
Lima tahun telah berlalu, Ariq dan Ali kini telah duduk di bangku kelas 3 Sekolah Lanjutan Pertama, sedangkan Hasya kelas 6 Sekolah Dasar. Sementara si kembar Fatih dan Khaira kini berumur 8 tahun dan duduk di kelas 2 di sekolah yang sama dengan Hasya, sedangkan si kecil Junior kini sudah bersekolah di Taman Kanak-kanak karena umurnya baru 5 tahun.
Kehidupan keluarga Faiq dan Hani selalu tampak harmonis. Faiq selalu memanjakan istrinya dan mengutamakan kepentingan keluarga di atas segalanya. Begitu pun perusahaan tampak lancar dan terkendali.
Handoko telah menikah dengan istri yang dijodohkan keluarganya, karena keinginannya untuk mendekati Latifa tidak ada hasil. Gadis itu begitu kokoh mengunci hatinya untuk seseorang yang tidak mungkin ia miliki.
Sementara Bimo tetap enjoy dengan kehidupan joyanya, jomblo tapi bahagia. Hubungannya cukup dekat dengan keluarga Faiq.
Darmawan dan Marisa selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi Linda bersama ketiga cucunya yang semakin besar.
Pagi itu di kediaman Darmawan sekeluarga, Faiq membangunkan Hani untuk melaksanakan salat Subuh berjama’ah. Ia kesiangan kali ini, sehingga tidak bisa melaksanakan salat berjama’ah di masjid komplek perumahan karena tadi malam begitu bersemangat mengarungi gelora asmara bersama dengan penuh kelembutan bersama sang istri.
“Sayang …. “ Faiq mengusap punggung Hani yang masih tenang dalam tidurnya.
Ia menatap istrinya dengan lekat. Perempuan satu-satunya yang ia pilih menjadi pendamping hidupnya. Dan ia sangat bersyukur memiliki Hani, seorang istri yang patuh dan selalu setia mendampinginya dalam mengarungi rumah tangga yang telah berjalan hampir satu dekade.
“Sayang …. “ Faiq berbisik lembut di telinga istrinya sambil meniup-niup telinganya, tapi tidak ada pergerakan sama sekali.
Faiq terpaku, biasanya Hani akan mencubitnya jika melakukan hal tersebut. Hani paling tidak bisa menahan geli dengan tiupan di telinganya.
“Ya, Allah ….” Faiq mulai cemas.
Ia meletakkan jemarinya di hidung Hani, dan tidak merasakan adanya udara yang keluar masuk dari hidung bangir milik istrinya. Dengan cepat Faiq mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke luar dari kamar.
“Papa, apa yang terjadi pada bunda?” Ariq bertanya dengan cepat melihat Faiq yang menggendong tubuh bundanya.
Sontak saja Darmawan yang baru kembali dari masjid bersama cucu-cucunya yang lain memandang dengan khawatir.
“Kita akan bawa bunda ke rumah sakit. Cepat ambilkan kunci mobil.” Faiq tidak menyadari suaranya begitu nyaring memecah kesunyian di pagi hari itu.
Marisa yang baru selesai melaksanakan salat Subuh bersama Hasya dan Khaira terkejut mendengar keributan di ruang tengah. Ia segera keluar dari kamar. Marisa terpaku melihat Hani yang kaku dalam gendongan Faiq.
“Ya, Allah Rara ….” Marisa cemas melihat kondisi menantunya.
Dengan cepat Faiq membawa mobil menuju rumah sakit terdekat dengan tempat tinggal mereka. Darmawan duduk bersama supir di depan. Mulutnya tak henti mendo’akan kebaikan untuk menantu kesayangannya.
Begitu sampai di rumah sakit, Faiq tidak meletakkan Hani di brankar. Tapi ia langsung menggendong Hani menuju ruang ICU. Dengan cepat dokter menangani Hani.
Ia dan Darmawan menunggu dengan cemas. Perasaan Faiq benar-benar tidak enak. Hatinya sudah berkata lain.
__ADS_1
“Innalillahi wainna ilaihi rojiun ….” dokter piket yang bernama Agus begitu memeriksa urat nadi dan pernafasan Hani langsung mengucap kalimat yang membuat tulang Faiq selembut agar, ia jatuh tersungkur di lantai.
Darmawan mengusap dadanya yang tiba-tiba sesak mengetahui menantunya telah pergi mendahului mereka.
Dr. Agus mengajak Darmawan ke dalam ruangannya meninggalkan Faiq yang terpaku di depan jasad istrinya. Senyum tenang tampak tersungging di bibir Hani yang kini sudah seputih kapas.
Rudi yang mendapat kabar tentang kematian Hani langsung ke rumah sakit menyusul Faiq. Ia tau, sebesar apa cinta Faiq terhadap istrinya. Dan keyakinan Rudi terbukti, ia melihat Faiq begitu terpuruk dan tidak bisa melakukan apa pun hanya menatap pasrah pada jenazah istrinya yang telah siap untuk dibawa pulang ke rumah.
“Bos!” suara Rudi yang keras tidak mengalihkan perhatian Faiq dari sosok yang kini telah ditutup kain panjang.
Pikiran Faiq benar-benar kosong. Ia tidak bisa meninggalkan sosok istrinya yang kini terbujur kaku. Tangannya masih menggenggam jemari Hani yang sudah dalam posisi qiyam. Akhirnya Rudi mengikuti Faiq di dalam mobil jenazah yang akan membawa Hani kembali ke rumah.
“Mas, aku minta maaf jika selama menjadi istrimu belum bisa memberikan pelayanan yang terbaik untukmu,” ujar Hani sambil membelai rahang Faiq yang mulai ditumbuhi cambang halus.
Faiq menggenggam jemari Hani dan mengecupnya pelan, “Kamu lah perempuan terbaik yang ku kenal. Dan aku sangat bersyukur memilikimu dan menjadikan ibu bagi anak-anakku. Semoga kita selalu bersama seperti ibu dan ayah, hingga memiliki cucu kelak.”
Hani terdiam mendengar perkataan suaminya. Ia bangkit dari pembaringan dan memandang wajah suaminya dengan lekat.
“Kalau aku pergi terlebih dahulu, mas harus mencari pendamping yang lebih baik dari aku …” tampak raut kesedihan tergambar di wajahnya saat mengatakan itu.
Faiq pun bangun dari tidurnya dan menangkup wajah Hani. Ia menatapnya dengan lekat dan mencium keningnya dengan penuh perasaan.
Hani menggelengkan kepala dengan lemah, “Aku tau, mbak Ifa sangat perhatian padamu. Dia perempuan yang baik, dan tipe mas banget ….” Hani berusaha menutupi kesedihannya.
“Apa kamu tertarik sama Bimo joya itu?” Faiq balas menggoda istrinya.
“Kok tau?” balas Hani sambil tersenyum tipis, “Dia menarik juga sih.”
“Wah, kok aku jadi cemburu mendengarnya?” Faiq memasang wajah cemberut.
“Udah tua juga kali, siapa sih yang masih tertarik dengan mak-mak yang udah melar kiri kanan? Ha ha ha ….” Hani tertawa kecil.
Faiq menatap Hani dengan serius, “Mas mengucapkan terima kasih atas kesetiaanmu, yang tetap sabar mendampingi walau sudah terlalu sering mas menyakiti perasaanmu ….”
Hani tersenyum tipis tidak menanggapi perkataan suaminya.
“Mas, sangat cemburu dengan almarhum bang Tama yang telah banyak berkorban untuk kebahagiaan keluarga kita. Matanya telah menjadi milikmu. Dan itu membuat mas tidak ingin mengecewakannya. Mas merasa dari matamu, bang Tama selalu memantau tingkah laku mas setiap hari. Mas takut kamu akan berpaling.” Faiq meraih tangan Hani dan menciumnya dengan penuh perasaan.
Hani membelai rambut Faiq yang kini berbaring di pahanya dengan lembut.
__ADS_1
“Apa yang mas takutkan. Selamanya aku akan menjadi milikmu, hanya maut yang akan memisahkan kita. Mas lah laki-laki pertama yang membuatku merasa dicintai dengan tulus dan membuatku nyaman.”
Faiq menarik tangan Hani dan meletakknya di dadanya.
“Sebelum dekat denganmu dan anak-anak, mas telah terbiasa bersosialisasi dengan banyak orang. Apalagi dengan pekerjaan mas sebagai abdi negara yang melayani masyarakat. Mas tidak bisa menolak jika ada yang merasa kesusahan dan memerlukan bantuan.”
Faiq mengingat kembali masa kelabu di awal pernikahannya akibat gangguan Hesti yang mungkin sudah terlepas dari ingatan Hani, “Mas sudah berulangkali melakukan kesalahan hingga berakibat Fatal. Tapi Allah masih sayang dengan mas, dan kamu tetap setia mendampingi mas hingga detik ini.”
Hani membelai tangan Faiq dan membaringkan tubuhnya di sisi suaminya.
“Aku memaklumi semua perbuatanmu, mas. Memang banyak di lingkungan kita orang yang tidak beruntung. Dan aku akan selalu mendukung selama kita selalu terbuka,” tutur Hani lembut. Sejenak ia terdiam, tatapannya kembali terarah pada wajah suaminya.
“Aku sempat mendengar kalau mas diminta untuk menikahi mbak Hesti, kenapa mas menolaknya?”
Faiq menatap mata istrinya lekat, “Seorang perempuan yang meninggal jika telah menikah, maka laki-laki terakhir yang menikahinya lah yang akan menjadi suaminya di akhirat kelak. Wallahu a’lam bissowab. Jika Allah mengizinkan, mas hanya mau kamu hingga kelak di surga-Nya nanti.”
Hani terharu mendengar ucapan suaminya. Ia memeluk tubuh suaminya dengan erat berharap kebahagiaan ini tidak akan berakhir dan tetap selamanya menaungi kehidupan mereka.
“Bos…. “ Rudi mengguncang tubuh Faiq.
Faiq mengangkat wajahnya yang tampak merah menahan segenap kepedihan di hati. Ia harus kuat demi anak-anaknya. Kepergian Hani yang tiba-tiba tidak pernah terbayang dalam pikirannya. Baru saja semalam mereka memadu kasih dan saling terbuka tentang perasaan masing-masing.
“Allah lebih sayang bunda …. “ ujar Faiq dengan suara berat, saat Ariq tersungkur di hadapannya begitu jenazah Hani di bawa ke tengah ruang keluarga.
Tamu-tamu yang bertakziah segera memenuhi rumah kediaman mereka. Hanif lah yang mengarahkan para tamu yang berdatangan. Ia dapat memahami suasana hati iparnya yang tampak berduka.
Faiq dan keenam anaknya duduk bersama didampingi Marisa, Darmawan serta Linda yang juga terkejut mendengar berita kepergian Hani yang mendadak sehingga mengejutkan orang-orang terdekatnya.
“Dokter yang menganalisa mengatakan bahwa almarhumah mendapat serangan jantung dalam kondisi tidur. Serangan jantung tersebut dapat terjadi karena aliran darah ke otot-otot jantung terhambat. Akibatnya, jantung tidak mendapatkan pasokan oksigen dari darah,“ Darmawan menjelaskan pada Linda sesuai dengan apa yang dikatakan dr. Agus.
“Hani menantu yang baik. Aku turut berduka atas kepergiannya yang sangat cepat.” Linda tak kuasa menitikkan air mata saat memeluk Marisa yang duduk sambil memangku Junior.
__ADS_1