
Ivan membuka pintu kamarnya perlahan, khawatir Embun yang sudah tertidur beberapa saat yang lalu terbangun kembali. Ia menatap lekat wajah kelelahan yang tergambar di raut Khaira yang menggendong Fajar yang juga mulai terlelap.
Ia segera membaringkan Embun di tempat tidur. Khaira masih mengayun Fajar secara perlahan dalam gendongannya karena rengekannya mulai terdengar begitu tiba di kamar.
Ivan mengulurkan tangannya meraih Fajar dari tangan Khaira.
“Istirahatlah, aku tau kamu kelelahan. Kondisimu juga belum begitu baik …. “ Ivan berkata dengan penuh perhatian.
Tanpa menjawab perkataan Ivan, Khaira melepaskan pegangannya pada Fajar. Ia ingin segera ke kamar mandi untuk buang air kecil. Begitu kesempatan itu datang, tanpa membuang waktu ia bergegas ke sana.
Di dalam kamar mandi Khaira terpaku memandang wajahnya di depan wastafel. Ia merasakan hari ini terlalu berat dilalui. Perasaannya seperti diremas melihat kondisi Laras saat sakaratul maut.
Ia benar-benar terpukul menyaksikan mertuanya mengalami kondisi yang sama dengan almarhum Abbas. Dan kini dengan kehendak takdir ia kembali bersama Ivan untuk memenuhi wasiat Laras.
“Ya Allah …. “ Khaira berguman dalam hati dengan perasaan terpuruk.
Ia tidak pernah membayangkan bahkan menginginkan untuk kembali bersama Ivan. Bagaimana ia akan menjalani hari dan memulai kembali disaat hatinya masih menyimpan luka? Setiap memandang wajah Ivan luka itu berdarah lagi. Ucapan Ivan sampai saat ini masih terngiang di pendengarannya dengan mimiknya yang membuat Khaira tak mudah melupakan semuanya.
Ia dan saudaranya telah berupaya untuk menghindari pertemuan kembali dengan Ivan. Waktu dan biaya sudah tidak bisa diperhitungkan lagi. Kini ia tidak bisa berlari untuk menghindar, semua telah terjadi ikrar ijab qabul telah terucap. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain menjalani semua yang telah digariskan Allah kepadanya.
Ia dapat melihat raut kekecewaan pada wajah saudaranya saat Ariq memutuskan mengizinkan ia memenuhi wasiat Laras. Ia pun melihat kesungguhan saudaranya membantu Ivan melalui semua musibah atas kepergian Laras.
Tapi bagaimana dengan dirinya? Mampukah ia menjadi istri yang baik bagi Ivan setelah kekecewaan dan kesakitan yang ia alami selama mendampingi Ivan saat berumah tangga? Apakah Ivan mampu menjamin bahwa tidak ada lagi gangguan dalam rumah tangga mereka?
“Semoga hamba-Mu kuat ya Allah …. “ Khaira menghapus air mata yang mengalir tak terbendung.
Ivan merasa khawatir melihat Khaira di dalam kamar mandi sudah hampir setengah jam. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi, khawatir Khaira melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri.
Saat tangan Ivan sudah menyentuh gagang pintu Khaira langsung keluar. Ia terkejut melihat Ivan yang berdiri di depan pintu dengan raut penuh kekhawatiran.
“Yang …. “ Ivan langsung memeluk tubuh Khaira dengan erat.
Khaira berusaha mendorong tubuh kokoh yang kini telah merengkuhnya dalam pelukan. Tapi pelukan Ivan begitu kuat membuatnya tidak mampu melakukan perlawanan. Khaira terdiam, percuma saja ia memberontak, tubuhnya terlalu lemah untuk mendorong sosok kekar di hadapannya.
Ivan tersenyum ketika menyadari tidak ada lagi perlawanan yang dilakukan Khaira terhadapnya. Ia menangkup wajah ayu yang kini diam tanpa suara. Kedua pasang mata saling menatap.
“Terima kasih telah memberikan kesempatan kedua padaku,” Ivan mendekatkan wajahnya pada Khaira.
Ciuman hangat mendarat di kening Khaira. Ia memejamkan mata agar tidak melihat wajah Ivan yang sampai detik ini masih menyisakan luka di hatinya.
Setelah ijab qabul yang terjadi, baru kali ini ada kesempatan bagi Ivan untuk mencurahkan segala rasa yang terpendam dan sudah menumpuk di dalam hati sanubarinya. Melihat Khaira yang tak bereaksi dan memejamkan mata membuat Ivan bersemangat. Ia berharap Khaira membalas semua perbuatannya agar kehidupan rumah tangga mereka berjalan hangat seperti dulu.
Khaira merasa sesuatu yang lembut dan hangat mendarat di bibirnya. Kali ini dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Ivan. Ia tidak ingin terlihat lemah di mata Ivan. Walau pun Ivan kini telah kembali menjadi suaminya dan memiliki hak atas tubuhnya, tapi ia tidak akan membuatnya menjadi mudah, sebelum ia bisa mengobati dan melupakan semua kesedihan dan kedukaan yang pernah terjadi di masa lalu.
Ivan mengendorkan tangannya di tubuh Khaira. Tatapannya lekat memandang sorot protes yang tergambar di mata Khaira.
“Aku tidak akan memaksamu …. “ Ivan berkata dengan tenang dan lembut, “Kita akan melakukannya ketika kamu sudah merasa nyaman denganku.”
Mata Khaira langsung membulat mendengar ucapan terakhir Ivan. Dengan cepat ia melepaskan pelukan Ivan dan berjalan meninggalkannya.
Ivan tersenyum melihat Khaira yang berjalan menjauh. Ia akan memberikan waktu dan keleluasaan bagi Khaira dalam memulai hubungan mereka. Yang penting sekarang Khaira telah kembali menjadi miliknya. Urusan lain bisa diatur.
Khaira segera membaringkan tubuhnya di samping Fajar dan Embun yang kini sudah nyenyak dalam tidurnya. Ia enggan menatap Ivan yang kini berjalan mendekati tempat tidur. Terasa pergerakan di ujung tempat tidur. Ia segera memejamkan mata.
Ivan memandang tubuh Khaira yang membelakanginya. Perasaannya menghangat mengingat bahwa mulai saat ini semua telah kembali seperti apa yang ia inginkan sejak awal. Ia tak akan memaksa Khaira memperlakukannya seperti dulu. Ia akan sabar mengikuti air mengalir.
__ADS_1
“Tidurlah …. “ ujar Ivan lembut. Jemarinya membelai kepala Khaira yang masih tertutup jilbab yang tak dilepas sejak awal, “Hari ini terlalu berat untuk kita lalui.”
Kecupan lembut mendarat di keningnya. Khaira tak bisa mengelak atas semua perbuatan Ivan. Ia hanya terdiam tanpa suara.
Ivan kembali ke bawah setelah melihat ketiga orang yang paling ia sayangi telah terlelap dalam buaian. Senyum bahagia terbit di sudut bibirnya saat menghampiri saudara iparnya yang masih asyik bercengkrama dengan om Sadewo.
Ivan tidak menyangka Edward akan datang menyampaikan bela sungkawa atas kepergian mamanya. Melihat tatapan serius sahabatnya itu membuat Ivan memisahkan diri dengan ipar-iparnya yang kini duduk bersama om Sadewo. Ia membawa Edward ke ruang kerja setelah pamit dengan om Sadewo dan iparnya yang lain.
“Aku turut berduka cita atas kepergian aunty Laras,” Edward berkata dengan sungguh-sungguh.
“Terima kasih Ed. Aku sangat menghargai kedatanganmu,” Ivan memeluk Edward dengan hangat.
Keduanya kini duduk berhadapan di sofa yang berada di dalam ruangan.
“Aku minta maaf …. “ Edward menghentikan ucapannya.
Ivan menatap Edward penuh selidik. Ia yakin ada yang disembunyikan sahabatnya itu, karena tidak biasanya Edward kelihatan tertutup dan merahasiakan sesuatu.
“Aku yang mengatakan pada George bahwa kamu berada di rumah sakit saat ia menanyakan keberadaanmu,” Edward melanjutkan kata-katanya.
Ivan masih mencerna perkataan Edward. Ia belum memahami maksud dari ucapan Edward. Karena pikirannya masih tertuju pada Khaira dan kedua buah hatinya.
“Mungkin Claudia telah merencanakan semua ini begitu George mengatakan keberadaanmu.”
Ivan terpaku. Kini ia paham arah pembicaraan Edward. Tidak mungkin ia memarahi Edward atas semua yang telah terjadi. Ia yakin, bahwa semua memang sudah takdir Allah, dibalik musibah kepergian mamanya, Allah telah mengembalikan istri dan anak-anaknya.
Edward merasa khawatir melihat Ivan yang terdiam setelah apa yang ia sampaikan. Ia benar-benar menyesali semua yang telah terjadi.
“Aku sudah mengikhlaskan semua,” senyum tipis tersungging di sudut bibir Ivan, “Kamu tidak usah khawatir, kami baik-baik saja.”
“Claudia akan menerima hukuman setimpal dengan perbuatannya.”
“Bagaimana dengan Rara dan anak-anakmu?”
“Kami sudah kembali bersama,” Ivan berkata dengan serius, “Keinginan mama sebelum ia pergi membuat Khaira mengizinkanku untuk menikahinya kembali.”
“Syukurlah …. “ Edward benar-benar lega setelah mengetahuinya sendiri dari mulut Ivan, “Baiklah karena hari sudah larut, aku pergi.”
“Thanks Ed,” Ivan menjabat erat tangan Edward.
“Semoga kalian bahagia bersama,” doa tulus Edward sampaikan pada Ivan sebelum ia meninggalkan kediaman Ivan.
Keadaan rumah mulai sepi begitu tamu sudah meninggalkan kediaman Ivan. Yang tersisa hanya Ivan dan Danu yang masih berbicara masalah pekerjaan. Keduanya masih disibukkan dengan proyek rumah sakit kanker anak yang kini sudah berjalan 50 persen.
“Bos, selamat atas pernikahan anda dan mbak Aisya,” ujar Danu tiba-tiba, “Maaf baru sempat mengucapkan. Karena sangat mendadak.”
Ivan tersenyum menanggapi perkataan Danu. Ia menepuk pundak Danu dengan hangat.
“Terima kasih, karena selama ini kamu orang yang paling tau apa yang ku inginkan. Semoga pernikahan ini menjadi awal membuka gerbang kebahagiaan bagiku, Rara serta si kembar.”
“Aamiin ya Rabbal’alaamiin …. “ Danu mengaminkan perkataan Ivan yang terselip doa untuk kehidupan mereka di masa depan, “Bos sangat beruntung memiliki saudara ipar yang solid dan kompak. Aku turut berbahagia untukmu Bos.”
Ivan tersenyum tipis. Ia pun merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Saudara iparnya tidak berlepas tangan atas musibah yang terjadi menimpanya.
“Kau tau Dan, saat si kembar di rawat di rumah sakit aku sudah putus asa,” Ivan mengingat kembali sikap dingin yang ditunjukkan Khaira beserta iparnya yang lain.
__ADS_1
“Maksud Bos?” Danu mengerutkan kening.
Ia tidak melihat kejanggalan yang terjadi. Tetapi yang nampak nyata hanya sikap Khaira yang kaku dan tak acuh saat berhadapan dengan bosnya dan menganggapnya seolah tak ada.
“Mungkin kesalahan yang telah ku perbuat pada Rara membuatnya mati rasa,” Ivan membayangkan di malam saat mamanya meminta dengan tulus agar Khaira menerimanya kembali.
Penolakan Khaira atas permintaan mamanya telah menyadarkan dirinya bahwa memang tidak ada tempat lagi yang tersisa di hati Khaira untuknya.
“Aku terkejut saat mendengar Bos menikah dengan mbak Aisya, kok dadakan sih Bos?” Danu jadi kepo saat mendengar nyonya Laras dalam keadaan sakaratul maut hingga ia memasuki ruangan telah terjadi ijab qabul Ivan dan Khaira.
Pada saat itu ia hendak mengantarkan pakaian ganti Ivan yang sudah lima hari menunggu mamanya yang telah menjadi korban tabrakan maut oleh Claudia. Ia dapat melihat wajah tegang tiga orang lelaki gagah yang berada dalam ruang inap nyonya Laras.
“Sebelum meninggal, mama meminta Rara untuk menerimaku kembali,” mata Ivan berkabut saat mengatakannya.
“Oo … jadi karena wasiat nyonya, akhirnya mbak Aisya menerima Bos …. “ Danu manggut-manggut dan mengerti sekarang.
“Aku jadi teringat saat almarhum Abbas meninggal dunia …. “ Ivan memijit kepalanya yang terasa berdenyut.
“Siapa dia Bos?” Danu melihat raut Ivan yang diselimuti kesedihan.
“Suami pertama Rara. Dia teman baikku ….”
Danu terdiam. Pikirannya berrmain sendirian. Jadi ketika dinikahi bosnya ustadzah Aisya sudah pernah menikah. Wah, kasian bosnya hanya dapat janda ….
“Jangan berpikir macam-macam. Aku lelaki pertama yang menyentuhnya,” Ivan dapat membaca pikiran nyeleneh asistennya, “Kondisi Abbas seperti mama. Mereka melakukan pernikahan disaat sakaratul mautnya Abbas.”
Danu melongo mendengar ucapan Ivan. Ia tersenyum dengan raut tak nyaman, karena Ivan bisa mengetahui isi hatinya.
“Aku dapat merasakan kesedihan Rara,” Ivan mengusap wajahnya, “Satu jam sesudah menikah Abbas meninggal dunia.”
Tanpa diminta Danu, Ivan langsung menceritakan semua masa lalu yang telah ia lalui bersama Khaira dan almarhum Abbas.
“Nggak nyangka ya masa lalu bos begitu berwarna,” Danu tidak percaya mendengar cerita Ivan.
Padahal sejak awal bekerja sebagai fotografer hingga menjadi asisten pribadi, ia begitu mengagumi sisi relijius sosok bosnya yang tidak pernah ketinggalan waktu begitu panggilan azan tiba. Ternyata oh ternyata ….
“Mengenal Rara telah membuatku menemukan tujuan hidup,” ujar Ivan berkata pelan, “Dengan pernikahan ini aku akan membuktikan pada almarhumah mama dan saudara Rara bahwa aku akan memberikan kebahagiaan dan menjaga mereka seperti nyawaku sendiri.”
“Bagaimana dengan perempuan pemuja anda Bos?” Danu menyindir Ivan, karena ia melihat beberapa perempuan yang terang-terangan menyatakan suka khususnya Laura salah satu rekan bisnisnya.
“Aku akan berjuang untuk meraih hati Rara kembali. Tak ada tempat untuk yang lain.”
“Aku melihat mbak Aisya berapa kali jatuh pingsan selama prosesi pemakaman almarhumah nyonya ….”
“Aku tidak tau apa yang ia pikirkan," Ivan menghela nafas secara perlahan, "Tapi seiring berjalannya waktu semua akan baik-baik saja."
"Kesedihan akan kepergian nyonya memang terasa membekas, tetapi aku yakin bos sekarang lebih tenang karena keluarga bos telah kembali," ucapan Danu membuat senyum Ivan terkembang.
"Terima kasih Dan. Aku berjanji akan menjaga anugerah yang telah Allah berikan di sisa-sisa umurku."
"Bahagia selalu untuk bos dan mbak Aisya serta si kembar," Danu berkata dengan tulus.
Keduanya masih melanjutkan pembicaraan ringan lainnya, hingga tak terasa jam dinding berdentang satu kali.
"Kamu tidak usah pulang, sudah terlalu malam. Tidur saja di kamar tamu," Ivan menunjuk kamar kosong di samping mereka berbicara saat ini.
__ADS_1
"Terima kasih Bos," Danu menganggukkan kepala menyetujui usul Ivan.