
Ivan memandang Khaira yang tampak terlelap di dalam pesawat yang akan menerbangkan mereka ke Mekah dalam rangka melaksanakan ibadah umroh. Penerbangan kali ini Ariq menggunakan maskapai SA*.
Ariq sengaja memilih first class untuk memberikan kenyamanan pada keluarga dan saudaranya. Perjalanan yang ditempuh dari Jakarta-Jeddah akan menghabiskan waktu hampir sepuluh jam, tentu akan membuat anak-anak menjadi bosan.
Untuk kali ini Fatih tidak ikut. Ia harus mengawasi keberlangsungan perusahaan yang ditinggalkan saudaranya sementara untuk menjalankan ibadah umroh plus liburan yang akan menghabiskan waktu dua mingguan bahkan bisa lebih.
“Ayah, ade mau mimi … “ Embun merasa kehausan.
“Baiklah sayang …. “ Ivan dengan sigap segera mengeluarkan botol susu untuk si kembar yang telah dipersiapkan Khaira tiga jam yang lalu sebelum keberangkatan mereka.
Dengan sigap ia mendampingi kedua buah hatinya minum susu sambil menonton kartun dari tablet yang sengaja dibawa untuk mengatasi kebosanan si kembar.
“Mas mau makan sekarang?” Ivan menatap Fajar yang tampak serius menonton.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 19.00 waktu Indonesia. Sudah empat jam pesawat melayang di udara. Besok pagi waktu Arab Saudi mereka akan tiba di tanah kelahiran Rasulullah.
“Ade mau maem Ayah …. “ Embun bersemangat melihat makanan yang telah tersaji di hadapan mereka.
Ivan melayani si kembar dengan telaten. Setelah satu jam kemudian keduanya telah tertidur dengan lelap. Ivan merasa senang dengan pilihan Ariq, membuatnya merasa leluasa di dalam kabin.
Khaira membuka mata. Ia melihat si kembar sudah tertidur. Tatapannya beralih pada Ivan yang masih membereskan dan merapikan beberapa mainan si kembar dan menyimpannya ke dalam tas.
“Maafkan aku Mas, rasanya lelah sekali,” Khaira mulai menegakkan tubuhnya dan bangkit dari sofa tempatnya tertidur.
Ivan menatap istrinya lekat dan menghenyakkan tubuh di sampingnya. Rasa lelah kini mulai menderanya.
Khaira melihat beraneka jenis makanan tersedia di kelas utama penerbangan Etiha*, khususnya menu Western dan beberapa menu Timur Tengah. Sebenarnya ia kurang berselera dengan menu yang ada. Lidahnya memang selera Nusantara.
“Mas sudah makan?” Khaira melihat Ivan yang mulai menggulung lengan kemejanya hingga ke siku.
“Belum, mas masih menunggumu,” ujar Ivan lembut, “Si kembar sudah pada makan. Alhamdulillah keduanya tidak rewel dan sangat menikmati menu yang tersedia. Memang anak-anakku penyuka menu Western.”
Khaira dapat melihat senyum kebanggaan di wajah suaminya saat menceritakan Fajar dan Embun yang sama lidahnya dan satu selera dengan dirinya. Ia sangat mengakui hal itu. Karena pada saat hamilpun, ia cenderung ngidam makanan luar. Untung saja semua saudaranya kompak dalam memenuhi nutrisi selama kehamilannya.
Tanpa menjawab perkataan Ivan, Khaira segera mengisi piring yang telah tersedia. Setelah dirasa cukup, Khaira membalik badan. Ia terkejut melihat suaminya sudah terlelap bersandar di sofa.
“Mas, makan dulu …. “ Khaira menepuk tangan Ivan yang bersedekap di dada. Belum ada pergerakan.
__ADS_1
Ia meraih air putih dan mendekatkannya. Khaira berusaha membangunkan Ivan. Ia tidak ingin suaminya masuk angina karena terlambat makan. Ia khawatir jika kesehatan suaminya terganggu karena mereka akan melakukan perjalanan reliji yang sudah tentu memerlukan fisik yang kuat dan sehat.
“Mas …. “ kembali Khaira membangunkan suaminya, “Makan dulu ya, biar ku suapin aja.”
Ivan membuka mata dengan berat. Ia melihat sendok yang sudah terisi berada di hadapannya. Senyum bahagia langsung tercetak di wajahnya. Tanpa berpikir ia langsung membuka mulut dan menerima suapan demi suapan yang diberikan sang istri hingga makanan yang tersedia tak bersisa.
“Alhamdulillah …. “ Ivan berucap pelan. Ia membelai kepala Khaira yang tertutup hijab, “Terima kasih Bunda. Ini menu western terbaik yang Ayah nikmati seumur hidup.”
“Mas bisa aja ngegombal …. “ rona merah terbit di wajah Khaira mendengar perkataan suaminya.
“Ayah gak gombal. Ini serius. Mungkin karena yang melayani seorang Bidadari yang telah dipilihkan Allah hanya buat Ayah seorang,” Ivan berkata dengan tulus.
Mendengar ucapan Ivan membuat wajah Khaira semakin memerah. Ia menolehkan pandangan ke arah lain, malu untuk menatap wajah sang suami yang menatapnya dengan lekat.
“Pipi Bunda kenapa memerah?” Ivan sengaja menggoda istrinya yang sudah tidak karuan.
Tak tahan dengan godaan suaminya, Khaira mempercepat pekerjaannya membersihkan sisa-sisa makanan dan merapikan meja kembali. Ia tau, tatapan Ivan masih tertuju padanya.
Beberapa saat kemudian, suasana terasa hening. Khaira segera membersihkan wajahnya untuk bergabung kembali dengan suaminya yang kini sudah terlelap. Ia tersenyum begitu melihat wajah tampan suaminya dengan brewok dan kumis yang masih setia menghias wajahnya.
Khaira membuka mata secara perlahan mendengar keributan di sekitarnya. Ia tersenyum melihat Fajar yang sudah berganti pakaian, sedangkan Embun yang baru memakai pampers masih berlari-lari menghindari sang ayah yang ingin mengenakan pakaian padanya.
“Masya Allah …. “ Khaira bangkit dari sofa dan menggendong Embun yang sudah wangi aroma bayi untuk didekatkan pada suaminya, “Pake baju dulu Sayang …. “
Fajar tertawa melihat kembarannya sudah berada di hadapannya dan sedang menghadapi sang ayah yang sudah memegang baju gantinya.
“Terima kasih Bunda,” Ivan tersenyum tipis melihat Khaira yang membantunya mengatasi masalah atas kelakuan Embun yang membuatnya cukup berkeringat.
Satu jam kemudian pesawat telah mendarat di bandara King Abdul Aziz Jeddah bertepatan dengan jam 07.24 waktu Arab Saudi.
Ariq beserta rombongan menuju taxi bandara yang akan membawa mereka ke hotel Makkah Royal Clock Tower yang akan menjadi tempat penginapan mereka selama melakukan ibadah umroh di tanah suci. Kali ini Ariq memilih suite residential untuk memberikan kenyamanan bagi saudaranya selama melaksanakan ibadah umroh.
Karena belum bersuci, Khaira menghabiskan waktu di kamar saja selama dua hari ini. Ia tersenyum saat hari pertama berkumpul di kamar Ariq untuk melihat cara memakai kain ihram yang diperagakan Ali.
Diantara saudaranya yang lain, Ali lah yang sudah melaksanakan ibadah haji sekitar dua tahun yang lalu. Dan ini pertama kalinya mereka menunaikan ibadah umroh bersama keluarga besar. Sehingga Ali yang akan menjadi pemandu saudaranya yang lain dalam penyelenggaraan ibadah umroh kali ini.
“Alhamdulillah ya Allah …. “ Ivan mengucapkan syukur yang teramat besar karena berhasil mencapai puncak bukit Jabbal Rahmat.
__ADS_1
Jabal Rahmah adalah bukit di Arafah yang letaknya dekat dengan Masjid Namirah, dan berada di antara Mekkah dan Thaif, Arab Saudi. Tempat wisata ini kerap dikunjungi oleh para jemaah haji yang melakukan wukuf (salah satu bagian dari ibadah Haji) di Arafah, dan jemaah umrah yang berwisata usai ibadah umrah.
Dipilihnya bukit itu untuk memohon diringankan jodoh dimungkinkan karena di bukit itulah Adam dan Hawa bertemu kembali setelah berpisah beberapa tahun lamanya. Mengingat adanya peristiwa itu bukit itu selalu dipenuhi peziarah karena mempunyai sejarah penting dalam Islam. Dikisahkan, di bukit inilah Nabi Adam dan Hawa bertemu setelah 100 tahun diturunkan dari langit ke bumi.
Konon, di tempat ini merupakan tempat terbaik untuk berdoa meminta jodoh. Sejumlah orang mempercayai apabila seseorang berdoa di atas bukit ini untuk meminta pendamping hidup, niscaya doanya dikabulkan Allah. Wallahu a’lam bissowab.
Di sini ia berdoa secara khusu’ dan bersungguh-sungguh. Ia memohon agar jodohnya bersama Khaira dipanjangkan hingga akhir hayatnya. Ivan meneteskan air mata mengingat perpisahan yang pernah terjadi, yang membuatnya harus berjuang dari awal untuk kembali bersama dengan sang istri yang telah memberinya sepasang anak kembar yang menjadi penyejuk matanya.
Setelah puas meluahkan isi hatinya, Ivan mengakhiri berdoa di bukit Jabbal Rahmah dan turun kembali untuk kembali ke penginapan.
Selama dua hari Ivan menghabiskan waktunya untuk beribadah di Masjidil Haram melakukan salat-salat sunnah dan memperbanyak doa, berzikir serta istighfar atas segala kesalahan dan kekhilafan yang ia lakukan selama ini.
Hari ketiga, Khaira akhirnya bergabung dengan suami dan saudaranya yang lain. Ia dapat beribadah umroh dengan khusu’ karena si kembar berada dalam pengasuhan Ivan. Semua rukun Umroh ia lakukan dengan bersungguh-sungguh dan penuh keikhlasan.
Air mata tak dapat ia tahan begitu memandang Ka’bah dan menyentuhnya untuk pertama kali. Ia berssyukur mendapat kesempatan bisa berkunjung ke Baitullah bersama keluarga besarnya khususnya suami dan anak-anaknya.
Dalam doanya Khaira memohon penuh kerendahan hati untuk kelanggengan rumah tangga yang kini telah terbina kembali. Ia meminta agar dijauhkan dari segala mara bahaya yang akan membuat perpecahan dan persengketaan dalam rumah tangga mereka.
Ia bahagia melihat si kembar yang mengikuti semua gerakan yang dilakukan Ivan dengan kelucuan masing-masing. Kelakuan Embun lah yang terkadang membuat mereka tertawa. Ivan pun mengajarkan si kembar untuk menjalani semua kegiatan peribadahan selama mereka di Masjidil Haram.
Saat ini Ivan dan Ariq melaksanakan Tahallul yaitu mencukur kepala atau pun menggunting beberapa helai rambut sesuai urutan pelaksanaan rukun umroh. Keduanya mencukur habis rambut yang ada hingga licin tak bersisa, sedangkan Ali hanya menggunting sebagian dan masih menyisakan rambutnya.
Senyum Khaira dan Ira terkembang melihat penampilan baru suami mereka dalam keadaan kepala plontos, tetapi tidak mengurangi kadar ketampanan keduanya. Anak-anak mereka pun dengan serius mengikuti semua yang telah dilakukan orang tua mereka masing-masing.
“Hi, Ayah lucu …. “ Embun tertawa melihat sang ayah dalam kondisi plontos.
Ivan tersenyum dan langsung menghujani putrinya dengan kecupan-kecupan ringan. Ia memandang Khaira yang menatapnya penuh makna.
“Kenapa, jelek ya?” Ivan berbisik melihat Khaira yang menatapnya tak berkedip.
“Lucu aja,” Khaira tersenyum tipis.
Ivan mengerutkan kening mendengar ucapan sang istri.
“Tapi tetap ganteng kok,” kini senyum manis tersungging di wajah Khaira saat mengatakannya.
Kalau saja mereka hanya berdua, Ivan tak akan membiarkan sang istri terlepas darinya, apalagi sudah seminggu ini mereka tidak saling berbagi kehangatan satu sama lain. Ivan meraih jemari Khaira dan mengecupnya dengan mesra.
__ADS_1
Kebahagiaan yang benar-benar sempurna. Ia berharap Allah akan selalu menjaga keluarga kecilnya hingga menjadi keluarga besar dan mereka tetap bersama dalam lindungan dan keberkahan dari Allah yang akan selalu membimbing mereka dalam menjalani bahtera rumah tangga.
Kini mereka melaksanakan thawaf wada, sebagai tanda akan mengakhiri ibadah umroh dengan berucap syukur karena diberikan kemudahan selama melaksanakannya. Selanjutnya mereka akan melanjutkan perjalanan sekaligus liburan.