
Pintu ruang rawat inap Yusuf di dorong dari luar. Hal pertama kali yang terlihat di sana adalah Zulaikha berada di atas tubuh Yusuf. Posisi mereka membelakangi pintu, sehingga orang yang melihat mereka saat itu pasti tidak jauh dari adegan dewassaa. Begitu juga dengan William yang membuka pintu itu. Betapa terkejutnya dia saat ini. Apalagi ada anak-anak balita di sini yang cara berpikirnya bukan anak balita lagi.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" teriak William sambil menutup pintu agar anak-anak kecil yang bersamanya barusan tidak melihat adegan di atas ranjang itu.
Yusuf dan Zulaikha yang terkejut dengan kedatangan William yang mendadak itu, langsung memisahkan diri. Wajah keduanya merah karena sangat malu.
"Uncle Willi," panggil Zulaikha.
..."Mi–Mister ... William," ucap Yusuf gugup....
"Kalian berdua ...." William menunjuk Zulaikha dan Yusuf bergantian.
"Tu–Tunggu dulu. Anda ... salah paham," kata Yusuf.
"Kita sedang tidak melakukan apa-apa, Uncle. Percaya pada kami!" ucap Zulaikha.
"Tadi itu kecelakaan yang tidak di sengaja," lanjut Yusuf.
"Kalian yang berbuat, kalian juga yang menanggung dosanya. Aku hanya mengingatkan saja," balas William.
Yusuf pun beranjak dari ranjang pasien. Dia memakai kemejanya kembali. Tadi Zulaikha membantu perawat yang mengganti perban. Belum juga dia pakai bajunya, Zulaikha malah menggodanya, jadinya keterusan.
"Aku mana berani melewati batas. Meski saat ini Zulaikha sudah menjadi calon istri aku. Tapi, dia belum sah menjadi istri aku," kata Yusuf.
"Baguslah kalau kamu tahu batasannya." William mengalihkan perhatiannya ke arah pintu.
Pintu terus diketuk dari luar oleh ketiga bocah itu. Mereka juga ingin masuk untuk bertemu dengan Yusuf dan Zulaikha.
William pun membuka pintu dan ketiga bocah itu langsung menghambur masuk ke dalam. Yusuf untungnya sudah pakai baju.
__ADS_1
"Ayah!" teriak Asiah sambil berlari dan memeluk tubuh Yusuf.
"Sayang," ucap Yusuf sambil membalas pelukan putrinya. Dia sangat senang masih bisa melihat putrinya.
"Ayah, tidak apa-apa 'kan? Katanya ada penjahat yang menculik Mama Zulaikha?" Asiah masih memeluk erat leher Yusuf.
"Iya. Tapi, penjahatnya sekarang sudah ditangkap oleh polisi," jawab Yusuf sambil membelai tubuh putrinya.
Rayyan dan Raihan menatap Zulaikha. Keduanya curiga kalau tadi pasti sedang terjadi sesuatu. Saat mereka hendak masuk pintunya langsung ditutup oleh Daddy mereka. Bahkan di kunci.
"Kak Zulaikha, tadi lagi ngapain sama Ayah Yusuf?" tanya Raihan dengan tatapan penasaran.
"Tidak ngapa-ngapain," jawab Zulaikha dengan semburat merah di pipinya.
"Pasti kalian tadi sedang bermesraan, ya?" tuduh Rayyan.
"Si–Siapa bilang?" Zulaikha gugup dan itu semakin membuat si Kembar yakin kalau tadi telah terjadi sesuatu di antara mereka.
"Awas loh kalau berani main lapor, aku coret dari daftar calon mantu," bisik Zulaikha kepada Rayyan.
"Ayo berani lakukan itu! Aku akan bilang loh pada seluruh negeri kalau perlu ke seluruh dunia. Kalau Kakak sudah mengincar dan menggoda Ayah Yusuf sejak Bunda Aisha masih hidup. Kakak mau disebut sebagai pelakor," kata Rayyan balik mengancam.
Zulaikha diam seribu basa. Dalam hatinya dia menggerutu dan mengumpat Rayyan.
'Masih bocah sudah bahaya begini. Gimana nanti sudah besar? Aku akan menjadi mertua yang tertindas oleh menantu,' kata Zulaikha dalam hatinya.
Sementara Rayyan tersenyum tipis mengejek calon ibu mertuanya itu. Dia paling tidak suka ditekan atau diancam. Kecuali sama Mentari dan Cantika plus Bintang kadang-kadang.
'Jangan macam-macam kamu, Kak Zul. Meski aku masih bocah kecil, aku tidak mau diremehkan. Dimana harga diriku sebagai laki-laki nanti,' ucap Rayyan dalam hatinya.
__ADS_1
***
Keluarga Alex mendatangi ruang rawat Bintang ternyata yang dijenguk malah sedang asik video call dengan sang kekasih. Malah Langit yang tertidur di ranjang pasien.
"Tuh kan, Ma. Kak Bintang itu pasti baik-baik saja. Nggak perlu kita khawatirkan keadaannya," kata Shine.
"Percuma kita khawatir, orangnya malah asik pacaran begitu," lanjut Sky.
"Syukurlah, dia baik-baik saja," kata Cantika tersenyum lega.
***
"Apa hanya gara-gara harta, kamu rela menghabisi keponakan kamu sendiri!" teriak Clive kepada Oliver.
Ruang interogasi itu kini di isi oleh Oliver, Clive, dan seorang inspektur polisi. Ketiga orang itu dalam suasana tegang.
"Ya. Harta itu milik Daddy. Kenapa hanya kepada kamu harta itu diberikan semuanya. Aku juga berhak!" Oliver menatap tajam kepada saudara se-ayahnya.
"Harta itu milik Grandfa aku, yang dikelola oleh Daddy setelah peninggalan Mommy. Itu bukan harta milik Daddy, sudah berapa kali aku bilang!" teriak Clive dengan kesal.
"Kalau begitu tidak ada salahnya juga jika harta itu kamu bagi dua. Untuk aku sebagian," ucap Oliver.
""Dasar gila! Itu semua sudah menjadi Zulaikha," balas laki-laki yang kini berdiri dan hendak pergi meninggalkan ruangan itu.
"Padahal tinggal hanya kamu dan Zulaikha yang punya hubungan darah dengan aku. Tapi, kau orangnya sungguh tidak tahu diri. Semua harta Daddy dibagi rata antara aku dan kamu. Daddy tidak membeda-bedakan kita." Pintu besi itu pun tertutup dengan suara yang keras.
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus ya. Terima kasih. NT sering error, tidak bisa balas komentar. Kalau nulis komentar di karya orang bisa? Maaf jika tidak ada balasan dalam komentar kakak-kakak semuanya.
__ADS_1
Sambil menunggu Abang Yusuf dan Zulaikha up bab berikutnya. Baca juga karya teman aku. Cus meluncur ke sana.