Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 155 S2 (Pemilik Hati)


__ADS_3

Ivan kembali ke rumah mamanya sore itu, karena Laras memintanya untuk datang. Ia yakin mamanya pasti akan menagih janjinya untuk segera memperkenalkan pada kekasihnya. Dengan santai Ivan menemui mamanya yang  pasti berada di taman belakang menyaksikan matahari terbenam.


Ivan mengerutkan jidatnya saat mendengar suara berbicara disertai tawa riang. Ia mendekat, mamanya tidak sendiri ada dua orang perempuan yang berbincang santai dengannya.


“Wah, nak Ivan …. “ suara perempuan yang tidak ia kenal langsung menyapanya begitu Ivan muncul di hadapan ketiganya.


“Selamat sore …. “ Ivan menyapa ketiganya sambil mendaratkan ciuman di kening Laras.


Perempuan muda yang berada di hadapan Ivan langsung terpana memandangnya. Membuat Laras tersenyum pada Ivan sambil mengedipkan mata.


“Kamu ingat, ini tante Bella teman kuliah mama dan ini putrinya Manda yang baru selesai kuliah kedokteran. Beliau ini masih sepupu jauhmu juga. Mereka datang karena memenuhi undangan om Sadewo mu .” Laras segera memperkenalkan mereka.


“Selamat sore tante,” Ivan mengulurkan tangannya dengan sopan ke arah Bela.


“Kamu udah mapan sekarang. Tante dengar belum menikah, apa belum punya pasangan?” Bela langsung menyambut tangannya dengan bersemangat dan memberondongnya dengan pertanyaan yang membuat Ivan malas untuk menanggapi.


“Sudah punya dia.  Pacaran dah lama juga.” Laras menjawab pertanyaan Bela dengan cepat.


Mengingat tingkah Bella yang over saat masih muda membuat Laras malas jika harus besanan dengan temannya itu.


Manda agak kecewa mendengar ucapan Laras. Tapi ia berusaha menampilkan sikap santunnya. Zaman sekarang, jangankan masih lajang, yang sudah berkeluarga saja bisa lepas jika sudah tidak ada cinta yang tumbuh diantara kedua belah pihak. Dan ia yakin peluang untuk mendapatkan perhatian laki-laki mapan di hadapannya masih terbuka lebar. Ia tersenyum misterius.


“Tante datang hanya berdua dengan Manda, papanya nggak bisa ikut masih ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal di perusahaan.”


“Tante Bella dan Manda akan menginap di rumah malam ini. Mama ingin kamu membawa mereka berdua jalan-jalan malam ini.”


“Benar Van. Tante dan Manda belum mempunyai gaun untuk resepsi Afifah besok. Kamu tidak keberatan mengantar tante dan Manda kan?” Bella memandangnya dengan penuh harap.


Sebenarnya Ivan merasa keberatan, tapi mengingat  mereka masih keluarga jauh, akhirnya Ivan menganggukkan kepala menyetujui permintaan mamanya.


Sesudah makan malam akhirnya Ivan membawa keduanya ke butiq ternama di sebuah mall mewah. Ia hanya duduk di food court sambil menikmati video yang sengaja di edit Yoga, sehingga yang muncul hanya wajah Khaira.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Akhirnya Ivan membawa keduanya kembali ke rumah mamanya. Tanpa mempedulikan keberadaan keduanya Ivan memasuki kamarnya yang sudah lama tidak ia tempati.

__ADS_1


Saat  keluar dari kamar mandi Ivan terkejut melihat Manda berbaring di tempat tidurnya menggunakan baju tidur tipis.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” Ivan bertanya dengan kasar. Ia paling tidak suka melihat kelakuan perempuan murahan yang selalu menjajakan tubuh padanya.


“Mas Ivan nggak usah munafik,” dengan berani Manda mendekati Ivan yang hanya menggunakan handuk. Tampak bahwa ia tidak memakai dalaman dari gaun tidur satin tipis yang membalut tubuhnya.


Ia baru saja selesai mandi. Menemani Manda dan tante Bella membuatnya kegerahan, sehingga sesampai di rumah ia sudah merencanakan untuk mandi dan beristirahat. Siangnya baru ia berencana datang ke resepsi sepupunya Afifah.


“Kalau kau tidak keluar dari kamarku, aku akan menyeretmu sekarang.” Ivan merasa kesal atas sikap Manda yang tidak tau malu.


“Nggak usah sok jual mahal mas. Aku tau bukankah mas sudah terbiasa bermain dengan model dan artis yang ada di tempat mas?”  Manda semakin mendekat.


“Sudah berapa banyak laki-laki yang menikmatimu?” Ivan mencengkeram jemari Manda yang berusaha menyentuh dadanya.


“Aughh …. “ Manda meringis merasakan tangan Ivan yang mencengkeram jemarinya dengan kuat.


“Jika tanganmu tidak ingin patah silakan keluar dari sini. Aku sudah mempunyai kekasih. Jadi jangan pernah mengobral tubuhmu di hadapanku,” Ivan memandang Manda dengan mata berkilat merah padam.


Manda menghentak-hentakkan kakinya saat kembali ke kamar. Bella merasa heran dengan kelakuan putri semata wayangnya itu. Tapi ia ia tidak menghiraukan kekesalan Manda tetap dengan kesibukannya melakukan perawatan malam sebelum tidur.


“Dasar sok jual mahal,” gerutu Manda sambil menghempaskan diri ke kasur dengan raut kesal.


Bella mendekati putrinya dan langsung membaringkan diri di sisinya. Ia hanya tersenyum tanpa ingin bertanya lebih dalam.


“Menurut mama mas Ivan gimana?” Manda menatap mamanya dengan raut penuh rasa ingin tahu.


“Maksudmu?” Bella pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan Manda.


“Aku tertarik dengan mas Ivan. Melihat sikap dinginnya membuatku makin penasaran.”


“Coba aja kalau kamu mampu. Mama nggak masalah siapa pun yang jadi mantu. Yang penting bisa menghidupi kita dan memenuhi semua keinginan kita,” jawab Bella santai.


“Tapi ma, mas Ivan orangnya beda. Tadi aja di menolakku dengan kasar.”

__ADS_1


Bella terdiam. Dia teringat sosok Hartanto ayah Ivan. Dia telah jatuh cinta pada Hartanto yang nota bene adalah kekasih sepupunya Laras. Segala upaya ia lakukan untuk menggaet Tanto, tetapi lelaki itu teguh pendirian tak pernah tergoda dengan semua perlakuannya, setianya pada Laras begitu kuat, hingga maut memisahkan Laras pun tak pernah punya keinginan untuk menikah lagi.


“Mama hanya menyarankan padamu, carilah laki-laki yang tulus dan setia menyayangimu. Jangan permainkan masa mudamu. Mama sudah kena batunya sekarang, di saat benar-benar mencintai lelaki yang tulus, jodoh kami tidak berjalan lama. Allah telah mengambil cinta sejati mama di saat perkawinan baru berjalan dua tahun.”


“Lantas bagaimana dengan papa?” Manda tau, bahwa Seno adalah papa sambungnya.


“Mama berusaha menghargai pernikahan ini dan menghormati papamu. Dia lelaki baik dan bertanggung jawab atas hidup kita berdua.” Bella menatap Manda dengan lekat, “Usia muda ada batasnya. Kalau sudah tua kita sudah tidak bisa memilih lagi. Cukupkan kamu bermain dengan sembarang lelaki. Pikirkan masa depanmu. Lihat Afifah, kini dia akan menikah. Dan mama dengar suaminya dari keluarga berada dan taat agama.”


Manda terdiam mendengar sekilas kisah masa lalu mamanya. Tapi gelora darah muda dan jiwa petualang akibat salah pergaulan membuatnya terdampar ke pergaulan bebas. Hingga sulit baginya keluar dari lingkaran yang membuatnya benar-benar menikmati kehidupan.


“Mama tidak ingin kamu meninggal karena over dosis atau karena penyakit kutukan seperti om Iwan adik papamu yang salah pergaulan.”


Kini pikiran Manda kembali terpecah. Mendengar perkataan Bella tentang om Iwan membuatnya jadi berpikir sesaat. Ia memang harus berubah. Kalau tidak sekarang kapan lagi. Toh semua untuk kebaikan dirinya sendiri.


Begitu Manda keluar dari kamarnya dengan cepat Ivan memakai baju. Ia tidak ingin terjebak dengan perempuan mana pun. Ia akan menjaga hatinya. Karena ia sudah tau siapa pemilik hati di mana ia akan melabuhkan segenap jiwa dan seluruh raganya.


Satu nama yang terukir  membuat senyum terbit di wajah Ivan. Ia tau, tinggal selangkah lagi akan menemukan keberadaan Khaira. Hari dan sepupunya Yoga mulai menemukan titik terang dalam penyelidikannya untuk mencari wanita yang telah mencuri hati dan sang pemilik hati bos New Star Corp.


Pagi ini ballroom restoran hotel Horisson sudah disulap dengan mewah. Kedua belah pihak keluarga sudah berkumpul untuk menyaksikan pernikahan antara Junior dan  Afifah yang akan diselenggarakan tepat pukul 9 pagi. Setelah pernikahan, selepas Zuhur langsung dilanjutkan resepsi.


Hotel Horisson sudah dibooking untuk kedua belah pihak keluarga yang berasal dari luar kota maupun luar negeri. Kedua pihak keluarga sudah sepakat untuk penyelenggaraan resepsi hanya sampai jam lima sore.


Air mata Khaira terus mengalir saat menyaksikan akad antara adikknya dan Afifah. Bayangan kejadian pernikahan mereka kembali hadir mengganggu perasaannya. Tapi ia berusaha menguatkan hatinya. Ia tidak boleh baper, hari ini hari bahagia Junior, jangan sampai perubahan dirinya membuat keluarga yang hadir memelas akan nasibnya.


“Semoga mereka menjadi keluarga sakinah, mawaddah marahmah,” sebuah suara bass membuat Khaira menoleh pada sang pemilik yang duduk di belakangnya. Tampak Fahri saudaranya Afifah memandangnya dengan lekat.


Khaira tidak menjawab. Ia dengan cepat menghapus air mata yang mengalir membasahi pipinya. Tanpa meminta persetujuan Khaira, Fahri berpindah duduk di sampingnya. Seluruh keluarga tampak tegang menantikan Junior melaksanakan ijab qabul dengan Afifah hingga akhirnya suara sah menggema memenuhi ballroom hotel mewah itu.


“Alhamdulillah …. “ suara Fahri menghempaskan lamunan Khaira tentang Abbas yang tiba-tiba muncul berkelebat di benaknya.


“Yok foto keluarga,” Rheina muncul dari samping sambil mengedipkan mata pada Khaira karena melihat lelaki muda di samping adik iparnya.


Jangan lupa vote di hari senin ya. Aku tunggu tanda cinta dari reader untuk kisah Ivan dan Khaira. Sayang selalu dari author yang sedang happy .....

__ADS_1


__ADS_2