Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 56


__ADS_3

Faiq tercenung sesaat, pikirannya menerawang. Semenjak mertuanya berkunjung dan tinggal bersama hampir satu bulan, Faiq memang tidak pernah memakan masakan  Hani. Ia  menghargai mertuanya yang selalu menyiapkan makan malam dan sarapan pagi untuk mereka.


Dan semenjak itu ia mulai perhatian terhadap Hesti, sehingga mengabaikan Hani dan anak-anak, dan yang terakhir ia berkata kasar serta memarahi anak-anak dan Hani, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama kedekatan mereka, hingga hubungan mereka berakhir dengan pernikahan.


“Ya Allah…” Faiq mulai memijit dahinya yang kini berkeringat dingin.


“Nak Faiq merasakan sesuatu?”


Faiq merasa badannya terasa lebih ringan dari biasa. Matanya terpejam, merasakan kepalanya yang mulai berkurang sakitnya.


“Sihir yang dikirim meracuni pemikiran nak Faiq sehingga nak Faiq tidak bisa mengontrol emosi.”  Kiai Solehhudin berkata panjang lebar.


“Kiai saya ingin membuat pengakuan.” Akhirnya Faiq menceritakan  masalah dalam rumah tangganya, serta penjanjian yang ia lakukan dengan keluarga besar Hesti.


“Astaga, bos. Miris benar nasibmu.”


“Huss!” Kiai Solehuddin memelototkan matanya memarahi Hendra yang berkomentar seenak perutnya. Ia kembali memandang Faiq, “Bagaimana perasaanmu terhadap istri sirimu?”


“Sedikitpun saya tidak mencintainya. Tapi saya ingin merawatnya hingga sembuh, karena rasa bersalah saya menyebabkan ia tertabrak motor hingga tidak bisa berjalan.”


“Apa bos tidak curiga, bisa saja ia berbohong agar bos tidak menceraikannya.” Hendra memandangnya dengan seksama, “Sekarang itu bos, banyak yang menggunakan jalan halus untuk melancarkan keinginan mereka. Tapi saya tidak menuduh istri muda bos, ya…”


Bayangan kesedihan Hani bersama ketiga anaknya melintas di benak Faiq. Sudah lama ia tidak meluangkan waktu bersama mereka, sedangkan untuk Hesti dan Dewi ia selalu ada waktu. Dan hal yang tak pernah ia lakukan terhadap Hani dan anak-anak, malahan dengan sukarela ia pergi membawa Hesti dan Dewi untuk berbelanja segala keperluan  Hesti.


Hani hanya menatapnya dengan wajah sedih, saat ia mengantar Hesti dan Dewi shopping di mall terkenal, serta membawa mereka berdua makan malam di restoran mewah.


Faiq mengangguk-angguk sambil memikirkan omongan Hendra. “Saya akan melihat cctv di rumah. Banyak hal yang telah saya lewatkan.”


Faiq mengingat kembali, saat ia mulai menghabiskan waktu berbincang bersama dengan Hesti dan Dewi, sehingga tidak pernah ada waktu menemani si kembar bermain bola. Dan waktu yang selama ini biasa ia habiskan bersama dengan Hani dan anak-anak terlewatkan begitu saja, karena ia lebih peduli dengan keberadaan Hesti.


“Memang ada kejanggalan yang terjadi di rumah. Tapi saya tidak terlalu memikirkannya. Hanya yang saya rasakan adalah jika berada di luar rumah saya sangat merindukan Rara istri saya, tetapi begitu sampai di rumah keinginan untuk berkumpul dengannya jadi hilang.” Faiq berterus terang tanpa menutupi lagi. “Apa yang harus saya lakukan kiai?”


Kiai Solehuddin tersenyum dengan penuh kharisma, “Kita hanya bisa ikhtiar. Semoga Allah mengijabah doa kita bersama. Biarkan saudaramu memijit di titik-titik tertentu pada tubuhmu. Orang yang mengirimmu sihir menggunakan jin sebagai perantara mereka.


Semoga  ikhtiar kita malam ini direstui Allah. Dan yang berniat jahat kepada keluarga nak Faiq segera diberikan kesadaran. Dan semoga Allah melindungi  nak Faiq agar bisa berkumpul dengan keluarga lagi.”


“Aamiin…” semuanya kompak mengaminkan doa kiai Solehuddin.


Faiq membuka jaket serta baju kaos yang berada di dalamnya. Ia langsung berbaring menelungkup, membiarkan asisten kiai Solehuddin memijit tangan dan kakinya. Rasa panas yang terasa membakar membuat  Faiq berkeringat sehingga membanjiri seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Dua jam kemudian Faiq sudah duduk kembali dengan  tubuh bersimbah keringat. Rasa mual kembali menyerangnya. Ia langsung turun dari rumah dan memuntahkan isi perutnya di dalam tong sampah yang terletak di halaman rumah kiai Solehuddin.


“Alhamdulillah.” Kiai Solehuddin dan keempat asistennya mengucap syukur bersamaan setelah Faiq kembali ke hadapan mereka.


Faiq membuka dompetnya, dan mengeluarkan sesuatu yang sudah dipersiapkannya sejak memasuki komplek pesantren.


“Kami tidak menarik sumbangan, nak Faiq. Bapak hanya kasian melihat nak Faiq tidak tenang, karena sesuatu mengendalikan pikiran  nak Faiq. Simpanlah kembali.” Kiai Solehuddin menolak pemberian Faiq.


“Tidak kiai. Ini ikhlas sumbangan saya untuk membantu anak-anak di sini. Bukan karena bantuan kiai dan rekan-rekan. Mohon diterima, dan saya sangat berterima kasih jika kiai berkenan menerimanya.”


“Baiklah nak Faiq. Sedekah nak Faiq, bapak terima. Semoga rezeki nak Faiq semakin dilancarkan.”


“Aamiin ya Rabbal alamin…”


Tatapan Hendra mulai liar mencari sesuatu. Walaupun ia tidak bercerita, tapi Faiq yakin bahwa Hendra mencari pujaan hatinya.


“Fiza, hidangan untuk tamu kita boleh diantar kemari.” Kiai Solehuddin memanggil putri bungsunya.


Wajah Hendra sumringah karena bakal melihat gadis pujaannya. Ia mulai senyam-senyum sendiri.


“Jika kamu mau, aku akan melamarkan untukmu.” Faiq berbisik ke telinga Hendra membuat mata Hendra melotot.


“Kiai yang terhormat, saya datang ke ponpes ini juga ada hajat mewakili adik saya Hendra.” Faiq melirik Hendra yang menatapnya  dengan hati berdebar.


“Sampaikanlah hajat anak berdua. Mungkin ada yang bisa saya bantu.”


“Jika putri kiai belum ada yang punya, adik saya Hendra ingin mengkhitbahnya.”


Kiai Solehuddin terpaku tak percaya mendengarnya. Selama ini memang banyak selentingan di luaran yang ingin melamar putri bungsunya, tapi belum satupun yang berani datang ke rumahnya.


“Jika niat nak Hendra tulus untuk mengkhitbah si bungsu, saya akan memanggilnya. Mendengar sendiri dari mulutnya, apa ia sudah siap untuk dikhitbah.”


Taklama Hafizah keluar bersama ibunya dan duduk berdampingan di sisi kiai Solehuddin. Ia menundukkan wajahnya tidak berani memandang wajah Hendra, teman sekampusnya dan sama-sama di fakultas ekonomi. Tapi ia hanya mengagumi dalam hati, karena harus menjaga mar’ah-nya sebagai seorang perempuan dan putri kiai yang cukup dikenal di Surabaya.


“Nak Hendra apa yang menjadi keinginan di hatimu boleh kamu sampaikan.” Kiai Solehuddin memandang Hendra dengan penuh kewibawaan. Ia mengenal baik pemuda yang duduk di hadapannya. Karena Arman adalah teman seperjuangannya saat masih bersekolah di madrasah Aliyah.


Hendra menarik nafas dalam-dalam. Ia memandang pujaan hatinya. Saling mencinta dalam diam, dan hanya menggaungkan nama di dalam doa. Kini kesempatan sudah di depan mata, “Hafiza Fitria saya sudah mengenalmu sejak lama. Dan jika kamu bersedia saya akan mengkhitbahmu.”


Hendra menarik nafas pelan, “Jika kamu berkenan saya ingin menjadikanmu istri untuk mendampingi saya dan menjadi ibu bagi anak-anak saya, serta sebagai penyempurna ibadah saya.”

__ADS_1


Faiq tersenyum mendengar perkataan Hendra yang sangat menyentuh. Ia mengalihkan pandangan pada kiai Solehuddin yang kini menatap putri bungsunya.


“Hafiza Fitria apakah kamu menerima jika Hendra Gunawan ingin mengkhitbahmu?” tanya kiai Solehuddin lembut.


Dengan wajah merona Hafiza mengangguk. Ia merasa malu mengangkat wajahnya.


“Alhamdulillah.” Hendra mengucap syukur atas jawaban Hafiza yang sangat ia nantikan.


“Secepatnya bawa ayahmu kemari untuk menentukan akad nikah kalian.”


“Baik kiai.”


“Saya akan membiayai semua keperluan pernikahan mereka.” Faiq menyela pembicaraan mereka. Ia merasa berhutang budi kepada pak Arman yang telah membantu ayahnya dan kini masih setia mendampinginya yang masih dalam proses belajar untuk mengelola perusahaan mereka.


Dalam perjalanan menuju hotel tempat Faiq menginap, Hendra tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Atas bantuan Faiq kini ia telah menawan dan mengikat hati pujaannya. Dan tak lama lagi mereka akan segera menikah.


“Sudahlah. Nggak usah lebay. Kalau nggak ku mulai, mungkin kamu akan jadi perjaka ting-ting. Kelamaan melamar Hafiza bakal ditikung yang lain.”


“Saya sangat bersyukur, dengan datangnya bos kemari telah memberi jalan saya untuk mengkhitbah Fiza. Dan saya tidak bisa menggambarkan kebahagiaan saya hari ini.”


“Sebagai sesama saudara sudah selayaknya kita saling membantu. Dan aku turut senang atas kebahagiaanmu.” Faiq berkata dengan tulus, “Dan berkat kamu meyakinkanku untuk mengunjungi rumah kiai Solehuddin, pikiranku jadi terbuka. Dan aku yakin apa yang dikatakan Hanif adik iparku bahwa Hesti memang memiliki maksud terselubung.”


“Syukurlah bos, semua masih bisa ditangani. Aku tidak bisa membayangkan kalau hal ini dibiarkan…”


“Aku merasa bersalah pada istriku…” Faiq menyandarkan tubuhnya dengan lemah sambil memejamkan mata.”


“Apa yang terjadi, bos?”


“Kemarin hari ulang tahun Hani. Dan aku tidak berada di sampingnya. Malahan aku telah berkata kasar padanya dan anak-anak.”  Hati Faiq merasa sedih saat mengucapkan itu. Kini ia mengingat bagaimana perlakukan kasarnya terhadap Hani dan ketiga anaknya.


“Pengaruh guna-guna memang sangat jahat, bos. Tapi syukurlah anda telah dilepaskan dari sihir itu. Saat kembali ke rumah bos bisa menggantinya dengan membuat acara yang meriah. Apa lagi istri anda dalam keadaan hamil. Wanita hamil mood-nya mudah berubah. Tinggal bagaimana bos mengambil hatinya saja. Semua pasti mudah.” Hendra sok bijak menasehati Faiq.


Senyum cerah terbit di wajah tampan Faiq, “Kau benar. Aku akan membuat pesta kejutan buat Hani. Kami akan berkencan berdua. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya…” Berjuta rencana sudah tersusun di kepala Faiq.  Ia akan membawa Hani ke vila milik ayahnya di puncak. Mereka akan menghabiskan malam berdua.


Ia akan memanjakan Hani dan melayani layaknya seorang ratu, apalagi Hani sekarang sedang mengandung anaknya. Kebahagiaan terbit di wajah Faiq. Tidak akan ada yang mengganggu kebersamaan keduanya. Ia akan menambah satu pelayan untuk menemani si kembar karena Lina akan fokus pada Hasya.


Dan ia sudah merencanakan tidak akan memberitahukan Hesti kepulangannya nanti. Setelah melewatkan waktu bersama Hani, dia akan melihat cctv untuk melihat sandiwara Hesti dan Dewi. Kemudian ia akan memutuskan akhir dari hubungan ia dan Hesti. Senyum cerah terbit di wajah Faiq mengingat rencana yang sudah disusunnya secara matang.


 

__ADS_1


 


__ADS_2