
Asiah memaksa Rayyan untuk ikut ke villa Sulaiman yang akan merayakan ulang tahunnya. Meski Rayyan sudah menolak beberapa kali.
"Ya sudah kalau kamu nggak mau ikut," kata Asiah dengan memasang muka kesal dan pergi ke luar dari kamarnya.
Rayyan meninju udara untuk melampiaskan rasa kesalnya pada Asiah. Dia tidak mengizinkan ikut ke villa karena pastinya pesta mereka akan bebas. Tidak ada orang tua yang mengawasi mereka. Lagian Rayyan berencana mau ingin ikut Rain dan Raihan ke rumah Kiai Samsul, untuk bersilaturahmi dan memberi tahu tentang pernikahan mereka.
***
Asiah mendatangi kamar Yusuf dengan mata yang sembab. Dia ingin meminta izin pada Ayahnya agar bisa ikut ke villa Sulaiman bersama teman-temannya.
"Ayah, Asiah boleh ikutkan ke villa, banyak anak perempuan juga yang ikut," kata Asiah setelah menceritakan undangan pesta ulang tahun Sulaiman.
"Kalau Raya tidak memberikan kamu izin untuk tidak pergi, lebih baik jangan," balas Yusuf sambil mengelus kepala putrinya yang kini sedang memeluknya.
"Tapi Ayah, aku juga ingin bersenang-senang dengan teman-temanku. Apalagi teman kuliah juga banyak yang ikut. Di sana juga tempat menginap laki-laki dan perempuan di pisah karena villanya juga ada dua," ucap Asiah lagi.
"Tetap saja, tidak boleh Sayang. Kalau Raya tidak mengizinkan berarti tidak ada ridho darinya. Kamu ingat, jika suami tidak ridho, berarti Allah juga tidak ridho," ujar Yusuf dengan lembut.
"Makanya Asiah minta tolong sama Ayah, buat Raya memberikan izin pada Asiah. Asiah mohon," ucap Asiah dan melepaskan pelukannya dengan tatapan memelas.
"Asiah …," panggil Yusuf
"Cuma dua hari, Yah. Asiah juga ingin bermain dan berbagi kesenangan bersama teman-teman. Jarang-jarang Asiah melakukan hal ini," kata Asiah masih memohon dan kini matanya sudah berkaca-kaca.
"Ayah akan coba bicara dengan Raya dan mencari solusi terbaik buat kalian," ujar Yusuf akhirnya setelah melihat putrinya menangis.
"Terima kasih, Ayah." Asiah memeluk dan mencium pipi Yusuf. Kini senyum lebar menghiasi wajahnya.
***
Rayyan menemui mertuanya di ruang kerja. Awalnya tidak tahu alasan kenapa mertuanya ingin dia menemuinya hanya berdua saja.
"Ayah, ada apa?" tanya Rayyan begitu sudah menutup pintunya.
"Asiah meminta tolong padaku untuk memintakan izin agar bisa pergi ke villa. Apa kamu tidak bisa ikut juga bersamanya ke sana?" tanya Yusuf.
"Maaf, Yah. Raya tidak memberikan izin kepada Asiah karena acara itu tidak ada manfaatnya sama sekali. Justru takutnya malah jatuh ke maksiat. Laki-laki dan perempuan berbaur dalam pesta tanpa adanya pengawasan dari orang tua. Raya mengerti kalau mereka itu juga sudah dewasa. Hanya saja, Raya berpikir kembali kemungkinan apa yang akan terjadi di sana. Raya juga sudah menghubungi Sulaiman beberapa hari yang lalu. Dia bilang karena banyak yang ikut, maka dia pun menyewa villa yang ada di sampingnya untuk tempat perempuan menginap. Ini malah membuat Raya akan sulit mengawasi Asiah nanti," jawab Rayyan dengan gamblang.
"Bagaimana jika kamu dan Asiah menyewa villa secara pribadi. Kalian hanya datang saat acara berlangsung saja. Asiah bilang kalau dia ingin semakin dekat dengan teman-teman barunya di kampus. Juga teman-teman dia saat masih di SD dan SMP," kata Yusuf memberikan solusi kepada menantunya itu.
__ADS_1
"Tapi nanti pada kenyataannya tidak akan seperti itu, Yah. Asiah akan seharian bersama mereka selama dua hari itu. Kecuali saat tidur saja. Aku juga sudah memikirkan hal ini sebelumnya," balas Rayyan.
Yusuf pun diam. Dia menatap langit-langit dan memikirkan bagaimana mencari solusi atas keinginan putrinya itu. Dia juga merasa kalau tindakan yang diambil oleh menantunya itu juga tidak salah. Anak-anak muda kalau tidak berada dalam pengawasan bisa-bisa berbuat melewati batas.
"Lalu, apa kamu punya solusi agar Asiah tidak merengek terus karena ingin pergi bersama teman-temannya itu?" tanya Yusuf.
"Tadinya aku mau ajak Asiah ke rumah Kiai Samsul untuk bersilaturahmi bersama Rain dan Ian. Kita akan memberitahu mereka tentang pernikahan kami. Namun, Asiah tidak mau ikut ke sana dan memilih pergi ke villa. Ya, jadinya lebih baik diam saja di rumah jangan kemana-mana," jawab Rayyan.
"Kalian juga akan melangsungkan resepsi pernikahan bersamaan satu tahun pernikahan kalian, 'kan?" tanya Yusuf lagi.
"Iya. Bunda yang mengatur semua itu," jawab Rayyan.
"Kalau begitu kita sekeluarga pergi piknik saja bersama-sama," ucap Yusuf memberikan usul.
"Raya akan memberi tahu hal ini pada Asiah," balas Rayyan. Lalu, dia pun pergi dari ruang kerja mertuanya.
***
Berbeda lagi di ruang kerja Rain. Pemuda itu sedang menikmati pijatan dari sang istri. Sementara itu, Rania terlihat masam wajahnya.
"Kak, ini sudah lima belas menit 'kan?" Tangan Rania masih memijat pundak suaminya.
"Aku rasa sudah. Masa dari tadi belum ada lima belas menit, tangan Nia sudah pegal." Meski begitu tangannya masih setia memijat.
"Lima menit lagi," ucap Rain.
Rania hanya berdecak kesal karena dia yakin kalau sudah lebih dari 15 menit dia memijat tubuh suaminya. Saat ini dia sedang menjalani hukuman dari Rain karena sudah dibohongi olehnya. Ini gara-gara dia bilang kalau teman laki-lakinya juga ikut kerja kelompok bersama dengannya.
"Sudah, Kak," kata Rania.
"Empat menit lagi," balas Rain.
"Kenapa sih, jam di sini harus mati," keluh Rania.
Dalam hati Rain sedang merasa senang bisa menjahili balik istrinya. Dia sengaja mencopot batu baterai yang ada pada jam dinding. Dia juga mematikan jam digital yang ada di mejanya. Padahal kalau Rania jeli, di sana ada handphone milik Rain.
Sebenarnya Rania sudah lebih dari 30 menit dia memijat tubuh Rain. Hanya saja pemuda itu sedang ingin lama-lama bersama istrinya. Selain kesal karena sudah dibohongi masalah teman kerja kelompok. Dia juga kesal karena istrinya itu tertawa bersama dengan murid laki-laki tadi siang saat dia menjemputnya.
"Sudahkan, Kak?" Suara Rania kini melemah.
__ADS_1
"Tiga menit lagi," balas Rain.
"Kenapa lama sekali waktu berlalu? Rasanya kaki aku sudah mati rasa karena terlalu lama berdiri," rengek Rania.
Rain pun menarik tangan Rania dan mendudukan istrinya itu di atas pangkuannya. Hal ini membuat sang gadis terkejut dan deg-degan.
Kini muka keduanya saling berhadapan dalam jarak yang dekat. Netra mereka saling beradu bahkan bahkan hembusan napas bau mint dapat Rania rasakan.
"Kalau memijatnya sambil duduk seperti ini, kakinya tidak akan sakit, 'kan?" Tangan Rain melingkar di pinggang Rania.
"Kak, kalau Nia duduk seperti ini. Bagaimana caranya memijat?" tanya Rania dengan pelan karena terlalu gugup.
"Pijat saja pelipis kepala aku," bisik Rain.
Jangan ditanya bagaimana debaran jantung Rania saat ini. Mendengar suara bisikan suaminya saja dia merasa merinding deg-deg ser. Apalagi kini tatapan mereka saling mengunci.
Rania pun memijat kepala Rain dengan pelan. Napasnya beberapa kali dia tahan saat melihat bibir merah sensual milik suaminya. Otaknya kini mulai tercemar gara-gara Alin yang bilang kalau di cium sama suaminya itu bikin dia semakin bersemangat dalam menjalani hari-harinya. Kini dia jadi penasaran bagaimana rasanya berciuman.
"Kenapa?" tanya Rain dan ini membuat Rania terkejut.
"Tidak. Apa kepalanya kini sudah baikan?" balas Rania bertanya.
"Hn, terima kasih," ucap Rain dengan tatapan mata tidak lepas dari sang istri.
"Sama-sama. Sekarang sudah ada tiga menit?" tanya Rania.
"Satu menit lagi," balas Rain.
"Sekarang jam berapa? Kenapa aku ngantuk sekali?" tanya Rania.
"Entahlah. Pejamkan saja matamu," balas Rain sambil menarik tangan Rania dan melingkarkan pada lehernya serta menarik kepala sang istri agar bersandar pada bahunya.
***
😍😍 Rain so sweet banget deh kalau lagi cemburu. Apa Rayyan akan mengalah pada Asiah atau sebaliknya? Tunggu kelanjutannya ya!
Sambil menunggu Rain, Rayyan, dan Raihan up bab berikutnya. Yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya seru, loh!
__ADS_1