Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 249 S2 (Pertemuan Kedua)


__ADS_3

Pandangan Ivan masih terpaku pada mobil yang dikendarai Khaira yang kini telah hilang dari jangkauan penglihatannya.  Raut kekecewaan tergambar jelas di wajahnya mengingat  ucapan Khaira yang  mengatakan bahwa tidak mengenalnya.


Tatapan Khaira begitu datar dan dingin tanpa perasaan. Tiada lagi binar-binar cinta yang tergambar di mata bening yang selalu membuatnya merindu.


Perkataan yang pernah ia ucapkan tiga tahun yang lalu kini terngiang kembali di benaknya. Bagaimana dengan angkuhnya ia mengatakan untuk tak saling menyapa saat bertemu, dan harus menganggap orang asing satu sama lain jika  waktu mempertemukan mereka di tempat yang berbeda.


“Bagaimana caraku untuk mengembalikan cinta yang pernah ada di hatimu sayang ....?” Ivan bermonolog dalam hati mengingat sikap dingin yang ditunjukkan Khaira beberapa saat yang lalu, berbanding terbalik dengan dirinya yang merasakan kerinduan teramat dalam pada sosok ramping itu.


Tiga tahun berpisah membuat Ivan melihat kedewasaan tergambar jelas di wajah sang istri. Sikap Khaira begitu tenang dan tidak ada keterkejutan saat bertemu dirinya. Sementara ia setengah mati menahan keinginan untuk memeluk tubuh ramping itu dengan erat untuk mencurahkan segenap perasaan rindu yang sangat menyesakkan dada.


Ivan menekan dadanya yang terasa sesak mengingat penolakan Khaira terhadap keberadaannya. Ivan tidak siap dengan penolakan sang istri. Sesuatu yang tak pernah ia alami dalam kehidupan adalah penolakan. Dan ini kali kedua ia ditolak, bahkan oleh perempuan yang sama.


“Sesakit inikah rasanya?”  Ivan mengusap dadanya untuk mengurangi beban yang kini menderanya karena mendapat penolakan dari orang yang sangat ia cintai.


“Bos!” seruan Danu mengejutkan Ivan yang menikmati kesedihannya di sore menjelang matahari terbenam itu.


Laura merasa bahagia karena Ivan masih berada di lokasi yang sama dengannya. Ia yakin bisa menaklukkan hati pria tajir ini. Apalagi Ivan sangat menyukai anak kecil.  Bobby bisa menjadi jalannya untuk mendekati Ivan.


“Kamu bisa mengantar nona Laura dan putranya pulang,” Ivan berkata cepat, “Aku akan menelpon Rusli untuk menjemput.”


“Baik Bos,” Danu mengangguk cepat.


Senyum tipis yang sempat terulas di wajah Laura langsung sirna mendengar  perkataan Ivan.  Tapi ia tidak berkecil hati. Ia yakin kerja sama yang terjalin antara perusahaannya dan Ivan akan membuat mereka sering bersama. Dan ia cukup puas  menyadari  hal itu.


“Terima kasih atas jamuannya mas Ivan .... “ Laura menampilkan senyum termanisnya dengan suara lembut mendayu  untuk membuat Ivan terkesan.


Ivan menatapnya sekilas sambil mengangguk. Pandangan Ivan beralih pada Bobby yang berada dalam gendongan Danu. Ia mengusap kepala Bobby dengan penuh perasaan.


“Hati-hati Danu,” ujar Ivan.


“Siap Bos,” Danu menganggukkan kepala.


Melihat perlakuan Ivan pada putranya membuat Laura semakin berbunga-bunga. Ia tau, Bobby adalah satu-satunya jalan untuk mendekatkan dirinya dan Ivan. Dan ia akan berjuang untuk itu.


Mobil yang membawa ketiganya akhirnya berlalu dari hadapan Ivan. Taklama kemudian Rusli datang menjemputnya.


Ivan melamun di dalam mobil yang akan membawanya kembali ke rumah Laras.  Walau pun penolakan Khaira membuatnya kecewa kali ini tapi setitik kebahagiaan hadir karena  telah mengetahui identitas sang istri bahkan tempat persembunyiannya selama ini.


“Sekarang aku telah menemukanmu. Tidak mudah bagimu untuk pergi kali ini,” monolog Ivan dalam hati sambil menyusun rencana untuk membuat Khaira bisa menerimanya kembali dan melupakan semua kesedihan yang pernah ia ciptakan.


Setelah melaksanakan salat Subuh pikiran Ivan tenang kembali. Ia akan mencoba dari awal untuk memulai pendekatan pada Khaira. Plan A sampe Z telah ia rancang sendiri untuk melembutkan hati Khaira agar mau bersamanya kembali. Kali ini ia tidak akan meminta bantuan siapa pun. Ia akan berjuang sendiri untuk mengembalikan kepercayaan Khaira.


Ia bertekad akan mengembalikan binar-binar cinta yang pernah ada di mata bening istrinya hanya untuknya, bukan orang lain.


Mengingat ucapan ustadz Hanan yang  ingin meminang dan memperistri Rara membuat perasaan kesal hadir mengganggu pikiran Ivan. Bagaimana mungkin ia membiarkan hal itu terjadi.


“Rara hanya milikku. Tidak seorang pun bisa memilikinya,” tegas Ivan dalam hati.


Kini ia teringat dengan si kembar.  Pikirannya melayang mengingat kedua bocah yang sangat mirip dan tidak asing keberadaaannya.


“Apakah Rara menikah lagi, hamil dan suaminya meninggal dunia?” pertanyaan itu mengganggu pikiran Ivan.


Tapi ia teringat perkataan dr. Riska tentang Khaira yang tidak bisa melahirkan keturunan karena rahimnya yang lemah serta riwayat keguguran yang sudah berapa kali ia alami.

__ADS_1


“Ya Allah .... berapa waktu kita terpisah sudah banyak peristiwa yang terjadi,” Ivan berguman dalam hatinya.


Kembali bayangan si kembar hadir menyita pikiran Ivan. Ia memejamkan mata sambil duduk bertafakur di tikar sembahyang.


“Atau Rara mengadopsi si kembar agar ia tidak merasa kesepian?”  Ivan bertarung dengan pemikirannya sendiri mengingat cerita ustadz Hanan, “Yahh ... ini masuk akal.”


Ivan tersenyum setelah berargumen dengan pemikirannya sendiri tentang keberadaan si kembar. Ia yakin kali ini ia benar. Dan ia tidak peduli akan hal itu. Jika Rara menerima kehadirannya kembali, ia akan menyayangi si kembar seperti anak mereka sendiri. Dan ia akan berjuang dengan sekuat kemampuan yang ia punya untuk mewujudkan semuanya.


Ivan meyakinkan dirinya sendiri, bahwa mulai besok ia akan berjuang. Waktu yang ada akan ia manfaatkan sekuat tenaga. Ia tidak akan mundur lagi untuk mendapatkan kepercayaan Khaira kembali.


“Aku akan membawamu kembali ke pelukanku,” Ivan tersenyum penuh arti dan membuatnya bersemangat kembali.


Saat melipat tikar sembahyang telpon Danu telah membuyarkan rencana yang telah ia susun.  Ivan segera menjawab panggilan asistennya itu.


“Assalamu’alaikum, Bos,” suara Danu terdengar terburu-buru di pagi itu.


“Wa’alaikumussalam,” jawab Ivan cepat, ”Ada apa Ron?”


“Bos, saya barusan membaca email dari tuan Syamsul Bahri. Beliau mengharapkan kedatangan kita ke Jambi siang ini. Akan ada pertemuan dengan pejabat setempat membahas proyek kemaren....”


Ivan menghela nafas berat.  Baru saja ia ingin memulai perjuangan meraih cinta sang istri, tetapi ada saja halangan yang menghadang.


“Baiklah Dan. Jemput aku di rumah mama.” Ivan memutuskan untuk memenuhi undangan itu. Ia tak bisa egois dengan perasaannya. Ia yakin Allah akan selalu ada untuknya.


Cintanya terhadap Khaira tulus dan murni semata-mata karena Allah. Dan ia akan berjuang untuk itu. Sedangkan undangan ini adalah berkaitan dengan kepercayaan. Ia harus mengedepankan kepercayaan orang lain terhadap dirinya, karena itu untuk  kemaslahatan para pegawai yang bekerja untuknya.


“Ya, Allah berikan kemudahan pada hamba-Mu ini .... “ Ivan berdoa dalam hati untuk kebaikan dan kemanfaatan yang akan ia lakukan.


Selama empat hari Ivan dan Danu berjibaku untuk mensukseskan Sail Sabang Propinsi Jambi. Kru mereka sebanyak 5 orang juga diterbangkan langsung dari Jakarta agar proses syutting film dokumenternya selesai pada waktunya. Ivan tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada. Ia ingin segera menyelesaikan proyek bersama Syamsul Bahri dan pejabat setempat tapi tepat dengan kualitas terbaik yang dapat perusahaan berikan pada kliennya.


Ivan terpaku menikmati kesendiriannya di loby hotel Millionaire Bangko di kabupaten Merangin Jambi. Walaupun fisiknya berada di kota yang berjarak kurang lebih 802 Km dari Jakarta tapi hatinya berada jauh dalam genggaman sang bidadari yang tak pernah lepas dari bayangan.


“Selamat siang uncle Ivan?” suara bocah lelaki menghempaskan lamunan Ivan.


Ivan terkejut ketika melihat Laura dan Bobby kini berdiri di hadapannya dengan pakaian santai. Ia membuang muka melihat penampilan Laura yang hanya menggunakan tank top dengan hot pants membuat para tamu yang berjalan di lobby hotel memandang sambil tersenyum.


“Bobby .... “ Ivan menyapa Bobby sambil mengulas senyumnya.


“Aku dan mommy sedang liburan di Jambi,” Bobby berkata dengan raut senang.


Ivan menatap Laura sambil mengerutkan kening.  Ia curiga ini bukanlah liburan biasa. Tapi Ivan tak ingin berpikiran negatif.


“Aku sengaja izin sama mas Berli untuk ambil cuti sementara,” Laura berkata santai sambil menghempaskan tubuhnya di sofa di hadapan Ivan, “Udah satu tahunan nggak pernah liburan. Kasian juga sama Bobby selalu ku tinggal.”


Ivan mengalihkan tatapannya pada Bobby yang kini duduk di sampingnya. Ia menghela nafas perlahan.


“Udah jalan kemana aja selama di sini mas?” terdengar suara Laura bertanya sambil mendesah manja.


Ivan tersenyum menanggapi pertanyaan Laura. Ia tau maksud tersembunyi di balik pertanyaan Laura.


“Yah, cukuplah untuk lelaki tua sepertiku.”


“Hei, siapa bilang mas Ivan tua. Masih hot lohh .... “

__ADS_1


Dan ia yakin apa yang ia pikirkan sesuai dengan kenyataan. Jemarinya dengan cepat berselancar di keypad ponsel. Ia ingin segera kembali ke kamar. Tidur adalah kegiatan terbaik yang akan ia lakukan agar besok kembali ke Jakarta dalam keadaat fit  untuk memulai misi penaklukan sang istri.


“Selamat siang Bos,” Danu kini berada di hadapannya dengan sigap.


“Aku merasakan kelelahan luar biasa,” Ivan menampilkan mimik kelelahan yang sengaja ia buat.


Ia tidak ingin terjebak dengan siapa pun, cukup Claudia yang telah memporak-porandakan pernikahannya jangan sampai ada Claudia lain yang menyusul membuat jarak antara ia dan Khaira semakin jauh. Ia benar-benar tidak sanggup. Ia bukan tipe lelaki yang bisa bermain sandiwara. Sampai kapan pun ia akan bertahan dengan cintanya pada Khaira.


“Nona Laura dan putranya ingin berwisata di sini. Bawalah mereka kemanapun mereka suka,” Ivan berkata santai sambil membelai kepala Bobby.


Danu mengenyitkan dahi mendengar perkataan bosnya. Ia menahan senyum melihat penampilan segar di depan mata yang begitu menggoda. Dapat ia lihat sorot kekesalan yang tergambar di wajah Laura.


“Kalau Bobby pingin mainan yang menarik, tinggal minta sama om Danu ya,” Ivan memberikan tawaran yang menarik pada bocah lelaki itu.


“Apa boleh uncle?” Bobby menatap Ivan tak percaya.


Ivan mengangguk serius. Ia menatap Laura sambil tersenyum tipis.  Ia tidak ingin memberikan kesempatan pada perempuan mana pun yang berusaha mendekatinya. Baginya cukup Khaira seorang, sampai kapan pun, tak bisa ditawar lagi.


“Selamat menikmati liburan kalian nona Laura,”


Dengan perasaan kesal Laura menggandeng Bobby untuk mengikuti langkah Danu yang berjalan menuju parkiran mobil. Ia sudah berusaha mati-matian untuk mengikuti setiap aktivitas Ivan hingga akhirnya saat pertemuan tiga hari yang lalu di pondok ia mendengar percakapan antara ustadz Hanan dan Berly bahwa Ivan sedang berada di Jambi untuk menyelesaikan proyek kerjasama dengan pemda setempat.


Perasaan senang membuncah membuatnya mengajukan izin cuti pada Berli dengan alasan liburan di Bali untuk membawa Bobby. Tanpa curiga bosnya memberikan izin, karena kinerja Laura dan servisnya tidak pernah mengecewakannya.


Kini Laura menekan kemarahan yang timbul di hati. Ia merasa Ivan telah menolaknya secara halus. Padahal ia sudah berusaha berdandan dengan maksimal. Lelaki mana pun akan terpesona dengan penampilannya. Dan itu selalu berhasil ia lakukan. Tapi kali ini ....


“Kemana tujuan kita Nona?” Danu mengarahkan pandangan menatap Laura melalui kaca spion.


“Terserah,” Laura menjawab judes.


Danu tersenyum tipis. Ia mengetahui penyebab perubahan perempuan seksi di belakangnya.  Tapi ia tak mau berpikir yang aneh, cukup jadi sopir yang baik, maka pundi tabungannya akan semakin bertambah.


Siang itu  pesawat telah membawa mereka dengan selamat kembali ke Jakarta.  Dengan tidak tau malunya Laura terus menempel pada Ivan yang tetap dengan sikap dinginnya. Karena melihat Danu masih menghubungi Rusli terpaksa Ivan menggendong Bobby yang sudah kelihatan lelah semenjak perjalanan dari Jambi.


Tatapan Ivan mengarah pada seorang perempuan yang berjalan dengan cepat di depannya sambil menenteng tas travel di pundak.  Ia menyadari bahwa perempuan itu adalah istrinya.


“Rara .... “ dengan tetap menggendong Bobby, Ivan berhasil menyusul Khaira.


Khaira yang kebetulan saat itu baru kembali dari Surabaya karena mengikuti Seminar Pendidikan mewakili pondok berusaha menulikan pendengarannya. Ia sudah melihat keberadaan Ivan saat berjalan menuju pintu keluar dari ruang tunggu bandara. Karena itu ia mempercepat langkah agar tidak diketahui keberadaannya.


Tapi seperti yang ia ketahui, Ivan adalah lelaki pemaksa dan tidak mudah menerima penolakan, akhirnya ia berhenti karena tidak enak dengan penumpang lain yang menyaksikan mereka berdua dengan raut ingin tau.


Khaira melengos melihat Ivan yang masih menggendong Bobby dan kini Laura berdiri di antara mereka dengan wajah kecut.


Laura memandang remeh perempuan yang berpakaian serba tertutup di hadapannya. Ia yakin dirinya lebih menarik di banding siapa pun.


“Ada apa tuan memanggil saya?” Khaira memandang Ivan dengan tatapan dingin, sudah tidak mungkin baginya untuk menghindar. Ivan sudah mengetahui keberadaannya.


Sekarang ia hanya mengabulkan semua permintaan Ivan sesuai dengan keinginan terakhir yang diucapkannya  sebelum terjadi perpisahan.


“Tidak bisakah kita berbicara seperti yang dulu?” suara Ivan terdengar lembut untuk membujuk Khaira.


Laura menajamkan pendengarannya mendengar nada Ivan yang tidak pernah selembut ini saat berbicara dengan siapa pun. Matanya jelalatan memandang Khaira dari ujung rambut ke ujung kaki. Ia mencibir, dari yang melekat di tubuh perempuan itu tidak ada yang branded hanya pakaian biasa mungkin harganya hanya ratusan ribu di mall-mall rakyat jelata.

__ADS_1


“Maaf  tuan Alexander,  jemputan saya sudah datang,” Khaira berlalu begitu saja tanpa mempedulikan tatapan perempuan muda yang berdiri di samping Ivan yang menatapnya dengan tajam.


__ADS_2