
“Ibu bawa Rara kemana?” Faiq mengalihkan mode telpon ke video call, karena saat menghubungi rumah hanya Lina yang menjawab panggilannya.
Menurut cerita Lina, Marisa mengajak Hani ke salon. Ia merasa kasihan pada menantunya yang seperti burung terkurung di dalam sangkar. Sikap Faiq benar-benar over protectif terhadap Hani dan anak-anaknya.
Kalau bukan ia yang mengajak keluar, atau Aditama bersama Linda, maka Faiq tidak akan memberikan izin siapa pun yang membawa mereka. Ia tidak mau hal-hal yang tidak ia inginkan menimpa istri dan anak-anaknya. Begitupun dirinya sendiri, Faiq telah membatasi pergaulannya. Kalau ia melihat seseorang yang mempunyai gelagat aneh saat bersamanya, maka ia akan meminta bawahannya untuk menemui mereka, bahkan tak segan ia meminta ayahnya untuk turun tangan langsung menemui klien mereka.
Darmawan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Faiq. Tapi ia memakluminya. Kejadian terakhir yang membuat Hani hilang ingatan telah membuat Faiq menjadi lelaki tanpa perasaan pada orang lain, tetapi pada keluarganya sendiri ia akan bersikap sebaliknya. Ia telah banyak belajar dari Adi yang sering mengingatkan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan bagi istri dan anak-anaknya.
“Ibu dan istrimu lagi memanjakan diri. Memang kamu saja yang ingin dimanjakan Rara. Sekali-kali biarkan Rara memanjakan dirinya sendiri. Sudah hampir dua tahun ini ia bagai burung di sangkar emas …. “ Marisa menyindirnya.
Faiq tertawa lirih mendengar sindiran ibunya. Ia menyadari perbuatannya yang membatasi pergerakan Hani. Tapi mau bagaimana lagi, rasa cintanya pada Hani terlalu besar. Dan ia tak bisa berpikir dan bekerja tenang mengetahui istrinya berada di luar rumah.
Faiq memang menuruti saran ayahnya untuk menyewa dua orang bodyguard untuk menjaga istri dan anak-anaknya saat berada di luar rumah. Tapi tetap saja rasa khawatir mengganggunya jika sang istri tidak kelihatan di matanya.
Marisa mengarahkan ponselnya pada Hani yang duduk di sampingnya dan sedang berbicara dengan Lina menanyakan keadaan anak-anak yang ia tinggal di rumah.
Melihat wajah Hani yang tersenyum sambil melambaikan tangan membuat senyum Faiq terkembang sempurna.
“Kebetulan temen ibu promosiin cabang baru salonnya. Udahan ya, sekarang ibu dan Rara akan melakukan massage dengan seorang terapis. Hasilnya pasti akan membuatmu semakin nggak bisa jauh dari istrimu.” Goda Marisa.
“Baiklah, bu. Aku lihat hasilnya nanti malam. Assalamu’alaikum …. “ Faiq menutup pembicaraan mereka dengan pikiran yang sudah melanglang buana.
“Wa’alaikumussalam. Dasar …. “ Marisa tersenyum sambil menyimpan ponselnya di dalam tas.
Ia kembali berbicara dengan serius dengan Hani yang mulai memasuki ruang massage yang isinya diperuntukkan dua orang.
“Nyonya Marisa ditunggu nyonya Inggit di ruangan.” Seorang karyawan salon tiba-tiba menemui Marisa yang baru saja membuka kancing bajunya.
__ADS_1
“Nggak apa ibu tinggal sebentar?” Marisa memandang Hani yang sudah tertelungkup dengan pakaian yang disediakan pihak salon.
Hani menganggukkan kepala. Tak lama kemudian Marisa sudah kembali. Kini ia memasuki ruangan tempat Hani melakukan massage. ia masih menunggu Marisa yang kini sedang di-massage bersama terapis di ruangan yang ia gunakan tadi.
Dua orang perempuan muda tiba-tiba masuk dan berbincang dengan penuh suka cita di sampingnya. Hani tidak mempedulikan keduanya. Jemarinya masih asyik membalas chat Lina yang mengirimkan gambar anak-anaknya yang sedang tidur siang.
Tiba-tiba salah seorang perempuan baru menyadari keberadaan Hani diantara mereka. Senyum sinis terlihat di wajahnya yang manis.
“Apa kamu masih mengingatku?” suara perempuan itu terdengar sinis di telinga Hani.
Hani mengalihkan tatapannya dari layar ponsel. Ia memandang perempuan muda itu sambil mengernyitkan dahi.
“Kamu siapa?” tanya Hani dengan polos.
Ia memang tidak mengenal perempuan yang berpenampilan modis di depannya. Hani hanya memandangnya dengan bingung.
Ia jadi berpikir bahwa rumor yang berkembang di kantor mengatakan bahwa istri Faiq Al Fareza mengalami amnesia saat melahirkan anak kembarnya adalah omong kosong. Tapi setelah pertemuan dengan Hani, kini ia yakin bahwa rumor itu benar. Sejak ia mendengar bahwa Hani mengalami kecelakaan di rumahnya, ia berusaha menghubungi nomor Faiq, tapi jangankan untuk menjawab panggilannya, menemuinya saja Faiq tidak berkenan. Ia yakin Faiq telah memblokir nomor ponselnya.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Hani memandang Hesti dengan lekat.
Ia berharap bahwa Hesti adalah teman baik yang ia miliki namun terhapus bersama kecelakaan yang ia alami.
“Aku adalah mantan istri Faiq Al Fareza. Kaulah yang telah merebut mas Faiq dari sisiku sehingga mas Faiq menceraikanku saat pernikahan kami baru berjalan dua bulan.” Jawab Hesti dengan angkuh.
Kini ia merasa puas telah membalaskan sakit hatinya. Selama ini ia berusaha menghubungi Faiq dan mendekati orang-orang yang memiliki akses ke Faiq. Tapi semua menutup segala informasi tentang Faiq dan keluarganya.
Hesti tidak berputus asa. Obsesinya terhadap Faiq susah untuk dihilangkan. Ia terus menggali informasi keberadaan Faiq maupun keluarganya. Dan kini kesempatan itu telah datang, ia akan melakukan apapun untuk memiliki Faiq seorang.
__ADS_1
Hani terhenyak mendengar jawaban Hesti. Bagaimana bisa ia merebut suaminya dari perempuan lain yang juga telah sah dinikahi suaminya.
“Hes, ayo kita facial dulu …. “ temannya sudah menarik tangan Hesti yang masih menatap Hani dengan raut penuh kebencian.
Hani menekan dadanya yang terasa nyeri tiba-tiba. Kenyataan yang baru ia dengar sangat mengejutkan. Bagaimana mungkin ia menyebabkan perpecahan dalam rumah tangga suaminya dengan istri yang baru dua bulan ia nikahi.
“Selamat menikmati kebahagiaanmu karena telah menghancurkan kebahagian orang lain.” Hesti memandangnya dengan tajam sambil berlalu dari hadapan Hani.
“Ya Allah, cobaan apa lagi ini?” lirih Hani di dalam hati.
Ia mengurut dadanya dengan pelan. Tanpa terasa setitik air mata mulai berjatuhan membasahi pipinya.
Perempuan mana yang kuat mendengar dan menerima kenyataan bahwa suaminya mempunyai perempuan lain yang berpredikat sebagai istri. Hani benar-benar sedih mendapatkan fakta baru bahwa Faiq pernah menikahi perempuan lain.
“Rara …. ?” teguran Marisa tidak terlalu ia dengar.
Marisa merasa heran melihat perubahan raut menantunya yang tampak sedih. Saat ia memasuki ruangan massage tadi wajah Hani masih tampak segar, tapi kini?
“Apa ada sesuatu yang terjadi di rumah?” Marisa bertanya dengan penuh perhatian.
Yang ia lihat sejak tadi Hani asyik dengan ponselnya, mungkin ada kabar yang tidak bagus didengarnya di rumah.
Hani menggelengkan kepala dengan sedih. Haruskah ia bertanya dengan Marisa tentang perempuan yang bernama Hesti yang mengaku mantan istri Faiq yang diceraikan karena pernikahan mereka.
“Ra, kita pulang sekarang. Ibu yakin ada sesuatu yang membuatmu seperti ini.” Ujar Marisa dengan lirih.
Dengan cepat ia menghubungi Karman untuk menjemput mereka di salon. Dua bodyguard yang diperintahkan mengawal Hani dan Marisa turut mengikuti mereka selama perjalanan pulang menuju rumah dengan menggunakan motor besar.
__ADS_1