Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 72


__ADS_3

Dengan pelan Faiq berjalan menghampiri tempat tidur. Ia membelai kepala Ariq. Melihat Hani yang berbaring miring sambil memeluk Ariq membuat Faiq memiliki ide konyol. Dengan cepat ia naik ke tempat tidur, hingga sesak seperti ikan sarden.


Faiq tak peduli. Ia memeluk perut Hani yang sudah terlelap sejak 3 jam yang lalu. Hidungnya mulai membaui dan menghirup aroma lembut istrinya. Karena kecapaian dengan aktivitas seharian ini, tak lama kemudian Faiq terlelap.


Sayup-sayup Hani mendengar azan Subuh. Hani menggeliat, badannya terasa berat. Ia melihat tangan besar melingkar di perutnya. Ia tidak bisa bergerak, tubuhnya terhimpit di antara Ariq dan Faiq.


“Mas…” Karena khawatir membangunkan Ariq, Hani menepuk-nepuk lengan Faiq yang melingkar di perutnya.


“Hm….” Faiq masih lelap dalam tidurnya. Baru kali ini ia merasakan tidur tanpa terbangun di tengah malam. Aroma istrinya membuat ia merasa nyaman.


“Mas…” Hani kembali menepuk tangan Faiq, tapi yang dipanggil tetap lelap. Ia tak kehabisan akal. Akhirnya Hani mencubit lengan Faiq.


“Hoam….” Faiq menutup mulutnya yang masih menguap. Ia mendusel-duselkan hidungnya ke leher Hani yang tertutup jilbab.


“Mas, sudah Subuh. Ntar Ariq bangun.”


“Baiklah sayang.” Dengan cepat ia bangkit dari tempat tidur. Tak lupa ia memberikan kecupan ringan di kening istrinya, “Mas akan salat Subuh di masjid terdekat sekalian mencari sarapan buat kita.”


Hani hanya menganggukkan kepala dan melihat Faiq yang berlalu dari ruangan tempat Ariq di rawat.


Hari ini tepat tiga hari Ariq dirawat di rumah sakit. Kondisinya sudah pulih seperti sedia kala. Melihat perlakuan Faiq yang mengurusnya selama di rumah sakit, membuat Ariq  mulai membuka dirinya. Ia kembali bermanja dan mau bermain bersama Faiq.

__ADS_1


Jam sepuluh tepat, Wulan dan Hanif datang menjemput Ariq ke rumah sakit. Faiq meminta Hanif menjemput Ariq, karena ia penasaran untuk membawa Hani ke dokter obgyn. Ia penasaran ingin melihat kondisi bayinya.


“Bunda dan papa kenapa tidak ikut mas?” Ariq merasa heran, karena Hanif yang menggendongnya saat akan meninggalkan area rumah sakit.


“Papa akan mengantar bunda lihat dedek di perut bunda. Mas Ariq tunggu di rumah, ya.”


“Baik, papa.”


Faiq mencium kening Ariq sebelum Hanif membawanya berlalu dari rumah sakit. Tanpa meminta persetujuan Hani, ia menggenggam jemarinya dengan erat.


Seorang dokter lelaki yang seusia dengannya dengan diiringi asisten  memasuki ruangan dimana ia dan Hani menunggu.


Faiq sempat membaca name tag yang bertuliskan dr. Bayu Sihombing, SpOG. Ia turut mendampingi Hani saat pemeriksaan awal. Ketika dr. Bayu mulai menutup tirai untuk melakukan USG Faiq mengikuti ke dalam. Ia sudah tidak sabar melihat wujud janin di dalam perut istrinya.


Tatapan Faiq tajam pada dokter yang memainkan transducer di atas perut istrinya yang mulus. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menghela nafas berat.


“Wah, nampaknya ada dua janin di rahim bunda ayu ini.” dr. Bayu tersenyum lebar.


Raut kekesalan langsung hilang dari wajah Faiq mendengar ucapan dr. Bayu. Ia mengikuti arah telunjuk sang dokter. Senyum bahagia terbit di wajah tampannya. Faiq merasa bahagia, sekaligus bangga karena akan mendapatkan anak kembar yang berasal dari keturunannya sendiri.


“Ayah bisa melihatnya di sini.” dr. Bayu menjelaskan dengan seksama sambil melemparkan senyum ramahnya.

__ADS_1


Faiq mendengarkan penjelasan dr. Bayu dengan serius. Segala sesuatu yang tidak ia pahami ia pertanyakan secara mendetail.


“Bagaimana dengan jenis kelamin anak saya, dok?” Faiq bertanya dengan penuh semangat.


“Untuk usia kehamilan trimester pertama, kelamin jabang bayi belum terlalu tampak. Nanti memasuki usia trimester kedua biasanya sudah bisa kita lihat.”


“Bagaimana berhubungan intim selama kehamilan, dok?”


Mendengar pertanyaan Faiq, Hani hanya bisa menahan malu sehingga pipinya merona seperti tomat matang.


“Saya jadi penasaran, ini kan bukan kehamilan pertama istri anda kan?”


Faiq menggaruk keningnya yang tidak gatal, “Maklum sudah lama, jadi lupa dok…”


Dr. Bayu tersenyum memandang wajah Faiq yang benar-benar penasaran, “Di trimester kedua sebenarnya aman saja melakukan hubungan intim. Intinya tinggal kenyamanan bunda, hanya saja frekuensinya dan powernya disesuaikan dengan kondisi bunda, karena di dalam rahim bunda kan sudah ada isinya.”


Mendengar jawaban dr. Bayu, Faiq merasa lega bukan main. Seperti kata Rudi, tak lama lagi ia akan mengasah parang.


“Mas…” Tepukan Hani di lengannya membuat lamunan Faiq yang sudah melanglang buana memikirkan yang ***-*** langsung terhempas.


“Ya, sayang…” Ia menatap Hani dengan sorot bingung.

__ADS_1


“Mas lagi mikirin apa? Kita harus pulang sekarang. Anak-anak sudah menunggu.” Hani melangkahkan kaki meninggalkan Faiq yang berusaha mengingat perkataan dr. Bayu, untuk secepatnya akan ia praktekkan begitu ada kesempatan. He he…


__ADS_2