Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 280 S2 (Ulat Bulu Gigit Jari)


__ADS_3

Laura datang bersama mamanya Virna setelah Maghrib. Ia sangat terkejut mendengar kecelakaan maut yang menyebabkan kepergian Laras secara mendadak. Ia mendengar beritanya  sore ketika di kantor, Berli menceritakan kepergian mamanya Ivan.


Begitu tiba di rumah tepat jam lima sore sepulang dari kantor, ia sudah memaksa mamanya untuk menemaninya.


“Tante Laras itu calon besan mama …. “ Laura setengah memaksa saat Virna masih disibukkan dengan kerjaan di salonnya.


“Sejak kapan kamu dekat dengan Ivan?” tak ayal Virna tertarik mendengar ucapan putri semata wayangnya.


“Enam bulan lebih. Tante Laras telah memberi lampu hijau padaku. Ia senang aku berhubungan dengan mas Ivan, apalagi mas Ivan sangat menyayangi Bobby,” Laura berkata dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi.


“Syukurlah mama senang mendengarnya,” Virna antusiaas mendengar ucapan Laura, “Pingin juga merasa dapat menantu tajir.”


Mendengar perkataan mamanya yang penuh semangat, Laura terdiam. Ia ingat saat pertemuan terakhir dengan Ivan dan Laras di rumah sakit, ia melihat Ivan begitu bahagia dengan kedua bocah kembar yang berada di gendongannya dan perempuan sederhana yang ia pandang sebelah mata.


“Ada masalah?” Virna melihat Laura yang tiba-tiba diam dan jadi murung.


“Entahlah ma, aku jadi bingung … informasi yang ku dengar terakhir mas Ivan telah bercerai dengan istrinya. Tetapi kemaren aku melihat mereka bersama di rumah sakit.”


“Bagaimana sikap Ivan padamu?” Virna jadi penasaran karena ia cukup mengenal kehidupan putra tajir sahabatnya itu.


“Ia baik, dan perhatian sama Bobby. Kemaren belanjaain mainan Bobby sangat banyak,” Laura membayangkan tubuh kokoh dengan wajah tampan yang diselimuti kumis dan brewok membuatnya semakin berkharisma. Apalagi sosok kekarnya. Pikiran Laura mengembara, “Ia tipe semua perempuan masa kini. Tampan, tajir ….”


“Mama penasaran mendengar ceritamu. Dulu Laras pernah cerita bahwa Ivan sangat mencintai istrinya walau pun mereka belum dikaruniai seorang anak,” Virna berkata sambil mengingat pembicaraan yang terjadi antara dirinya dan Laras saat itu, “Kabar terakhir yang mama dengar, mereka berpisah … entah apa masalahnya mama tidak pernah tau. Laras menutup diri akan hal itu.”


“Wajar sih ma, menurutku mantan istrinya mas Ivan penampilannya itu sangat ketinggalan jaman, dan orangnya biasa aja nggak cantik-cantik amat. Bisa saja mereka berpisah karena tidak selevel. Perempuan itu tidak bisa menyesuaikan dengan kehidupan tajir mas Ivan,”  Laura berkata sambil mencibir.


Virna mengerutkan jidatnya. Ia yakin putrinya salah informasi.  Ia menghadiri pernikahan mewah Ivan dan istrinya hampir tujuh tahun yang lalu. Pada saat itu Laura masih bekerja di kota yang berbeda, sehingga tidak mengenal istri Ivan.


Tapi Virna tak peduli, yang penting Laura segera menemukan pendamping. Terkadang ia tidak nyaman mendengar bisik-bisik karyawan salonnya tentang sifat hedon Laura yang suka memanfaatkan lelaki hidung belang untuk membiayai semua keperluannya. Jika memang ada jodoh antara Laura dan Ivan ia akan sangat bersyukur.


Virna segera mengakhiri pekerjaannya memeriksa buku laporan bulanan salon miliknya yang baru diantar Ririn staf kepercayaannya.


“Baiklah, selesai Magrib kita berangkat,” Virna bangkit dari kursi kerjanya.


Saat di pemakaman mamanya, Ivan tak tega melihat Khaira kembali tidak sadarkan diri. Ia bersama ipar-iparnya beserta sepupunya memikul keranda hingga jenazah dimasukkan ke liang lahat.


Khaira masih mengingat percakapan terakhir yang terjadi antara ia dan Laras di malam terakhir si kembar di rumah sakit. Ia merasakan penyesalan karena penolakannya atas permintaan Laras untuk menerima Ivan kembali. Walau pun pada akhirnya ia  dan Ivan menikah, tapi ia melihat raut kekecewaan yang tergambar jelas di wajah Laras malam itu. Selama ia menjadi menantunya, Laras adalah mertua terbaik dan selalu mendukungnya.


Ketika jenazah mulai dimasukan ke dalam liang lahat, tubuhnya terasa seperti jeli. Untung saja Embun dan Fajar tidak rewel dalam gendongan Ira dan Rheina. Khaira sudah tidak ingat apa-apa lagi.


Begitu doa telah selesai dibacakan ustadz Hanan, dan para pelayat mulai meninggalkan pemakaman, dengan cepat Ivan mengangkat tubuh rapuh Khaira ke dalam gendongannya dan membawanya memasuki mobil yang dikemudikan Danu. Fatih segera melipat kursi roda yang dipakai Khaira.


“Sayang …. “ Ivan berkata pelan sambil menepuk pipinya dengan lembut.


Ia tidak tau apa yang ada dipikiran Khaira sehingga tampak begitu terpukul atas kepergian mamanya. Tapi apa pun yang terjadi, ia akan menguatkan istrinya.


Samar-samar Khaira merasakan tepukan lembut di pipinya. Aroma parfum maskulin begitu dekat hingga tercium hidungnya. Ia merasakan sebuah genggaman menghangatkan jemarinya.


“Hmm …. “ dengan pelan Khaira membuka mata.

__ADS_1


Pandangan keduanya bertemu. Khaira melihat tatapan kekhawatiran tergambar di wajah Ivan yang berada di atasnya. Baru ia menyadari bahwa kepalanya berada di pangkuan Ivan.


“Mana Fajar dan Embun?” Khaira berusaha bangun. Ia tidak nyaman dengan posisinya yang begitu dekat dengan Ivan.


Ivan menahan bahunya, “Biar  seperti ini. Sebentar  lagi kita akan tiba di rumah. Si kembar bersama mbak Ira dan mas Ariq. Keduanya baik-baik saja.”


Khaira tak bisa berbuat banyak. Ia terdiam dan mengalihkan pandangan dari tatapan lekat Ivan yang tak bergeming darinya.


Sebuah  ciuman hangat mendarat beberapa menit di keningnya. Khaira terkejut. Ia tidak menyangka Ivan akan melakukannya.


Mata Khaira membulat memandang wajah Ivan yang tersenyum begitu dekat dengan wajahnya.


“Terima kasih karena telah menerimaku kembali,” Ivan berkata dengan lembut.


Khaira tidak menjawab. Suasana berubah hening, hingga akhirnya mobil tiba dan memasuki pekarangan rumah Laras yang masih didatangi para pelayat.


Begitu mobil berhenti, Khaira segera bangkit dari pangkuan Ivan. Ia melihat Ivan dengan cepat turun dari mobil. Belum sempat Khaira menjejakkan kakinya di tanah, sebuah tangan kekar telah merengkuh pinggangnya membuat tubuhnya terasa melayang. Ia terkejut begitu menyadari bahwa Ivan kembali menggendongnya dan membawanya memasuki rumah..


Senyum tipis tersungging di bibir Ivan melihat tidak ada perlawanan berarti dari Khaira. Ia merasa bahagia karena setelah berbagai drama dan pengorbanan terbesar yang dilakukan mamanya telah mengembalikan Khaira ke dalam pelukannya.


Para pelayat hingga habis Isya masih banyak yang datang sekedar berbela sungkawa. Ivan merasa tenang keluarga besarnya dari pihak om Sadewo serta saudara iparnya masih betah mendampinginya melayani tamu yang tak kunjung berhenti.


“Apa kamu tidak ingin mengibur calon suamimu?” Virna melirik Laura yang terus menatap Ivan yang duduk didampingi empat saudara iparnya.


Laura sejak awal datang, keinginannya hanya satu, ingin memberikan penghiburan pada Ivan. Tetapi melihat keempat lelaki yang tidak bergerak dari sisi Ivan membuatnya merasa tidak nyaman.


“Virna Sri Lestari  …. “ Indah terkejut melihat teman SMA-nya ada di kediaman Laras.


“Kamu masih mengingatku …. “ Virna merasa senang karena Indah mengenalnya.


“Iya dong,” Indah menganggukkan kepala dengan pernuh antusias, karena keduanya cukup akrab saat SMA.


“Kami turut berduka cita atas kepergian Laras,” Virna berkata dengan pelan, “Padahal saat arisan alumni tiga minggu yang lalu ia masih tampak sehat. Hanya kamu yang nggak ikut perkumpulan alumni.”


“Maaf,” Indah berkata dengan penuh penyesalan, “Pekerjaan di bank begitu mengikatku, sehingga tidak ada waktu untuk bersosialisasi dengan teman-teman di luar lingkup kerjaanku.”


“Yah, mau gimana lagi. Resiko jabatan, dan itu sudah menjadi keinginanmu sejak dulu untuk bekerja di dunia perbankan,” Virna tersenyum tipis berusaha menenangkan Indah.


Laura tak mengalihkan tatapan dari Ivan. Ia merasa kesal ketika melihat si kembar mulai duduk di pangkuan Ivan sambil bermain dengan penuh keceriaan.


“Aku turut berduka atas meninggalnya Laras …. “ Virna mulai berkata serius. Ia tidak ingin berbasa-basi lagi.


“Terima kasih Vir,” Indah tersenyum menanggapi ucapan Virna, “Dibalik musibah yang merenggut nyawa mbak Laras, Allah juga memberikan anugerah terindahnya untuk Ivan.”


“Maksudmu?” Virna penasaran dengan perkataan Indah.


Kini mata mereka langsung tertuju pada Ivan yang masih melayani tamu-tamu yang tak berhenti berdatangan untuk menyampaikan duka cita serta bela sungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian mamanya.


Virna penasaran dengan dua bocah kembar yang bermanja dalam pangkuan Ivan. Ia melihat jemari Ivan yang membelai kepala si kembar dan sesekali mencium kepala mereka dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


“Keinginan mbak Laras untuk menyatukan Ivan dan Rara yang telah melahirkan sepasang cucu kembarnya akhirnya tercapai,” Indah berkata dengan perasaan bahagia, “Sebelum mbak Laras meninggal keduanya telah menikah kembali ….”


“Duar …. “ Jantung Laura terasa meledak mendengar ucapan Indah.


Sontak ia dan mamanya saling berpandangan. Ia tak percaya mendengar perkataan tante Indah. Bagaimana mungkin hal ini terjadi. Dan kenapa itu bisa terjadi….


“Tante …. “ Hasya merasakan tubuhnya kelelahan setelah seharian bersama iparnya yang lain membantu berkemas di rumah tante Laras, “Saya dan mbak Ira pamit pulang.”


Indah mengalihkan tatapannya pada Hasya dan Ira yang kini mulai berbenah merapikan pakaian mereka.


“Terima kasih ya,” Indah tersenyum sambil menganggukkan kepala, “Besok kalian tetap kemari kan?”


“Pasti tante. Kasian juga sama ade kalau kami nggak kemari,” Ira menjawab sambil menyunggingkan senyum dan menganggukkan kepala pada Virna dan Laura.


Azkia dan Rheina pun segera pamit pada mereka begitu Ira dan Hasya berlalu dari hadapan keduanya dan mulai berjalan mendekati Ivan dan suami-suami mereka.


“Siapa mereka ma?” Laura merasa heran melihat perempuan-perempuan yang kelihatan berkelas di matanya. Pertanyaan Laura cukup terdengar di telinga Indah.


“Itu saudari dan iparnya Rara istri Ivan,” jawab Indah cepat, “Kami keluarga besar sangat senang karena keduanya bersatu kembali.”


“Apa yang terjadi?” Virna semakin penasaran, matanya tajam memandang Laura yang terdiam karena tidak nyaman.


“Biasa, namanya berumah tangga pasti ada saja ujian di dalamnya. Dan dengan adanya si kembar yang menyatukan mereka hingga kembali bersama …. “ Indah mengulas senyum saat mengatakannya.


Karena malam semakin larut, tamu yang datang melayat satu demi satu mulai meninggalkan rumah. Hanya tinggal beberapa kerabat dekat serta tetangga di sekeliling rumah yang masih bertahan.


“Mah, kita pulang yok. Sudah larut juga, kasian Bobby,” dengan menahan segala kekecewaan akhirnya Laura mengajak mamanya pulang. Tak mungkin ia berlama-lama mengharapkan sesuatu yang sudah tidak bisa ia tunggu.


Mendengar cerita tante Indah, ia jadi sadar diri bahwa perempuan yang pernah menjadi istri Ivan dan kini telah kembali dengan menyandang status yang sama bukanlah perempuan sembarangan. Ia merasa insecure dengan fakta baru yang kini ia ketahui dengan jelas.


“Baiklah,” Virna dapat mengetahui kekecewaan yang tergambar jelas di mata putri semata wayangnya.


“Pamitan sekalian dengan Ivan. Tuh, juga ada istrinya …. “ Indah dengan santainya mendorong Virna dengan pelan, sehingga mau tak mau Virna dan Laras berjalan ke arah Ivan.


Khaira menghampiri Ivan yang masih duduk bersama Danu dan Ali serta Fatih yang masih bertahan menemani. Ia melihat Fajar dan Embun yang sudah tertidur di pangkuan sang ayah. Melihat kedatangan Khaira, Ivan segera mengangkat Fajar.


“Biar mas yang bawa mereka ke kamar,” Ivan berkata pelan sambil menatapnya lekat.


“Nak Ivan …. “ Virna bersama Laura kini berdiri di hadapan Ivan dan Khaira yang kini menggendong Embun dan Fajar yang sudah terlelap dalam buaian masing-masing.


“Tante Virna …. “ Ivan berkata dengan sopan menyapa teman almarhum mamanya yang selalu aktif dalam kegiatan alumni SMA, “Terima kasih atas kedatangan tante.”


“Tante mengucapkan turut berduka cita atas kepergian mamamu. Semoga Allah memberikan tempat terbaik buat mamamu.”


“Aamiin ya Rabbal’alaamiin …. “ Ivan tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Om Sadewo dan tante Indah masih terlibat percakapan dengan tante Virna ketika Ivan pamit untuk membawa si kembar ke kamar.


Perasaan sedih menghinggapi hati Laura saat Ivan menggandeng Khaira menuju ke lantai atas dengan membawa si kembar bersama mereka. Kuncup-kuncup yang mulai tumbuh di hatinya akan kebaikan yang ditunjukkan Ivan pada Bobby yang membuatnya merasa tersanjung, kini layu sebelum berkembang. Ini memang bukan takdirnya ….

__ADS_1


__ADS_2