
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.
***
Bab 133
Yusuf membawa ke kamar milik Athaya yang kosong karena pemiliknya sedang mulai masuk kuliah di luar negeri atau lebih tepatnya ke Madinah karena mengikuti jejak teman tapi mesra yang kuliah di sana juga. Yusuf berhasil membuat istrinya yang cemberut kembali tersenyum. Proses pembuatan calon adik untuk Athaya berjalan dengan lancar. Setelah itu, mereka baru tidur di kamarnya bersama kedua cucunya yang lucu dan menggemaskan.
Zulaikha sangat berharap kalau bulan besok, dirinya itu sudah berbadan dua. Sebenarnya, Zulaikha sudah tidak melakukan KB sejak 5 tahun yang lalu secara diam-diam. Dia juga banyak mengkonsumsi makanan yang bisa menyuburkan kandungannya.
"Aang, sudah tidur?" tanya Zulaikha dengan suaranya yang sangat pelan.
"Hn," balas Yusuf karena sangat mengantuk. Apalagi tubuhnya perlu istirahat karena seharian ini dia itu terlalu lelah bekerja.
"Apa kita jadi pergi bulan madu?" tanya Zulaikha yang masih bersikukuh ingin melakukan liburan tanpa adanya gangguan oleh apapun.
"Saat ini belum bisa, Sayang. Di kantor masih terlalu sibuk. Kasihan jika meninggalkan mereka. Kita liburan ke puncak saja saat hari Sabtu dan Minggu. Bagaimana?" tanya Yusuf.
"Ya, sudah pergi ke puncak saja. Lagian kalau ada di rumah malah sibuk mengurusi pekerjaan terus," jawab Zulaikha.
***
Rain sedang membuat sarapan, seperti biasa kali ini Rania yang memeluknya dari belakang. Rain membuat nasi goreng kecap manis pakai telur, tempe, tahu, dan sosis.
"Ini coba!" Rain mengambil satu sendok dan menyuapi Rania.
"Hmmm, enak!" balas Rania lalu memberikan satu ciuman di pipi suaminya.
Nasi goreng sederhana dengan hiasan mentimun, tomat, dan kerupuk. Kini sudah tersedia di hadapan Rania. Dia memakannya dengan begitu lahap sampai minta tambah lagi dan Rain pun sangat senang, jika masakannya disukai oleh Rania.
"Cantiknya istriku, hari ini giliran cek up ke dokter kandungan, 'kan?" Rain mengusap bibir Rania bagian atas karena ada bekas susu.
"Iya. Mama Cantika mau ikut katanya," balas Rania.
"Katanya mama dan papa mau memutuskan tinggal di Indonesia," kata Rain.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Rania dengan nada senang.
"Iya. Apalagi kamu akan punya bayi kembar tiga. Papa paling bersemangat ingin segera menggendong bayi kita," jawab Rain.
"Lalu, perusahaan siapa yang mengurus?" tanya Rania mengingat perusahaan mertuanya itu perusahaan raksasa yang menggurita ke seluruh dunia.
"Ada kak Shine dan kak Sky. Kalau kak Angkasa kayaknya sibuk dengan perusahaannya sendiri dan rumah sakit. Tapi, sepertinya kak Langit akan ikut mengawasi karena dia yang ditunjuk sebagai penasehat oleh papa, dia juga kan sibuk dengan perusahaan sendiri juga," jelas Rain.
"Enak juga, ya. Kalau punya banyak anak. Jadi, bisa banyak yang membantu. Kata ayah sama saudara aku yang laki-laki, harus bisa menjadi orang yang lebih baik dan sukses dari orang tua kita. Kalau orang tuanya seperti papa Alex, kita sebagai anak harus bisa mencapai mana? Harta dia terlalu sangat banyak, dia juga orang yang sangat dermawan dan juga baik hati," tanya Rania.
"Justru papa ingin hartanya cepat habis, tapi di jalan yang di ridhoi oleh Allah. Namun, justru malah terus bertambah banyak hartanya. Beliau secara rutin memberikan bantuan untuk orang-orang yang ada di daerah konflik dan miskin. Papa itu punya banyak kenalan kepala negara atau pimpinan suku, sehingga memudahkan dia untuk memberikan bantuan kepada mereka. Aku juga ingin seperti papa," puji Rain.
"Nasib seseorang itu sudah punya garis takdirnya masing-masing. Setidaknya kita melakukan semampu kita agar menjadi yang lebih baik," ucap Rania.
"Kamu benar. Sekarang kamu sudah semakin dewasa, ya!" Rain menatap istrinya dengan bangga.
"Masa aku nggak dewasa-dewasa, usia aku sekarang kan duapuluh dua tahun lebih," balas Rania.
"Sudah mau menjadi ibu juga," tambah Rain sambil tersenyum.
"Lihat! Sepertinya anak-anak kita juga tidak sabar ingin bertemu dengan kita." Rain juga ikut menyentuh perut istrinya.
***
Asiah sedang memandikan Zahra sedangkan Rayyan menyiapkan sarapan. Mereka masih tinggal bersama dengan kakek dan nenek sedangkan Abah sudah meninggal dunia tahun lalu karena sudah sangat sepuh.
"Nek, mau sarapan dengan bubur?" tanya Rayyan saat menghidangkan sarapan untuk kakek.
"Nenek ingin sarapan nasi saja, kalau sarapan bubur selalu cepat lapar. Apalagi kalau diajak main oleh Fira dan Arfa. Baru sebentar perut sudah berbunyi lagi," jawab nenek Hajar dan membuat Rayyan tertawa.
"Tenang saja, Nek. Anak-anak sedang berada di rumah ayah dan Mama. Mereka sedang rindu sama kakek dan neneknya. Karena hari Sabtu dan Minggu kemarin mereka tidak bertemu," ujar Rayyan.
"Oh, iya. Yusuf dan Zulaikha pergi ke villa puncak, ya?" tanya nenek Hajar.
"Iya, semoga saja hajat mereka dikabulkan oleh Allah," jawab Rayyan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Zulaikha itu ada-ada saja. Masih ingin punya bayi padahal dia sudah punya cucu tiga orang," kata nenek Hajar sambil tertawa kecil.
"Bagus itu, selagi masih mampu, ya, buat saja." Kakek malah mendukung keinginan menantunya itu.
***
Berbeda dengan Raihan yang sibuk mengurus anaknya yang masih bayi. Dia yang memandikan dan mendandani sedangkan Aulia yang memasak sarapan direcoki oleh kedua anaknya yang cerewet.
"Mami, masukan telulnya dua!" perintah Ameena sambil mengacungkan tiga jarinya.
"Itu bukan dua. Itu tiga!" sanggah Amir pada kembarannya.
"Bialin, aku maunya begini!" Ameena mengembungkan kedua pipinya seperti kebiasaan Rania sambil bertolak pinggang.
"Kamu itu salah harus dibenelin," kata Amir bersikukuh kalau saudara kembarnya itu salah dan harus dibenarkan.
"Sudah kalian berdua, cepat panggil papi! Kita sarapan bersama," ucap Alin sambil memasukan nasi goreng buatannya ke wadah nasi.
Telur mata sapi, kerupuk, mentimun, dan nugget sudah menghiasi piring yang berisi nasi goreng. Kini Alin harus membuatkan bubur bayi untuk Ali.
Suara teriakan dan tawa kedua anaknya selalu menghiasai rumah mereka. Apalagi keduanya sangat cerewet sampai Zarfran dan Zafirah sering tutup telinga jika mendengar kedua bicara secara bersamaan.
"Sayang, jangan teriak-teriak seperti itu. Nanti tenggorokan kamu sakit dan nagis lagi," ucap Raihan sambil menciumi pipi anaknya.
"Ameena itu salah di kasih tahu malah ngeyel," gerutu Amir.
"Aku kan masih kecil, jadi tidak apa-apa'kan, Pi?" balas Ameena.
"Kalau salah dan diberi tahu yang benar, seharusnya kamu berterima kasih kepada Amir. Jangan keras kepala, tidak mau mendengarkan," ucap Raihan.
"Iya, maaf. Amir terima kasih sudah mengingatkan aku," kata Ameera sambil memeluk saudara kembarnya.
"Iya, sama-sama." Amir membalas pelukan kembaran suaminya.
***
__ADS_1
Apakah Zulaikha akan hamil atau gagal? Akankah kelahiran Rania lancar? Tunggu kelanjutannya, ya.