Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 100


__ADS_3

Ruang makan terasa hening. Faiq dan Darmawan baru pergi ke kantor. Biasanya di akhir tahun seperti ini keduanya semakin disibukkan dengan berbagai rapat evaluasi, maupun pertemuan dengan beberapa klien sehingga intensitas berkumpul dengan keluarga semakin kecil.


“Ra, kamu baik-baik saja?”  tanya Marisa dengan penuh perhatian.


Hani tersenyum tipis. Ia berusaha menutupi semua kegundahan yang kini telah membuat hari-harinya terasa buruk. Semua yang di rumah tampak biasa-biasa saja. Hani tak ingin terjebak dengan ketidak pastian. Ia sudah bertekad, saat kepulangan Faiq nanti malam ia akan menanyakan kebenaran hubungan yang terjadi antara Faiq dan Hesti.


“Nanti malam kita  akan hadir di pameran perhiasan  ‘Jakarta International Jewellery Fair 2021’. Tempatnya di Assembly Hall, Jakarta Convention Center (JCC).” Ujar Marisa saat keduanya masih duduk bersama di ruang makan.


“Tapi saya tidak terbiasa mengikuti kegiatan seperti itu, bu.” Ujar Hani pelan.


“Tenang saja, kamu di sana akan mendampingi ibu. Acara ini diselenggarakan oleh Asosiasi Perhiasan Emas dan Permata Indonesia (APEPI) yang kebetulan ibu menjabat sebagai bendaharanya.” Marisa menepuk bahunya, “Sudah lama juga kamu nggak pernah ikut kegiatan seperti ini. Sudah saatnya ibu memperkenalkanmu pada relasi ibu di luaran sana.”


“Saya tidak punya gaun yang pantas untuk acara itu bu …. “ Hani berkata dengan tidak semangat.


Ia  kurang percaya diri, apalagi  sudah lama ia tidak berbelanja gaun untuk mengikuti acara-acara resmi yang di selenggarakan perusahaan mertuanya.


“Tenang saja, habis Ashar kita akan ke butiq teman ibu sekalian ke salon untuk menyempurnakan penampilan kita malam ini.” Jawab Marisa sambil tersenyum, “Percayakan semua pada ibu.”


Marisa menganggukkan kepala berusaha meyakinkan Hani untuk mempercayakan semua padanya.


“Bagaimana dengan anak-anak, bu?” Hani masih mengkhawatirkan anak-anaknya.


“Tenang saja. Mereka akan baik-baik saja.”


Tepat jam 7.30 Hani dan Marisa sudah berada di JCC diantar Karman. Keduanya beriringan memasuki Assembly Hall yang menjadi tempat pagelaran pameran perhiasan se Indonesia. Bukan hanya perhiasan berlian yang ditampilkan, tetapi aneka batu mulia yang harganya bukan kaleng-kaleng juga dipamerkan kali ini.


Marisa segera memperkenalkan Hani dengan anggota APEPI lainnya. Hani mengimbangi mertuanya yang begitu lincah dan luwes saat berhadapan dengan beberapa relasinya.


Acara pameran segera dibuka MC yang diawali dengan kata sambutan ketua panitia yaitu Ny. Anggraeini. Marisa dan beberapa perempuan lainnya duduk di kursi VVIP karena mereka merupakan anggota inti APEPI.


“Jeng Linda …. “ Marisa tersenyum lebar melihat teman akrabnya sudah berada di sana.

__ADS_1


“Marisa …. “ balas Linda tak kalah hangat.


Keduanya saling bercipika-cipiki, padahal baru seminggu yang lalu habis jalan bareng membawa cucu-cucu mereka.


“Nak Hani …. “ Linda terpana melihat penampilan Hani yang begitu anggun dan berkelas.


Marisa tersenyum puas, melihat Linda memandang menantunya yang telah ia make over sejak jam 4 tadi dengan penuh kekaguman.


“Kamu ke mari sama siapa?” Marisa mengedarkan pandangannya karena melihat Linda hanya sendirian.


“Aku bersama Tama. Sekarang dia sedang berbicara dengan suamimu dan Faiq yang juga baru tiba.” Linda menjelaskan dengan gamblang.


“Wah, syukurlah Faiq dan ayahnya sudah datang.” Marisa tersenyum bahagia.


Tatapan Faiq terfokus pada satu titik. Ia melihat Hani dan Marisa sedang berbicara dengan para tamu VVIP yang datang di pameran perhiasan se Indonesia itu. Hanya istrinya yang terlihat paling muda diantara para perempuan yang berdiri bersama mereka.


“Sayang …. “  Faiq  menyapa Hani dengan lembut.


Tanpa mempedulikan tatapan para undangan yang berjejer di hadapan ibunya Faiq langsung merengkuh pinggang istrinya.


“Wah, jadi perempuan muda ini menantumu?” Nyonya Anggraeni yang baru turun dari podium segera bergabung dengan mereka.


Marisa tersenyum bangga melihat temannya sangat antusias bergabung dengan mereka. Linda melirik Adi yang datang beriringan bersama Darmawan. Ia tau, sampai saat ini hati putranya masih beku untuk memulai suatu hubungan.


“Selamat malam nyonya …. “ sapa Hani sopan pada Anggraeni yang berdiri tepat di hadapannya.


“Panggil saja tante Reni.” Anggraeni memeluk Hani dengan mesra. “Marisa beruntung memiliki menantu sepertimu.”


Hani memandang Marisa dengan bingung. Tapi ia tetap tersenyum membalas kehangatan Anggraeni terhadapnya.


“Wah, jeng Linda.  Sudah lama kita nggak ketemu. Bagaimana kabar anak dan menantu anda?”  Anggraeni mengalihkan tatapannya pada Linda yang termangu melihat perlakuan Faiq pada Hani.

__ADS_1


Linda tergugu mendengar pertanyaan rekan sosialitanya itu. Ia menatap Marisa yang juga memandangnya dengan iba. Suaranya terasa nyangkut tenggorokan.


“Kami baik-baik saja.” Adi menyela dengan cepat.


Ia tidak ingin rumah tangganya menjadi konsumsi publik. Sedapat mungkin ia menjaga aib dalam keluarga. Adi  menghampiri Anggraeni dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum tipis yang dibalas Anggraeni dengan hangat. Adi menepuk bahu ibunya untuk memberikan ketenangan. Linda merasa lega begitu Adi berdiri di sampingnya.


Mata Adi terpaku melihat penampilan Hani yang sangat berbeda malam ini. Setiap melihat sang mantan matanya tak bisa teralihkan. Walaupun hubungan mereka sudah membaik, tetap saja Adi merasakan kecemburuan Faiq yang begitu besar saat mereka berada dalam ruangan yang sama.


Faiq mengajak Hani berkeliling melihat perhiasan yang dipamerkan. Ia tidak nyaman melihat Adi yang berulangkali mencuri pandang pada Istrinya. Ia nggak mungkin mengajak Hani pulang sekarang. Jika Faiq nekat membawa Hani pulang, maka ia harus siap dengan ceramah ibunya yang akan makan waktu berhari-hari hingga bosan sendiri.


Perhiasan yang ditampilkan tidak hanya berbahan emas tetapi juga berlian yang harganya bukan kaleng-kaleng. Sambil merangkul pinggang ramping istrinya, Faiq  melihat perhiasan yang menarik di matanya. Ia ingin memberikan hadiah pada Hani atas kelahiran si kembar.


“Bagaimana kalau yang ini, sayang?” Faiq menunjuk sebuah kalung berlian cantik satu set dengan cincin dan gelangnya.


“Mas, aku nggak butuh itu.” Ujar Hani dengan halus.


Ia memandang Faiq dengan sedih, "Yang aku butuhkan adalah kejujuranmu, mas ...." batinnya di dalam hati.


Faiq memandang istrinya dengan lekat. Perempuan yang ia cintai dengan sepenuh hati. Ia melihat sorot kesedihan yang tergambar di mata bening itu.


“Sayang, katakan apa yang ada dipikiranmu. Mas nggak mungkin tau, jika kamu nggak cerita …. “


Hani terdiam larut dengan pikirannya. Haruskah ia menanyakan langsung kepada Faiq pengakuan Hesti tentang pernikahan yang pernah terjadi antara dia dan Faiq. Hani jadi bingung dengan pikirannya sendiri.


“Mas Faiq …. “ suara merdu merayu memutus tatapan keduanya.


“Hesti …. “ Faiq berguman dengan perasaan kesal.


“Kenapa mas memblokir telponku? Aku turut berduka atas musibah yang menimpa mbak Hani …. “ suara Hesti terdengar sendu, tapi wajahnya penuh dengan kepura-puraan.


Dengan cepat Hani melepaskan rangkulan Faiq di pinggangnya. Ia menatap tajam ke arah Faiq dan Hesti. Kini kesempatan untuk mengetahui semuanya telah ada di depan mata.

__ADS_1


“Selesaikanlah urusan mas Faiq dengan mantan istrimu.” Hani berkata dengan lirih.


Tanpa meminta persetujuan Faiq, Hani melangkah menghampiri Marisa yang masih berbincang dengan Linda, Darmawan dan Aditama.


__ADS_2