Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 90


__ADS_3

Adi mendekati Faiq yang menggendong putranya dengan santai. Matanya terasa berkabut melihat perlakuan Faiq terhadap putranya. Jemari Adi membelai rambut tebal bayi yang berada di dalam gendongan Faiq.


“Putramu tampan seperti dirimu.” Pujinya tulus.


“Terima kasih, bang.” Jawab Faiq cepat, “Ku harap bang Tama segera menemukan pendamping dan segera mempunyai keturunan sendiri.”


Faiq meyadari sorot kesedihan yang terpancar di wajah Adi saat memandang Hani serta bayi-bayi mereka. Ia tau penyesalan Adi tidak akan pernah berakhir.


“Anak-anakku adalah sumber kebahagiaanku, dan aku tidak mungkin akan merubahnya, selama kamu dan Hani memberiku waktu untuk bersama dengan mereka.” Ujar Adi lirih.


“Assalamu’alaikum…” suara salam menghentikan percakapan mereka.


“Wa’alaikumussalam.” Semuanya menjawab  dengan kompak.


Darmawan bersama Rudi kini sudah berada di hadapan mereka. Wajah Darmawan tampak sumringah melihat keadaan cucu-cucunya yang tampak sehat menggemaskan.


“Opa bersihin tangan dulu, gih.” Marisa menjauhkan cucunya dari sentuhan suaminya.


“Maaf, opa lupa saking senengnya liat cucu…” dengan senyum lebarnya Darmawan melangkah menuju kamar mandi. Cucu-cucunya masih sangat sensitif, jadi ia harus benar-benar menjaga kehigienisan saat ingin bermain ataupun menggendong mereka.


Setitik air mata Linda jatuh tanpa kompromi. Ia membayangkan almarhum suaminya yang sangat menyayangi si kembar. Tapi karena keegoisannya, membuat suaminya menahan rindu untuk berkumpul bersama, hingga akhir hayatnya hidup dalam kesepian.


“Mama kenapa?” Adi menyadari wajah ibunya yang tadinya ceria berubah murung.


“Mama teringat papamu …” bisiknya lirih, “Mama sangat berdosa dengan almarhum papamu.”


Adi menatap mamanya dengan perasaan sedih, “Sepulangnya dari sini, kita akan langsung berjiarah ke makam papa.”


Linda mengangguk dengan lesu. Kesedihannya berlipat-lipat menyaksikan pemandangan di depannya. Mengingatkan ia akan kebersamaan mereka saat suaminya masih hidup.


“Om, tante… kami pamit duluan.” Adi berjalan menghampiri dan menyalami Darmawan yang kini tegak di hadapannya.

__ADS_1


“Nggak sekalian mampir ke rumah?” Darmawan menawari keduanya.


“Saya dan mama akan berjiarah ke makam papa.” Adi tersenyum tipis.


“Baiklah, terima kasih atas kunjungan kalian.” Ujar Darmawan sambil menyalami Adi.


Saat berhadapan dengan Hani, Linda langsung merangkulnya dengan erat. Suaranya terasa sangkut di tenggorokan. Ia kini merasa lega, walau pun mantan menantunya tidak bisa berkumpul kembali, tapi setidaknya cucu-cucunya sudah mengakui keberadaan mereka.


“Terima kasih atas pengertianmu, Han. Mama selalu berdo’a yang terbaik untuk keluarga barumu. Semoga Allah selalu melindungi kamu. Dan semoga kamu selalu diberikan kebahagiaan…”


Hani terpaku. Baru kali ini Linda bersikap baik padanya. Selama ini Linda selalu merendahkannya dan membanggakan Helen di hadapannya. Ia merasakan tubuh Linda yang bergetar saat memeluknya.


Linda melepaskan pelukannya, “Kamu memang satu-satunya menantu yang membuat papamu bangga.”


Hani tak mengerti dengan perkataan Linda. Ia hanya terdiam tidak menanggapi. Kini Adi berdiri tegak di hadapannya. Ia dapat melihat tatapan Adi tidak sedingin dulu, wajahnya memancarkan keramahan. Senyum terukir di wajah tampannya.


“Selamat atas kelahiran anak kembarmu…” Adi menatap Hani dengan lekat. “Faiq sangat beruntung bisa memilikimu…”


Faiq merasakan sikap Hani lebih pendiam ketika Adi dan mamanya sudah keluar dari ruangan  mereka. Ia memberikan putra pada ayahnya, dan memberikan isyarat pada Rudi dan Karman untuk membawa semua barang-barang Hani serta si kembar, karena mereka akan pulang ke rumah.


Saat mobil yang membawanya ke sebuah rumah megah, Hani sudah mengerutkan keningnya. Ia merasa belum pernah menginjakkan kaki ke sana. Rumah yang mereka singgahi tidak kalah dengan kepunyaan mantan suaminya.


Faiq menyadari kebingungan dari sikap Hani. Begitu turun dari mobil, sambil menggendong putra tangannya yang sebelah kanan menggandeng tangan Hani.


“Inilah rumah kita, sayang…” bisik Faiq lembut.


Saat memasuki  rumah kejutan sudah menanti. Astri dan Andi yang kebetulan membawa putra-putrinya berkunjung. Telah mempersiapkan pesta penyambutan untuk anak kembar Faiq dan Hani.


Balon warna-warni telah menyambut kedatangan mereka. Wajah-wajah penuh kebahagiaan menyambut kedatangan mereka.


“Bunda…” Si kembar bersama Hasya berlarian menghampiri Hani.

__ADS_1


Hani tertegun, naluri keibuan telah membuatnya merendahkan badan dan menyambut ketiga anaknya yang kini memeluknya dengan erat.


“Bunda napa lama, dedek lindu…” suara kenes Hasya membuat Hani memandang batita mungil yang memeluknya dengan erat.


Faiq memberikan putranya pada Lia. Ia menghampiri ketiga anaknya yang masih memeluk Hani dengan erat.


“Mas Ariq, mas Ali, bunda masih capek. Ayo main sama mas Putra…” Faiq segera menggendong Hasya dan meminta Andi memanggil Putra untuk menemani si kembar main.


“Selamat untukmu, Ra…” Astri memeluknya dengan erat, “Allah dengan kemurahannya telah memberikan rezeki si kembar bagi om dan tante serta Faiq. Mereka sangat bahagia mendapat cucu kembar darimu.”


Hani tersenyum tipis membalas ucapan Astri. Ia membalas pelukan sepupu Faiq dengan perasaan hangat.


Astri dan Andi telah mengetahui peristiwa yang dialami Hani serta kondisinya yang mengalami amnesia. Tapi mereka tetap mendukungnya dan memberikan rasa nyaman bagi Hani agar tak membuatnya mengingat masa lalu yang menyakitkan.


“Mungkin kamu belum mengenal saya, tapi kami sangat menyayangimu. Saya ipar suamimu. Suami saya ponakan tante Marisa.” Astri menjelaskan dengan pelan sambil menggandeng Hani menuju sofa di ruang keluarga.


Imran dan Dini adalah orang tua Andi yang merupakan kakak satu-satunya Marisa. Dan merekalah yang membantu Astri dan Andi untuk menyiapkan acara penyambutan si kembar di rumah besar Darmawan.


Mirna dan Bambang yang merupakan saudara satu-satunya Darmawan juga turut hadir bersama Siska dan Iwan menantunya. Siska dan Iwan mempunyai satu anak laki-laki yang bernama Kevin yang usianya sebaya Ariq dan Ali.


Suasana benar-benar ramai. Ariq dan Ali bersama Putra asyik bermain bola di halaman depan, sedangkan Hasya dan Putri sibuk meminta balon pada Lina dan Mira pengasuh yang dibawa Astri dari rumahnya.


“Sayang, ayo kita lihat kamar kita…” Faiq menggenggam jemari Hani dan membawanya menuju kamar yang terletak tidak jauh dari ruang keluarga.


Hani mengikuti langkah suaminya. Ia tidak menyangka bahwa telah menikah dengan seseorang yang rumahnya sama megahnya dengan sang mantan.


Mata Hani menatap kagum interior di dalam kamar mereka. Ia merasa seperti pernah melihat bentuk dekorasi interior di dalam kamar mereka.


“Ini persis yang kamu gambar di buku design interior milikmu yang mas temukan di ruang kantor di restoran.” Faiq memeluk Hani dari belakang. “Bagaimana, kamu senangkan?”


Hani menganggukkan kepala dengan antusias, “Terima kasih telah mengabulkan keinginanku.”

__ADS_1


“Apapun akan mas lakukan untuk kebahagiaanmu.” Faiq membalikkan tubuh Hani, dan memandangnya dengan lekat.


__ADS_2