
Teman-teman baca secara perlahan sampai selesai terus kasih like dan komentar. Semoga urusan kalian juga diberikan kemudahan.
***
BAB 85
"Hmmm, yang sudah merasakan ciuman pertama senang banget," kata Chelsea saat melihat Rania sedang menyisir rambutnya sambil bernyanyi riang gembira.
"Apaan, sih! Ciuman pertama kan nggak jadi. Lagian Kak Rain sudah mengembalikan ciuman pertama aku," balas Rania dengan tampang polosnya.
"Eh!" Chelsea dan Alin mengerutkan kening mereka.
"Aku tuh, tidak mau berciuman kecuali dengan laki-laki yang aku cintai dan mencintaiku," lanjut Rania.
"Emangnya ciuman bisa dikembalikan?" tanya Alin.
"Enggaklah! Ciuman itu adanya membalas ciuman. Ciuman kan, bukan barang atau benda yang bisa dikembalikan ke pemilik asalnya," jawab Chelsea.
Rania yang sedang merapikan jilbabnya, tiba-tiba tangannya terhenti. Dia memikirkan perkataan Alin dan Chelsea barusan. Dia juga baru sadar kalau tadi malah menjadi dua kali bibirnya menyentuh bibir suaminya.
"Aaaahk! Kenapa aku baru sadar?" Rania menghentakan kakinya dengan marah.
Alin dan Chelsea saling pandang dan menahan tawa. Mereka mentertawakan Rania karena otak jenius sahabatnya itu tidak sampai pada mengembalikan ciuman yang sudah terjadi.
"Apanya?" tanya Chelsea ingin menggoda Rania.
"Kalau cium itu adanya, mencium, dicium, berciuman. Kenapa aku baru sadar itu sekarang!" pekik Rania sambil menatap tajam kepada kedua sahabatnya itu.
"Tapi, kamu suka, 'kan?" tanya Chelsea dengan senyum menggoda.
"Pastilah. Aku juga suka kalau dicium oleh Kak Ian. Eh, mencium Kak Ian juga aku suka," aku Alin dengan jujur.
"Kalau berciuman?" tanya Chelsea menggoda Alin.
"Itu jangan ditanya lagi. Pastinya suka!" jawab Alin dengan semangat.
"Nanti Nia juga kayaknya akan suka deh melakuakan hal itu," lanjut Chelsea dengan nada bercanda.
Kedua gadis itu pun tertawa terkekeh. Sementara Rania, menatap sebal kepada mereka.
Tanpa ketiga gadis itu ketahui, ada dua orang pemuda yang sedang berdiri di depan pintu kamar mereka. Muka keduanya merah merona karena mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Kalian sedang apa berdiri di sini?" tanya Mega yang baru saja datang.
"Eh, tadinya mau ajak mereka ke sungai, tapi nggak jadi," jawab Rain sambil berjalan meninggalkan sepupunya itu.
"Ya, kayaknya lebih baik kita bermain bersama anak-anak Tahfiz saja," lanjut Raihan kemudian dia berjalan mengikuti Rain.
"Pasti ada sesuatu. Muka mereka jadi merah begitu," gumam Mega sambil mengikuti keduanya.
***
Asiah masih suka tinggal di kamar Rayyan. Dia bisa mencium wangi tubuh suaminya jika berada di sana. Setidaknya rasa rindu dia sedikit terobati.
"A, aku rindu. Apa kamu juga rindu sama aku?" gumam Asiah sambil melihat foto Rayyan yang ada di pigura.
"Aku janji akan menjadi istri yang penurut sama suami," lanjutnya lagi.
"Asiah," panggil Mentari.
"Iya, Bun," balas Asiah.
Mentari mendatangi Asiah dan mengajaknya pergi ke pengajian mingguan yang ada di masjid di komplek perumahan mereka. Meski dengan tubuh yang lunglai, Asiah pun mengganti bajunya dengan gamis dan jilbab yang lebar.
***
"Jema'ah yang dimuliakan oleh Allah. Tahukah kalian? Sholihah itu ukuran dan ada standarnya. Jadi bisa saja mengatakan bahwa kita sudah sholihah, tapi kenyataannya ada kondisi yang tidak kita penuhi. Wanita sholihah juga memiliki sifat-sifat khusus.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: “Wanita (istri) sholihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (QS. An-Nisaa’: 34).
Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan di antara sifat wanita sholihah adalah taat kepada Allah dan kepada suaminya dalam perkara yang ma‘ruf lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak berada di sampingnya," jelas ustadz.
Asiah merasa tertampar akan sepenggal ucapan ustadz. Dia belakangan ini sering tidak menurut kepada suaminya. Air matanya kembali membasahi pipinya. Dengan cepat dia menghapusnya.
'Ya Allah, ampuni aku karena sudah membuat suami hamba marah,' batin Asiah.
***
Terlihat Alin sedang memandangi sebuah pigura besar. Potret seorang perempuan berjilbab menggunkan jas steli dan senyum bahagia menghiasi wajahnya.
"Kenapa?" tanya Chelsea sambil ikutan melihat pigura foto itu.
"Siapa dia?" tanya Alin yang baru pertama kali melihat potret seorang wanita itu.
__ADS_1
"Dia Ibu Zahra. Anak Abah dan Ummi. Istri pertama Ayah Fatih," jawab Chelsea.
"Eh," Alin mengalihkan pandangannya kepada Chelsea.
"Ayah Fatih dulu pernah berpoligami. Ibu Zahra memaksa suaminya itu untuk menikah dengan sahabat baiknya, yaitu Bunda Mentari," jelas Chelsea dengan menatap sendu potret Zahra yang ada di depannya.
"Apa ini salah satu alasan Rania tidak mau dipoligami?" tanya Alin dengan suaranya yang pelan.
"Ya. Rania sempat membaca buku harian milik Ibu Zahra dan Bunda Mentari. Meski rumah tangga mereka baik-baik saja. Tetapi ada kalanya rasa cemburu merasuki perasaan mereka. Kamu bisa bayangkan sendiri pastinya cemburu dan sakit hati saat kita melihat laki-laki yang kita cintai bersama dengan wanita lain. Apalagi mereka bertiga tinggal bersama waktu itu," jawab Chelsea.
"Iya, pastinya ada air mata dari ketiganya," balas Alin.
"Kok, ketiganya? Yang benar itu keduanya," sanggah Chelsea.
"Tentu saja tiga orang. Kamu pikir Ayah Fatih tidak juga merasakan kesedihan dalam kehidupan rumah tangga berpoligami itu," ujar Alin dengan sedikit nyolot.
"Benar juga, ya? Aku tidak pernah mendengar cerita dari sudut pandang Ayah Fatih," aku Chelsea sambil manggut-manggut.
"Akan sulit berbuat adil. Meski mereka berusaha sebaik mungkin," pungkas Alin.
"Benar, namanya juga manusia," tukas Chelsea.
***
Sementara itu, Rania mendatangi Rain yang sedang mengajari seorang anak kecil mengaji di teras depan rumah Abah. Dia pun duduk di samping pemuda itu. Niatnya tadi Rania mau marah sama Rain. Namun, dia urungkan saat melihat ada seorang bocah juga di sana.
"Nia, jam berapa kalian akan pulang nanti?" tanya Ummi Mirna mendekati Rania yang sedang duduk selonjoran di teras.
"Insha Allah, setelah berjamaah Dzuhur, Ummi. Apa Abah dan Ummi tidak bisa ikut Nia ke Jakarta?" Rania berharap kedua manula itu ikut berkumpul bersama keluarganya.
"Kesehatan tubuh kita sudah tidak kuat melakuakan perjalanan jauh, Sayang. Apalagi sekarang sudah masuk ke musim penghujan. Rawan jatuh sakit," ujar Ummi Mirna.
"Bunda sama Ayah katanya bulan depan mau ke sini. Saat ini Bunda sedang sibuk menyiapkan acara pesta pernikahan Kak Raya," jelas Rania.
"Malah Raya duluan yang menggelar resepsi pernikahan, ya. Padahal dia itu menikah paling belakangan," ujar Ummi Mirna sambil tersenyum bahagia.
"Bener juga," gumam Rania
"Kak Rain, kita kapan menggelar pesta pernikahan?" tanya Rania kepada Rain sesudah bocah tadi pergi.
***
__ADS_1
Apa Rain dan Rania punya keinginan untuk membuat pesta pernikahan juga? Asiah sudah mendapatkan siraman rohani, nih. Apakah Rayyan akan kembali menemuinya? Tunggu kelanjutannya ya!