Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 162 S2 (Mengurai Benang Kusut)


__ADS_3

Khaira mengerjabkan mata dan membukanya dengan perlahan. Karena  kondisi ruang tunggu di bandara yang terlalu dingin membuatnya merasa tidak nyaman. Kepalanya terasa berputar. Ia sudah tidak fokus mendengarkan Afifah dan Junior yang berbicara tentang rencana mereka begitu sampainya di Inggis. Hingga akhirnya tubuhnya terasa ringan, dan Khaira sudah tidak ingat apa-apa lagi.


“Kamu sudah sadar. De?”


Sebuah  suara bass membuat Khaira memandangnya seketika. Ia terpaku melihat Ariq dan Fatih yang memandangnya dengan raut penuh kekhawatiran.


“Mas Ariq …. “ Khaira memandang Ariq dengan wajah cemas.


Melihat  wajah-wajah tegang yang memandangnya,  membuat Khaira yakin bahwa mereka sudah mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Khaira menundukkan kepala dengan perasaan khawatir yang teramat besar.


Ariq menepuk bahunya sambil menatapnya dengan lekat. Ia menyadari wajah murung dan sedih yang tergambar pada adiknya itu, dan Ariq sudah mengingatkan saudaranya yang lain agar tidak menginterogasi Khaira. Biar Hasya yang mendekatinya dan membuat Khaira merasa nyaman untuk berterus terang padanya.


“Jangan menyesali apa yang telah terjadi. Semua yang kamu alami adalah musibah. Kita akan selalu mendukungmu dan melindungimu,” ujar Ariq pelan membuat Khaira tak bisa menahan air mata yang langsung terjun bebas di pipinya.


Junior dan Afifah saling berpandangan tidak mengerti pembicaraan yang terjadi di hadapan mereka. Dan keduanya sangat terkejut saat mendengar Ariq dan Fatih akan menjemput Khaira dan membawanya pulang kembali ke Indonesia saat Fatih melakukan vc-an dengan Ariq.


“Jika perkuliahan kalian belum di mulai, sebaiknya batalkan dulu keberangkatan  kalian hingga 2 bulan ke depan,” ujar Ariq sambil memandang Afifah dan Junior yang masih belum tau keadaan yang terjadi.


“Apa ada masalah mas?” tak ayal Junior memandang Ariq untuk meminta penjelasan dari saudara tuanya itu.


“Masalah ini akan kita bicarakan di rumah. Siapkan barang-barang kalian, kita akan pulang ke Indonesia menggunakan jet.” Tanpa panjang lebar Ariq mengingatkan Junior dan Afifah untuk berkemas dan bersama kembali ke Indonesia.


Karena Junior dan Afifah akan kembali ke rumah oma Marisa, maka Ariq meminta Khaira untuk tinggal sementara waktu di tempat Hasya. Ia tau Hasya-lah yang paling dekat dengan Khaira sehingga ia bisa meminta bantuan Hasya untuk mengorek keterangan semua kejadian yang menimpa Khaira.


Khaira menghempaskan tubuhnya di pembaringan begitu  Hasya mengantarkannya ke kamar yang biasa ia tempati saat menginap di rumah kakaknya itu. Melihat kondisi Khaira yang tampak pucat dan lelah membuat Hasya menyuruhnya istirahat terlebih dahulu.


Hasya segera meminta mbok Siti asisten rumah tangganya untuk menyiapkan teh hangat dan camilan karena Khaira belum mau makan yang berat.  Dengan telaten Hasya menemani Khaira menghabiskan teh hangat dan camilan yang lumayan membuat tubuhnya terasa hangat.


“Istirahatlah dulu, mbak akan merawatmu sampai pulih kembali. Jangan berpikiran yang macam-macam,” ujar Hasya lembut penuh perhatian.


Khaira menganggukkan kepala karena dirinya memang merasa kurang sehat. Ia merasa lega begitu menikmati secangkir teh hangat dan snack yang cukup mengenyangkan sehingga rasa mualnya langsung hilang. Akhirnya Khaira mulai membaringkan tubuhnya di kasur.

__ADS_1


Hasya langsung menyelimuti tubuh adiknya. Begitu melihat Khaira sudah terlelap, ia kembali ke ruang keluarga menemui Ariq dan Fatih yang masih menunggunya dengan sabar. Ia belum mengetahui masalah yang terjadi.


Saat menerima telpon Ariq dua jam yang lalu ia sangat terkejut. Bagaimana tidak, ia yang masih di rumah sakit harus pulang kembali ke rumah, karena ada permasalahan keluarga yang sangat penting akan dibicarakan Ariq sepulangnya dari Singapura.


Dengan perasaan cemas, ia meminta izin pada dokter piket untuk menggantikan dirinya yang akan room visit ke ruangan pasien. Dan berhubung Valdo juga dinas pagi membuat Hasya merasa sedikit tenang meninggalkan pasiennya.


“Ada apa yang?” Valdo menatap istrinya yang menyimpan peralatan kesehatan di dalam lemari kerjanya.


“Nggak tau juga mas. Barusan mas Ariq nelpon minta aku pulang sekarang. Semoga semua baik-baik saja,” Hasya bergegas membuka snelli dan menggantungnya dengan cepat.


“Hati-hati di jalan sayang,” Valdo mengulurkan tangannya yang langsung disambut Hasya dan menciumnya dengan lembut, “Jika ada masalah berat langsung hubungi, mas akan segera menyusulmu pulang.”


“Baiklah. Assalamu’alaikum,” Hasya segera berlalu meninggalkan suaminya yang terus menatapnya hingga hilang di persimpangan rumah sakit.


Kini ia sudah duduk berhadapan dengan Ariq dan Fatih yang menunggunya dengan tegang. Hasya merasa khawatir melihat ketegangan di wajah keduanya. Ia belum bisa menyimpulkan apa yang terjadi.


“Ada masalah baru yang menimpa Rara, dan ini cukup berat,” ujar Ariq pelan. Ia khawatir pembicaraan mereka bisa di dengar Khaira.


Sulit bagi Ariq untuk mengungkapkan kebenaran yang terjadi dan kini menimpa adik kesayangan mereka.


“Mas, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba keberangkatan Rara dan Junior ditunda?” tak ayal Hasya langsung melempar pertanyaan. Ia tidak ingin terombang-ambing dengan rasa penasaran atas sikap Ariq yang tiba-tiba muram dengan wajah sedih yang kini tak bisa ia sembunyikan.


“Rara hamil …. “ desisnya lirih hampir tidak terdengar.


“Apa?” mata Hasya membulat mendengar ucapan Ariq, “Siapa yang melakukan itu? Apakah temannya yang bertemu di Paris?” pikiran Hasya langsung tertuju pada Anwar, teman baik Khaira dan almarhum Abbas.


“Sayangnya bukan.” Ariq menggelengkan kepala cepat.


“Lalu siapa?” kejar Hasya, “Ku kira ade nggak punya teman lain selain Anwar dan anak kafe. Nggak mungkin musuh keluarga. Mas nggak punya musuh di perusahaan kan?”


Ariq menggeleng tegas, “Selama ini aku selalu melindungi jati diri Rara. Apa lagi semenjak dia memegang Kara Jewellery. Aku memberikan pengamanan tingkat tinggi, hingga siapa pun tidak mudah mengakses dan melihat profil dirinya serta keluarganya.”

__ADS_1


“Tapi kenapa dia bisa dilecehkan? Lalu siapa pelakunya?” Hasya sudah tidak sabar mengetahui pelaku yang telah membuat Rara hamil.


“Seorang pengusaha entertainment temannya almarhum Abbas,” tandas Ariq seketika, “Dan dia telah datang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia melamar Rara tadi pagi di kantorku.”


“Astagfirullahhaladjim …. “ Hasya menutup mulutnya tak percaya mendengar perkataan Ariq, “Kenapa dia setega itu? Apakah dia mencintai ade?”


Pikiran Ariq tertuju pada kejadian saat Ivan datang melamar tadi pagi di kantornya. Ia cukup kagum atas pengakuan lelaki yang tidak bisa dipandang sebelah mata itu. Tapi mengingat Rara yang akan pergi ke luar negeri dengan alasan ingin melanjutkan pendidikan sangat tidak masuk akal.


“Jadi bagaimana kelanjutannya, apa mas menerima lamaran lelaki itu? Siapa namanya?” Hanya masih penasaran dengan jawaban Ariq yang masih menyisakan rasa ingin tau lebih besar di kepalanya.


“Namanya Alexander  Ivandra,” jawab Ariq cepat, “Aku yakin Rara pasti mengenal lelaki itu. Kalau tidak bagaimana ia bisa hamil? Tetapi yang membuatku bingung, kenapa dia ingin pergi ke luar negeri? Apa dia ingin menyembunyikan kehamilannya dari kita?”


Hasya terdiam. Mendengar perkataan Ariq membuatnya tambah bingung. Ia jadi berpikir kalau Khaira trauma dan ingin menyimpan masalahnya seorang diri, karena tidak ingin membiarkan saudara-saudaranya terbebani.


“Rasanya ingin ku akhiri lelaki yang telah melakukan perbuatan terkutuk pada adek,” kini Hasya merasakan geram dan marah setelah menyadari apa yang dilakukan Ivan pada adik kesayangannya.


“Jangan khawatir, Ali telah menghukumnya. Mukanya babak belur dan berdarah akibat perbuatan Ali.”


“Syukurin,” Hasya merasa puas, “Lantas mas sendiri?”


“Rasanya aku ingin melakukan hal yang sama. Tapi melihatnya tidak melawan saat dipukul Ali membuatku mengurungkan niat untuk menghajarnya. Aku menyaksikan saat Ali merobohkannya.”


Hasya terdiam. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi antara Khaira dan Ivan sehingga lelaki itu nekad melakukan pada adiknya.  Ia tau, tidak mungkin ada api jika tiada asap. Dan tak mungkin Ivan melakukan pelecehan terhadap Rara jika bukan karena sesuatu.


“Ajaklah Rara berbicara dari hati ke hati. Kita tidak mungkin menolak lamaran lelaki itu, apalagi memang dia yang melakukannya.”


“Apa mas  telah melakukan penyelidikan sehingga merasa yakin bahwa dia lah yang menghamili ade?”


“Aku cukup yakin karena lelaki itu bersungguh-sungguh  dan membuat pengakuan bahwa dia mencintai ade sejak lama.”


 

__ADS_1


Dukung terus karya author ya. Sayang untuk semua ....


__ADS_2