Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Fatih & Ghazali


__ADS_3

     Fatih memasuki tiap ruang di lantai satu. Namun, keberadaan anak-anak itu belum ditemukan. Padahal waktu dia sangat mepet. Terlintas ide paling cepat untuk mengetahui keberadaan orang lain adalah dengan cara nekad dan bertaruh pada keberuntungan. Fatih menendang kaleng bekas minuman yang ada di sana ke arah dinding dengan keras.


Klontang! Klontang!


"Siapa di situ!" terdengar teriakan nyaring seorang laki-laki akibat bunyi yang sangat keras hasil dari benda berbentuk silinder.


"Yap, bagus! Ini adalah cara paling jitu dari sebab akibat," gumam Fatih senang.


    Fatih kini tahu keberadaan lokasi lawan. Ternyata ada di lantai dua tepat di atasnya.


"Suara apa barusan?" tanya Si Bos kepada Si Jaket Merah yang sedang mencari sumber suara.


"Tidak tahu, Bos," jawab anak buahnya.


"Coba kamu turun ke bawah dan cari tahu apa itu!" perintah Si Bos. Mau nggak mau Si Jaket Merah pun pergi menuju lantai satu.


     Begitu menginjakan kaki di anak tangga terakhir Fatih langsung memukul tengkuk dan dan menendang ulu hatinya dengan menggunakan lutut. Si Jaket Merah pun jatuh tidak sadarkan diri. Saking kerasnya serangan yang dilancarkan oleh Ayah Si kembar.


     Fatih pun membuka tali sepatu lawannya dan digunakan untuk mengikat tangan dan kakinya. Kaos kakinya pun dipakai untuk menyimpan mulut lawannya. Lalu, Si Jaket Merah itu di masukan ke ruangan yang ada di dekat anak tangga.


***


     Ghazali begitu masuk bangunan, dia berlari menuju lantai dua. Dilihat dari lantai yang berdebu ada satu ruangan yang hendle pintunya tidak kotor. Ini menunjukan kalau pegangannya itu sudah di pegang oleh seseorang. Didekatkannya telinga dia ke papan persegi panjang yang ada ukirannya itu. Sayup-sayup terdengar ada suara.


Klontang! Klontang!


"Astaghfirullahal'adzim!" gumam Ghazali terkejut


'Dasar Kak Fatih!' gerutu Ghazali sambil berlari ke pintu di ruang sebelahnya.

__ADS_1


     Ghazali menunggu dulu lawan lengah setelah barusan waspada karena ada suara keras dari lantai bawah. Setelah tidak terdengar suara dari luar, dia pun memutuskan melakukan pancingan terhadap lawannya. 


     Pintu ruangan itu diketuk oleh Ghazali. Salah satu penculik membukanya. Ternyata itu laki-laki berjaket hitam. 


"Siapa?" tanya Si Bos dari dalam.


     Sebelum Si Jaket Hitam bicara. Ghazali lebih dulu membungkam dan memukul tengkuknya bagian atas. Lawannya pun tidak sadarkan diri.


     Merasa ada yang aneh karena tidak ada jawaban dari anak buahnya. Si Bos pun tanpa aba-aba langsung membuka pintu dan menembakan pistolnya. Namun, di sana tidak ada siapa-siapa.


"Bawa anak-anak, masing-masing satu orang!" perintah Si Bos.


 Si sopir membawa Adam, Si Jaket Biru membawa Ibrahim, dan Si Bos membawa Asiah. Ketiga anak itu sudah membuka matanya karena terkejut saat mendengar suara keras dari kaleng yang ditendangnya oleh Fatih tadi. Wajah mereka memucat saat melihat Si Bos tadi melancarkan tembakannya.


***


     Si Sopir yang melihat ada orang berbaju serba hijau tua, langsung melancarkan tembakannya ke arah Ghazali. Dia senang saat ada peluru yang mengenai tubuh lawannya.


     Senyum kemenangan itu langsung pudar saat Ghazali menendang titik pusat tubuh Si Sopir. Dia pun mengerang kesakitan dan tangannya melepaskan Adam. Dengan sigap Ghazali menarik tubuh anak kecil itu ke belakang tubuhnya.


     Saat Si Jaket Biru hendak menembak Ghazali, ada tembakan yang mengenai tangan dan dan pistolnya hampir bersamaan. Dua tembakan dari Fatih, tepat mengenai sasaran.


     Lawannya itu juga mengerang ke sakitan. Ghazali melakukan serangan di detik berikutnya. Dia tahu kakaknya tidak mau mengulur waktu. Ingin cepat menyelesaikan ini secepatnya.


    Tendangan Ghazali terarah pada kepala si penculik itu dan bersamaan dia menarik tangan Ibrahim. Sehingga saat lawannya terpelanting, sandera bisa diselamatkan.


"Kalian tetap di belakang tubuh Om, ya!" perintah Ghazali kepada Adam dan Ibrahim.


     Kini tinggal keadaan musuh 3 orang. Dengan 2 orang dalam keadaan lemas dan terluka. Serta 1 orang masih bersenjata dan memegang sandera.

__ADS_1


"Kakak kamu lawan mereka berdua, ya! Aku akan lawan yang masih pegang pistol itu," titah Ghazali pada Fatih.


"Terserah kamu punya waktu dua menit lagi," ujar Fatih dan menyerang dua lawannya yang langsung tepar tak berdaya hanya dengan satu pukulan dan tendangan yang sangat cepat. Sampai-sampai Si Bos terpana dengan gerakan Fatih yang sangat cepat itu.


"Ke sinikan Asiah!" perintah Fatih pada Si Bos.


"Tidak mau! Anak ini adalah aset uang bagi kami. Dengan menculiknya kami akan mendapatkan uang yang sangat banyak," tolak Si Bos.


"Yang ada kamu akan masuk penjara. Bukan dapat uang karena sudah berurusan dengan Keluarga Khalid," Ghazali langsung menendang tangan Si Bos yang memegang pistol. Asiah sangat terkejut dan juga takut saat kaki panjang Ghazali hampir mengenainya.


"Ghaza! Jangan sampai membuat Asiah terluka. Bisa-bisa nanti Mentari marah sama Kakak," omel Fatih karena tindakan Ghazali.


"Aku sudah memperhitungkan jaraknya, Kak! Gila kali kalau aku sampai melukai Asiah. Bisa-bisa aku di keroyok sama si Kembar nanti," balas Ghazali.


     Pistol milik Si Bos sudah terlempar jauh. Meski begitu Asiah tidak dilepaskan olehnya. Justru penculiknya itu mengeluarkan pisau lipat.


"Jangan coba-coba mendekat! Atau aku bunuh anak ini," teriak Si Bos memberikan ancaman.


     Sementara itu, Baim dan Adam bersembunyi di balik peti kayu yang ada di lorong lantai dua itu. Mereka saling berpelukan karena sangat ketakutan.


"Ini orang bikin kesal saja," gerutu Ghazali.


"Satu menit lagi." Fatih mengingatkan. Waktu dia tidak banyak lagi.


"Iya Kakak." Ghazali memasang wajah kesal. Kakaknya itu kalau memerintah tidak boleh dibantah.


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2