
Hani merasa tersentuh mendengar ucapan Faiq. Matanya membalas tatapan suaminya yang menyiratkan sesuatu dari pandangan teduhnya. Faiq mendaratkan ciuman di kening istrinya. Ia sangat merindukan kebersamaan mereka.
“Tetaplah di sisi mas, apa pun yang terjadi.”
“Bunda…” ketukan di pintu kamar membuat keduanya mengalihkan pandangan.
Faiq membuka pintu kamar, sosok mungil Hasya sudah berdiri dengan bercekak pinggang.
“Bunda dan papa tenapa pelgi?”
Faiq tersenyum kecil melihat gaya Hasya, “Lihatlah putri kecil kita, sangat menggemaskan.”
Dengan cepat ia menggendong Hasya dan menghujani ciuman di pipi cubbynya. Ia juga sangat merindukan putri kecil mereka.
“Ayo sayang…” Ia menggandeng tangan Hani keluar dari kamar menemui keluarga besarnya yang masih berkumpul di ruang keluarga.
“Sabar, tong. Masih banyak tamu.” Andi memperolok Faiq yang duduk di sampingnya sambil menggendong Hasya.
Andi dapat melihat pandangan Faiq yang tidak bisa lepas dari Hani yang kelihatan serius berbicara bersama Lina dan Astri.
"Yah mau gimana lagi. Aku akan sabar menanti hingga Rara menerima kehadiranku."
"Makanya jadi orang jangan sok jadi pahlawan. Untung saja Yang Kuasa masih memberi kesempatan padamu. Kalau tidak...." Andi sengaja menghentikan kalimatnya.
"Kalau tidak, stok duren sawit akan bertambah lagi." Andi tak bisa menahan tawanya. "Kamu dan Tama... ha ha ha...."
"Bug" Faiq memukul bahu Andi dengan keras
"Sembarangan kalau ngomong. Mulutmu itu segera diruqyah..."
"Gurau, tong." Andi tersenyum tipis. "Istrimu makin cantik sehabis melahirkan. Wajarlah kalau kamu kelojotan begini..."
Faiq makin panas mendengar ocehan sepupunya. Ia menyadari ucapan Andi memang banyak benarnya. Semenjak habis melahirkan tubuh Hani semakin berisi, apalagi wilayah favoritnya. Tatapannya berkali-kali teralihkan pada Hani yang asyik berbicara dengan Astri dan Lina.
"Kami sangat senang mbak Hani kembali, dan melahirkan bayi kembar yang cantik dan tampan.” Ujar Lina tulus.
__ADS_1
Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena sudah bertemu kembali dan melihat majikannya sehat tanpa kekurangan sesuatu apapun, walau dalam kondisi amnesia.
Hani membalas senyum Lina. Kini ia merasa lega saat bertemu Lina. Ia yakin Lina lah satu-satunya yang dapat ia percayai untuk menjawab semua rasa keingintahuan yang bergolak di hatinya.
“Ra…” Astri menatapnya dengan lembut, “Mbak tau kamu mengidap amnesia, mungkin ingatan tentang Faiq tidak ada sama sekali di memori otakmu. Tetapi sebagai seorang istri, kamu harus tetap melayani suamimu.”
Hani memandang Astri dengan raut sedih. Ia menyadari apa yang diucapkan iparnya benar. Sedikitpun ia tidak menyimpan kenangan tentang kebersamaan mereka.
“Mbak bisa melihat pengorbanan Faiq selama kamu masih dalam keadaan koma. Dia benar-benar terpukul, dia putus asa saat melihatmu terbaring selama tiga bulan.”
Hani sesekali memandang Faiq yang duduk bersama Andi serta kedua orangtuanya. Sesekali tatapan keduanya bertemu dengan Faiq yang menyunggingkan senyum padanya sambil mengangkat tangan.
“Apapun yang kamu dengar tentang hal-hal yang menyakitkan tidak usah kamu simpan di hati. Faiq seorang lelaki yang baik dan bertanggung jawab.”
Hani mencermati perkataan Astri. Ia juga merasakan perhatian yang diberikan Faiq selama beberapa hari ini setelah ia siuman dari koma. Sedetik pun Faiq tidak pernah hilang dari pelupuk matanya, bahkan untuk hal-hal kecil Faiq selalu turut andil mendampinginya, hingga terkadang ia jadi malu sendiri atas perhatian Faiq.
Seperti pagi tadi sebelum mereka kembali ke rumah, Hani masih memakai handuk di dalam kamar mandi. Tiba-tiba ia mendengar si kembar menangis, padahal yang ia tau, Marisa dan Lina sudah berada di ruangan mereka untuk mengantarkan sarapan.
Dengan cepat Hani keluar dari kamar mandi. Ia hanya melihat Faiq yang kewalahan menenangkan salah satunya.
“Ibu dan Lina kemana mas?” Hani menggendong putrinya dengan cepat.
Hani membelai punggung putrinya dengan lembut hingga sang bayi tertidur kembali. Dengan santai ia meletakkan kembali bayinya ke dalam box.
“Sayang, apa kamu sengaja menggoda mas dengan penampilan seperti itu?” suara Faiq terdengar berat menahan gairah yang tiba-tiba sudah membuncah naik ke kepala.
Hani terkesiap menyadari keadaannya yang masih menggunakan handuk serta rambutnya yang masih menjuntai basah. Tanpa memandang Faiq kedua kali ia terburu-buru melangkah kembali ke kamar mandi dengan jantung berdebar menahan malu.
Faiq menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya. Ia menahan nafasnya setelah Hani keluar sudah lengkap dengan setelan gamisnya.
Hani tidak berani menatap wajah suaminya yang sesekali mencuri pandang padanya. Rasa malu masih menguasai dirinya.
“Ra, kamu paham kan dengan apa yang mbak katakan?” Astri menatapnya dengan lekat.
Sebelum mereka tiba di kediaman Darmawan, Andi sudah menceritakan semua kejadian yang menimpa Hani pada Astri. Ia harap Astri bisa mempengaruhi Hani untuk tetap bertahan di sisi Faiq, karena menurut cerita Faiq mantan suami Hani dan mamanya ingin memanfaatkan kondisi Hani agar bisa membawa Hani kembali bersama mereka.
__ADS_1
Hani menganggukkan kepala dengan pelan.
Marisa kini duduk di samping Hani dengan membawa Putri dalam gendongannya. Taklama kemudian Darmawan datang dengan Putra di dalam gendongannya. Semua berkumpul di antara Hani dan Astri, karena Lina sudah membawa Hasya yang merasa ngantuk dan ingin tidur siang.
“Sayang, ayah dan ibu sudah merencanakan bahwa lusa kita akan mengadakan acara aqiqahan si kembar.” Ujar Faiq yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
“Benar.” Marisa dengan cepat menjawab, “Kita juga akan mempersiapkan nama untuk si kembar.”
“Apa ayah boleh menyumbangkan nama untuk si kembar?” Darmawan turut nimbrung dalam pembicaraan mereka.
“Bagaimana menurutmu sayang?” Faiq mengelus bahu istrinya yang tampak termenung.
Hani tersentuh dengan perlakuan keluarga Faiq yang sangat berbeda dengan mantan suaminya dan mertuanya yang tidak pernah peduli dengan keadaan ia dan si kembar.
“Terserah mas saja,” ujar Hani sambil membelai rambut putri kecilnya yang kini sedang tersenyum.
“Oek, oek…” putra kecilnya yang berada dalam pangkuan Darmawan menangis keras.
“Nak, tampaknya putramu kelaparan. Asimu sudah keluarkan?” Marisa menatap Hani dengan penuh perhatian.
“Sudah bu, walaupun belum terlalu lancar.” Jawab Hani cepat.
“Nggak apa-apa, semakin sering kamu menyusui mereka, akan semakin deras asinya. Itu sangat baik untuk imunitas si kembar.”
“Ya, bu.” Jawab Hani sambil menganggukkan kepala.
Ia merasa senang memiliki mertua yang sangat pengertian dan mendukungnya seperti Marisa. Setelah memberikan Putra pada Hani, Darmawan kembali berkumpul dengan sanak iparnya yang masih asyik bercengkrama.
Saat Hani mulai mengeluarkan mesin produksi Asi untuk putranya, mata Faiq tak berkedip melihat pemandangan indah yang sudah lama tidak ia lihat.
Dengan santai Hani memasukkan put*ng s*s*nya ke dalam mulut mungil bayi imutnya yang langsung dengan lahap mengh*sapnya membuat Hani menggigit bibir menahan nyeri.
Faiq menatap istrinya dengan iba, “Apakah sakit sayang?” Ia bertanya dengan penuh perhatian.
Dengan spontan Hani menutup dadanya, ia lupa Faiq duduk tepat di sampingnya hingga melihat dengan jelas pemandangan indah di depannya.
__ADS_1
Marisa dan Astri tersenyum melihat Faiq yang tidak beranjak dari istrinya dan melihat semua tingkah laku Hani dalam menyusui bayi-bayinya.
Hani merasa tenang di tengah keluarga besar Faiq. Walaupun ia merasa asing ditengah keramaian, tapi melihat sikap mereka yang hangat membuatnya merasa nyaman.