Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Setelah Malam Pertama


__ADS_3

    Suasana kamar pengantin Zulaikha dan Yusuf sungguh sangat berisik oleh suara-suara merdu mereka berdua. Si mantan anak perawan itu minta kepada suaminya lagi saat mereka bangun tidur. Padahal Yusuf menyetel alarm agar tidak bangun kesiangan untuk melaksanakan shalat tahajud. Namun, istrinya ingin mengulang lagi yang sepetiga malam awal mereka lakukan tadi. 


    Zulaikha yang awalnya takut, kini tidak lagi karena suaminya memperlakukan dia dengan baik. Sampai rasa sakit yang dia rasakan itu tidak seberapa dengan kebahagian dan kesenangan yang dia rasakan.


"A~ng, apa aku harus KB dulu atau jangan?" tanya Zulaikha setelah mereka selesai mengarungi surga dunia berdua. Keduanya berada di balik selimut.


"Aku ingin kamu jangan di KB. Tapi, jika belum siap punya anak, di KB juga nggak apa-apa. Aku tidak mau memaksa, Sayang," jawab Yusuf.


"Terus, apa kita akan setiap malam melakukan hal ... ini?" tanya Zulaikha malu-malu.


"Kalau kita sedang sama-sama ingin melakukannya. Kadang tidak setiap hari ingin melakukannya. Tapi, berbeda kalau masih pengantin baru," bisik Yusuf menggoda istri kecilnya.


"A~ng." Zulaikha menyembunyikan wajahnya di dada Yusuf.


"Ayo, kita mandi besar dan shalat tahajud bersama!" Ajak Yusuf.


"Apakah kita akan melakukannya juga di kamar mandi?" tanya Zulaikha dengan malu-malu.


"Melakuakan apa, Sayang? Bercinta?" tanya Yusuf. Zulaikha mengangguk.


"Tidak boleh melakukan hal seperti itu di kamar mandi, Sayang. Saat kita memulai bercinta kita mengucapkan nama Tuhan kita. Begitu juga setelah kita mengakhirinya, kita menyebut nama Tuhan kita lagi. Sementara kita dilarang menyebut nama Tuhan kita yang suci di toilet. Tempat kotor, tempat pembuangan, tempatnya para setan dan jin tinggal. Jadi, kita hanya mandi membersihkan diri," jelas Yusuf. Zulaikha pun mengangguk tanda mengerti.


"Yuk, sini Aang gendong!" Yusuf hendak menggendong Zulaikha. Namun, si mantan gadis nakal itu tidak mau karena malu.


"Ya sudah kalau tidak mau," Yusuf pun memakai celana boxernya.


"A~ng!" Zulaikha memanggil suaminya.


"Kenapa?" tanya Yusuf sambil menahan tawanya karena Zulaikha memasang wajah memberengut.


"Sa–kit," jawab Zulaikha.


    Yusuf pun menggendong Zulaikha setelah memakaikan kimono handuk. Yusuf pun melepas Zulaikha di depan kran tempat biasanya untuk wudhu.


"Ambil Wudhu dulu, Sayang. Sebelum kita melaksanakan hadas besar. Lalu berniat kita mau melaksanakan mandi junub. Berdoa menghadap kiblat. Baru setelah itu kita masuk kamar mandi. Jangan lupa doa sebelum masuk kamar mandi agar kita dilindungi dari jin kafir, jin laki-laki dan Jin perempuan."

__ADS_1


   Zulaikha menuruti apa yang dititahkan kepadanya. Toh dia memang tidak tahu menahu soal seperti itu.


    Mereka pun mandi bersama, setelah itu shalat tahajud berjamaah, dan Zulaikha mendengarkan Yusuf mengaji. Dilanjutkan dengan shalat Subuh berjamaah karena waktunya tidak terlalu lama berselang.


"Ang, aku ngantuk. Semalam tidur cuma sebentar," kata Zulaikha sambil bersandar kepada suaminya yang hendak melanjutkan bacaan Alquran tadi.


"Nggak langsung tidur di kasur saja?" tanya Yusuf.


"Nggak mau, inginnya sambil meluk," ucap Zulaikha yang memeluk lengan suaminya.


"Tunggu lima menit, tanggung ini."


    Setelah itu Zulaikha pun hendak tidur di atas kasur. Namun, Yusuf mau mengganti seprainya terlebih dahulu. Betapa malunya Zulaikha saat melihat ada noda darah di sana.


    Yusuf dengan cepat memasangkan seprai baru. Agar istrinya bisa segera kembali beristirahat.


"Sebenarnya, aku lebih suka kalau kamu tidak tidur lagi setelah Subuh. Tapi, karena kamu masih kelelahan dan mengantuk. Sebaiknya beristirahat saja," ucap Yusuf sambil mengusap pipi pucat istrinya dengan pelan.


"Aang mau ke mana? tanya Zulaikha.


"Mau mencuci ini dulu, Sayang," jawab Yusuf.


"Sayang, di sini ada darah milik kamu. Apa kamu tahu salah satu makanan ke sukaan Jin?" tanya Yusuf dan Zulaikha menggeleng.


"Darah. Selain tulang belulang dan kotoran, kaum mereka juga suka darah. Aku tidak mau darah perawan kamu jadi makanan mereka. Apa yang kita lakukan semalam itu sudah menjadi sebuah kenangan yang sangat indah dan tidak akan terlupakan," jawab Yusuf dan itu membuat wajah Zulaikha semakin merona.


***


    Sementara itu di hotel tempat William dan Bilqis menginap. Keduanya terlibat pembicaraan yang serius. Apalagi ketika anak gadis yang berjilbab itu menceritakan kisah hidupnya yang selalu dilanda kemalangan.


"Lalu sekarang kamu tinggal di mana?" tanya William.


"Aku tidak punya tempat tinggal. Mungkin akan menumpang di salah satu kenalanku," jawab Bilqis masih menundukkan kepalanya.


"Kamu kerja di mana?" tanya William lagi.

__ADS_1


"Di Perusahaan MAKMUR JAYA," jawab si anak perawan berkerudung lebar itu.


"Kalau begitu kamu bisa menempati apartemen aku yang tidak jauh dari sana," ucap William.


"Maksud Mister?" Bilqis kini mengangkat wajahnya.


"Aku punya apartemen yang jarang aku kunjungi di dekat kawasan gedung perkantoran itu," pungkas William sambil berdiri dan melipat sajadah miliknya. Sajadah usang yang selalu dibawanya kemana-mana. Hadiah pertama dari pujaan hatinya.


"Berapa uang sewanya? Tapi, aku minta keringanan di bayar tiap bulan setelah menerima gaji," ujar Bilqis.


"Tidak perlu. Aku tidak butuh uang. Kamu bisa membayarnya dengan merawat tempat itu dan menjaga barang-barang di sana jangan sampai rusak," balas si Bule.


***


    Bilqis dan William sudah sampai di sebuah apartemen mewah di salah satu gedung-gedung pencakar langit yang banyak dibangun di sana. Tubuh Bilqis gemetar, dia tidak menyangka akan tinggal di tempat semewah ini.


"Ini kamar kamu. Kamu jangan utak-atik barang-barang di sini," kata William.


"Ada dua tempat yang tidak boleh kamu masuki. Yaitu, kamar utama dan ruang kerja." William menunjuk dua pintu dari ruangan yang dimaksud.


"Baik, Mister." Bilqis mengangguk tanda mengerti. Kamu juga tidak perlu memikirkan pembayaran listrik dan air karena itu sudah masuk ke dalam dana pengeluaran perusahaan. Mereka yang akan membayarnya," ucap William.


"Satu lagi, jangan ubah kode pin!" William memberikan peringatan.


"Baik, Mister. Terima kasih. Aku tidak tahu apalagi yang harus aku ucapkan untuk rasa syukur atas kebaikan Mister kepadaku," ucap Bilqis.


"Semoga kamu nyaman tinggal di sini," kata William sebelum pergi.


     Bilqis pun mengucapkan syukur karena diberikan jalan dan kemudahan dalam mendapatkan tempat tinggal. Dia pun melihat-lihat semua ruangan dan barang-barang yang ada di sana. Kecuali dua ruangan itu.


"Tunggu ini siapa, ya?" Bilqis memegang sebuah pigura foto.


***


Foto siapa tuh, kira-kiranya? Kakak-kakak bisa Nebak nggak? 🤭🤭🤭Si Zul malah ketagihan 🙈🙈🙈 yang tadinya mau kabur.

__ADS_1


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa kasih dukungan buat aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote. Like dan Komen jangan lupa biar aku tambah semangat.


    


__ADS_2