
Jam baru menunjukkan pukul 9 pagi, setelah sarapan di kamar hotel Faiq dan Hani akan segera kembali ke rumah. Hani tidak bisa berpisah walaupun hanya satu hari dengan ketiga anaknya. Dengan santai keduanya meninggalkan kamar menuju lobby. Faiq tidak ingin menunggu terlalu lama, langsung menelpon ke rumah agar Karman segera datang menjemputnya. Satu jam kemudian keduanya sudah tiba di rumah.
“Bunda sama papa dayi mana?” celotehan Hasya sudah menyambut keduanya begitu sampai di kediaman orang tua Adi.
“Papa sama bunda ada keperluan dikit, biar dedek cepet dapat temen main.” Jawab Faiq sekenanya membuat Hani langsung mencubitnya dengan kesal.
Marisa dan Darmawan tersenyum mendengarkan jawaban Faiq yang santai tak ada beban. Mereka merasakan kebahagiaan seperti yang kini dirasakan putra semata wayang mereka.
“Mana dua jagoan papa nggak ada kelihatan?” Faiq melihat ke segala arah mencari kedua bocah yang tidak ada bersama mereka.
“Masih mandi bareng Lina.” Ujar Marisa. “Ada yang ingin ibu katakan pada kalian berdua.”
Faiq dan Hani saling berpandangan. Keduanya mengikuti langkah Marisa yang berjalan menuju sofa ruang keluarga. Mereka saling berdiam beberapa saat, hanya terdengar helaan nafas Marisa yang tampak memikirkan sesuatu.
“Apa yang ibu pikirkan?” Melihat mimik ibunya membuat Faiq sedikit khawatir.
Marisa menatap wajah Hani dengan lembut. “Mama mendapat kabar bahwa Linda masuk rumah sakit…”
“Lalu apa hubungannya dengan kita?” kejar Faiq cepat.
“Ia pingsan saat menghadiri resepsi kalian tadi malam.” Marisa menatap keduanya bergantian, “Ibu ingin mengajak kamu dan Hani untuk mengunjunginya, jika kalian tidak keberatan…”
“Bagaimana menurutmu, Ra…?” Faiq menatap Hani ingin mendengar jawaban istrinya itu.
“Jika itu bisa mendatangkan kebaikan, saya ikut.” Ujar Hani pelan. Ia juga merasa tidak nyaman mendengar Linda pingsan di acara resepsi pernikahan mereka.
Tepat jam 4 sore Marisa, Faiq dan Hani sudah berjalan menuju ruang rawat inap Linda. Hani membawa parcel buah ditangan kirinya. Tangan kanannya berada di dalam genggaman Faiq. Marisa tersenyum menyaksikan kemesraan anak dan menantunya.
“Assalamu’alaikum…” ketiganya kompak mengucap salam begitu pintu terbuka.
“Waalaikumussalam.” Adi yang hendak keluar menghubungi Johan terkejut melihat ketiga tamu yang berada di hadapannya. “Silakan masuk, tante.”
“Terima kasih.” Marisa menganggukkan kepala pada Adi yang membuka pintu lebar-lebar untuk mereka.
Faiq dapat merasakan pandangan Adi yang tertuju pada istrinya. Ia menepuk pundak Adi dengan kuat, “Kami turut prihatin atas musibah yang menimpa tante Linda.”
Adi segera memalingkan wajahnya dari Hani. Ia sadar pukulan di bahunya mengingatkan bahwa sang empunya tidak suka ada orang lain yang menatap miliknya dengan intens.
“Terimakasih, Reza.” Akhirnya Adi kembali memanggil Faiq dengan nama kecilnya saat mereka biasa bermain bersama di waktu masih bocah.
Marisa dan Hani berdiri di samping tempat tidur. Kondisi Linda tampak masih lemah. Ia melihat sekelilingnya, karena tidak melihat Helen berada di ruangan yang sama dengan mereka.
“Apa kamu hanya berdua dengan Tama, dimana menantumu?” Marisa merasa kepo karena prihatin dengan kondisi Linda.
Sorot mata Linda yang tadinya senang atas kunjungan Marisa bersama anak dan menantunya langsung redup. Ia tidak ingin mendengar nama itu lagi.
__ADS_1
“Aku seorang ibu yang gagal, Mar…” matanya berkaca-kaca saat mengucapkan itu. Pandangannya beralih pada Adi dan Faiq yang kini duduk di sofa.
“Tidak ada ibu yang gagal. Buktinya kamu telah menjadikan putra tunggalmu seorang pengusaha hebat sehingga disegani dikalangan pengusaha…” Marisa berusaha menghibur Linda yang tampak berduka.
Tatapan Linda beralih pada Hani. Ia melihat mantan menantunya sangat terawat sehingga aura kecantikannya keluar sempurna. “Maafkan atas kesalahan mama selama ini padamu, Han.” Tangan Linda terulur mencoba meraih tangan Hani.
Marisa menganggukkan kepalanya sebagai isyarat agar Hani memenuhi keinginan Linda. Dengan pelan Hani meraih tangan Linda yang dingin dan pucat.
“Tante tidak melakukan kesalahan apapun pada saya. Semuanya telah berlalu. Saya sudah lama memaafkan tante.” Hani berkata dengan nada lembut.
Dari jarak 4 meter, Faiq dan Adi mendengar obrolan mereka. Keduanya saling berdiam diri, tidak tau harus berbicara apa. Sesekali Faiq mengamati Adi yang mencuri pandang pada Hani sambil menghela nafas dengan berat.
“Mama menyesal membiarkan kamu dan Adi bercerai…” Air mata Linda jatuh berurai saat mengatakan itu. “Mama sangat merindukan cucu-cucu mama.”
“Tante…” Hani memotong perkataan Linda, “Itu hanya masa lalu. Tante tau, kami berdua sudah memiliki keluarga masing-masing.”
“Mama sangat bersalah padamu dan cucu-cucu mama…”
Semuanya terhenyak mendengar ucapan Linda. Faiq dan Adi berjalan mendekati tempat tidur Linda. Dengan cepat Faiq meraih pinggang Hani dan merengkuhnya dengan erat.
Adi melihat perlakuan Faiq. Ia hanya mampu memalingkan muka. Kecemburuan yang ia miliki sudah tak berdasar. Hani bukan miliknya lagi, ia telah membuang karunia terindah yang telah dianugerahkan sang pencipta kepadanya.
“Tante, saya sadar bahwa ada darah tante yang mengalir di tubuh ketiga anak saya. Dan saya tidak akan memutuskan tali silaturahmi jika tante ingin menemui ketiganya.”
“Mas bangga padamu sayang…” bisiknya di telinga Hani.
Adi melihat pemandangan itu dengan hati remuk redam. Kebahagiaan yang seharusnya ia genggam dengan kuat, tapi terlepas tak bersisa, apa yang sekarang ia harapkan.
“Apakah kamu akan mengizinkan jika mama dan Adi bertemu dengan mereka?” tatapan Linda tampak sayu memandang Hani. Ia melihat bagaimana posesifnya Faiq melindungi istrinya. Dan ia merasakan kesedihan saat tatapannya beralih ke Adi yang hanya termangu tak berdaya.
“Kamu harus percaya sama Hani.” Sela Marisa cepat. “Kami akan mendukung apapun keputusan Hani. Kamu adalah eyang mereka, sedangkan Tama ayah biologis mereka. Sudah sepantasnya kita saling berbaikan.”
Faiq membenarkan perkataan Marisa, “Saya dan Hani akan mengatur waktu bagi tante Linda dan bang Tama jika ingin mengunjungi mereka.”
Akhirnya Faiq pun mengingat kembali panggilan masa kecilnya pada Adi. Mereka akan memulai kembali silaturahmi yang sempat terputus. Ia tidak ingin pertikaian ini berlarut-larut, kedua keluarga masih saling terikat karena ada malaikat-malaikat kecil di antara mereka.
Hani merasa tenang dengan dukungan yang diberikan suami serta mertuanya. Ia menggenggam erat tangan Linda, “Semoga tante cepat pulih kembali, biar anak-anak senang bisa bermain dengan eyangnya.” Senyum tulus tergambar di wajah ayu Hani membuat penyesalan Linda semakin berlipat-lipat.
Air mata Linda jatuh tak terlerai. Bayangan perilaku sombongnya terhadap Hani serta si kembar saat masih bayi kembali berkelebat di pelupuk matanya. Ia tidak pernah menghiraukan kesulitan yang dialami Hani yang harus mengurus suami serta si kembar yang sedang aktif-aktifnya.
Ia selalu mencari kesalahan Hani setiap hari. Dan ia merasa puas, jika kerjaan Hani tidak beres karena tidak bisa membagi waktu. Tubuh mungil Hani yang semakin ringkih membuatnya malu mengakui Hani adalah menantu mereka.
Saat pertemuan kembali dengan Helen di acara kantor membuat Linda merasa di atas angin. Menantu idamannya telah datang. Dan ia merestui hubungan yang terjadi diantara keduanya tanpa memikirkan perasaan Hani yang telah memberikan ia sepasang cucu kembar. Dengan penuh kearogansiannya Linda selalu membanggakan Helen di depan Hani.
Suara keributan di luar ruangan menghentikan lamunan Linda. Semuanya kompak memandang ke arah pintu.
__ADS_1
Adi berjalan dengan cepat. Ia tau, bahwa Johan berada di depan ruangan, karena ia telah memintanya sejak dua jam yang lalu.
“Nyonya Helen memaksa masuk, tuan…” Johan berkata dengan raut khawatir.
“Lin, kami pamit ya. Semoga kamu cepat pulih.” Marisa dengan cepat mengulurkan tangannya pada Linda. Ia tak ingin berada dalam masalah pelik yang tampaknya sedang melingkupi keluarga Linda.
“Terima kasih atas kunjungan kalian…” Mata Linda berkaca-kaca saat harus melepas Marisa dan keluarganya. Kini ia sadar, hanya Marisa-lah teman terbaik yang ia miliki di saat ia dalam kondisi terpuruk.
Ketiganya keluar dari kamar Linda berbarengan. Tangan Faiq tidak melepaskan jemari Hani yang berada di dalam genggamannya sedetikpun. Saat berada di luar ruangan ketiganya melihat ketegangan yang terjadi antara Helen dan Adi.
Hani menatap Helen sejenak. Ia terkejut, penampilan Helen yang selalu elegan kini tak terlihat sama sekali. Wajahnya kusam tak terawat, pakaian yang ia gunakan pun tampak seadanya.
“Permisi, nyonya Helen… “ pamit Hani dengan sopan.
Helen memandang Hani dengan nanar. Ia tersenyum kecut. Kini ia kalah telak dari menantu kesayangan Sofyan. Perempuan itu semakin bersinar, dan usianya pun masih muda di banding dirinya. Tiada lagi kebanggaan yang ia miliki, karena suami yang ia banggakan tidak memandangnya sedikitpun.
Tatapan Adi tak lepas dari Hani hingga hilang dari pandangan matanya. Aura Hani terpancar begitu kuat. Adi menelan ludah teringat masalalu manis yang pernah mereka lalui bersama, tapi kini berakhir dengan kepahitan bagi dirinya dan Linda.
“Apa lagi yang kau inginkan?” suara Adi terdengar datar di telinga Helen.
“Mas, aku dan Gilang sudah tidak ada hubungan lagi. Aku hanya mencintaimu. Berikan aku kesempatan…” Helen berkata dengan lirih.
Adi memandang wajah Helen dengan perasaan kesal bercampur kecewa, “Kau tau Helen, aku begitu mempercayaimu. Perasaan cintaku padamu telah membutakan kasih sayang yang diberikan Hani padaku, hingga aku menceraikannya dan melepas anak-anakku demi hidup bersamamu dan anak yang kau kandung tapi tak akan pernah kumiliki.”
Helen tertunduk sedih, sesekali ia memandang Adi yang berdiri memandang kejauhan. Lelaki itu, walaupun masih berstatus suaminya tapi sudah tak bisa ia sentuh. Jurang yang dalam telah menjadi jarak yang tidak bisa ia lewati untuk bersama Adi.
“Jika aku bisa kembali ke masa lalu. Ku harap aku tidak pernah bertemu denganmu. Bersamamu menjadi kehancuran terbesar dalam hidupku…”
“Aku tidak ingin berpisah denganmu, mas. Aku sebatang kara di sini.” Helen merasa putus asa dengan kehidupannya sekarang.
“Mulai sekarang kau ku bebaskan. Aku akan menjamin biaya hidupmu. Sebuah rumah untuk tempat tinggalmu sudah aku persiapkan.”
“Kau ingin menceraikanku?” Helen terkejut mendengar ucapan Adi.
“Mulai sekarang jangan pernah menemuiku lagi. Bernhart dan Johan akan mengurus semuanya.” Adi bergegas meninggalkan Helen yang terduduk lemas di kursi tunggu luar kamar inap Linda.
Sambil menemani ibunya yang masih beristirahat, Adi membuka tas kerjanya mengeluarkan kamera yang baru sempat dibetulkan Johan. Ia merasa penasaran dengan rekaman terakhir yang dimiliki almarhum papanya.
Tanpa berkedip Adi melihat video yang tergambar di sana. Dadanya sesak menyaksikan percakapan terakhir antara almarhum papanya dan Helen. Kebenaran yang tidak ia ketahui selama ini. Betapa ia hidup dalam kebohongan orang-orang di sekitarnya.
Adi meremas dadanya, sakit pasti. Kesedihan dan penyesalan akan menjadi teman yang akan mengiringi ia hingga di ujung hayatnya. Kebahagiaan yang ia harapkan, ternyata hanya semu belaka. Cinta pertama yang ia pertahankan menjadi boomerang yang menghancurkan kebahagiaan sejatinya.
__ADS_1