Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 205 S2 (Persiapan Menjelang Pameran)


__ADS_3

Ivan merasa lega saat melihat aplikasi di ponselnya yang menyatakan bahwa sang istri sudah tiba di Prime Plaza Hotel Sanur. Senyum bahagia tersungging di bibirnya. Karena besok malam saat acara pembukaan ia akan datang untuk memberikan kejutan pada sang istri.


Pagi ini ia dan tim mulai memilih lokasi yang dijadikan tempat syutting film dokumenter. Hari yang sudah tiba bersama rombongan tadi malam juga telah stand by mendampinginya ke berbagai lokasi yang dijadikan obyek pengambilan gambar.


Tadi malam pun pergantian tim yang akan menangani proyek film dokumenter terjadi. Keputusan awal tim Indra cs yang akan menangani proyek tersebut, tetapi pada saat bersamaan masih ada pekerjaan di Surabaya yang tidak bisa ditinggal, hingga akhirnya pilihan jatuh pada Bagong cs.


Saat mengunjungi beberapa lokasi wisata, dari mulai Gili Trawangan, air terjun Sendang Gile hingga pantai Sire mata Ivan begitu dimanjakan pemandangan yang sangat indah. Melihat banyaknya pasangan yang datang saling bergandengan tangan bahkan tak segan pamer kemesraan tanpa merasa sungkan membuat keinginannya bertemu dengan sang istri semakin kuat.


Kini rombongan Ivan mengunjungi pusat kerajinan emas dan mutiara Sekarbela, Adam beserta tim sudah menunggu di sebuah bangunan yang menjadi etalase segala jenis perhiasan emas serta mutiara Lombok yang sangat terkenal hingga ke manca negara.


Bangunan itu adalah pusat oleh-oleh yang wajib dikunjungi para turis baik dalam negeri maupun luar negeri yang ingin berburu cindera mata khas Lombok. Tempatnya sangat luas. Kawasan ini memang khusus menjadi sentra pengrajin perhiasan emas, berlian, serta mutiara dari Lombok yang telah mendunia.


Seorang lelaki hitam manis berperawakan tegap datang menghampiri rombongan Ivan. Ia mengenakan kaos kasual dengan celana jeans santai.


“Selamat siang, maafkan saya baru sempat menemui anda sekalian. Masih ada pekerjaan sedikit untuk pameran besok malam. Perkenalkan nama saya Dewo.” Lelaki hitam manis itu langsung mengulurkan tangannya pada Ivan yang berdiri di samping Adam.


Ivan mengerutkan jidatnya berusaha mengingat. Rasanya nama ini tidak asing di telinganya. Ia langsung menjabat erat tangan Dewo.


“Perkenalkan ini tuan Alexsander Ivandra CEO News Star Corps, yang membawa timnya untuk membuat film dokumenter di tempat kita,” Adam memperkenalkan keduanya.


“Kami akan mengambil beberapa gambar di sini untuk keperluan film dokumenter,” Ivan menatap sekeliling bangunan, “Saya penasaran dengan tempat  pengolahannya….”


“Jika anda berkenan, mari ikut saya ke bengkel tempat pengolahan perhiasan yang ada di sini,” ujar Dewo dengan ramah.


Saat menuju ruang khusus pengolahan yang disebut Dewo sebagai bengkel untuk pegawainya, Ivan melihat sebuah ruangan seperti ruangan administrasi. Matanya sekilas melihat sebuah gambar seukuran kalender yang menghiasi salah satu sudut ruangan.


“Itu ruangan kantor saya,” ujar Dewo seketika melihat Ivan yang berhenti di depan ruangan yang terbuka lebar.


Tanpa meminta persetujuan Dewo, Ivan  memasuki ruangan. Matanya terpaku melihat foto istrinya. Khaira yang sedang dalam posisi memotret  beberapa set perhiasan, walau pun  terlihat sederhana tapi sangat manis.

__ADS_1


“Beliau biasa kami panggil mbak Rara pemilik gerai Kara Jewellery. Namanya Khaira Setiawan. Dengan usia yang masih sangat muda, beliau telah menggandeng kami para pengrajin di sini dan memasarkan produk kami hingga ke manca negara… Bagi saya, mbak Rara adalah sosok yang inspiratif. Saya sangat mengaguminya.” tampak sorot kebanggaan Dewo menceritakan perempuan yang fotonya ia tatap dengan lekat.


Hari dan Bagong  mulai menyadari hawa yang kurang nyaman melihat wajah bosnya menegang mendengar lelaki lain memuji sang istri.


Adam menyadari perubahan pada wajah lelaki muda di depannya. Ia ingin memotong ucapan Dewo, tapi Dewo masih saja menceritakan apa yang ia rasakan semenjak digandeng Kara  Jewellery dalam memasarkan produk mereka.


Tiba-tiba ponsel Dewo berbunyi. Raut kegembiraan langsung tergambar di wajahnya melihat nama yang memanggil.


“Maaf,  saya harus menerima telpon dari mbak Rara. Beliau meminta bantuan  saya sore ini untuk mempersiapkan properti yang akan kami gunakan sebagai tempat untuk memamerkan perhiasan yang akan dipamerkan besok malam.” Dewo berkata dengan penuh semangat.


Ivan sempat melihat nama Khaira Setiawan yang muncul di ponsel Dewo. Dengan terpaksa ia mengikuti langkah Adam dan beberapa stafnya. Matanya masih mengikuti Dewo yang kini berjalan menjauh dari rombongan.


Hari dan Bagong saling berpandangan melihat wajah Ivan yang berubah kaku melihat lelaki tegap yang tampak serius berbincang dengan istrinya.


Saat Ivan dan rombongan keluar dari bengkel, ia sudah tidak melihat lagi sosok Dewo. Ruangan yang mereka lewati pun, kini sudah tertutup rapat.


“Terima kasih atas infonya Gus.” Adam mengangguk pada karyawan Dewo yang bernama Agus yang telah menyampaikan pesan Dewo.


Ivan hanya mengangguk sambil menghela nafas panjang. Begitu survey tempat selesai, azan Zuhur langsung bergema.


“Kita akan makan siang bersama di Lesehan Purnama,” ujar Adam sambil tersenyum melihat para tamu yang hadir bersamanya tampak sudah kelelahan.


“Saya akan langsung ke hotel,” ujar Ivan cepat, “Biar tuan Adam bersama kru yang lain.”


Adam tak bisa mencegah keinginan Ivan, “Baiklah tuan Ivan. Saya menghargai keputusan anda.”


Akhirnya Ivan bersama Hari kembali ke penginapan, sedangkan Adam dan rombongan yang lainnya langsung menuju rumah makan Lesehan Purnama.


“Assalamu’alaikum …. “ suara lembut Khaira dengan wajah segar setelah melaksanakan salat Zuhur tampak menyejukkan pemandangan Ivan.

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam,” Ivan tersenyum lebar melihat wajah sang istri dengan rambut tergerai karena Khaira baru saja membuka mukenanya dengan rambut yang masih lembab. Sungguh pemandangan yang menggoda iman, “Bagaimana perjalananmu hari ini, tidak ada masalah  kan?”


“Alhamdulillah, lancar mas.” Khaira tersenyum sambil menyatukan rambutnya ke sisi sebelah kanan membuat leher jenjangnya terpampang sempurna.


Ivan menelan ludah. Kalau saja pekerjaannya sudah selesai, rasanya detik ini juga ia ingin mengunjungi sang istri.  Rasa ingin tau tentang isi pembicaraan antara Dewo dan istrinya langsung sirna begitu melihat pemandangan yang menyegarkan.


“Mas Ivan sudah makan?” Khaira bertanya dengan penuh perhatian.


“Belum, tadi habis survey tempat. Rasanya penat sekali,” tatapan Ivan terus menatap wajah istrinya yang memenuhi layar ponsel.


“Kenapa belum makan?”


“Melihatmu membuat rasa laparku hilang,” jawab Ivan seketika.


“Ngaco!” pipi Khaira langsung merona mendengar ucapan suaminya, “Mas makan aja dulu. Aku nggak mau mas Ivan sakit karena melewatkan waktu makan siang.”


Suara Khaira yang bernada khawatir membuat perasaan Ivan langsung terbang. Ia menatap Khaira dengan lekat.


“Baiklah sayang, mas tau kamu juga capek setelah melakukan perjalanan hampir dua jam. Nanti malam mas akan menghubungimu lagi. Jaga dirimu. I love you …. ”


Khaira tersenyum sambil mengisyaratkan dengan  jari meletakkan di bibirnya kemudian mengarah pada bibir suaminya.


Ivan tertawa melihat kelakuan istrinya yang mulai tidak canggung mengungkapkan perasaan, “Awas kalau ketemu….”


Khaira tertawa mendengar perkataan Ivan, hingga keduanya mengakhiri pembicaraan dengan saling mengucapkan salam.


 


***Persiapkan diri readerku semua untuk bermalam Minggu\, Harap-harap cemas\, apa yang akan terjadi nanti malam saudara? Semoga author khilaf dan UP lagi. Itulah yang ada di pikiran para readerku tersayang. Betul tidak???? Dukung terus ya\, komennya di panjangin lagi\, biar UP-nya juga panjang kali lebar.  Sayang semua ....***

__ADS_1


__ADS_2