Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 282 S2 (Tak Pernah Berubah)


__ADS_3

Ivan kembali ke kamar begitu Danu sudah memasuki kamar tamu untuk beristirahat. Ia memandang ke tempat tidur, melihat wajah-wajah yang sangat ia cintai dalam pelukan malam. Karena khawatir akan kemarahan Khaira, Ivan mengambil bantal dan selimut, kemudian merebahkan diri ke sofa.


Rengekan Fajar dan Embun yang kehausan membuat Khaira terbangun. Untung saja mbak Ira antisipasi sejak awal dengan mempersiapkan satu tas khusus yang berisi makanan dan minuman keduanya.


Saat berjalan menuju pintu ia terkejut melihat Ivan yang tertidur di sofa meringkuk kedinginan dengan selimut yang sudah terjatuh di lantai. Khaira memungut selimut dan menutupi tubuh Ivan yang menggigil kedinginan.


Sambil menahan kantuk, Khaira turun ke bawah untuk membuatkan susu si kembar. Suasana dapur masih tampak sepi, belum ada aktivitas yang dilakukan para art. Khaira segera kembali ke kamar membawa dua botol susu yang sudah terisi penuh.


Saat membuka pintu kamar ia terkejut melihat si kembar kini sudah berada dalam gendongan Ivan dengan rengekan keduanya yang terdengar pelan.


“Kenapa tidak membangunkanku?” Ivan memandangnya dengan lekat.


Khaira tidak menjawab. Ia meletakkan kedua botol susu di atas nakas yang terletak di samping tempat tidur. Kemudian ia menghampiri Ivan dan mengulurkan tangannya pada Fajar.


“Yok sama bunda. Miminya sudah siap …. “ tanpa memperdulikan tatapan Ivan, Khaira meraih Fajar yang  segera berpindah dalam gendongannya.


“Ade sama ayah saja miminya ya …. “ dengan semangat Ivan meraih botol susu dan mengulurkannya pada Embun yang menganggukkan kepala padanya.


Suara azan Subuh mulai menggema. Si kembar kini  bangkit dari tempat tidur  setelah menghabiskan separo susunya masing-masing. Khaira kewalahan melihat keduanya yang mulai turun dari tempat tidur dan berlarian dengan riang.


Ivan menggelengkan kepala melihat kelakuan si kembar yang membuat bundanya mengelus dada karena tidak bisa mengimbangi keaktifan keduanya mengekplor tempat yang baru mereka temui.


“Hup!” dengan cepat ia meraih Embun yang mulai memanjat kursi sofa tempat ia tidur tadi malam.


Fajar sudah nangkring di sandaran sopa sambil membawa botol susunya. Melihat Embun dalam gendongan ayahnya, Fajar tertawa riang sambil  bergoyang-goyang. Padahal dengan posisi seperti itu membuatnya rentan jatuh. Tapi namanya bocah, hal yang membahayakan malah sesuatu yang menantang baginya.


“Masya Allah …. “ Ivan tidak bisa menahan senyum dengan kelakukan si kembar yang luar biasa menambah pengalaman baru di pagi harinya.


Dengan cepat ia meraih Fajar yang mulai memundurkan tubuhnya. Kalau sampai  terlambat, sudah pasti Fajar jatuh terjungkal.

__ADS_1


Khaira  mengelus dada menyadari Fajar sudah dalam gendongan Ivan.  Setiap pagi selalu seperti ini. Kedua bocah sedang aktif-aktifnya  membuat ia tak memerlukan olahraga tambahan. Mengurus dan memandikan keduanya di pagi hari sudah membakar kalori yang banyak  untuknya.


“Ayah mau salat Subuh ke masjid dulu. Ade dan mas sama bunda lagi ya.  Nanti baru kita main bersama.”


Ivan membawa si kembar kembali ke tempat tidur dan membaringkannya satu persatu. Tak lupa menciumi keduanya dengan penuh rasa sayang. Perasaan haru menyelimuti hatinya melihat si kembar tak banyak tingkat dan berbaring tenang dengan botol di tangan masing-masing.


Saat ia kembali dari masjid suasana kamar begitu tenang.  Senyumnya terulas di bibir melihat kini si kembar kembali tertidur dengan botol susu yang sudah kosong dengan posisi yang sangat menggemaskan. Sungguh karunia Allah terbaik yang ia miliki saat ini.


Tatapannya mengitari kamar  dan terpaku pada Khaira yang masih khusu’ dengan zikirnya di ujung kamar. Dengan perlahan ia berjalan mendekati Khaira dan duduk di belakangnya. Sampai saat ini ia belum pernah terlibat percakapan serius dengan Khaira.


Ia tidak yakin apakah Khaira tau tentang kepergian Bryan atau tidak. Tapi yang pasti ia harus mengungkapkan perasaan tulus Bryan padanya. Dan perasaan menyesal karena telah menyangsikan kejujuran Khaira padanya di masa lalu.


Saat Khaira menyudahi doanya dan menangkupkan kedua tangan pada wajahnya, ia merasakan kedua tangan kokoh memegang kedua pergelangan tangannya. Khaira menurunkan kedua tangan dari wajahnya. Seperti dugaannya Ivan kini duduk di hadapannya dengan kedua tangannya yang kini menggenggam tangannya.


“Banyak hal yang ingin mas sampaikan padamu,” ujar Ivan lekat dengan matanya yang tak lepas dari wajah Khaira.


Khaira terdiam. Ia menatap Ivan  yang masih lengkap dengan sarung dan koko yang digunakannya saat ke masjid barusan.


“Innalillahi wainnailaihi roji’un …. “ tak ayal Khaira spontan mengucap. Bayangan bocah lelaki tampan yang berjuang melawan penyakit mematikan kembali di benaknya.


“Mas menyesal terlambat menyadarinya,” Ivan berkata dengan lirih. Ia melihat tatapan dingin yang tergambar di wajah Khaira, “Kalau seandainya mas tau lebih awal tentu keadaan tidaklah serumit ini. Perbuatan bodoh telah menghancurkan mas ….”


“Aku tidak menyalahkan mas Ivan. Wajar to, apalagi Bryan adalah penerusmu satu-satunya,” sebenarnya Khaira enggan mengomentari ucapan Ivan, tapi terlanjur Ivan mengungkapkannya membuatnya terasa di tarik kembali ke mimpi buruk yang sudah sejak lama ia lupakan.


“Claudia telah membuat kebohongan besar padaku, sehingga aku salah melangkah,” rutuk Ivan penuh penyesalan.


“Kalian memang pasangan ideal, saling membutuhkan. Memiliki keturunan yang dapat dibanggakan,” Khaira berkata dengan sinis, “Dan keputusanmu saat itu sudah sangat  tepat.”


Ivan merasa skak mat atas ucapan Khaira. Ia dapat melihat kilatan sedih tergambar di wajah Khaira.  Walau pun sama-sama tersakiti tapi ia harus mengatakan semua hingga tidak ada syak wasangka dalam hubungan mereka di masa yang akan datang. Ia tidak akan mengomentari apa pun tanggapan Khaira atas ucapannya.

__ADS_1


“Antara aku dan Claudia tidak terikat apa pun. Walau pun ada sepuluh Claudia tidak akan mampu menggantikan sosokmu,” Ivan berkata dengan serius berusaha melembutkan hati Khaira yang masih kokoh dengan raut datarnya.


“Bukankah kamu ingin memberikan keluarga yang utuh bagi Bryan,” sindir Khaira dengan sinis, “Kalian pernah berbagi kehangatan di masa lalu. Menurutku tidak akan sulit untuk memulai dengan orang yang sudah hapal diri kita luar dan dalam …. “


Ivan  ingin Khaira terus mengungkapkan apa yang ia simpan di hatinya selama ini, agar semua beban kesakitan dan penderitaan di masa lalunya hilang, atau paling tidak berkurang dengan menumpahkannya di hadapannya dan ia akan menyiapkan diri jika Khaira ingin menghukumnya bahkan memukulnya sekali pun.


“Aku hanya ingin menyampaikan apa yang dirasakan Bryan saat bersamamu. Bryan sangat menyukaimu dan ingin terlahir kembali sebagai putramu …. “  Ivan dapat melihat air mata Khaira menitik. Ia paling tau, Khaira tidak tahan dengan cerita yang sangat menyentuh.


Bayangan wajah menyedihkan Bryan membuat Khaira tak bisa menahan air mata yang menitik di pipi. Dengan cepat ia menghapusnya. Ia tak ingin terlihat menyedihkan di depan lelaki yang kini kembali memiliki dirinya walau pun belum utuh dengan hatinya yang masih kelabu.


“Kesalahanku terbesar adalah membawa Bryan memasuki kehidupan rumah tangga kita,” Ivan berkata pelan tanpa mengalihkan tatapan dari Khaira yang kini memalingkan muka, “Harusnya aku membiarkan saja dokter ternama menanganinya tanpa harus mencampuri terlalu dalam.”


“Apa mas tega membiarkan anak sekecil Bryan berjuang sendirian melawan kematian?” Khaira menggelengkan kepala tak percaya mendengar perkataan Ivan.


“Jika hal itu membuatmu tetap di sisi mas tentu akan mas lakukan,” jawab Ivan pasti dengan tatapannya lekat memandang Khaira.


“Dasar lelaki  egois!”  mata Khaira tajam memandang Ivan, “Mungkin itulah yang akan mas lakukan pada si kembar jika aku berada di posisi Claudia …. “


“Bagaimana mungkin mas akan melakukan hal itu pada si kembar. Mereka adalah anak-anak mas  darah daging yang sudah mas tunggu selama ini. Walaupun  kamu menyembunyikan identitas si kembar bahkan dengan nama almarhum Abbas sebagai ayah mereka, sampai ke ujung dunia pun mas akan mencari keberadaan kalian,” Ivan tidak terima mendengar perkataan Khaira yang menuduhnya akan melakukan hal yang sama seperti Claudia.


“Huh!” Khaira tersenyum sinis, “Tiga tahun lebih kita terpisah, kami baik-baik saja. Si kembar bahkan mendapat kasih sayang yang berlimpah. Aku tidak tau apa yang terjadi denganmu di luaran sana mas. Hanya Allah lah yang tau …. “


Ivan tau pasti makna di balik ucapan Khaira. Untung saja ia berhasil menghindari keinginan Claudia yang berusaha membuat mereka terikat kembali.


“Sehari setelah kepergian Bryan, mas langsung kembali ke rumah kita. Tapi kamu telah pergi, menghilang tanpa jejak. Sekian lama mas berjuang mencari keberadaanmu,” Ivan menjawab dengan menyunggingkan senyum terbaiknya, “Mas hanya ingin melakukannya denganmu, tidak Claudia tidak dengan yang lain. Hanya kamu. Dan perasaan mas tak pernah berubah sampai kapan pun.”


"Perasanku yang berubah .... " ujar Khaira dingin, "Sulit bagiku untuk memulai lagi, terlepas semua terjadi karena takdir Allah."


"Claudia yang berencana menabrak kalian," Ivan berkata dengan sedih teringat kepergian mamanya, "Aku telah menghancurkan masa muda dengan orang yang salah."

__ADS_1


Khaira terdiam. Ini yang benar-benar di luar dugaannya. Ternyata pelaku utamanya adalah Claudia. Bagaimana kalau mama Laras terlambat menyelamatkannya.  Apakah ia dan Fajar yang akan menggantikan mama Laras?


*** Author curhat ya ... bentar\, maafkan author yang lama baru update. Mulai Rabu Author diuji dengan flu berat. Tak bisa beraktivitas apa pun. Jari-jemari author dah gatal pengen nulis untuk nuntasin kisah Ivan dan Rara serta si kembar. Apa daya niat tak kesampaian karena faktor badan yang tak bisa diajak kompromi. Udah suntik\, dipijit\, Alhamdulillah hari Minggu ini author udah bisa up lagi semoga readerku yang udah menunggu dapat memakluminya ya. Walau pun dengan sisa-sisa flu yang ada author usahain up untuk melepas kerinduan dengan keluarga kecil mereka.  Jangan lupa\, komentar\, like serta vote di hari Senin selalu author tunggu sebagai mood booster buat author. Sayang readerku semua .....***


__ADS_2