Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Dibuntuti


__ADS_3

 "Michael lajukan mobil kamu sekarang!" perintah Angkasa lewat earphone.


"Langit ... Peter ... kalian bersiap-siap!" Angkasa memberi perintah kepada pengawal dan adik kembarannya.


[Siap!] jawab Langit dan Peter bersamaan.


    Mobil berwarna hitam yang dikendarai oleh Michael mulai keluar area parkir bandara. Seperti yang sudah di interuksikan oleh Angkasa, yang sedang memantau dengan kamera pengawas dari tempat tinggi.


"Peter, berangkat sekarang!" titah Angkasa begitu mobil hitam yang di kendarai oleh Michael sudah keluar area bandara Internasional berbaur dengan kendaraan lainnya.


"Baik, Tuan!"


     Mobil yang dikendarai oleh Peter, Langit, dan Michel itu sama baik warna, model, bahkan plat nomornya dipasang dengan nomor yang sama. Mobil Michel belok ke arah kanan sedangkan mobil yang dikendarai oleh Peter ngambil jalan lurus.


     Mobil laki-laki yang menguntit terhalang 3 mobil dari mobil Peter dan terhalang 7 mobil dengan mobil yang dibawa Michael, sebelum mereka berpencar. Sehingga si penguntit mengikuti mobil yang dikendarai oleh Peter. Mobil Michel pun lolos dari si penguntit.


"Bagus, Peter! Dia mengikuti mobil kamu."


"Michael, kamu jangan kendurkan kewaspadaan kamu. Karena ini masih di jalanan kota. Bisa saja musuh juga ikut mengintai kita."


"Langit, jangan bergerak dulu. Kamu bergerak setelah sepuluh menit mobil yang dibawa oleh Michael lewat." 


[Oke!]


    Angkasa memberikan instruksi kepada semua orang. Dia juga ikut mengawasi lewat kamera satelit milik keluarga Andersson.


     Ternyata ada satu mobil putih yang mengikuti mobil Michael. Sudah lebih dari lima belas menit mobil itu mengikuti dari belakang.


"Michael putar arah mobil dan masuk kembali ke tengah kota!" perintah Angkasa untuk mengetes apa mobil itu benar mengikuti mobil Michael.


[Baik, Tuan Angkasa!] Michel pun mengikuti perintah anak majikannya.


***

__ADS_1


"Apa mobil di belang itu mengikuti kita?" tanya Zulaikha sambil menengok ke belakang.


"Oh, kamu sudah menyadarinya?" Bintang hanya melihat lewat kaca spion.


"Kak Angkasa terlalu lambat kasih instruksi! Aku sudah menyadarinya dari tadi!" Bintang kesal sama kembarannya itu.


[Aku bisa mendengar kamu, Bintang! Emangnya mudah mengawasi kamera sebanyak ribuan ini dan lokasi kalian yang terpencar!]


     Bintang malah tertawa terkekeh mendengar kembarannya sewot. Zulaikha yang merasa penasaran dengan mobil yang masih membututi mereka, terus melirik ke belakang.


"Kamu jangan cemas. Kita serahkan saja semuanya pada mereka," ucap Yunus yang duduk di kursi paling belakang.


     Sementara Yusuf hanya diam dan memeluk Asiah. Dia yang baru pertama kali terlibat langsung dengan orang-orang seperti ini, agak shock. Mobil melaju dengan kencang. Bergerak sesuai instruksi. Mobil-mobil yang membuntuti mereka. Dia merasa sedang bermain di film Hollywood.


"Om, tenang jangan takut! Ada tiga orang yang ahli ilmu beladiri di sini."


"Bukan begitu, hanya saja begitu berat perjuangan mau bertemu dengan calon mertua untuk meminta anak gadisnya ini."


    Zulaikha langsung tersenyum tersipu malu. Matanya sesekali melirik Yusuf yang duduk terhalang oleh Asiah.


"Siapa yang mau nyosor?" Zulaikha tidak terima dengan tudingan Bintang.


"Terlihat jelas dari tatapan mata kamu. Pandangannya terarah ke bibir si Om." Bintang dengan julid bongkar ada yang ada di pikiran Zulaikha.


    Si gadis nakal itu kini cemberut karena temannya membuka kartu miliknya. Dia merasa malu sama Asiah.


'Dasar ember tuh mulut Bintang. Bagaimana kalau Asiah bilang sama Ibu dan Abah kalau aku ingin mencium bibir si Om.' Zulaikha berteriak dalam hatinya.


"Kak Bintang, memangnya dari tatapan mata kita bisa tahu kalau mata Mama Zulaikha ingin mencium Ayah?" tanya Asiah polos.


"Bisa. Kalau kamu bisa membaca pikiran orang lain lewat gerak tubuhnya. Meski itu cuma gerakan dari pupil mata atau helaan napas," jawab Bintang.


"Kalau begitu coba apa yang ada di pikiran Asiah sekarang?" tantang Asiah pada Bintang. 

__ADS_1


    Bintang pun membalikan kepalanya menghadap Asiah. Dia menatap Asiah dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Kamu ingin pipis?" jawab Bintang.


"Asiah benaran kamu ingin buang air kecil?" tanya Zulaikha.


    Asiah pun menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia sudah dari beberapa menit yang lalu ingin ke toilet. Setelah tahu ada yang membuntuti mereka. Bayangan sewaktu di culik dulu, kembali terlintas dalam otaknya. Sehingga membuat dia takut dan ingin buang air kecil.


"Michael masuk ke restoran di depan sana!" titah Bintang.


"Baik, Nona."


"Tapi ...." Zulaikha melirik ke arah belakang. 


"Tenang saja. Dia tidak akan berani macam-macam." Bintang tahu kecemasan Zulaikha.


    Mereka pun masuk ke area parkir restoran itu. Mobil itu pun mengikuti mereka masuk ke sana.


"Bintang," panggil Zulaikha.


"Kamu di sini saja dengan Michael dan yang lainnya. Biar Asiah sama aku yang masuk ke toilet," titah Bintang.


[Bintang hati-hati! Sebentar lagi Peter akan lewat kawasan itu. Bertukar mobil 'lah dengannya nanti. Sebaiknya kalian semua keluar dan makan saja dulu di sana."]


"Oke, Kak Angkasa! Yuk, semuanya kita turun! Dan makan sepuasnya di sana." Bintang membuka pintu mobilnya.


"Beneran nggak apa-apa, nih! Kamu itu selalu santai meski dalam keadaan genting begini!" Zulaikha menggerutu dan ikut turun bersama Bintang.


"Kalau kamu nggak setuju, kenapa ikut turun?" Bintang membuka pintu dan mengajak Asiah untuk turun dan pergi ke kamar mandi.


"Itu karena kamu turun duluan!" Zulaikha memekik.


Yusuf hanya menghela napasnya. Dia baru beberapa menit saja duduk bersama Bintang dan Zulaikha di satu tempat terasa panas telinganya.

__ADS_1


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.


__ADS_2