
Begitu mendapat telpon dari nomor asing keduanya langsung berangkat dengan cepat. Roni tidak berani bertanya panjang lebar apalagi melihat raut Ivan yang kaku dan tegang selama perjalanan keduanya ke rumah sakit. Kini Ivan dan Roni termenung di depan ruang IGD rumah sakit Jakarta. Ivan melihat ibu Abbas yang tampak berduka mengetahui putranya mengalami kecelakaan.
“Siapa yang bertanggung jawab terhadap pasien yang bernama Abbas …. “ belum sempat dokter yang bername tag dr. Iqbal bertanya dengan cepat Ivan menjawab.
“Saya dok.” Ivan berdiri dengan cepat menghampiri dr. Iqbal. Ia melirik bu Illa yang masih tertunduk sedih, dan memberi kode pada Roni untuk mendampingi bu Illa yang tampak tertekan menunggu informasi keadaan Abbas.
Keduanya melangkahkan kaki menuju ruang praktek dr. Iqbal. Puluhan pertanyaan berkecamuk di benak Ivan melihat wajah dr. Iqbal yang tampak tegang saat sudah memasuki ruang prakteknya.
“Silakan duduk tuan …. “
“Ivan, Alexander Ivandra.” Ivan memperkenalkan diri pada dr. Iqbal sambil mengulurkan tangannya.
Dengan perasaan berdebar Ivan menunggu perkataan dr. Iqbal. Ia tau kondisi Abbas sangat mengenaskan dari beberapa perawat yang keluar masuk ruangan IGD dengan membawa alat bantu kesehatan.
“Kondisi pasien semakin menurun. Tolong anda tanda tangani penanganan yang bisa kami lakukan sesuai dengan kondisi medis pasien.”
“Lakukan yang terbaik dok. Berapa pun biaya yang diperlukan akan saya siapkan.” Ivan berkata dengan sungguh-sungguh.
“Baiklah. Terima kasih atas kerja sam anda tuan Ivan.”
Atas permintaan dokter Iqbal, Ivan dan bu Illa dipersilakan memasuki ruangan ICU karena kondisi Abbas semakin menurun.
“Nak …. “ bu Illa terhenyak melihat putra tunggalnya yang sudah terbungkur seperti mumi karena tabrakan yang terjadi.
Kepala Abbas juga diikat dengan perban. Pakaiannya sudah berganti dengan pakaian pasien rumah sakit.
“Ma … afkan a…ku …. “ Abbas berkata dengan terbata-bata saat Ivan sudah berdiri di sampingnya.
“Aku yang seharusnya minta maaf,” Ivan berkata dengan cepat, “Tidak usah berpikir berat. Kamu harus sembuh, dua hari lagi pernikahanmu.”
Ivan merasa bersalah saat melihat kondisi Abbas yang sudah semakin melemah. Ia memalingkan wajah. Tak sanggup ia melihat ibu Abbas yang mulai terisak-isak menangis di samping Abbas
“Aa … kenapa jadi begini? Apa yang terjadi?“ suara perempuan muda yang tiba-tiba tersungkur di samping tempat tidur Abbas membuat perasaan bersalah Ivan semakin besar. Ia yakin perempuan itu adalah calon istri Abbas.
Ia melangkahkan kaki ke luar dari ruangan ICU, membiarkan keluarga Abbas mendampinginya di saat-saat terakhirnya.
__ADS_1
“Ra … ma … afkan … a … kuu ….”
Khaira menahan isaknya di depan Abbas melihat kondisi calon suaminya yang sangat mengenaskan dengan sekujur tubuh seperti mumi yang berlapis perban tubular dari kain kassa.
Ia yang belum selesai message dengan terapis di rumahnya dikejutkan dengan kepergian bu Illa yang tiba-tiba ke rumah sakit. Perasaan Khaira sudah tidak nyaman. Abbas tidak menelponnya seharian.
Sepagi ini ia hanya mendapat chat dari Abbas yang memberitahunya bahwa akan mengerjakan tugas dari mantan bosnya untuk terakhir kali. Khaira tidak menanyakan tentang tugas apa yang ia emban, hanya mengingatkan untuk berhati-hati selama menjalankan tugas.
Hingga telpon bu Illa yang memintanya datang ke rumah sakit karena Abbas mengalami kecelakaan menjawab rasa penasaran Khaira. Bu Illa tidak menceritakan kondisi Abbas, tapi Khaira merasa bahwa calon suaminya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ia merasa bingung, semua saudaranya melarang untuk keluar rumah. Dan ia tak sanggup menjawab kecerewetan Hasya yang akan memberinya ceramah hingga berhenti sendiri.
“Kamu kenapa kelihatan bingung?” suara Marisa menghentikan langkahnya yang sibuk mencari nomor Hasya untuk minta izin ke rumah sakit, “Apa yang terjadi? Kemana bu Illa?”
“Aa Abbas kecelakaan ma. Aku ingin melihat kondisinya, semoga hanya kecelakaan ringan.”
“Jangan pergi sendiri. Calon pengantin pamali keluar sendirian …. “ Marisa berusaha mencegahnya yang sudah meraih kunci mobil di atas buffet.
“Ada apa mbak?” Junior yang baru pulang dari kampus merasa heran melihat Khaira yang tampak bingung dengan raut sedih.
“De, antar mbak ke rumah sakit. Aa Abbas kecelakaan.”
Dengan cepat ia meraih kunci mobil di tangan Khaira dan menggandeng tangannya berjalan keluar.
“Kalian berdua hati-hati. Nanti biar oma yang akan menyampaikan pada mbak dan masmu kepergian kalian ke rumah sakit.”
Junior mengangguk mendengar ucapan Marisa. Ia menatap Khaira yang tampak diam tak bergeming. Junior merasa kasian melihat perubahan raut kakaknya yang tampak cemas.
Di sinilah keduanya berada, di dalam kamar ICU tempat Abbas di rawat. Dokter dan dua orang perawat terus melihat perkembangan Abbas yang tidak ada perubahan.
“Berjanjilah untuk sembuh a … dua hari lagi kita akan segera menikah.” Khaira menggenggam tangan Abbas yang terbungkus perban dengan air mata yang mulai terjun bebas di pipi chubbynya.
“Ja … ngan me … na … ngis.” Abbas menggelengkan kepala tak rela melihat mata indah di depannya yang mulai mengeluarkan cairan bening.
“Aa harus sembuh. Hiks … hiks ….” Isakan Khaira sudah tidak mampu ia tahan. Hatinya sakit melihat kondisi Abbas yang sangat memprihatinkan.
“Ka … mu ha …rus ba …ha … gia Raa …. “ Abbas berkata semakin lirih.
__ADS_1
“Bahagiaku hanya bersama aa ….” tandas Khaira cepat, “Aku tidak menginginkan yang lain. Hanya aa yang ku cintai. Seperti janji kita sehidup sesurga. Kita akan selalu bersama.”
Abbas tersenyum mendengar ucapan calon istri yang sangat ia cintai. Hatinya terasa nyeri. Ia sedih karena merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Ia menatap lekat wajah ayu yang selalu menghiasi harinya dan membuatnya jadi bersemangat dalam menjalani kehidupan.
Sementara itu di luar ruangan tampak Ivan dan Roni menunggu dengan tegang. Keduanya tak mempedulikan waktu yang semakin cepat berlalu. Sudah dua jam mereka menunggu, belum ada kabar dari dalam ruangan. Ivan hanya sibuk mengutak atik hp nya sambil mengecek email yang masuk.
“Aku merasa kasian sama tunangan Abbas, padahal pernikahan mereka dua hari lagi akan segera dilaksanakan.” Roni berkata memecah keheningan yang tercipta antara mereka berdua.
Ivan menghentikan aktivitasnya mendengar perkataan Roni. Ia tidak tau mesti berkata apa. Harus ia akui semua adalah kesalahannya karena menyuruh Abbas mengambil moge yang sudah satu tahun tersimpan di rumah mamanya.
Rencananya ia akan mengajak Sandra makan malam. Setelah itu dengan mengendarai moge ia akan membawa Sandra menuju yacht yang telah dipersiapkan Guntur dan selanjutnya ia akan melamar Sandra di atas yacht yang akan membawa mereka menghabiskan malam di kepulauan seribu.
“Jika Abbas meminta bos menikahi calon istrinya apa bos keberatan?” tiba-tiba Roni melemparkan pertanyaan yang membuat Ivan tercekat.
“Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?” Ivan menatap Roni dengan tajam. Ia sama sekali tidak memikirkan sejauh itu.
“Kali aja bos. Mungkin Abbas minta pertanggung jawaban bos, karena dengan kondisinya tidak akan mungkin bisa melanjutkan pernikahan yang tinggal dua hari.”
Ivan berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Roni sangat masuk akal. Dirinya lah yang paling bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Abbas. Tapi untuk menikahi tunangan Abbas sama sekali tidak ada dalam rencananya.
Dari sudut matanya, tidak ada satu pun yang istimewa dari sosok tunangan Abbas. Perempuan gendut dengan penampilan biasa dan jauh dari kata sempurna untuk seorang perempuan yang selalu dekat dengannya.
Ivan menggelengkan kepala berusaha mengenyahkan pemikirannya tentang perempuan yang kini sedang berduka mendampingi calon suaminya yang tengah berjuang menghadapi maut. Tapi ia tidak menyangkal, bisa jadi apa yang diungkapkan Roni menjadi kenyataan dan Abbas memintanya untuk menikahi tunangannya yang hanya perempuan biasa.
“Ron, jika apa yang kamu utarakan tepat, maka aku akan melakukannya demi Abbas. Dan aku minta kamu menyiapkan surat perjanjian antara aku dan perempuan itu.” Akhirnya ide cemerlang muncul di kepala Ivan.
“Apa maksud bos? Perjanjian seperti apa yang harus ku buat?” Roni menatap Ivan dengan sorot penuh tanya.
Dengan cepat Ivan menceritakan rencananya jika Abbas meminta ia bertanggung jawab untuk menikahi tunangannya yang tinggal dalam hitungan hari. Ivan juga akan mempersiapkan segala biaya jika pihak calon mempelai perempuan meminta mahar pernikahan yang fantastis.
Roni hanya geleng-gelang kepala mendengar rencana yang sudah dipersiapkan Ivan dengan matang tentang pernikahan yang bakal ia jalani dengan calon istri Abbas. Ia yakin apa yang direncanakan Ivan tidak akan sesuai dengan kenyataan di lapangan. Dan ia bakal memastikan itu.
Jangan lupa kritik, saran dan votenya ya. Dukungan kalian sangat aku tunggu untuk karya yang lebih baik. Sayang untuk semua ....
__ADS_1