Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 108. Alin Berubah


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia selalu.


***


BAB 108


     Rain mendorong tubuh Rania ke sebuah kamar yang sedang mereka lewati. Begitu pintu di tutup Rain langsung memeluk tubuh istrinya dengan penuh rasa sayang. Rania yang awalnya terkejut akhirnya diam dan membalas pelukan Rain. 


     Cukup lama mereka berpelukan tanpa ada yang bicara. Keduanya menikmati saat-saat seperti ini. Mereka merasa kalau satu sama lainnya memang sudah ditakdirkan untuk bersama.


     Mata Rain melirik menunggu orang yang menjadi saingan cinta lewat. Namun, sudah ditunggu lama, tidak terlihat bayangannya sama sekali.


'Dia ke mana? Kok tidak terlihat lewat, ya? Apa dia sudah lewat tadi tanpa aku sadari?' tanya Rain dalam hatinya.


     Tadi Rain melihat ada Ibrahim di seberang koridor yang agak jauh dari mereka. Makanya, dia bawa Rania sembunyi agar tidak terlihat oleh Ibrahim. Namun, saat memeluk tubuh Rania dia lupa segalanya. Sampai-sampai Ibrahim yang melewati pintu mereka, Rain tidak menyadarinya.


"Hem … hem!" terdengar ada suara.


     Rain dan Rania terkejut dan mereka pun mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Terlihat ada seorang nenek-nenek sedang duduk di atas brankar. Tubuhnya yang kecil dan kurus, serta baju putih yang dipakainya itu hampir menyamarkan keberadaan wanita tua itu.


"Maaf. Kami seenaknya masuk ke ruangan ini, Nek," ucap Rania dengan muka yang merah padam saking malunya.


"Kami permisi dulu, Nek," lanjut Rain dan membawa Rania ke luar ruangan itu.


     Rania menggerutu begitu keluar kamar inap tadi sedangkan Rain malah tertawa terkekeh. Sebenarnya perasaan keduanya itu bahagia sekaligus malu. Jika, Rain perasaan bahagia yang mendominasi. Sementara Rania, perasaan malu 'lah yang menguasai dirinya kini.


"Nia!" panggil seorang laki-laki.


     Rain mendengus sebal. Laki-laki yang dia coba hindarkan dari istrinya, justru malah bertemu saat ini di parkiran rumah sakit. Dia pun merangkulkan sebelah tangannya pada bahu Rania. Bahkan menatap tajam kepada Ibrahim.


"Pak Baim?" balas Rania.


"Nia, kamu sedang apa di sini?" tanya Ibrahim.


"Sudah menengok orang yang sakit?" jawab Rania dengan kepolosannya.


"Iya, juga." Ibrahim tersenyum malu-malu karena sudah menanyakan sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan.


"Maaf, Pak Baim. Kami permisi duluan karena sebentar lagi mau magrib," ucap Rain sambil membukakan pintu depan dan memasukan Rania, lalu menutup dengan cepat agar Ibrahim tidak mengajak bicara lagi.


     Ibrahim menatap tidak suka kepada Rain. Apalagi saat Rania membuka jendela mobil dan pamitan padanya. Terlihat Rain memasangkan sabuk pengaman dan mencium pipi Rania. Lalu, tersenyum senang.


"Akan aku rebut Rania dari kamu," gumam Ibrahim.

__ADS_1


***


     Waktu pun terus berputar dan usia kandungan Asiah sudah masuk ke usia 8 minggu. Bayi yang dikandungnya pun diperkirakan kembar. Betapa bahagianya Asiah dan Rayyan. Mereka kini mendiami rumah baru yang dirancang khusus sesuai keinginan Asiah.


     Rumah itu lebih kecil dari rumah Zulaikha, tetapi lebih besar dari rumah yang ditinggali oleh Raihan. Halamannya juga sangat luas seperti rumah orang tua Rayyan, meski secara luas masih jauh luas milik rumah Fatih.


"Abah akan tinggal bersama Asiah. Nenek dan Kakek juga, ikut tinggal di sini, ya?" pinta Asiah penuh harap kepada mereka.


"Kami akan tinggal sampai anak kamu besar, kalau begitu," balas Hajar.


"Ahk, terima kasih, Nenek. Asiah senang," pekik Asiah sambil memeluk erat wanita tua itu.


"Raya ucapkan terima kasih, semuanya mau ikut tinggal di sini. Semoga kerasan tinggal di rumah ini," lanjut Rayyan.


     Keluarga besar Rayyan dan Asiah berkumpul di rumah mereka dan besok adalah hari diadakannya pesta pernikahan Rayyan dan Asiah. Sekaligus pesta anniversary pertama pernikahan mereka.


***


    Pesta besar dan meriah di gelar di Hotel Luna, milik Fatih. Tema yang mereka usung adalah nuansa alam. Banyak pohon-pohon yang menjadi hiasan. Suasana adem yang menyegarkan mata. Membuat betah lama-lama di sana.


"Menantunya bunda, cantik sekali malam ini," puji Mentari saat melihat Alin mengenakan gaun pesta warna soft mocca dengan riasan wajah yang pas, tidak terlalu menor.


"Beneran Alin cantik, Bun?" tanya Alin dengan senyum malu-malu.


"Boleh, Bun?" tanya Alin tidak percaya.


"Boleh, kalau kamu mau. Nanti bunda suruh orang untuk bawakan kursi pengantin buat di taruh di depan," jawab Mentari sambil tersenyum.


"Asik! Aku akan jadi pengantin," pekik Alin senang dan itu membuat Fatih dan Mentari tertawa.


"Sana cari suami kamu! Ajak dia buat duduk di atas kursi pengantin nanti," titah Fatih.


"Siap, Ayah! Alin akan cari Kak Ian dulu," ucap Alin, lalu pergi mencari suaminya.


***


     Alin keliling mencari Raihan, tetapi dia tidak menemukan keberadaan suaminya itu. Dia pun mencari ke luar, tepatnya ke halaman hotel. Terlihat Raihan sedang menelepon, maka Alin pun berjalan ke arahnya. Tanpa Alin duga ada seorang wanita cantik dengan dandanan seksi dan menggoda, mendekati Raihan.


      Terlihat keduanya bicara, wanita itu terlihat tidak pernah melepaskan senyuman di wajahnya itu. Tatapan mata yang penuh damba pada Raihan, dapat dilihat oleh Alin.


"Siapa wanita itu?" gumam Alin.


"Mas Ian, Ayah dan Bunda mencari kamu. Katanya kita berdua juga harus jadi pengantin malam ini," kata Alin dengan suara yang dibuat sensual dan tatapan genit kepada Raihan.

__ADS_1


     Mendengar suara dan tatapan mata istrinya seperti itu, membuat Raihan mengaga dan mata melotot. Seumur-umur mengenal Alin, baru sekarang dia melihat sisi yang ini.


"Sa-yang," panggil Raihan tergagap.


"Iya, Mas," balas Alin masih dengan suaranya yang mengalun merdu.


     Jantung Raihan bertalu-talu seperti genderang perang. Bahkan dia seakan lupa bernapas dan kakinya serasa tidak menapak bumi.


"Raihan, siapa dia?" tanya wanita itu menatap ke arah Alin.


"Di-a …." Raihan suaranya tercekat saat melihat kerlingan mata Alin yang menggoda dirinya.


"Aku, istrinya. Kenalkan nama aku, Alin Adya Arkatama." Alin bukannya mengulurkan tangannya kepada wanita itu, tetapi malah merangkul lengan suaminya dengan erat.


'Dada … empuk,' batin Raihan semakin menjerit tersiksa.


"Eh, jangan bohong! Kapan Raihan menikah?" tanya wanita itu lagi.


"Mas, aku istri kamu, 'kan?" tanya Alin dengan mengerjapkan mata cantiknya.


"I-ya, Sayang." Raihan tidak bisa memalingkan wajahnya dari Alin yang terus menggodanya.


"Kita menikah sudah lama. Kasihan sekali kamu tidak tahu," balas Alin sambil memberi tatapan kasihan pada wanita itu.


"Nadine, kenalkan ini Alin, istriku. Kami sudah lama menikah sebenarnya. Hanya saja, resepsi pernikahan akan diadakan beberapa saat nanti. Sekarang Rayyan dulu yang menggelar pesta," jelas Raihan.


"Ih, Kakak. Kenapa mendengarkan Alin bicara tadi. Kata bunda kita ikut duduk di atas pelaminan bersama Kak Raya dan Kak Asiah," gerutu Alin merasa kesal. Capek-capek bicara dengan cara menggoda, malah nggak dimengerti oleh suaminya. Alin langsung memasang muka cemberut. Jika dilihat di mata Raihan sangat lucu.


"Alin, Saya~ng." Raihan balik menggoda Alin.


     Wanita bernama Nadine itu terkejut melihat Raihan yang menjadi berubah drastis menurutnya. Selama mereka berteman, dia belum pernah melihat Raihan seperti ini.


"Alin mau bicara sama ayah dan bunda, kalau Kak Ian nggak mau duduk di pelaminan sama Alin," ucap gadis barbar yang merajuk itu, lalu pergi.


"Sayang … tunggu!" teriak Raihan sambil berjalan cepat menyusul Alin.


"Kyaaaak. Kakak, apa yang kamu lakukan?" teriak Alin.


***


Raihan ngapain Alin, tuh 🙈? Apa Ibrahim masih bersikukuh mengejar Rania? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya dari Rain dan Rania. Yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru. Cus meluncur ke karyanya.

__ADS_1



__ADS_2