Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 126. Pertemuan Kembali Rain dan Rania


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.


***


BAB 126


     Rain pergi ke Yogyakarta untuk melihat perkembangan pembangunan hotel miliknya. Dia pun merasa puas dengan banyaknya kemajuan dalam proses pembuatan hotel sesuai keinginannya.


     Entah kenapa hari itu dia ingin jalan-jalan sambil mencari kuliner yang ingin dia makan. Hal ini biasanya dilakukan oleh istrinya, jalan-jalan mencari jajanan yang enak.


     Saat dia melewati sebuah taman dia melihat sosok yang tidak asing baginya. Wajah blasteran yang terlihat jelas sedang tersenyum kepada teman bicaranya.


    Kaki Rain melangkah lebar dan berdiri di depan wanita itu. Jantungnya bergemuruh, hatinya merasakan kebahagiaan yang membuncah.


"Ya Humaira," panggil Rain dengan tatapan mata penuh kerinduan.


    Rania yang sedang berbicara dengan temannya menghentikan obrolannya. Dia mengalihkan perhatiannya kepada sosok laki-laki berwajah tampan dan tinggi yang berdiri tidak jauh darinya.


"Kak Rain," lirih Rania sambil berdiri.


"Siapa?" tanya teman Rania.


"Suami aku," jawab Rania, lalu tersenyum ke arah Rain.


"Apa? Jadi, kamu sudah menikah?" pekik temannya.


"Ya," balas Rania dan berjalan ke arah Rain.


     Kalau tidak sedang banyak orang yang memperhatikan mereka sudah pasti Rain akan langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat.


"Aku sangat merindukan kamu, Ya Humaira." Rain melangkah dan langsung memeluk tubuh Rania dengan erat.


"Aku benci sama kamu, Kak!" ucap Rania.


"Nia, sebegitu bencinyakah dirimu kepada aku? Sampai sekarang belum bisa memaafkan aku," lirih Rain dengan menahan isak tangisnya karena hatinya merasa sangat sakit bahwa istrinya masih membenci dirinya.


"Pergilah, Kak! Aku tidak mau melihat kamu lagi," ujar Rania.

__ADS_1


"Tidak, Nia! Aku tidak mau! Maafkan aku." Rain terus meracau.


***


"Pak … Pak Rain, bangun!" seorang staf membangunkan Rain yang sedang tertidur di sofa kantor.


    Rain mengerjapkan matanya, dia melihat ke sekelilingnya ternyata masih di dalam kantor. Dia tanpa sadar sudah tertidur karena kelelahan.


"Astaghfirullahal'adzim, untung itu cuma mimpi. Bagaimana jika itu benaran terjadi? Nauzubillah min dzalik," gumam Rain. Lalu, dia pun ke toilet untuk mencuci muka. Dilihatnya jam di pergelangan tangan tinggal 15 menit menuju waktu sholat Zuhur. Maka Rain pun pergi ke masjid yang ada di dekat kantornya.


     Cuaca di Yogyakarta sedang panas, paling enak kalau ngadem di dalam masjid. Banyak orang yang menunggu waktu sholat sambil duduk-duduk di pelataran masjid.


    Setelah selesai sholat berjamaah, Rain ingin berjalan-jalan terlebih dahulu sebelum pergi makan siang. Dia melewati sebuah taman. Maka, dia pun masuk ke sana. Teringat akan mimpinya tadi, membuat rasa rindu dalam hati kepada istrinya kembali membuncah.


     Berbeda dengan yang ada di dalam mimpi, taman itu sepi tidak ada orang. Mungkin karena cuaca yang panas, membuat orang-orang memilih diam di rumah dari pada jalan-jalan ke luar.


      Mata Rain menangkap sesosok wanita berhijab merah dan hidungnya mancung. Saat perempuan itu mengangkat wajahnya, waktu serasa berhenti bagi Rain. Wajah yang selalu dia rindukan, kerlingan mata yang selalu menjerat dirinya, dan pipi mulus yang selalu merona jika dia goda.


"Ya Humaira," panggil Rain.


      Rania yang sedang beristirahat di taman, mendapatkan pesan, lalu dia membaca beberapa buah pesan di masuk secara bersamaan ke handphonenya. Sempat merasakan keberadaan seseorang. Dunianya serasa berhenti dan berpusat kepada laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya. Apalagi saat dia memanggil nama kesayangannya. Jantung dia bertalu-talu meminta meraih belahan jiwanya.


      Rain mencubit tangannya sendiri, takut kalau ini mimpi lagi. Ternyata dia merasakan sedikit rasa sakit dan sekarang yakin kalau ini bukan mimpi, terapi nyata.


"Nia!" Rain berlari ke arah Rania.


      Senyum Rania mengembang dan menyambut pelukan suaminya. Rain yang merasa sangat bahagia memeluk dan memutar tubuh Rania yang terasa semakin ringan.


"Alhamdulillah. Ya Allah terima kasih sudah mempertemukan aku kembali dengan istriku," ucap Rain menangis haru.


"Kak Rain, turunkan aku!" pinta Rania dengan berbisik karena dia merasa badannya berat, nanti tangan suaminya pegal.


"Aku merindukan kamu, Ya Humaira," ucap Rain masih bertahan memangku Rania.


    Rania menunduk karena posisi dia jadi lebih tinggi dari pada suaminya. Dia pun menyentuh wajah tampan Rain. Di usap secara perlahan dan dikecupnya bibir Rain sekilas.


     Rain yang merasa tidak puas pun menarik tengkuk istrinya dan menciumnya dengan mesra. Rasa rindu, cinta, dan sayang, mereka salurkan lewat ciuman itu.

__ADS_1


"Kak, sudah. Malu nanti dilihat sama orang lain," gumam Rania saat tautan mereka terlepas.


"Aku sangat merindukan kamu, sampai rasanya tidak mau melepaskan kamu, Sayang," ucap Rain menurunkan tubuh Rania, tetapi tidak melepaskan pelukannya.


     Kedua orang itu saling menatap dan melempar senyum. Tatapan mata yang berbinar memancarkan cinta dan kerinduan terlihat jelas di kedua orang itu.


"Maafkan aku," kata Rania dengan lelehan air mata.


"Tidak, kamu tidak salah, Sayang. Aku tidak menyangka kalau kamu begitu dekat. Aku mencari kamu keliling dunia ini. Menyebar banyak orang untuk mencari kamu. Ternyata kamu masih di Indonesia bahkan masih di Pulau Jawa. Aku tertipu dengan kata-kata mereka," balas Rain yang mentertawakan kebodohan dirinya. Bisa-bisanya dia kena tipu sama saudara-saudaranya.


"Padahal aku selalu dekat dengan Kakak, tetapi selalu berusaha bersembunyi dari Kakak," aku Rania jujur.


"Hn, jahat sekali kamu, Ya Humaira. Aku begitu menderita saking merindukan dirimu. Sampai-sampai aku selalu memimpikan dirimu dan itu terasa sangat nyata bagiku," ujar Rain sambil tersenyum geli.


"Kak Rain sedang apa di sini?" tanya Rania penasaran karena dia tidak menyangka kalau akan bertemu dengan suaminya saat ini.


"Sedang mengecek pembangunan hotel. Entah kenapa aku ingin datang ke Yogyakarta sendiri dan jalan-jalan ke sini. Allah menuntun aku untuk menemukan kamu, Ya Humaira," jawab Rain.


"Alhamdulillah, akhirnya Kak Rain menemukan aku. Aku sudah menunggu Kak Rain menemukan aku dengan usaha sendiri," ucap Rania diikuti tawa jahilnya.


"Nakal, ya kamu," ucap Rain, lalu mencium kening Rania.


"Aku merindukan kamu, Rania," bisik Rain.


"Aku juga merindukan Kak Rain," balas Rania dengan senyum manisnya dan Rain pun membalas senyuman itu.


"Aku selalu mencintaimu dan akan mencintai kamu selama hidupku," aku Rain dengan sungguh-sungguh.


"Aku juga mencintaimu dan akan selalu setia mencintaimu selamanya," balas Rania dengan senyum malu-malu karena Rain tidak hentinya menatap penuh damba.


"Ini nyata 'kan, bukan mimpi?" tanya Rain lagi-lagi takut kalau ini mimpi.


"Kenapa, Kak?" Rania malah berbalik bertanya.


"Biasanya aku jika bertemu dengan kamu pasti bilangnya ini mimpi," jawab Rain.


"Eee ... itu ...." Rania bingung mau bilang apa.

__ADS_1


***


Apakah Rania akan jujur dan menceritakan semua atau diam saja? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2