
Faiq kembali membuka cctv dan memantau pembicaraan Hesti dan ibunya. Ia sengaja menghidupkan speaker cctv agar pembicaraan keduanya bisa di dengar.
“Apa mbak Marni nggak bohong kalau jendes itu udah minggat bersama anaknya dari rumah ini?” suara Hesti terdengar jelas di telinga Faiq saat berbincang dengan salah satu artnya yang bertugas mencuci pakaian di rumah ini.
“Betul, nya. Mereka pergi tepat setelah nyonya dan tuan Faiq meninggalkan rumah. Adiknya bu Hani yang menjemput mereka lengkap dengan mobil box yang membawa seluruh pakaian mereka.”
“Syukurlah anakku. Tidak sia-sia ibu mendatangi mbah Marno untuk meminta jampi-jampi agar hati nak Faiq hanya tertuju padamu.”
Rudi melongo mendengarkan pembicaraan ibu dan anak tersebut. Ia memandang Faiq yang masih fokus memandang cctv di depannya.
“Kamu boleh kembali ke tempatmu. Ini untuk belanja dapurmu.” Dewi mengeluarkan 3 lembar uang merah dan meletakknya ke tangan Marni.
“Terima kasih banyak, nyonya.” Marni berjalan ke dapur dengan perasaan bahagia karena mendapat uang tambahan.
“Aku hanya menginginkan anak dari mas Faiq, dengan begitu ia tidak bisa menceraikanku.”
Rudi menggeleng-gelengkan kepala tak percaya, kata-kata itu bisa keluar dari bibir Hesti yang penampilannya sangat sopan dan santun.
“Apa kamu sudah mencoba memberinya obat kuat?”
Mata Rudi melotot kembali mendengar perkataan Dewi. Ia kembali memandang Faiq yang tetap santai menyimak pembicaraan keduanya.
“Aku sudah melakukannya sebanyak dua kali ibu. Yang pertama saat malam pernikahan kami, tapi mas Faiq langsung pergi. Dan yang kedua saat mas Faiq memarahi kurcaci kembar itu. Ku rasa istrinya melihat kami berciuman di tempat tidur. Aku sengaja tidak menutup pintu.”
“Apa kalian telah melakukannya?”
Rudi mendadak kepo. Ia memasang telinganya untuk mendengar cerita hot selanjutnya. Matanya memandang Faiq dengan tegang.
“Tidak bu. Mas Faiq keburu mual dan langsung muntah di kamar mandi.” Hesti menceritakan dengan sedih.
Sontak Rudi tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Hesti. Untung saja ruang kerja Faiq di lantai dua kedap suara.
“Tenangkan pikiranmu. Masih ada waktu. Apalagi si jendes udah pergi dari rumah ini. Kamu harus pandai-pandai merawat diri. Apalagi kamu masih perawan. Ibu akan terus minta bantuan mbah Marno, agar suamimu semakin klepek-klepek denganmu. Jika kamu berhasil dinikahi nak Faiq secara resmi akan ibu tutup mulut Eka yang pernah menghinamu karena dekat dengan anaknya.”
Hesti terdiam. Ia teringat kisah cintanya yang menyedihkan dengan Irwan tetangganya yang lebih kaya dari mereka. Mamanya Irwan yang bernama Eka menentang hubungan mereka, karena ayah Hesti hanya seorang kepala sekolah dasar, dan tidak level dengan keluarga mereka yang anggota dewan.
__ADS_1
“Sudahlah ibu. Itu hanya masa lalu.”
“Tapi ibu lihat sampai sekarang Irwan masih sering menanyakanmu.”
“Sampai kapan kita menonton drama ikan terbang ini?” Rudi jadi kesal setelah mengetahui rencana keduanya untuk menjebak Faiq.
“Kita dengar dulu apa rencana mereka selanjutnya.” Faiq masih santai tanpa melibatkan emosinya saat menyaksikan drama antara ibu dan anak di ruang tamu mereka.
“Mana kursi rodamu. Bukankah nak Faiq tidak mengetahui kalau kamu sudah bisa berjalan?”
“Tenang saja ibu. Jika mas Faiq pulang, aku akan minta dia mengantarku ke kamar.” Hesti sudah membayangkan Faiq akan menggendongnya dan ia akan berusaha merayu Faiq.
“Lo udah mandi apa belum sih?” Tiba-tiba Rudi baru menyadari kalau penampilan Faiq benar-benar kusut, muka bantal dengan rambut awut-awutan. Jauh dari kesan klimis penampilannya saat di kantor.
“Udah subuh tadi. Tapi abis muntah, malas untuk ganti baju. Aku sudah menelpon Handoko sekretarisku di kantor untuk izin hari ini.”
“Bos emang enak.” Rudi mulai kelihatan gelisah. “Bos, udah jam 9. Aku harus pulang ke rumah. Ntar Ina curiga, nanti malem bakal nggak dapet jatah.”
“Ya udah. Kirim nomor rekeningmu.”
“Buat ngecek aja, berapa saldo yang tersisa.” Jawab Faiq cuek. Dengan santai ia mengirim satu juta di rekening Rudi. “Buat susu anakmu.” Faiq ngeloyor pergi meninggalkan Rudi yang bingung melihat transperan dari Faiq.
“Alhamdulillah, rezeki anak Rudi.” Ia bersorak kegirangan. Karena sepagi ini ia memang pusing untuk membayar pinjaman pada mertuanya sebesar 500 ribu, saat anaknya di larikan ke rumah sakit tempo lalu.
“Mas Faiq…” Hesti melongo tak percaya melihat Faiq turun dari lantai dua rumahnya dengan penampilan santai.
“Eh, nak Faiq nggak ngantor? Kapan kembali dari Surabaya?” Dewi langsung berbasa-basi melihat menantu tampannya sudah berada di rumah.
“Kemaren siang, bu.” Faiq langsung duduk di hadapan keduanya dengan santai.
Mata Hesti tak berkedip menatap ketampanan Faiq yang berlipat dengan rambut acak-acakan membuat ia semakin bersemangat untuk menghangatkan ranjang malam pertama bersama Faiq.
“Bagaimana keadaan kakimu?” Faiq mengarahkan pandangannya pada kaki Hesti yang memakai hills.
Seketika wajah Hesti memucat. Ia baru menyadari kesalahan yang ia lakukan. Harusnya ia memakai sepatu flat, agar tidak kelihatan bohongnya.
__ADS_1
“Tadi aja jalannya masih ibu papah.” Dewi cepat memberikan alasan untuk menutupi kebohongan yang mereka ciptakan.
“Rumah kelihatan sepi, si dede kemana mas?” Hesti berusaha mengalihkan perhatian Faiq untuk tidak membahas kakinya.
“Semuanya liburan ikut Hanif. Berhubung si kembar juga sudah tidak ada kegiatan di sekolah. Bulan depan keduanya udah masuk sekolah dasar.”
Mendengar jawaban santai Faiq membuat Dewi dan Hesti meragukan perkataan Marni. Tetapi mereka kembali menunjukkan wajah normalnya agar Faiq tidak curiga.
“Aku ingin mengantarmu ke dokter tulang temanku. Untuk mengetahui sampai di masa pemulihan kakimu. Nggak enak kan dengan teman sekantor, kalau kamu kelamaan meninggalkan tugas.”
“Nggak apa-apa kok. Suamiku kan kaya.” Tapi itu hanya ada dalam pikiran Hesti. Ia menatap Faiq dengan penuh damba, “Aku senang jika mas yang mengantarku ke dokter tulang.”
Dewi memandang Hesti dengan gelisah, takut kebohongan mereka akan dibongkar dokter tulang yang direkomendasikan Faiq.
“Mama akan mengambilkan kursi rodamu di kamar.” Dewi melangkah meninggalkan anak dan menantunya dengan perasaan tak enak.
“Aku ingin melihatmu sembuh. Dan ku harap kamu segera menemukan lelaki yang baik. Jika kita terus menunda perpisahan, aku hanya membuat Hani dan anak-anakku bersedih. Karena pernikahan kita sudah melewati batas perjanjian.”
Hesti terkejut mendengar ucapan Faiq. Padahal ia berharap sikap Faiq semakin hangat sepulangnya dari Surabaya. Matanya nanar menatap Faiq. Ia berusaha menetralisir perasaan agar tidak nampak kecewa.
Dewi yang muncul dengan membawa kursi roda merasa heran melihat suasana hening yang tercipta diantara keduanya. Ia memposisikan kursi roda tepat di samping Hesti.
“Nak Faiq, tolong angkat Hesti.”
“Tidak usah, bu.” Hesti memotong ucapan Marisa, “Aku bisa sendiri.”
“Baiklah, aku ke kembali ke kamar untuk berbenah, dan akan berangkat ke kantor.” Tanpa basa-basi Faiq meninggalkan keduanya.
Melihat keberadaan keduanya di rumah, Faiq membatalkan niatnya untuk beristirahat. Ia memasuki kamar mandi dan segera berpakaian kerja. Ia akan membereskan semuanya dari kantor. Di rumah tanpa melihat Hani dan anak-anak hanya membuatnya sedih.
Sepeninggal Faiq, Hesti dan Dewi kembali ke kamar tamu dan saling menenangkan diri untuk memikirkan langkah selanjutnya. Hesti menceritakan kembali percakapan yang terjadi antara ia dan Faiq, tentang rencana Faiq yang ingin menceraikannya begitu ia sembuh.
“Ibu akan mencari jalan lain, agar ia tidak menceraikanmu. Nampaknya jampi dari mbah Marno sudah tawar.” Dewi mencari alternatif lain untuk memuluskan rencananya.
__ADS_1