra memoto ketiga cincin berlian yang telah ia susun di dalam masing-masing kotak dengan rapi.


Sandra tesenyum puas setelah keinginannya dituruti Khaira, “Hati-hati lo simpan cincin itu. Jangan sampai rusak. Gajimu sebagai pelayan di toko ini tidak akan cukup untuk membayar jika terjadi kerusakan pada cincin itu.”


“Terima kasih atas nasehatnya,” jawab Khaira santai sementara mulut Andini sudah gatal ingin menjawab Sandra dan mengatakan bahwa orang yang ia remehkan adalah pewaris Kara Jewellery.


Dua jam kemudian ia sudah memarkirkan mobil di depan butik  'Rea Fashion'. Begitu sampai di butik Rheina, Khaira langsung diceramahi kakak iparnya yang super cerewet itu. Ia hanya membalas dengan cengiran santai.


“Abis keluyuran dari mana, udah ditunggu lebih dari 3 jam. Abbas  pulang 20 menit yang lalu dan udah ngepas baju, karena udah ditunggu temannya jadi ia terpaksa tidak bisa menunggumu.”


“Barusan ada artis lihat cincin pertunangan di gerai.”


“Nggak kenal juga sih. Nggak pernah lihat infotainment …. “ Khaira mengedikkan bahunya dengan santai.


“Eh, kamu tau nggak de, itu siapa … artis dan model termahal itu lho, yang pacaran dengan pemilik New Star Corp ….”


“Nggak kenal dan nggak tertarik.” Khaira mencibirkan bibirnya membuat Rheina gemas.


“Kamu itu ya, de … seantero negeri ini sangat mengidamkan lelaki itu. Ganteng dan kaya raya. Jumlah assetnya nggak kalah sama milik mas-masmu.” Rheina bercerita dengan penuh semangat.


“Aduh mbak, masih mau cari laki lagi?” Khaira berkata semaunya membuat Rheina mendelik tajam.


“Kamu itu dibilangin. Pacarnya artis itu pemilik agensi, serta rumah produksi. Apa kamu nggak tertarik?” Rheina dari awal berusaha merubah keputusan Khaira untuk memilih Abbas sebagai pendamping hidupnya, tapi tidak ada yang mendukung keinginannya.


“Mbak, aku itu udah mau nikah. Tinggal 3 minggu lagi malah. Calonku itu adalah Abbas Setyawan. Dia lah calon suamiku dan akan menjadi suamiku satu-satunya, seperti bunda dan papa sehidup sesurga,” tandas Khaira cepat.


Mendengar perkataan adik iparnya Rheina terdiam. Ia tau Abbas pemuda yang baik, tapi rasanya ia tak rela jika adik ipar dan kesayangan dua keluarga hanya mendapatkan suami dari kalangan sederhana yang hanya memiliki bisnis kafe kecil-kecilan.


“Jadi fitting baju nggak nih, aku masih banyak keperluan,” ucapan Khaira menyadarkan Rheina dari lamunannya.


“Ya, tunggu ntar,” Rheina beranjak meninggalkan Khaira untuk mengambil beberapa potongan kebaya dan gaun malam yang akan dipakai Khaira pada saat akad dan resepsi pernikahannya nanti.

__ADS_1


Untuk keperluan WO, Ira sudah berkolaborasi dengan Azkia meng-handle semua yang akan dikerjakan nanti. Mereka tidak ingin resepsi yang biasa, karena itulah semua tenaga dan pikiran mereka sumbangkan untuk putri dan adik kesayangan mereka.


Siang itu Abbas masih berbincang dengan Budi di ruangannya. Mengingat minat pengunjung yang terus bertambah dari hari ke hari di kafenya, serta lahan yang kurang mendukung untuk pengembangan lokasi, Abbas berminat untuk membuka cabang baru di dekat lokasi perkantoran.


Pesan chat masuk dalam ponselnya. Dengan cepat Abbas melihat nama si pengirim. Ia mengerutkan kening saat membaca nama Ariq yang tertera di sana.


“Aku akan berkunjung ke kafemu jam makan siang. Jangan kemana-mana.” Itulah isi chat yang dikirim Ariq yang membuat Abbas bingung.


Ia melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.30 Wib. Belum sempat bangkit dari kursinya ketukan di pintu sudah terdengar.


“Masuk.” Abas menjawab dengan cepat sambil mematikan laptopnya tanpa melihat siapa yang datang.


“Wah, calon manten tampak sibuk sekali. Kelihatan sedang mengejar target.”


Sebuah suara bariton menghentikan aktivitas Abbas. Ia buru-buru bangkit dari kursi kerjanya menyadari Ariq sudah berada di dalam ruang kerjanya.


“Mas Ariq, saya pikir masih di perjalanan. Maafkan saya karena tidak bisa menyambut di depan ….” Abbas berkata dengan perasaan tidak nyaman.


“Santai aja bro, memang aku pejabat yang harus disambut.”  Ariq tersenyum tipis melihat Abbas yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah bingung.


“Silakan duduk mas. Karena sudah waktunya makan siang, saya akan menyiapkan sendiri menu untuk makan siang kita.”


“Nggak usah repot, aku akan pilih menu sendiri. Boleh aku lihat dapurmu?”


Abbas memandang Ariq dengan kening berkerut. Ia tak mengerti maksud perkataan calon iparnya itu.


“Ku dengar kamu lihai membuat aneka masakan, hingga bikin adik kesayangan kami jadi berisi. Aku ingin buktikan sendiri,” ujar Ariq santai sambil ngeloyor pergi meninggalkan Abbas yang masih menyimak perkataannya barusan.


Abbas membuntuti langkah Ariq hingga ke dapur, tempat ia dan rekan sekaligus pegawainya Budi dan Rani meracik bumbu aneka menu untuk memanjakan lidah konsumen mereka.


Ariq merasa kagum melihat semangat dan dedikasi Abbas dalam menyediakan menu ala rumahan yang ia pinta. Jarang ia temukan pemuda seusia calon iparnya itu yang tidak gengsi dalam membuka usaha dari nol.


Ia, Ali dan Fatih tanpa sepengetahuan Khaira sudah menyiapkan salah satu hadiah pernikahan bagi keduanya yaitu sebuah restoran mewah untuk dikelola adik iparnya. Mereka tau kalau Abbas tidak akan betah untuk bekerja atau mengelola perusahaan mereka yang memang sudah menggurita dengan cabang dimana-mana. Dan ia puas sudah menyaksikan dedikasi Abbas dalam mengelola usaha yang ia mulai sendiri dari awal.


Dengan ditemani Abbas, Ariq menikmati makan siang yang sangat menggugah seleranya. Kini ia tau bahwa Abbas dan Khaira juga menyediakan menu yang biasa almarhum bundanya masak di rumah.


“Apa rencanamu setelah pernikahan nanti?” Ariq bertanya dengan serius begitu selesai menikmati makan siang.


“Saya ingin membuka cabang kafe di lokasi baru. Dan memindahkan kepemilikan kafe ini  sebagai hadiah pernikahan untuk Rara,” Abbas  berkata dengan yakin, “Saya memang belum bisa memenuhi semua seperti yang telah diterima Rara dari keluarganya. Baru ini saja yang mampu saya berikan untuknya.”


Ariq tersenyum mendengar perkataan Abbas, “Kami bangga karena kesayangan kami memilih calon suami yang tepat sepertimu. Jangan pernah berubah dan menyia-nyiakan berlian kesayangan kami. Karena almarhum papa tidak akan rela siapa pun menyakiti putri kesayangannya,” ujarnya sambil menepuk-nepuk bahu Abbas.


Perasaan Abbas terharu sekaligus bahagia mendengar ucapan Ariq. Ia berikrar dalam hati akan menjaga kepercayaan saudara Khaira, karena ia pun sangat menyintai Khaira, gadis berada namun dengan penampilan bersahaja yang membuat siapa pun akan jatuh hati saat mengenal sifat dan karakternya.


“Tinggal satu minggu pernikahan kalian. Ku harap kamu menjaga kesehatan. Jangan  terlalu ngoyo, karena kesayangan kami juga sudah mulai dipingit. Kalian tidak diizinkan untuk bertemu hingga hari H nanti.”


“Insya Allah saya akan berhati-hati mas. Terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan pada saya….” Abbas merasa terharu saat Ariq memeluknya dengan erat sambil menepuk bahunya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2