
Bilqis seakan terhipnotis oleh ketampanan William. Cepat-cepat dia menundukkan wajahnya. Dan memegang dadanya yang bergemuruh.
"Mi–Mister, duduk dulu! Saya mau mempersiapkan diri dulu. Karena baru selesai memasak," kata Bilqis dengan gugup.
"Oh, iya. Aku minta maaf karena kecepatan datang ke sini. Karena dua bocah itu ingin ikut. Nanti malah mengganggu," balas William.
"Raya dan Ian?" tanya Bilqis.
"Bukan. Tapi Ian dan Rain. Kalau Raya dia sedang dihukum tidak boleh keluar rumah. Masa hukumannya tinggal beberapa hari lagi," jawab William.
"Kenapa dihukum?" kini Bilqis mengangkat kepalanya. Dia tidak menyangka kalau bocah cerdas itu dihukum.
"Karena mencium anak gadis orang," bisik William di telinga Bilqis.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Bilqis kembali bergemuruh ditambah wangi segar dari tubuh William yang membuatnya tergoda untuk menghirupnya lagi. Bilqis juga merasakan desiran-desiran halus saat napas hangat terasa menembus kain penutup kepalanya.
"Asiah?" Bilqis menduga kalau gadis kecil itu yang sudah di cium oleh Asiah.
"Ya. Kedua bocah itu kini dipisahkan. Kasihan juga sih melihat mereka berpisah. Tapi ini juga demi kebaikan masa depan mereka."
"Lebih baik kita makan saja sekarang!" ajak William dan menuntun tangan Bilqis untuk duduk.
'Ya Allah, tangan besarnya memegang tangan aku!' pekik Bilqis dalam hati senang.
'Rasanya hangat dan … tidak! tidak! Hentikan pikiran kotor itu Bilqis.' Naluri Bilqis meronta antara ingin membalas genggaman tangan William atau melepaskannya.
"Tapi, Mister. Aku masih kotor dan bau asap. Takut mengganggu acara makan nantinya," kata Bilqis pelan.
__ADS_1
"Kamu masih terlihat cantik. Justru seorang wanita itu terlihat keren jika tercium wangi bumbu masakan dari bajunya," ucap William.
Lagi-lagi kata yang diucapkan oleh William membuat Bilqis melambung. Ingin rasanya dia berteriak senang.
"Apa istri Anda juga dulu seperti itu?" tanya Bilqis sangat penasaran.
"Hm, ya. Wangi dia tiap waktu berubah. Pagi hari tercium bumbu nasi goreng atau susu. Siang hari tercium wangi kue atau coklat. Malam hari tercium wangi bumbu masakan menu hari itu. Dan saat di kamar tidur wanginya beda lagi," jawab William.
"Kalau begitu kapan dia mandi?" tanya Bilqis sesuatu yang nantinya membuat dia malu.
"Dalam sehari semalam dia mandi lebih dari tiga kali," jawab William.
"Lebih dari tiga kali?" Bilqis membeo dengan muka merona.
"Ya. Karena keluarga Green itu punya kelebihan. Mereka kuat di atas ranjang dan menuntut pasangannya untuk siap diajak bercinta kapanpun dan di mana pun. Apa kamu tahu kalau orang-orang yang mengalir darah green di dalam tubuhnya, tidak akan sanggup berpisah lama dengan pasangannya," ucap William.
"Benarkah?" tanya Bilqis dengan wajah yang memerah.
"Lalu bagaimana Anda melampiaskan hasrat dalam diri Anda?" tanya Bilqis dengan malu-malu, tapi sangat penasaran.
"Hm, hasrat itu seolah ikut mati atau hilang jika kita tidak punya pasangan yang kita cintai," jawab William.
"Anda berarti bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta," kata Bilqis.
"Aku pacaran pertama kali dengan seorang gadis yang hidupnya sangat malang dan penuh derita. Karena itu aku selalu ingin melindunginya. Namun, dia malah selingkuh dengan musuhku. Pacaran kedua kali, dengan gadis enerjik yang selalu membuat aku bahagia. Dia pintar memanjakan diriku sampai aku melakukan kesalahan besar dalam hubungan kami karena kebodohan dan emosi sesaat. Inilah penyesalan dalam seumur hidupku. Melepaskan dia sehingga orang-orang yang aku cintai menghilang satu persatu."
"Apa dia itu … Nyonya Mentari?" tanya Bilqis.
"Ya, satu-satunya wanita yang benar-benar aku cintai. Aku kehilangan istriku, kakakku (kakeknya Fatih), anakku, dan ibuku. Dalam waktu yang hampir bersamaan. Itu adalah tahun terberat dalam hidupku," jawab William dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kenapa itu bisa terjadi?" Bilqis meneteskan air matanya. Dia ikut merasakan sakit ketika membayangkan perasaan si duda bule ini.
"Karena kebodohan aku, tidak percaya pada orang yang aku cintai. Istriku, kakakku, dan ibuku. Aku malah jatuh pada trik murahan dari orang-orang bodoh itu. Mereka memfitnah Mentari dan aku percaya begitu saja. Kalau mengingat itu lagi rasanya ingin mati saja," ucap William.
"Seharusnya Anda segera membuka hati untuk cinta yang baru. Mungkin dengan begitu bisa melupakan rasa sakit itu," ujar Bilqis.
"Sulit untuk aku lakukan. Meski banyak wanita yang berusaha menggoda, tapi aku tidak tertarik padanya. Aku juga tidak menutup hatiku. Jika, suatu saat nanti ada wanita yang mengisi hati ini, maka aku akan menjadikan pendamping hidupku," balas William.
"Bagus itu. Semoga secepatnya ada seorang wanita yang benar-benar tulus mencintai Anda, Mister." Bilqis tersenyum malu-malu.
"Kalau begitu kapan kita mulai makannya?" tanya William dengan tersenyum nakal.
"Astaghfirullahal'adzim, ayo kita makan, Mister!" ajak Bilqis. Dia pun melayani William layaknya seorang istri.
***
Setelah menidurkan Asiah di kamarnya. Zulaikha kembali ke kamar dia. Dilihatnya Yusuf sedang main handphone di atas kasur. Maka, dia pun mulai melancarkan godaan mautnya kepada sang suami.
"Jangan kasih tanda di tempat yang terbuka. Nanti Asiah banyak tanya lagi," bisik Zulaikha dengan lembut dan membuat Yusuf terkekeh.
Malam itu pun menjadi malam yang panas buat keduanya. Sebelum besok akan mengadakan gelaran pesta besar di salah satu hotel berbintang. Yaitu Hotel Artemis milik Bintang.
***
Seseorang di dalam jeruji besi tertawa terkekeh. Dia sudah membayangkan kekacauan yang akan terjadi di ballroom hotel, keesokan harinya.
"Tidak akan aku biarkan kamu hidup bahagia, Zulaikha."
***
__ADS_1
Bilqis muali Cepe-Cepe pada William 😁. Kira-kira apa yang akan terjadi di hari pesta pernikahan Zulaikha dan Yusuf. Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa Kakak-kakak aku yang baik untuk kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga 🤗. Kirim energi semangat kalian dengan Like dan Komentar ☺️☺️☺️