Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 74. Kerja Kelompok


__ADS_3

     Rain dan Raihan duduk di sofa panjang yang berada dalam ruang kerjanya. Kedua pemuda itu sedang membicarakan sesuatu yang penting.


"Apa kamu ada waktu hari Minggu nanti?" tanya Rain pada sepupunya itu.


"Kenapa?" Raihan malah balik bertanya.


"Aku akan pergi menemui Kiai Samsul dan membicarakan kalau aku sudah menikah dengan Rania. Sehingga, tidak bisa melakukan ta'aruf kepada Kak Amira. Aku tidak mau memberinya harapan sedangkan aku sendiri tidak mau punya istri lebih dari satu," balas Rain.


"Aku yakin kalau Nia juga tidak mau dipoligami," ujar Raihan.


"Perempuan mana yang ingin dipoligami? Pada dasarnya mereka juga ingin menjadi satu-satunya," kata Rain.


"Aku akan usahakan ikut ke sana. Tapi, Raya entah bisa ikut atau enggak? Karena Sulaiman mengajak mereka untuk merayakan ulang tahunnya di villa," ucap Raihan.


"Kalau Raya nggak bisa ikut, nggak apa-apa. Aku hanya mau memberikan kepastian saja pada keluarga Kiai Samsul," balas Rain.


"Apa kamu sudah punya rasa kepada Nia?" tanya Mega yang tiba-tiba muncul dari arah belakang mereka.


"Astaghfirullahal'adzim, Mega!" pekik kedua pemuda itu terkejut. Tanpa sadar jari Rain menekan tombol satu yang menghubungkan langsung ke nomor Rania.


"Kenapa masuk diam-diam?" Raihan melotot pada sepupunya itu. Sementara itu, sang pelaku malah tertawa.


"Karena kalian berdua terlalu khusyuk berbicara sampai aku mengucapkan salam pun tidak kedengaran," balas Mega sambil duduk di sofa single.


"Rain, apa kamu sudah ada rasa pada Rania?" tanya Raihan kali ini.


"Aku sejak dulu sudah menganggap Rania itu adik. Jadi, agak sulit kalau sekarang harus melihat dia sebagai lawan jenis. Mungkin akan butuh beberapa waktu lagi untuk menyakinkan perasaanku padanya," jawab Rain.


"Aku berharap kalau kamu tidak akan pernah menyakiti hatinya. Jika itu sampai terjadi, aku dan Raya tidak akan tinggal diam," ucap Raihan.


"Tenang saja Ian. Kalau Rain melepaskan Nia, sudah ada yang siap menyambutnya dengan senang hati," ujar Mega sambil tersenyum jahil.


"Apa maksud kamu?" tanya Rain dan Raihan bersamaan.


"Nih!" Mega menyerahkan handphone miliknya pada Rain.


     Rain dan Raihan membaca pesan yang dikirimkan oleh Chelsea kepada Mega. Mata mereka langsung terbelalak saat membacanya.


Ayang, ada guru baru berwajah tampan usianya baru 21 tahun, dan dia terang-terangan memperlihatkan perasaan sukanya pada Rania. Kira-kira bagaimana reaksi Kak Rain, ya? Jika istrinya diincar calon pewaris dari perusahaan MAKMUR JAYA


"Bagaimana, Rain? Kamu bisa lepaskan Rania, loh. Jika, ingin memilih Kak Amira," ujar Mega ingin memanasi sepupunya yang sering berwajah datar itu.


"Kamu pikir pernikahan itu apaan? Aku bukan orang yang suka mempermainkan ikatan pernikahan," balas Rain dan pergi meninggalkan ruang kerjanya.


     Raihan dan Mega saling pandang lalu tertawa terkekeh. Mereka jarang-jarang melihat Rain mengekspresikan perasaannya. Hal inilah yang membuat sepupu-sepupunya itu suka menjahili dia.

__ADS_1


"Lalu apa Nia sudah mulai suka sama Rain?" tanya Mega kepada Raihan.


"Entahlah. Soalnya dia itu selalu memperlakukan semua orang sama. Jadi, apa orang itu spesial atau enggak bagi dirinya tidak kelihatan," jawab Raihan.


"Selain Cantik dan pintar, Nia itu gadis yang sangat baik dan perhatian pada orang disekitarnya, takutnya dia malah jatuh hati pada orang yang salah," ucap Mega sambil memasukan handphone miliknya ke saku jasnya.


"Nia itu masih manja dan polos walau tidak separah Alin," kata Raihan.


"Makanya kamu sangat menjaga istri kamu itu," pungkas Mega sambil berdiri.


"Iyalah, aku tidak mau Alin seperti Asiah. Raya sampai stress mikirin istrinya itu. Apalagi jiwa Asiah itu labil," tutur Raihan sambil mengikuti langkah Mega.


"Akh! Jadi rindu pada Alin, padahal baru berpisah sebentar," lanjut Raihan mengguarkan rambutnya.


"Dasar bucin!" Mega terkekeh.


"Memangnya kamu nggak begitu sama Chelsea?" Raihan menatap sinis ke arah sepupunya.


"Ya, setidaknya nggak seperti kalian," balas Mega dan dia berkata lagi, "ini yang punya kantor malah pergi ke mana?" Mega membuka pintu dan ke luar dari ruangan itu.


"Aku yakin dia sedang uring-uringan dan pikirannya tidak tenang. Rain kan suka begitu jika dicuekin oleh Nia," bisik Raihan sambil tertawa terkikik.


"Ho-oh, Rain itu paling tidak suka kalau di diamkan oleh Nia," kata Mega setuju.


***


Nia, aku dengar ada guru baru di kelas kamu. Kamu jangan tanggapi laki-laki itu! Bisa saja dia laki-laki yang punya niat buruk kepada kamu. Kamu harus hati-hati. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku.


       Senyum puas tercipta di wajah Rain yang biasanya datar dan terkesan dingin itu. Dia pun menerima pesan dari orang yang dia mintai tolong tadi untuk melacak pemilik mobil yang berhenti di depan Rania. Semua data milik orang itu kini berada di dalam sana.


"Aku tidak akan membiarkan kamu dekat-dekat dengan Nia," gumam Rain sambil menatap foto laki-laki yang pernah dia lihat saat pesta di hotel.


***


     Asiah kini selalu memulai duluan menyapa teman-teman barunya. Dia pun saling bertukar nomor ponsel dan akun media sosial milik mereka. Kali ini Asiah lebih banyak mencari teman perempuan. Ini juga untuk menghindari fitnah seperti yang dikatakan suaminya.


"Asiah, bagaimana kalau kita makan dan nonton bioskop sepulang kuliah?" tanya seorang berambut pendek.


"Maaf Hana, aku sudah punya janji mau mengerjakan tugas dari Pak Bagus," jawab Asiah.


"Aku juga belum mengerjakan tugas itu," balas Hana.


"Bagaimana kalau kamu juga ikut dengan aku untuk mengerjakan tugas itu?" ajak Asiah.


"Iya, deh. Aku ajak yang lainnya juga, ya!" pinta Hana.

__ADS_1


"Ya, itu lebih baik kalau kita ramai-ramai mengerjakan tugas itu bersama-sama," ucap Asiah dengan senyum manisnya.


     Hana pun mengajak beberapa temannya untuk mengerjakan tugas kuliah mereka. Ada sekitar 15 orang yang mau ikut mengerjakan tugas itu. Asiah pun mengajak mereka ke rumahnya agar lebih leluasa karena banyak ruangan luas di rumahnya.


     Asiah senang bisa dengan cepat menemukan teman yang bisa diajak kerja sama. Sulaiman pun ikut serta dalam kelompok itu. Dia merindukan rumah yang besar milik Zulaikha, tempat yang dulu sering dia datangi saat masih kecil.


"Asiah ternyata banyak yang berubah dari rumah kamu ini," ucap Sulaiman saat melihat tatanan taman di depan rumah Zulaikha lebih indah dan rapi.


"Ya, Mama mempekerjakan seorang ahli desain interior yang suka akan tanaman. Dia merombak semua taman di rumah ini," balas Asiah sambil berjalan di sisi temannya itu.


"Asiah, rumah kamu besar dan indah banget! Aku mau selfie di taman ini, boleh ya?" Hana dan beberapa temannya menatap Asiah dengan penuh harap.


"Iya, boleh. Kalau kalian sudah menyelesaikan tugas Pak Bagas. Bebas mau berswafoto di mana pun kalian mau," balas Asiah sambil tersenyum manis.


"Asik!" Teman-teman Asiah bersorak karena diizinkan bisa ikut bergaya di rumah mewah itu.


     Zulaikha menyambut kedatangan putri sambung bersama teman-temannya. Dia senang saat Asiah mengirim pesan kalau teman-teman barunya mau berkunjung untuk mengerjakan tugas.


"Kalian jangan sungkan-sungkan, jika masih kurang minta pada saja pada Bi Mur," ucap Zulaikha saat menghidangkan minuman dibantu oleh asisten rumah tangganya.


"Terima kasih, Tante," jawab semua teman Asiah.


"Pantas saja Asiah cantik, Mamanya juga sangat cantik," bisik teman-temannya.


     Mereka pun mengerjakan tugas dengan cepat karena Asiah sudah memahami materi. Rayyan juga semalam mengajarkannya lagi.


"Teman-teman saatnya kita bereksis!" teriak salah satu teman Asiah dan disambut gembira oleh yang lainnya.


     Canda tawa para pemuda-pemudi itu terdengar sampai ke dalam rumah. Zulaikha pun senang melihat senyum dan tawa Asiah.


***


     Seperti rencana kemarin Rania juga mengerjakan tugas berkelompok di rumah kedua tangannya karena ada Alma ikut. Mereka hanya berempat tanpa adanya murid laki-laki. 


     Bukan hanya Rain yang pulang lebih cepat dan datang ke rumah mertuanya. Raihan pun juga pulang cepat karena mendengar dari Rain kalau ada teman laki-laki yang ikut kerja kelompok bersama Alin dan Rania.


"Alin, awas ya, kamu! Jika berani main lirik sama laki-laki lain. Aku tidak akan segan-segan memberikan hukuman," desis Raihan saat dia mendengar suara tawa dari ruang paviliun.


***


Apa Rain dan Raihan akan ikut tidur bersama istri mereka? Apa hubungan Asiah dan Rayyan akan diketahui oleh teman-temannya? Tunggu kelanjutannya ya!


Sambil menunggu Rain, Raihan, dan Rayyan up bab berikutnya. Yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya seru dan keren. Cus kepoin novelnya.


__ADS_1


__ADS_2