Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 194 S2 (Kunjungan Mendadak di Kafe)


__ADS_3

“Wah, wajah bos udah cerah kembali,” sapaan Roni di pagi itu membuat Hari dan Gisel yang menghadap Ivan tak bisa menyembunyikan rasa penasaran mereka.


“Alhamdulillah, istriku sudah kembali ke rumah,” jawab Ivan santai tak bisa menyembunyikan senyum kebahagiaan di wajah tampannya.


“Selamat bos. Semoga ke depannya makin lancar,” Hari berkata dengan tulus.


Gisel hanya tersenyum tipis. Ia sadar diri, Ivan bukanlah jodoh untuknya. Dan ia tak ingin menjadi perempuan yang merusak kebahagiaan perempuan lain, dan terjebak dengan obsesi yang hanya akan membunuh rasa kemanusiaan yang ada dalam dirinya. Apalagi selama bekerja bersama Ivan, ia selalu mendapat gaji serta bonus yang melebihi kebutuhannya sebagai seorang yang masih sendiri. Ia yakin, suatu saat ia akan menemukan jodoh yang terbaik untuknya.


“Aku juga mendoakan kalian mendapat pasangan terbaik,” ujar Ivan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.


Roni segera meletakkan berkas-berkas yang harus ditandatangani Ivan. Ia turut berbahagia melihat Ivan yang kini lebih teratur dalam menjalani  kehidupan. Tidak ada lagi kearoganannya terhadap pegawainya yang melakukan kesalahan. Sikapnya lebih santun dalam menghadapi klien yang bermasalah maupun klien baru yang bekerja sama dengan perusahaan mereka.


Ivan membuka galeri foto pernikahan di laptop kerjanya. Dengan bersemangat ia melihat lembar demi lembar setiap momen yang tergambar di sana. Timbul keinginannya untuk mengirim foto-foto yang sangat spesial dan paling berkesan dari momen yang telah ia lalui bersama istrinya. Ia yakin pasti Khaira akan terkejut melihat perbuatannya.


Tanpa sepengetahuan Khaira ia juga telah memasang aplikasi untuk mengetahui lokasi keberadaan sang istri biar ia bisa mudah melacak keberadaannya. Ivan tak ingin melewatkan sedetikpun tanpa mengetahui aktivitas yang dilakukan dan orang-orang yang bersama sang istri.


“Wah, pengantin baru. Selamat ya mbak.” Andini langsung menyalaminya  dengan wajah sumringah.


“Terima kasih mbak Dini,” Khaira menyambut uluran tangan pegawainya.


Novi dan Sisi pun rebutan menyalaminya. Keduanya tampak semangat karena bos mereka kembali bekerja.


“Nggak nyangka ya  mbak Rara menikah dengan pengusaha terkenal itu,” mulut ceriwis Susi langsung nyerocos begitu menyalami tangan Khaira.


“Namanya jodoh kita nggak bakal tau, semua sudah diatur Yang Kuasa” ujar Andini dengan bijak.


“Iya sih. Padahal pacarnya yang model terkenal itu sempat pilih-pilih cincin tunangan di sini. Ealah… yang pake malahan mbak Rara.” Susi masih aja dengan santainya berbicara.


“Huss … kamu itu.” Andini mencubit lengannya, membuat Susi langsung berdiam diri sambil menggaruk kepala.


“He … he …. “ Susi nyengir menatap Khaira. Ia baru sadar bahwa sedang berbicara dengan pemilik gerai berlian tempatnya bekerja, “Maaf mbak….”


Khaira hanya tersenyum tipis meladeni pegawainya. Tanpa berkata apa pun ia langsung beranjak menuju ruang kantornya.  Sebelum melangkah ia menatap Andini dan memintanya  mengikutinya.


Sesampai di dalam ruangan, Khaira meminta Andini segera memindahkan semua foto-foto Abbas yang berada di dalam ruangan ke dalam kotak besar.

__ADS_1


“Tolong jangan ada tersisa satu pun ya mbak,” ujar Khaira lirih.


“Baik mbak Rara,” Andini langsung mengerjakan semua perintah Khaira.


Ia menyadari kesedihan bosnya saat ia mulai mengemasi foto-foto lama keduanya. Ia melihat Khaira berdiri menghadap jendela besar membelakangi aktivitas yang sedang ia lakukan. Dari sudut matanya dapat menangkap gerak-gerik Khaira yang menghapus air mata dengan jari tangannya.


Ia memang tidak mengetahui alasan dibalik pernikahan bosnya dengan pemilik perusahaan New Star Corps. Dan ia paham, tidak mungkin bosnya masih menyimpan foto sang mantan di saat dirinya telah menjadi istri orang lain.


Walaupun Andini tidak mengenal Abbas secara pribadi, tetapi melihat foto-foto kebersamaan keduanya di ruang kerja Khaira membuatnya yakin, bahwa Abbas adalah sosok yang sangat berarti bagi bosnya.


“Sudah selesai mbak Rara,” Andini berkata pelan. Tanpa menghampiri Khaira ia kembali mengajukan pertanyaan, “Mau disimpan di mana barang ini?”


“Terserah mbak Andini saja,” terdengar suara bosnya bernada sendu.


“Baik mbak. Saya permisi,” tanpa menunggu perkataan Khaira, Andini langsung bergegas meninggalkan ruangan. Ia tidak ingin terhanyut dalam suasana yang tampak hening dan menyedihkan.


Setelah kepergian Andini Khaira membalik badan. Sontak perasaannya langsung terasa hampa tak bersisa. Ia merasakan sepi sendiri. Tidak ada lagi foto-foto Abbas yang akan menemaninya saat beraktivitas sehari-hari. Senyum menawan Abbas yang menemani kala ia suntuk dengan rutinitas kerjaan yang tak pernah berhenti.


Khaira menghirup udara secara perlahan berusaha menghilangkan rasa sesak yang tiba-tiba menggerogoti dada. Ia tidak bisa terus menyimpan Abbas di hatinya, walau pun ia tau, nama Abbas tak akan hilang begitu saja. Tapi ia harus menghargai perasaan suaminya. Seperti kata oma dan mertuanya, Ivan adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab.


Khaira mengusap air mata yang masih mengalir. Ini adalah saat terakhir ia menangis untuk Abbas. Ia berharap, semoga setelah hari ini ia bisa melalui hari-harinya dengan tenang tanpa ada kesedihan lagi di dalammnya. Ia harus mulai membuka hati pada suaminya dan belajar mencintai seperti yang telah ditunjukkan Ivan padanya.


Khaira merasa kesal karena notif pesan terus berbunyi mengganggu kesibukannya yang sedang memeriksa laporan Kara Jewellery. Dengan malas ia membuka ponsel. Matanya membulat melihat sederet pesan singkat dari My Sweet Husband. Ia jadi bingung siapa yang memasukkan nomor dan nama tersebut.


Begitu melihat isi pesan, Khaira tinggal geleng kepala tak percaya. Ivan mengirimkan foto-foto saat pertunangan dengan caption  menanti hal terindah. Kemudian foto pernikahan saat Ivan mencium kening dan memeluknya, dengan caption hal terbaik dalam hidupku adalah memilikimu.


“Dasar lebay …. “ tak urung senyum Khaira terbit melihat perbuatan suaminya.


Ia tidak tidak habis pikir, kapan Ivan memasukkan nomor ponselnya, padahal ia tidak pernah melihat Ivan memegang ponsel miliknya. Kembali ia  melanjutkan pekerjaan yang sudah hampir selesai, tanpa memikirkan hal yang tidak penting.


Tepat jam 12 siang Khaira mengakhiri pekerjaannya. Setelah menyelesaikan salat Zuhur ia berkeinginan makan siang di kafe yang sudah lama tidak ia sambangi. Bersama pak Imron supir yang telah disiapkan Ivan, Khaira pergi ke kafe ‘Damai Bersama’.


“Wah, cerahnya penganten baru,” celetukan Rani sudah menyambutnya begitu memasuki kafe yang kini semakin ramai pengunjung.


“Selamat mbak Rara,” Budi mengacungkan jempol padanya.

__ADS_1


“Nggak nyangka ya, mbak Rara sudah kembali memiliki pendamping,” Ari turut pula menyambutnya sambil tersenyum tapi nampak ada raut sedih yang berusaha ia sembunyikan.


“Terima kasih atas dukungan semua. Saya sangat tersanjung,” ujar Khaira sambil mengulas senyum tipis di wajahnya, “Aku rindu masak dan makan bersama kalian.”


“Wah, nyonya Ivandra pengen makan kuliner nusantara,” Rani tak bisa menahan tawanya.


“Apa yang perlu kami siapkan?” Gita yang baru keluar terkejut menyadari bos mereka datang berkunjung.


“Kalian nggak perlu menyiapkan apa pun. Aku ingin masak dan makan bersama kalian seperti yang dulu. Ayo ke dapur,” dengan santai Khaira melangkah menuju pantry.


Ia senang melihat kafe yang dikelola pegawainya maju semakin pesat. Sebelum melangkah ke pantry ia menyempatkan diri berkeliling menikmati suasana kafe yang terasa tenang dan menyenangkan membuat suasana hatinya yang tadinya melow mulai cerah kembali.


Sesampainya di pantry ia melihat Gita, Rani dan Budi sudah menyiapkan menu sea food yang ingin ia masak dan nikmati siang ini. Sambil menyiapkan bahan-bahan yang lain ketiganya sibuk bercerita bertukar kisah yang sudah lama tidak mereka lakukan.


Khaira merasa heran, suasana pantry yang tadinya riuh dengan gurau serta selorohan Budi dan Gita mendadak sepi. Tapi ia tidak memusingkan semua, menyelesaikan membuat cumi asam manis kesukaannya.


Tiba-tiba tangan kekar sudah memeluk pinggangnya. Khaira terkejut. Ia tidak bisa bergerak. Aroma parfum yang begitu ia kenal menyeruak memenuhi indera penciumannya. Ia menahan nafas sejenak.


“Aku sangat merindukanmu ….” suara bariton itu begitu dekat di telinganya.


“Apa yang mas Ivan lakukan?” Khaira merasa tidak nyaman dengan para pegawai kafe yang menemaninya masak.


“Tenang saja, di sini hanya tinggal kita berdua,” jawab Ivan santai tanpa perasaan bersalah.


Ia langsung membalik tubuh Khaira sehingga keduanya berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Tatapannya tak teralihkan dengan senyum khas yang menghias wajah tampannya melihat istrinya yang kebingungan melihat kehadirannya yang tiba-tiba di pantry kafe.


Khaira menatap sekelilingnya dengan perasaan khawatir. Pintu yang memisahkan pantry dengan ruangan depan memang tampak tertutup rapat. Ia menatap Ivan dengan kening berkerut.


“Aku sengaja meminta mereka untuk meninggalkan kita berdua,” ujar Ivan santai.


Khaira menggelengkan kepala melihat sikap Ivan yang santai tanpa beban. Di luar dugaannya Ivan  langsung meraih tengkuknya mendaratkan bibirnya di telaga madu yang sejak di kantor terus mengusik pemikirannya.


Khaira tidak bisa mengelak. Kini ia mulai terhanyut dengan permainan Ivan yang masih mengakrabi telaga madu miliknya. Ia memejamkan mata dan mulai membalas perbuatan Ivan.


 

__ADS_1


***Maafkan author ya Readerku tersayang. Ada tugas negara yang nggak bisa ditinggal. Semoga auhor bisa up lagi. Tetap dukung\, kritik\, like\, saran dan vote di hari Senin ya. Sayang untuk kalian semua .... ***


__ADS_2