
Hari pernikahan Rayyan dan Asiah pun dilaksanakan setelah isya. Hanya ini waktu yang memungkinkan karena Pak Penghulunya punya waktu malam hari. Apalagi pernikahan Rayyan dan Asiah terhitung mendadak.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan memohon Rahmat dan berkat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Saya nikahkan dan kawinkan Asiah Nurul Basilah binti Yusuf Maulana Basilah dengan engkau Muhammad Rayyan Muchtar Hakim dengan mas kawin uang sebesar dua puluh juta dollar Amerika dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Asiah Nurul Basilah binti Yusuf Maulana Basilah dengan mas kawin berupa uang dua puluh juta dollar Amerika dibayar tunai."
"Sah!"
"Sah."
"Alhamdulillah,"
“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” (Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahi kamu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan).
Tangis kebahagiaan keluar dari mata Rayyan dan kedua orang tua serta mertuanya. Penantian panjang selama belasan tahun pun terbayar sudah. Hari ini dia dan kekasih hatinya telah resmi menjadi pasangan suami istri.
Saudara dan keluarga besar Hakim, Mochtar, dan Basilah berkumpul semua. Mereka bersuka cita merayakan hari pernikahan yang sederhana ini. Mentari menangis tergugu dalam pelukan Fatih. Dia tahu bagaimana lika-liku perjuangan cinta Rayyan dan Asiah. Meski akan ada perjuangan baru yang akan mereka perjuangkan lagi.
__ADS_1
Raihan memeluk saudara kembarnya dan mengucapkan selamat atas perjuangannya, untuk menyatukan cinta itu dalam mahligai rumah tangga. Dia juga mendoakan kebahagiaan untuk keluarga saudaranya itu.
"Akhirnya perjuangan kamu tidak sia-sia. Ayah Yusuf akhirnya dengan ikhlas memberikan putri yang dicintainya itu kepada pemuda hebat seperti kamu," ucap Raihan.
"Ya, aku sebenarnya iri kepada kalian kemarin. Kamu sudah menikah dengan Alin. Rain menikah dengan Rania. Lalu aku yang selalu berdoa dengan khusyuk selama belasan tahun agar berjodoh dengan Asiah. Baru hari ini terkabulkan," jelas Rayyan dengan malu-malu.
"Sekarang kalian bebas mau ciuman," bisik Raihan menggoda kembarannya.
"Dasar. Jangan-jangan kamu sama Alin sering melakukannya?" tanya Rayyan sekaligus membalas godaan Raihan.
"Bohong!" kata Rayyan tak percaya.
"Beneran. Ngapain aku berbohong," balas Raihan.
"Lalu, Rain, apa kamu dan Rania sudah ciuman?" Rayyan tiba-tiba bertanya pada Rain dan membuat pemuda itu langsung terbatuk-batuk karena begitu sangat terkejut.
"Aku dan Nia baru menikah selama sehari dua malam. Mana ada kepikiran untuk melakukan hal itu," jawab Rain.
__ADS_1
"Aku takutnya kamu akan menyakiti hati Rania karena tidak mau menyentuhnya," ujar Raihan dengan nada serius.
"Apa maksud kamu, Ian?" tanya Rian dan Rayyan bersamaan.
"Apa kamu sudah lupa pada Amira, wanita yang kamu sangat sukai itu?" Raihan menatap tajam pada Rain.
"Ow, aku sampai lupa sama dia. Rain, kalau kamu menyakiti hati Nia sampai dia menangis. Maka, tunggu saja pembalasan aku," desis Rayyan memberi ancaman pada sepupunya itu.
Mata Rain terbelalak. Dia sungguh lupa pada Amira semenjak pulang dari desa itu, dia benar-benar melupakan gadis bercadar itu.
Tanpa ketiganya sadari kalau Rania mendengarkan pembicaraan mereka semua. Rania niatnya ingin mengajak Rain untuk pulang duluan karena dia mengantuk dan lelah. Semalam kurang tidur, lalu siangnya sibuk mengambil dan membereskan barang miliknya yang akan dibawa ke apartemen tempat tinggalnya sekarang.
'Ternyata Kak Rain menyukai Kak Amira,' batin Rania dan dia tersenyum kecut. Dia semakin tidak terlalu banyak berharap bisa menjalani hidup bahagia dalam rumah tangganya.
***
😱😱 Akhirnya Rania tahu perasaan dari Rain. Bagaimana kisah mereka selanjutnya dalam menjalani kehidupan rumah tangga mereka? Tunggu kelanjutannya ya! jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗
__ADS_1