Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 52


__ADS_3

Saat makan malam, ruangan sangat hening. Hani membiarkan Dewi melayani Faiq. Ia sudah mempertimbangkan langkah yang akan ia ambil. Toh, bukan kali ini saja ia disakiti. Tapi tidak dengan anak-anaknya. Ia tidak akan rela siapapun menyakiti mereka.


“Apa kalian sudah meminta maaf  pada tante Hesti?” Faiq menatap Ariq dan Ali yang tampak diam menikmati makan malam yang tersedia.


Hesti dan Dewi berpandangan dengan senyum penuh kemenangan. Mereka mencibir ke arah Ariq, yang juga sedang memandang Hesti.


“Sudahlah, nak Faiq. Mereka hanya anak-anak.”  Dewi berkata dengan lembut sambil menampilkan senyum penuh kepalsuan.


Hani memandang wajah Ariq dan Ali memberikan isyarat agar keduanya menuruti kata-kata Faiq. Tapi apa yang terjadi…


“Pa, kami tidak suka tante Hesti dan nenek tinggal di sini.” Ariq mulai menyuarakan isi hatinya.


“Nenek dan tante suka menjelek-jelekkan bunda.” Ali turut menyambung.


“Kalau kalian tidak senang dengan keberadaan nenek, lebih baik nenek pulang ke kampung.” Dewi melemahkan suaranya.


“Ibu tidak perlu mendengarkan perkataan mereka.” Potong Faiq cepat.


Matanya bertatapan dengan Hani. Ia melihat sikap perlawanan tergambar di mata bening itu. Tapi Hani berusaha untuk  mengalah demi anak-anaknya.


“Tidakkah kalian bisa berbicara sopan dengan orang yang lebih tua?” Nada Faiq mulai meninggi. Ia kesal mendengar ucapan si kembar yang tidak sesuai dengan harapannya.


Ia sudah merasa lelah seharian di kantor. Mendapati suasana rumah yang tidak harmonis membuat kepalanya terasa pecah.


“Maafkan aku mas, ini hanya salah paham.” Ratu drama mulai memainkan peran, dan Hani merasa ingin muntah mendengar perkataan Hesti.


“Rara, tidak bisakah kau mendidik mereka supaya menghormati yang lebih tua.” Mata Faiq tajam menatap Hani.


“Ya, Allah. Kenapa mas Faiq jadi seperti ini?” Hani meratap  dalam hati. Ia menyadari kehangatan dalam rumah tangganya  semakin hilang hari demi hari.


“Kenapa papa ikut memarahi bunda?” Ariq tidak senang dengan sikap Faiq. “Papa sudah tidak sayang sama bunda.”


Emosi Faiq menjadi memuncak, “Liat sekarang. Anakmu semakin kurang ajar!”

__ADS_1


“Istighfar mas. Apa yang terjadi padamu. Kenapa sekarang kamu berubah?” Air mata Hani sudah menggantung di pelupuk matanya. Ia sedih karena anaknya yang tidak tau apa-apa terlibat dalam permasalahan mereka.


“Aku bekerja siang malam untuk kalian. Tidak bisakah kalian memberikan ketenangan di rumah ini.”


“Mas, aku ini istrimu. Kenapa sikapmu berubah secepat ini?” Hani menahan langkah Faiq yang sudah berdiri hendak meninggalkan meja makan.


“Hesti juga istriku. Aku tidak bisa menceraikannya dalam keadaan seperti ini.” Faiq menatap Hani dengan tajam, “Gunakanlah logikamu, apa pantas aku meninggalkannya dalam keadaan tak berdaya karena perbuatanku?”


“Mbak Hesti sudah bisa berjalan. Kita telah dibohongi.” Hani berkata dengan keras. Ia ingin Faiq menyadari sandiwara Hesti dan Dewi.


Faiq menatap Hani dengan pandangan dingin, “Ku harap kamu menjauhkan anak-anak dari Hesti. Kalau tidak mereka akan mendatangkan kekacauan lagi.”


“Apakah rasa sayangmu terhadap anak-anak telah hilang, sehingga berlaku kasar pada mereka?” Hani menahan tangan Faiq.


“Jangan bicara yang tidak penting.”


Hani terhenyak mendengar perkataan Faiq. Pandangan Faiq terarah pada Hesti yang mulai meneteskan air mata buayanya.


“Maafkan aku. Ini memang kesalahanku. Kalau saja aku tidak lumpuh tidak akan terjadi seperti ini. Aku memang manusia cacat tak berguna…” Hesti menangis tersedu-sedu.


Suasana jadi hening. Faiq melepaskan tangan Hani di lengannya dan berjalan mendekati Hesti.


“Ini bukan kesalahanmu. Sebagai suami aku tidak tegas dalam mendidik mereka.” Nada Faiq terdengar lembut di telinga Hesti. “Aku akan mengantarmu ke kamar.” Tanpa menoleh pada Hani, Faiq langsung mengangkat dan mengantar Hesti menuju kamarnya.


Hesti memeluk bahu Faiq dengan erat, saat tangan kekar itu menggendong tubuhnya. Senyum mengejek ia tunjukkan pada Hani yang menatapnya tanpa berkedip.


Perasaan Hani kini benar-benar terluka. Faiq memang berubah. Ia bukan dirinya yang dulu, yang mempunyai sikap hangat dan penuh kasih sayang terhadap Hani dan ketiga anaknya. Hani terdiam, matanya menatap ketiga buah hatinya dengan nanar.


“Kenapa sesakit ini ya, Allah.” Ia meremas dadanya yang terasa nyeri.


Kalau tidak mengingat janji Faiq yang tetap akan setia dan berjuang bersamanya, ingin rasanya Hani pergi membawa anak-anaknya keluar dari rumah. Tetapi ia mencoba bersabar untuk kali ini.


“Mbak bawa anak-anak ke kamar. Ia meminta Lina membawa ketiganya. Ia akan meminta maaf pada Hesti  atas nama anak-anaknya.

__ADS_1


Dengan langkah pelan Hani berjalan menuju kamar Hesti. Belum sempat masuk ke sana, ia terperanjat melihat Faiq dan Hesti yang sedang berciuman dengan mesra di tempat tidur. Dengan posisi tubuh Faiq berada di atas Hesti.


“Astagfirullahaladjim…” Air mata Hani langsung melompat bebas.


Hal yang paling ia takuti terjadi. Ia melangkah mundur. Kali ini ia akan menyerah, Tidak ada lagi yang patut ia pertahankan. Perkataan Dewi tidak bohong. Bahwa antara Hesti dan suaminya memang telah terjalin hubungan serius. Dan tak mustahil mereka telah melakukan hubungan suami istri sehingga Hesti sekarang sedang mengandung anak Faiq.


Hani berusaha memejamkan mata saat telah membaringkan tubuhnya di kamar. Ia menyadari sudah dua minggu terakhir Faiq tidak pernah tidur di kamar mereka. Ia datang ke kamar hanya untuk mengambil pakaian dan langsung berangkat kerja.


Air mata Hani terus mengalir, menyadari bahwa perasaan Faiq kini telah berubah. Cinta yang pernah ada dihatinya kini telah terkikis dan mulai digantikan oleh Hesti. Perhatian serta kelembutan sikap Faiq kini tak pernah ia rasakan lagi. Tetapi saat bersama Hesti dan ibunya, Faiq terlihat penuh perhatian.


Hesti tersenyum puas melihat bayangan Hani yang berlari menjauh dari kamarnya. Ia berusaha menahan Faiq dan mencium bibir Faiq yang telah lama ia inginkan. Tiba-tiba…


“Hoek, hoek…” Faiq menolak tubuh Hesti dan berlari ke kamar mandi. Rasa mual yang hebat menyerangnya secara tiba-tiba.


Hesti terkejut melihat penolakan Faiq. Ini kali keduanya ia menambahkan sesuatu pada minuman Faiq. Tetapi reaksinya kali ini sangat berlebihan. Mengapa Faiq merasa mual dan muntah-muntah. Ingin ia menghampiri Faiq di kamar mandi, tetapi ia khawatir Faiq mengetahui kebohongannya yang berpura-pura belum bisa berjalan.


“Hah…” Hesti jadi kesal sendiri. Ia menunggu hingga setengah jam tetapi Faiq belum keluar dari kamar mandi.


Setelah beberapa saat mengeluarkan seluruh isi perutnya, Faiq keluar dengan wajah pucat. Ia menatap Hesti dengan bingung, tidak tau apa yang menyebabkan ia seperti itu.


“Maafkan aku, entah apa yang terjadi. Rasa mual menyerangku.” Ia berjalan mendekati Hesti dan meraih selimut. “Sekarang sudah malam. Beristirahatlah. Aku akan merawatmu hingga bisa berjalan kembali.” Faiq menutupi tubuh Hesti dengan selimut dan segera melangkah keluar dari kamar.


Mendengar ucapan Faiq rasa bahagia Hesti semakin berlipat-lipat. Sekarang siapapun tidak akan bisa mengusirnya dari rumah mewah itu. Ia yakin cepat atau lambat Faiq akan menjadi miliknya.


“Jika aku bisa hamil anak mas Faiq, orangtuanya tidak akan melepasku. Pasti mereka akan memilihku, karena jendes itu belum bisa memberikan keturunan.” Senyum cerah tersungging di wajahnya.


Faiq tidak kembali ke kamar mereka. Ia memasuki ruang kerja. Dan mulai membaringkan diri di sofa lebar yang berada di sana. Entah kenapa ia malas untuk bertemu dengan Hani. Ia tidak terima Hani memarahi Hesti di depan anak-anak mereka.


Padahal maksud hati Faiq pulang lebih awal adalah untuk bercengkrama dengan keluarga dan anak-anak, karena tiga hari ke depan ia akan ke Surabaya untuk pembukaan cabang showroom mobil mewahnya. Ia memijit kepalanya yang tiba-tiba sakit.


 


 

__ADS_1


__ADS_2