Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Keposesifan Rayyan


__ADS_3

     Selepas Magrib, keempat bocah itu mengaji bersama Cantika. Asiah yang baru dengar suara Rain mengaji, begitu memujinya.


"Mama Cantika, suara Rain sangat indah!" ucap Asiah.


     Rayyan yang mendengar ucapan Asiah langsung membelalakkan matanya. Dia tidak suka mendengarnya.


"Suara Raya juga bagus!" ujarnya nggak mau kalah.


     Cantika tersenyum mendengar kata-kata keponakannya. Asiah sendiri tidak sadar sudah buat Rayyan cemburu. Sementara Rain hanya diam saja karena nggak mau membuat Rayyan marah padanya.


"Sana rayu Raya, agar dia nggak marah," bisik Raihan pada Asiah.


    Asiah memegang tangan Rayyan dan menatapnya. Mata bulat Asiah yang bening membuat Rayyan luluh. Dia nggak jadi marah sama gadis kecil itu.


"Jangan marah, ya?" Asiah masih menatap Rayyan.


"Iya. Kamu jangan puji-puji lagi orang lain, ya?" Rayyan membalas ucapan gadis kecil itu. Asiah pun hanya mengangguk.


'Mereka masih bocah, tapi kelakuannya nggak kalah sama anak remaja,' kata Bintang dalam hati. Handphone miliknya berbunyi dan ada nama Zulaikha di sana. Dia pun menjauh dari sana.


     Rayyan dan Asiah berpelukan dan tersenyum. Keduanya sudah baikan. Raihan dan Rain pun hanya saling melirik.


"Rayyan itu marah karena cemburu," kata Rain.


"Iya. Apa kataku juga. Kalau dia itu sangat posesif terhadap Asiah," balas Raihan.


'Ya Allah, bocah yang belum genap berumur lima tahun itu sudah tahu apa itu posesif?' kata Cantika dalam hati.


'Mentari harusnya mengawasi si Kembar. Jangan sampai Raya jadi seorang yang sangat posesif bahkan cenderung ke sifat posesif negatif.'


    Setelah mereka mengaji, diteruskan dengan belajar pelajaran umum. Ternyata Asiah jauh tertinggal dengan ketiga bocah laki-laki itu. Ketika Cantika mencoba menguji pengetahuan dan kemampuannya.


"Kamu jangan sedih begitu. Nanti aku akan bantu kamu belajar," kata Rayyan menyemangati Asiah. Agar gadis kecil itu bisa semangat lagi.


"Apa aku ini anak bodoh?" tanya Asiah dengan menahan isak tangisnya.

__ADS_1


    Cantika merasa bersalah. Niatnya tadi ingin mengetahui kemampuan Asiah, agar mereka bisa sekolah bersama-sama di tempat yang sama.


"Tidak!" jawab semua orang.


"Kamu tidak bodoh, Sayang." Cantika menarik Asiah ke atas pangkuannya dan mengusap air mata yang sudah menumpuk. 


"Iya, mereka saja ke pintaran otaknya. Biarkan saja orang yang nggak normal itu," ucap Raihan sambil mengusap punggung Asaih.


"Apa maksud kamu kami ini tidak normal?" tanya Rayyan, mata dia melotot karena kesal sama kembarannya.


"Bukannya kamu juga sama saja," balas Rain sambil mulut manyun. 


"Eh .... Iya juga, ya!" Raihan malah ketawa garing sambil garuk-garuk pipinya yang mendadak gatal.


"Asiah juga ingin sekolah sama-sama dengan kalian nanti sampai besar," kata Asiah sambil menghapus air mata yang kembali jatuh.


"Aku janji akan lulus sekolah sama kamu nanti," kata Rayyan mengelus kepala Asiah dengan sayang.


"Gimana mau lulus bareng? Kita kan sekolahnya saja nggak bareng," gerutu Raihan dan malah mendapat tatapan tajam dari Rayyan. Akhirnya dia pun angkat dua jari tangannya tanda damai sambil tersenyum manis.


"Berkah Tante Cantika?" tanya Rayyan senang.


"Benarkah Mama Cantika?" tanya Asiah sambil menatap tidak percaya.


"Iya, kalau Raya bisa dapat gelar sarjana dengan lebih cepat. Lalu menjadi guru di tempat sekolah Asiah. Kalian akan bersama lagi nanti di satu sekolah," jawab Cantika.


"Yey! Berarti nanti kita bisa pergi dan pulang sekolah bareng," ucap Rayyan dan Asiah sambil ber-tos dengan kedua tangannya.


"Apa aku juga nanti harus jadi guru juga?" tanya Raihan dengan suara lemas karena dia nggak mau mengajar anak-anak nakal dan bodoh.


"Kalau aku mau jadi pemilik sekolahnya saja," ucap Rain dengan santai. Raihan malah mengaga mulutnya mendengar ucapan Rain.


***


     Zulaikha merasa tidak enak hati karena sudah membuat Asaih kesal tadi. Maka dia pun mendatangi kamar Yusuf, yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


"Om!" panggil Zulaikha sambil mengetuk pintu.


"Ada apa?" Yusuf membuka pintu masih menggunakan setelan koko karena baru menyelesaikan sholat Magrib.


"Kita susul Asiah, yuk!" ajak gadis yang kini sudah mengenakan hijab itu.


"Kenapa? Asiah kan mau menginap di sana," tanya Yusuf sambil melihat anak perawan itu menunduk dan memainkan ujung jilbabnya.


"Aku terus merasa bersalah sama Asiah. Karena tadi sudah membuatnya kesal. Dan ingin baikan lagi. Eh, ingin tidur bersama Asiah juga," jawab Zulaikha.


     Walau sebenarnya itu bukan salah Zulaikha. Namun, gadis nakalnya itu merasa karena dia, Asiah menjadi marah tadi. Maka, Yusuf pun menyetujuinya untuk menginap di rumah keluarga Bintang.


"Baiklah. Ayo!" Yusuf pun mengangguk.


"Aku akan telepon Bintang dulu," kata Zulaikha dengan riang.


***


     Yusuf, Zulaikha, Yunus, dan 3 orang bodyguard yang ditempatkan oleh Bintang untuk menjaga Zulaikha. Mereka pergi dengan mengendarai mobil yang dibagi menjadi 2 mobil.


     Awalnya, perjalanan mereka aman. Namun, saat di tengah kota ada beberapa mobil yang mulai mengikuti mereka.


"Sepertinya kita mulai diikuti," kata sopir pada Yunus.


"Ya. Kamu fokus saja menyetir. Biar aku yang memberikan perlawanan jika mereka menyerang," balas Yunus.


    Mendengar itu Yusuf dan Zulaikha mulai panik dalam hatinya. Mereka melihat ada mobil yang terus mengikuti mereka.


'Aku harus menghubungi Bintang!' Zulaikha pun mengambil handphone di dalam tasnya.


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus ya. Terima kasih.


     

__ADS_1


__ADS_2