Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 137. Merayu Istri


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.


***


BAB 137


Anak Chelsea dan Mega diberi nama Queensa. Bayi berwajah bule itu memiliki ukuran badan yang sangat besar. Jauh dibandingkan dengan bayi-bayi milik Rania yang kecil-kecil. Bahkan semua orang cepat pegal tangannya saat menggendong Queensa.


"Ini bayi gede banget, sakit pinggang pastinya nanti kakek Erlangga dan Opa Ghaza," ucap Alin saat menjenguk bayi sahabatnya itu.


"Habis lihat bayi Nia yang mungil-mungil, lalu lihat bayi Chelsea, terasa benar perbedaannya," lanjut Raihan.


"Padahal saat hamil lebih besar perut Nia dibandingkan Chelsea," kata Alin.


"Ya tentu saja besaran perut Nia. Dia kan melahirkan bayi kembar tiga sedangkan aku hanya satu bayinya," sanggah Chelsea.


"Hehehe, benar juga. Maksud aku, kenapa kamu saat hamil perutnya hampir sama dengan Nia yang punya bayi kembar tiga. Seharusnya kamu hamil kembar juga," kata Alin dengan mengerucutkan bibirnya.


"Ini sudah jatah dari sana-Nya," balas Chelsea dan membuat Raihan dan Mega tersenyum.


"Iya, Nia kelebihan satu itu anaknya. Seharusnya dia anaknya dua juga seperti aku dan Kak Asiah. Lalu, yang satunya dikasih sama kamu. Jadi, kita semua punya anak kembar," ucap Alin sambil menggerakkan jari-jari di kedua tangannya.


"Sudah, Sayang. Kamu ini ada-ada saja. Allah yang memberikan seseorang hamil mau satu bayi, dua bayi, atau tiga bayi. Kita manusia hanya bisa berusaha, tetapi Allah 'lah yang menentukan." Raihan merangkul dengan gemas istrinya itu.


'Kalau bukan di rumah orang lain, sudah aku kurung dia di kamar,' batin Raihan.


Mega dan Chelsea hanya bisa tertawa melihat kelakuan Raihan dan Alin. Meski sudah bertambah usia, Alin masih selalu saja bisa membuat Raihan beristighfar sambil mengelus dada.


***


Acara aqikah bayi Rania berjalan lancar. Khalid yang sudah sangat tua renta pun menangis senang karena masih diberikan umur untuk melihat buyut yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Kakek buyut, Fahima ingin di gendong, nih!" ucap Rania.


"Sini kakek buyut pangku sambil duduk, ya." Khalid sudah siap menerima bayi perempuan mungil itu.


"Nenek buyut juga mau gendong satu," kata Aurora yang kini duduk di samping suaminya.


Rania pun menyerahkan Fahreza kepada neneknya. Bayi laki-laki itu pun tidur terlelap di pangkuan nenek buyutnya.


"Ayah gendong yang satu lagi," kata Fatih sambil menggendong Fairel dari tangan Rain.


***


Acara aqikah anak-anak Rania dihadiri oleh semua keluarga besar Hakim. Bahkan William dan Bilqis pun sengaja datang ke Indonesia bersama anak-anaknya, Quinza dan Xavier.


"Mas lihat mereka lucu-lucu," kata Bilqis menatap ketiga bayi yang sedang tertidur di boks bayi.

__ADS_1


"Keturunan Alex selalu unggul," gumam William merasa iri.


"Apa kita buat satu lagi?" bisik Bilqis sambil tersenyum jahil.


"Tidak! Sudah cukup bagiku dengan Quinza dan Xavier. Aku tidak mau melihat kamu kesakitan lagi. Apalagi usia kamu sudah tua, Bunny," pungkas William menolak keinginan istrinya itu.


"Terima kasih, Mas. Kamu memang yang terbaik," balas Bilqis dan memberikan kecupan pada suaminya.


"Setelah dari sini kita ke Bali, ya! Kita bermain ke hotelnya Rain. Lumayan liburan gratis dengan fasilitas fantastis," bisik William.


"Bersama anak-anak?" tanya Bilqis.


"Biarkan saja mereka bermain bersama si Trio R. Merecoki rumah mereka bersama bayi-bayinya," jawab William dengan senyum jahilnya.


"Ish, Mas. Seperti bulan madu saja," ucap Bilqis sambil tersipu malu.


"Memang kita mau pergi berbulan madu. Jadi, jangan bawa anak-anak," tukas William dan Bilqis pun mengangguk.


***


Sementara itu, Zulaikha dan Yusuf masih berusaha membuat adik untuk Athaya. Hasil bulan madu ke luar negri ternyata gagal juga.


"Aang, hari ini aku sudah bersih, loh," bisik Zulaikha malu-malu.


"Semoga bulan besok ada kabar gembira buat kita," balas Yusuf. Dia sangat merasa kasihan kepada Zulaikha yang begitu menginginkan bayi lagi.


"Lebih baik di rumah saja, Sayang. Malah akan buang-buang waktu, jika kita pergi kesana-kemari," balas Yusuf.


"Kalau begitu, ayo!" ajak Zulaikha.


"Sayang, ini masih siang. Sebentar lagi juga waktu adzan Magrib. Setelah sholat Isya saja, ya?" tawar Yusuf dan di iyakan oleh Zulaikha.


***


"Aa, lihat! Gigi Zahra sudah muncul," pekik Asiah senang.


"Benarkah? Mana, sini aku lihat?" Rayyan pun mendekati istrinya yang baru saja selesai menyusui putri bungsu mereka.


Terlihat ada garis putih di gusi Zahra. Tadi Asiah merasakan agak sakit saat menyusui karena Zahra menyusu sambil mengigit-gigit.


"Tidak terasa, ya. Putri kita sudah semakin tumbuh besar," kata Rayyan.


"Iya. Padahal berasa baru kemarin aku melahirkan Zahra," balas Asiah.


"Kita tambah satu lagi, ya!" pinta Rayyan sambil menyeringai jahil.


"Aa, Zahra saja masih seumuran jagung. Sudah mau minta bayi lagi!" pekik Asiah dengan mata melotot.

__ADS_1


"Bayi yang wajahnya mirip kamu banget nggak ada bulenya. Seratus persen produk Indonesia," kata Rayyan sambil mengacungkan dua jari di tangan kanannya.


"Kenapa harus mirip sama aku?" tanya Asiah tidak mengerti.


"Karena kamu sangat cantik, Sayang," jawab Rayyan dan membuat Asiah tersenyum tersipu malu.


"Mau, ya?" pinta Rayyan lagi untuk meyakinkan istrinya.


"Iya, boleh. Jika, itu membuat Aa senang. Asiah pun akan lakukan," balas Asiah.


"Tapi, kamu ikhlas 'kan, menjalaninya nanti?" tanya Rayyan.


"Tentu saja saya ikhlas. Membuat Aa bahagia itu adalah cita-cita aku sampai akhir nanti," jawab Asiah.


"Terima kasih, istriku yang baik!" Rayyan pun memberikan satu kecupan di keningnya.


***


Berbeda dengan Raihan yang juga sedang berusaha merayu Alin. Dia mengajak makan malam romantis berdua. Mumpung kedua mertuanya menginap di rumah. Raihan memanfaat waktu ini.


"Wah, indah sekali, Mas!" pekik Alin girang.


"Kamu, suka?" tanya Raihan dengan mata yang berbinar karena istrinya terlihat menatap takjub pada dekorasi restoran di ruang privasi.


"Iya, aku suka, Mas. Sangat indah dan terlihat seperti di negeri dongeng," jawab Alin.


"Kita makan dulu, yuk!" ajak Raihan.


Rayyan dan Alin pun makan malam dengan menu kesukaan masing-masing. Setelah semuanya selesai makan. Raihan menggenggam tangan istrinya.


"Sayang, Ali sudah bisa apa sekarang?" tanya Raihan.


"Sudah bisa jalan," jawab Alin tanpa curiga.


"Berarti sebentar lagi dia di sapih, minum ASI, ya?" tanya Raihan lagi.


"Ya, masih lama dong, Mas. Mereka akan disapih saat usia dua tahun sama seperti si kembar," jawab Alin.


"Usahakan disapih lebih awal, ya. Aku mau buat adik lagi untuk Ali," bisik Raihan.


"Apa? Gila kamu, Mas!" pekik Alin sambil memukul tubuh Raihan bertubi-tubi.


"Dengarkan dulu, aku mau bicara," kata Raihan sambil menahan pukulan dari kedua tangan Alin.


"Apa?" Wajah Alin terlihat kesal.


***

__ADS_1


Kira-kira Raihan bisa membujuk Alin atau enggak, ya? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2