Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 176 S2 (Pesta Pernikahan)


__ADS_3

Tiga hari sebelumnya, Sandra tersenyum saat melihat foto-foto hubungan ia dan Ivan dalam berbagai gaya telah dicetak.  Ia segera memasukkan ke dalam amplop besar. Ia yakin begitu foto ini diterima maka perempuan kafe  yang akan dinikahi Ivan pasti akan menolak. Ia segera menghubungi orang yang telah ia bayar untuk mengetahui alamat tempat tinggal Khaira.


Tapi saat mencari tahu tempat tinggal Khaira, fakta yang ia dapat ternyata sangat mencengangkan. Sandra menggelengkan kepala tak percaya ketika mengetahui bahwa calon istri Ivan bukanlah pelayan kafe.


“Maaf  nona, kami tidak ingin melanjutkan kerja sama ini,” seorang ojek motor online yang bernama Gani mengembalikan amplop yang diberikan Sandra kemarin.


“Saya juga sama nona. Lebih baik saya ngojek seperti biasa,” Mardi juga melakukan hal yang sama seperti rekannya.


“Apa maksud kalian? Apa bonus yang ku berikan kurang. Ini ku tambah lagi.” Sandra melemparkan uang satu juta di hadapan keduanya. Ia benar-benar marah, karena keinginannya tidak sesuai dengan rencana yang telah ia atur.


Gani dan Mardi menggelengkan kepala tetap menolak.  Selama dua hari ia mencari alamat Khaira hingga saat kedatangan Khaira di kafe mereka ikuti sampai ke rumah. Mereka tidak menyadari pengamanan yang diberikan Ariq untuk adik kesayangan mereka membuat keduanya dikurung setengah hari di gudang tua oleh body guard Khaira.


Ariq segera menginterogasi keduanya hingga pengakuan mengalir lancar dari pengojek yang ketakutan di bawah ancaman senjata tajam. Keduanya mengaku terpaksa melakukan perintah Sandra karena memerlukan uang untuk biaya sekolah dan pengobatan bagi anak dan istri masing-masing.


Mendengar keterus terangan keduanya membuat Ariq dan Ali merasa kasihan. Akhirnya masing-masing dibekali uang oleh Ariq dengan jumlah 3 kali lebih besar dari yang dijanjikan Sandra dan berjanji tidak akan menerima orderan Sandra lagi.


“Kami berhenti bekerja pada nona,” Mardi merapikan uang itu kembali dan menyusunnya di atas meja.


“Apa maksud kalian? Masa hanya menghadapi seorang pelayan kafe kalian tidak sanggup!” maki Sandra kasar.


“Dia bukanlah pelayan kafe, tapi pemilik gerai Kara Jewellery dan saudaranya pemilik Horisson corps,” dengan santai keduanya menceritakan pada Sandra orang-orang yang ada di belakang Khaira perempuan yang menjadi targetnya.


Sandra terpaku mendengar cerita John dan Mardi. Tak ia sangka perempuan yang ia remehkan, ternyata kehidupannya berkali-kali lipat lebih beruntung darinya. Sejak kecil sudah dibuai dengan segala kemewahan tanpa harus berpikir dan bekerja keras. Sedangkan dirinya harus keluar keringat untuk menjadikan dirinya terkenal, bahkan untuk menjamin masa depan yang lebih baik ia rela melemparkan tubuhnya menjadi penghangat ranjang lelaki yang ia incar.


Kenyataan yang benar-benar menjatuhkan dirinya sendiri. Perempuan itu bukan lawan yang ringan untuknya. Setelah berpikir panjang akhirnya Sandara menjatuhkan dirinya ke pelukan Ardi, sang Cassanova yang sejak dulu sudah sering main mata padanya. Walau dengan berbagai cara, ia ingin Ardi membawanya datang ke resepsi pernikahan Ivan.  Dengan begitu ia memiliki akses untuk menemui Khaira, dan membuat perempuan itu menjauhi Ivan.


Ruang ballroom Grand Horisson begitu megah dan meriah. Tamu dari segala kalangan sudah berdatangan memenuhi undangan dari pelaksana acara. Sejauh ini masih nampak aman tanpa gangguan apapun.


Ivan dengan bangga memperkenalkan istrinya pada rekan-rekan bisnisnya yang hadir untuk memberikan selamat padanya karena telah mengakhiri masa lajangnya.


“Wah nggak nyangka ya, ku pikir Sandralah orang yang akan mendampingimu mengakhiri masa lajangmu,” John teman klubnya datang mengucapkan selamat pada Ivan sambil matanya ****** menatap Khaira yang tersenyum tipis padanya.


Ivan merasa kesal dengan John yang berbicara sembarangan padanya. Ia melirik Khaira yang tidak terpengaruh dengan ucapan temannya. Ia mengetahui sorot mata John seperti terpukau melihat istrinya yang memang mengeluarkan aura seorang bidadari sempurna.


“Tapi yang ini benar-benar istimewa. Cantik, tak membosankan saat memandangnya,” John berkata dengan santai. Ia yang masih betah melajang datang bersama Renand.


Ivan memukul bahu John dengan keras, “Dia istriku. Jangan pernah berpikir untuk merebutnya.”


John tertawa, “Tidaklah. Pantang bagiku merebut istri seorang teman. Apa lagi seorang Alexander Ivandra. Bisa dikejar sampai ke tiang gantungan kalau aku berani melakukan itu.”


Akhirnya tawa ringan Ivan terdengar. Tanpa sungkan ia mencium pipi Khaira yang langsung memerah melihat kelakuan Ivan yang tidak tahu malu.


“Aku akan menjaga barang yang telah kuperoleh melalui perjuangan berat,” Ivan mengedipkan mata saat Khaira menatapnya dengan melotot.


Rasanya Khaira ingin keluar dari lingkungan yang membuatnya tidak nyaman. Tapi rangkulan tangan kokoh di pinggangnya tidak terlepas sejak awal.


“Selamat bro!” Renand menjabat tangan Ivan dengan hangat.


Setelah melepas jabat tangannya pada Ivan, tatapannya beralih pada Khaira yang juga sedang menatapnya. Ia kagum melihat perempuan berwajah teduh yang sangat menyejukkan saat dipandang.


“Selamat ya,” Renand tersenyum sambil mengulurkan tangan. Dalam hati ia turut memuji kecantikan natural yang terpancar di wajah istri Ivan.


Dengan cepat Khaira menangkupkan kedua tangannya ke dada, “Terima kasih,” ujarnya tipis sambil menyunggingkan senyum.


“Dari mana kamu menemukan bidadarimu?” Renand berbisik pada Ivan tanpa mengalihkan tatapannya, tapi Khaira segera mengalihkan pandangan dari wajah Renand.


Ivan tertawa kecil mendengar pertanyaan Renand, “Yang pasti bukan di klub. Permata langka tempatnya agak terpencil, dan orang tertentulah yang berhasil menemukannya.”


“Gayamu,” Renand meninju pundak Ivan, “Bagaimana kabar mantanmu? Ku dengar terakhir ia dekat dengan Ardi, tiga hari yang lalu ku lihat postingan Sandra. Mereka berdua menghabiskan waktu di Bali.”


“Aku sudah lama tidak berhubungan dengannya,” jawab Ivan cepat. Ia tidak ingin Khaira yang baru saja menjadi istrinya terprovokasi dengan ucapan rekannya yang tidak membaca situasi.


Khaira mendengar semua yang dibicarakan Ivan dan teman-temannya. Tapi dia tidak ingin mengomentari, toh antara ia dan Ivan tidak saling mencintai, ini hanya demi janin yang ada dalam kandungannya. Senyum Khaira melebar saat mengetahui beberapa orang temannya yang kini semakin mendekat.


Anwar datang bersama Beno dan Agnes. Ketiganya sangat terkejut ketika membaca undangan yang dikirim Khaira melalui email masing-masing.


Karena John dan Renand masih membicarakan sesuatu yang agak rahasia, terpaksa Ivan melepas rangkulannya dari tubuh istrinya. Walau pun masih berbincang dengan Renand dan John tapi Ivan terus menajamkan mata dan telinganya mendengar pembicaraan mereka.


“Selamat ya sis, akhirnya lo nyusul juga,” Agnes memeluknya dengan erat, “Semoga pernikahanmu langgeng, “akhirnya kamu bisa membuka hatimu … tapi nggak pa-pa deh, aku senang kamu bangkit kembali.”


Anwar menatap Khaira dengan lekat, perempuan impian masa depannya kini sudah duduk di pelaminan. Ia yakin, bukan keinginan Khaira untuk menikah secepat ini. Ia telah mengetahui semuanya lewat pembicaraan terakhir mereka di telpon. Walaupun Khaira tidak menceritakan secara detail, ia yakin kecurigaannya saat mengunjungi Khaira dan hanya menemui Ivan di siang itu telah menjawab semua pertanyaannya.


Ivan membalas tatapan Anwar yang tajam padanya. Ia tak rela saat Anwar memandang istrinya dengan tatapan yang berbeda. Ia dapat melihat ada perasaan cinta, kecewa dan rasa marah yang terbungkus jadi satu. Ia mengamati gestur Anwar saat menjabat tangannya.


“Selamat atas pernikahan kalian,” Anwar menjabat tangannya dengan kuat.

__ADS_1


Ivan juga mengepal tangan Anwar tak kalah kuat. Ia akan menunjukkan siapa yang paling hebat dan akan melindungi dan menjaga  wilayah kekuasaannya.


“Terima kasih bro. Semoga kamu segera mendapatkan pengganti Rara. Dia sepenuhnya milikku,” Ivan berkata dengan senyum meremehkan.


“Jangan sampai kamu membuatnya kecewa. Jika itu terjadi, aku tak akan segan untuk merampasnya darimu,” ancam Anwar berusaha mengendalikan emosinya, “Dan aku akan membawanya pergi jauh hingga tak bisa ditemukan oleh siapa pun, bahkan dirimu.”


“Jangan mengharapkan itu terjadi. Aku dan Rara akan bersama sampai akhir,” tegas Ivan dengan yakin.


Akhirnya Ivan membawa Rara turun dari pelaminan dan membaur dengan rekan bisnisnya yang semakin ramai berdatangan. Ia memperkenalkan istrinya dengan bangga pada siapa pun yang memberi selamat padanya.


“Wah, akhirnya kamu yang jadi pemenangnya,” Edward yang datang ditemani seorang model bule memeluk Ivan dengan hangat saat sudah berdiri di hadapannya.


“Thank’s bro. Aku akan selalu mengingat jasamu hingga akhir,” Ivan tersenyum penuh kebanggaan.


“Selamat  miss Rara …. “ Edward mengedipkan mata saat mengulurkan tangannya pada  Khaira.


“Terima kasih Mr. Edward …. “ Kedua tangan Khaira kembali menangkup saat Edward ingin mengajaknya bersalaman, tak lupa senyum tipis yang tersungging di bibirnya.


Dengan cepat Ivan menyambut uluran tangan Edward, “Kau tau, siapa pun tidak boleh menyentuhnya …. “ bisik Ivan cepat.


“Kamu memang pria yang beruntung,” Edward menepuk pundaknya. “Banyak hati yang patah karena pernikahan kalian, termasuk Peter. Ia tidak bisa datang karena ada perjalanan ke Afrika. Dia menitipkan ini padamu. Hadiah pernikahan untuk kalian berdua. Tak ada kadaluwarsanya, sampai kapan pun kalian bisa memanfaatkannya.”


Edward mengulurkan sebuah amplop besar berwarna kuning pada Ivan. Ia kembali tersenyum pada Khaira. Kini ia meyakini bahwa pilihan Ivan memang yang terbaik. Dan ia pun pasti akan berbuat yang sama jika sang Dewi cinta telah melesakkan panah di dada. Tapi ia tidak tau kapan masa itu akan tiba.


“Tak ku sangka akhirnya kau mengakhiri masa lajangmu,” suara bariton itu membuat Edward dan Ivan berpandangan.


“Ardi …. “ Ivan terkejut melihat kedatangan Ardi bersama seseorang yang tak ia harapkan.


Ia tak menyangka Ardi rekan main golf dan pemilik klub tempat ia biasa bermain tidak datang sendiri tapi bersama Sandra. Ivan tersenyum sinis melihat penampilan Sandra yang menggunakan gaun pesta dengan belahan dada rendah serta menunjukkan paha mulusnya dari belahan gaun yang berwarna merah. Dari sudut mata dapat ia lihat semua mata lelaki yang berada di dekatnya melotot melihat penampilan Sandra.


“Selamat atas pernikahanmu,” Ardi menepuk punggung tangan Ivan saat keduanya bersalaman. Ada kebanggaan di hati Ardi melihat Ivan yang tampak tegang karena kehadirannya bersama Sandra sang mantan yang selalu ia puji dengan sepenuh hati, saat kebersamaan masih terjadi antara keduanya.


“Terima kasih bro. Semoga kamu cepat menyusul,” Ivan berkata dengan tulus.


“Pantas saja kamu melepasnya, yang ini lebih menarik,” bisik Ardi saat melihat Khaira sekilas, “Tapi tak masalah, aku tak keberatan menampung milikmu. Asal masih bernyawa.”


Ivan tersenyum kecut mendengar ucapan  Ardi. Kini ia merangkul pinggang Khaira. Ia tau Ardi seorang playboy paling terkenal diantara semua rekan pengusaha yang dekat dengannya. Jika sudah tertarik dengan perempuan, ia tak peduli apakah tunangan orang atau istri orang pasti ia pepet sampai dapat.


Kabar terakhir yang Ivan dengar bahwa Ardi sempat di sel, karena nekad mendekati istri seorang pejabat kepolisian. Hingga akhirnya suaminya tidak terima dan memolisikan Ardi. Tapi sang Cassanova tidak kapok. Ia terus bermain-main dalam hidupnya. Dan kini ia merasa senang, artis termahal milik Ivan dengan pasrah menghangatkan tempat tidurnya. Siapa yang bisa menolak?


Khaira membalas senyuman Sandra yang tampak meremehkannya. Ia tak peduli, perempan murahan yang sengaja mengumbar aurat di depan mata-mata yang memandangnya penuh gelora, bukanlah lawan yang ideal untuknya.


Khaira tak menyangka Sandra langsung memeluknya, “Nikmatilah malam pertamamu dengan Ivan selama yang kamu mau. Tapi jangan lupa, sampai waktunya aku akan datang merampas kembali milikku,” desis Sandra saat melepaskan pelukannya.


“Terima kasih,” Khaira mengikuti alur permainan Sandra, “Ku tunggu hari itu tiba.”


Ivan merasa heran melihat tingkah Sandra yang tampak berbeda malam ini. Tapi ia tak begitu memikirkannya.


Saudara-saudara Khaira akhirnya merapat mendekati keduanya yang telah membaur dengan tamu-tamu yang semakin ramai mengelilingi keduanya untuk memberikan ucapan selamat. Oma Marisa dan bu Ila sudah meninggalkan ballroom sejak dua jam yang lalu. Keduanya merasa bingung di tengah keramaian serta hiruk pikuk pesta yang belum berakhir.


Beberapa penyanyi ibu kota yang diundang untuk menampilkan performanya masing-masing sudah menunjukkan kepiawaiannya membawakan lagu di atas pentas yang tersedia.


Sandra duduk di kursi VIP menemani Ardi yang asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ardi tidak pernah menghargainya seperti Ivan yang selalu memanjakannya saat kebersamaan mereka. Ia benar-benar hanya menjadi penghangat ranjang Ardi. Tapi ia tidak masalah melakukannya karena ada sesuatu yang ia rencanakan untuk membuat Ivan kembali padanya.


Ivan melepaskan rangkulannya dipinggang Khaira, saat Khaira berbisik ingin istirahat karena merasakan lelah dan ingin duduk di kursi yang berjarak 3 meter dari tempat ia berdiri sekarang.


“Baiklah,” tanpa sungkan Ivan mengecup pelipis istrinya di depan rekannya serta saudara Khaira  yang masih setia berbicara bersama.


“Wah, pengantin baru lagi hangat-hangatnya,” Valdo tersenyum sambil berbicara dengan santai di depan saudara Khaira yang lain.


Hasya menatap tajam wajah suaminya karena melihat sorot Ali yang tidak tenang dan masih nyalang memandang kiri dan kanan mengamati situasi yang berlangsung saat ini.


Mata Sandra nyalang melihat Khaira yang kini duduk sendiri. Seorang pelayan hotel segera mengambilkan air putih yang diminta Khaira. Tanpa meminta persetujuan Ardi, dengan cepat Sandra berjalan menghampiri Khaira yang baru menghabiskan air putih yang terhidang di atas meja.


Khaira mengernyitkan dahinya terkejut melihat Sandra yang kini duduk di sampingnya. Tapi ia malas untuk bergerak dan membiarkan saja apa pun yang ingin dilakukan perempuan itu dihadapannya.


“Tak ku sangka akhirnya Ivan menikahimu,” Sandra berkata dengan menahan emosinya.


Khaira diam tak bergeming. Ia benar-benar kelelahan sekarang. Rasanya kakinya sudah tak bisa ia angkat. Belum lagi gaun pengantin yang ia kenakan membuat dirinya kehabisan tenaga.


Semua orang mengagumi dari ujung rambut hingga ujung kaki semua yang ia kenakan. Tapi tidak ada satu pun yang mengetahui penderitaan yang kini ia rasakan karena menuruti kemauan saudaranya untuk tampil sempurna.


Dengan santai Sandra mengambil amplop yang selalu ia bawa kemana pun berada. Senyum licik terbit di wajahnya.


“Kau tentu tau bagaimana hubunganku dengan Ivan bukan?” Sandra berusaha agar Khaira menatapnya, “Ivan adalah laki-laki perkasa. Aku lah yang paling mengerti keinginannya. Perempuan mana pun tidak akan mampu memuaskannya.”

__ADS_1


Khaira menatap Sandra sekilas, kemudian pandangannya beralih pada kakinya yang kini terasa kram. Ia tak memusingkan apa pun yang akan dikatakan Sandra selanjutnya.


Dengan santai Sandra mengeluarkan foto-foto kemesraan antara dirinya dan Ivan yang dalam keadaan polos di apartemen milik Ivan.


Khaira tersenyum tipis. Ia tak peduli, biarpun keduanya melakukan di depan matanya tak akan berdampak bagi dirinya. Keduanya memang sama-sama manusia yang tidak berperasaan dan tidak tahu malu.


Tubuh Khaira tiba-tiba membeku mendengar ketika salah satu penyanyi terkenal membawakan lagu yang menjadi favorit dirinya dan almarhum Abbas. Air mata yang sejak tadi bisa ia kondisikan kini tak mengenal kompromi langsung jatuh bercucuran.


Di setiap doaku


Di setiap air mataku


Selalu ada kamu


Di setiap kataku


ku sampaikan cinta ini


Cinta kita


Ku tak akan mundur


Ku tak akan goyah


Meyakinkan kamu mencintaiku


Tuhan ku cinta dia


Ku ingin bersamanya


Ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya


Jangan rubah takdirku, satukanlah hatiku dengan hatinya


Bersama sampai akhir


Di setiap kataku


Ku sampaikan cinta ini


Ohh cinta kita


Ku tak akan mundur


Ku tak akan goyah


Meyakinkan kamu mencintaiku


Tuhan ku cinta dia


Ku ingin bersamanya


Ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya


Jangan rubah takdirku, satukanlah hatiku dengan hatinya


Bersama sampai akhir


Tuhan ku cinta dia


Ku ingin bersamanya


Ku ingin habiskan nafas ini berdua dengannya


Jangan rubah takdirku, satukanlah hatiku dengan hatinya


Bersama sampai akhir


Tatapan Khaira fokus pada satu titik. Matanya membulat tak percaya. Ia melihat sosok Abbas lah yang  berada di pentas sambil memandang mesra padanya. Perasaan Khaira membuncah bahagia. Sosok yang ia rindukan kini benar-benar berada di hadapannya.


“Aa … “ guman Khaira lirih.


Tanpa  mempedulikan keheranan Sandra yang masih memandang satu persatu foto di depannya sambil mengoceh soal hubungan ia dan Ivan, Khaira bangkit melangkahkan kakinya ingin menghampiri Abbas yang masih berdiri tegak di panggung.


Air matanya semakin deras. Ia ingin berlari ke pelukan Abbas secepatnya. Ia tak peduli bahwa kini statusnya adalah istri seorang Alexander Ivandra. Yang ia perlukan sekarang adalah pelukan yang menenangkan dari Abbas. Pandangannya kian mengabur karena ditutupi air mata yang terus mengalir, tapi Khaira tak peduli. Kakinya terasa ringan saat melangkah hingga ia tak merasakan apa pun.

__ADS_1


*** Hayo apa yang terjadi pemirsahh. Tolong jangan panik\, tetap jaga protokol kesehatan. Author masih mojok di sudut nan damai. Duduk mengupas bawang. Jangan marah ya kalau di part-part selanjutnya lebih banyak bumbu...***


Dukung author terus, kritik, saran dan like serta vote di hari Senin sangat author tunggu. Sayang semua ...


__ADS_2