Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 183 S2 (Sarapan Pagi Bersama)


__ADS_3

Ivan terbangun saat pagi menjelang. Ia meraba tempat tidurnya, sudah tidak ada sosok Khaira di sampingnya. Dengan pelan ia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan tak lupa berwudhu. Sejak dari kantor kemaren di bawah bimbingan pak Marthak ia sudah mulai menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Memang pada awalnya ia merasa kaku, tapi dengan penuh semangat dan nasehat menyentuh pak Marthak membuat Ivan menguatkan hatinya.


Khaira sudah keluar kamar sejak satu jam yang lalu. Ia membantu Hasya dan Ira yang sedang menyiapkan sarapan pagi bersama. Ariq dan Valdo sudah duduk bersantai di teras sambil mengawasi anak-anak mereka.


Teringat kejadian malam tadi membuat pipinya memerah. Ia tak habis pikir bagaimana bisa ia berciuman dengan Ivan dalam keadaan tak sadar bahkan menikmatinya. Khaira menggelengkan kepala. Ia merasa malu, rasanya tak ada muka ia untuk memandang lelaki pemaksa itu yang mungkin sekarang merasa di atas angin.


“De, suamimu mana? Kamu itu bukan jomblo lagi tapi sudah ada pendampingnya. Ingat lho tugas seorang istri,” ceramah Hasya yang panjang kali lebar membuat Khaira cemberut.


“Eh, nggak boleh gitu pamali ….” Ira menambahkan, “Ingat, surga istri reda-nya suami lho….”


Dengan bibir manyun Khaira melangkah ke kamar untuk membangunkan Ivan yang belum kelihatan batang hidungnya. Saat melangkahkan kaki ke kamar ia terkejut melihat Ivan yang masih duduk bersimpuh di pojok kamar mengerjakan salat Subuh walau sudah kesiangan.


Khaira merasa tidak nyaman. Akhirnya ia duduk di tempat tidur menunggu Ivan selesai berdoa. Ia memandang punggung kokoh yang tampak khusu’ memanjatkan doa. Sekilas bayangan Abbas muncul kembali di benaknya. Tak terasa air mata kembali mengalir di pipinya. Ia mengingat tatapan Abbas yang berbeda saat berjumpa, tiada lagi kehangatan dan tatapan mesra yang tergambar di mata hitam itu.


Apakah Abbas telah merelakan ia bersama Ivan …? Dapatkah ia meraih kebahagiaan bersama Ivan …? Mampukah ia untuk membuka hati pada Ivan yang kini telah menjadi suaminya ….?


Khaira masih terjebak dalam lamunannya. Ia merasa sedih. Tanpa ia sadari Ivan berjongkok di hadapannya masih dengan baju koko dan kain sarung yang melekat di tubuhnya.


“Maafkan aku yang telah membuatmu merasa tidak nyaman,” suara lembut Ivan menyadarkan lamunan Khaira.


Ia menatap wajah Ivan yang kini berada di bawahnya dengan jarak cukup dekat. Air matanya masih berlinang menetes di pipi. Mata keduanya saling mengunci.


Jemari Ivan mulai menghapus genangan air mata yang masih tersisa di sudut mata istrinya. Ia meraih kedua tangan Khaira dan mengecupnya dengan lembut.


“Aku tau, diriku tidak sebaik Abbas. Mungkin sampai saat ini nama Abbaslah yang masih tersimpan di hatimu …. “


Mendengar ucapan Ivan, air mata Khaira kembali terjun bebas. Ia tidak mampu menghapus air mata karena kedua tangannya berada dalam genggaman Ivan.


“Perasaanku padamu benar-benar tulus, seperti perasaan Abbas padamu… Kita berdua sama-sama kehilangan sosok terbaik dalam hidup kita …” Ivan merasa terenyuh melihat istrinya kembali berurai air mata, “Izinkan aku menggantikan sosok Abbas dalam hidupmu….”


Ivan memandang mata bening yang masih menatapnya dengan berurai air mata. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ini kali terakhir mata indah itu menangis untuk lelaki lain.


“Aku akan berusaha membuatmu dan anak kita bahagia …. “ tanpa terasa Ivan meneteskan air mata saat mengatakan hal itu pada Khaira, “Aku ingin membuktikan janjiku pada almarhum Abbas, bahwa aku layak menjadi pendampingmu.”

__ADS_1


Khaira merasa tersentuh melihat sosok lelaki pemaksa yang kini tampak meneteskan air mata di depannya. Tidak tampak sosok arogan yang selalu memaksakan kehendak dengan kesombongan yang selalu ia tampakkan saat berhadapan dengan orang lain.


Dengan pelan jemarinya mulai menghapus sisa-sisa air  di sudut mata istrinya. Ivan berdiri tegak dan merangkul pinggang Khaira mengikutinya berdiri. Ivan kembali berjongkok dan menghadap perut istrinya yang masih rata.


“Ku harap anak kita tidak merasakan kesedihan seperti yang dialami bundanya,” ujar Ivan pelan sambil tersenyum penuh kelembutan.


Khaira tidak menyangka Ivan mencium perutnya yang masih rata. Tatapannya terus mengikuti setiap pergerakan suaminya.


Ivan kembali berdiri. Ia menatap Khaira dengan lekat. Perlahan Ivan mencium kening istrinya dengan penuh perasaan. Ciumannya beralih ke hidung, pipi kiri dan kanan hingga akhirnya tatapannya terfokus pada telaga madu yang jadi favoritnya.


Seperti di hipnotis Khaira membiarkan semua perlakuan lembut Ivan padanya. Hingga ia merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Ia memejamkan mata sambil menahan nafas.


Ivan hanya menempelkan bibirnya dan melihat reaksi istrinya. Perasaannya merasa lega karena tidak ada lagi penolakan dari Khaira. Ivan langsung memeluk tubuh ramping itu dengan sepenuh perasaan. Ia berjanji akan terus memperbaiki diri dan memantaskan diri menjadi yang terbaik untuk istri dan anak-anaknya kelak.


Khaira teringat bahwa mereka sudah ditunggu untuk sarapan pagi bersama. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Ivan.


“Kenapa?” Ivan menatapnya heran.


“Baiklah,” Ivan berkata dengan pelan.


Ia tersenyum ketika menggandeng tangan Khaira karena sudah tidak ada penolakan lagi.  Dengan perlahan ia mengikuti langkah Khaira hingga keduanya sampai di meja makan.


“Cihui pengantin baru,” Junior yang baru kembali dari rumah mertuanya tampak senang melihat wajah Khaira yang tidak tegang seperti biasa saat bersama suaminya.


“Selamat pagi oma, ibu dan semuanya …. “ Ivan menyapa semuanya sambil tersenyum menganggukkan kepala pada oma Marisa yang menatapnya dengan wajah sumringah.


“Liat pengantin lelaki secerah mentari, eh pengantin perempuan seperti padang ilalang….” Junior masih saja melanjutkan canda recehnya.


“Ade ….” Hasya melotot memandang Junior yang cengengesan.


Khaira hendak melayangkan pukulan ke bahu Junior yang duduk di sampingnya. Tapi Ivan langsung menarik dirinya yang masih berdiri hingga ia hanya memukul angin.


“Biarin aja,” Ivan menggelengkan kepala melihat Khaira yang merasa kesal dengan candaan adiknya.

__ADS_1


Khaira menghela nafas. Ia menahan kekesalan hatinya. Melihat Ira dan Hasya yang mengambilkan sarapan suaminya, akhirnya Khaira pun mengambil piring di hadapannya dan menatap Ivan dengan sorot datar.


“Mau makan apa?”


“Apa saja boleh,” Ivan merasa senang karena Khaira mulai memberikan perhatian padanya walau pun masih dengan sikapnya yang kaku.


Khaira mengambilkan nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan kerupuk yang telah tersedia di  hadapannya ke dalam piring Ivan.


"Minumnya?"


"Air putih saja."


Hasya dan Ira geleng-geleng kepala melihat kekakuan pasangan baru di hadapannya. Tapi mereka merasa bersyukur karena Ivan berusaha memahami dan mengimbangi sikap adik kesayangan mereka.


"Nggak ada manis-manisnya," celetuk Junior  santai, "Aduh!"


Akhirnya Khaira tersenyum melihat Junior yang meringis karena cubitannya sangat kuat di lengan adiknya yang suka bikin masalah saat di rumah.


"Rasain!" Khaira tertawa kecil.


"Kamu itu sudah berkeluarga juga tapi masih pecicilan," Hasya menatap Junior yang masih mengusap tangannya yang nyeri akibat cubitan Khaira.


"Beginilah nak Ivan kalo sudah ngumpul," Oma Marisa merasa terhibur melihat tingkah mereka.


"Sangat menyenangkan oma. Saya bahagia bisa diterima di keluarga ini," Ivan tersenyum sambil mengedipkan mata ke arah Khaira yang kebetulan juga menatapnya.


Khaira tidak bisa menikmati sarapan dengan santai, Ivan yang telah selesai  sarapan masih duduk menemaninya sambil menggenggam tangan kirinya.  Ia jadi serba salah, tidak leluasa bergerak.


Percakapan di meja makan terus berlanjut. Khaira merasakan remasan di tangan kirinya. Ia memandang Ivan, tapi yang dipandang sibuk berbicara meladeni pertanyaan oma dan Ariq. Akhirnya Khaira membiarkan perlakuan Ivan walau pun ia merasa tak nyaman karena Junior  memainkan mata padanya.


Sarapan pagi yang penuh dengan canda Junior membuat suasana pagi ini terasa cerah. Ivan merasakan kehangatan keluarga yang sudah lama tidak ia temukan. Dan ia sangat bersyukur Allah mempertemukannya dengan Khaira, perempuan yang telah menyempurnakan kehidupannya serta membuatnya menemukan arti kehidupan sesungguhnya.


*** Dukung terus ya\, masih di masa bulan Madu. Yang manis-manis aja dulu .... ***

__ADS_1


__ADS_2