
Alin yang terpana akan ketampanan suaminya dan jarak yang begitu dekat membuat jantung dia berdebar-debar. Wangi tubuh pemuda itu mulai menusuk hidungnya dan membuat dia ingin menghirupnya banyak-banyak.
'Sadar Alin, jangan mau dilecehkan oleh laki-laki!' Seolah ada bisikan pada Alin.
Saat tersadar dengan posisi mereka, Alin pun membenturkan kepalanya pada hidung mancung Raihan sehingga pemuda itu mengerang kesakitan.
"Awww, Alin!" teriak Raihan sambil memegang hidungnya. Dia takut tulang hidungnya patah.
"Ingat, Kak. Jangan melakukan pelecehan gadis di bawah umur!" kata Alin sambil berlari setelah keluar dari mobil.
"Dasar bocah bau kencur! Ini sakit sekali," ucap Raihan sambil melihat hidungnya pada kaca spion.
"Awas, tunggu saja pembalasan aku!" gumam Raihan dengan penuh kekesalan.
***
Alin sedang bermain game lewat handphone. Dia tidak sadar kalau hari sudah sore dan Raihan pun sudah pulang ke rumah.
Betapa terkejutnya Raihan saat melihat Alin yang rebahan di sofa sambil bertumpang kaki. Kadang terdengar umpatan dari mulutnya.
"Nih, rasakan! Mampus kalian!"
Raihan sudah berdiri di samping sofa dan Alin membelakanginya. Dia pun memperhatikan istrinya sejenak.
"Jangan coba-coba melawan Alin, atau kalian akan mati. Mampus kalian! Mam—" Raihan mencomot mulut Alin yang sedang mengumpat. Sehingga gadis itu terkejut dan mendongakkan kepalanya melihat siapa yang sudah mengganggunya.
Alin melihat ada suaminya yang menatap dengan tajam dan tangan satunya membungkam mulut yang tadi sedang bicara. Dia pun menarik tangan yang mencomot bibirnya.
"Kakak apa-apa, sih! Datang-datang bukannya memberi salam, ini malah main comot bibir orang," gerutu Alin sambil mendudukkan dirinya.
__ADS_1
"Aku sudah memberikan salam. Tapi kamu tidak membalasnya. Malah umpatan kasar yang keluar dari mulut kamu. Jika, nanti aku mendengar kamu main game sambil mengumpat, bukan hanya aku comot bibirmu ini. Tapi akan aku ***** habis bibirmu itu," kata Raihan dengan penuh penekanan.
Alin langsung menutupkan bibirnya dan melipatnya ke dalam. Dia benar-benar takut kalau nanti suaminya akan benar-benar melakukan yang diancamkan padanya.
Raihan pun duduk di sofa dan Alin menggeser masih dengan bibirnya dilipat ke dalam. Dalam hati Raihan dia menertawakan kelakuan istri kecilnya ini.
"Ada yang perlu aku bicarakan dengan kamu. Karena sekarang ini aku adalah suami kamu, maka sudah sepantasnya aku memberi nasehat sama kamu," kata Raihan sambil memandang Alin begitu juga sebaliknya gadis itu menatap wajah suaminya.
'Ya Allah, semakin dilihat suami aku ini ternyata ganteng, ya.' Alin malah terpesona pada ketampanan wajah Raihan dan tidak mendengarkan ucapannya.
"Alin? Alin! Hey, Alin!" panggil Raihan sambil menggoyangkan bahu istrinya.
"Iya, Kak. Ada apa?" Alin baru tersadar kembali ke dunia nyata.
"Kamu harus dengarkan kata-kata aku ini. Dengarkan dengan baik-baik." Raihan bicara dan Alin mengangguk.
"Jangan berkata kasar atau mengumpat. Sambut suami saat pulang kerja dengan senyuman terbaik kamu. Menyiapkan segala keperluan aku, termasuk menyediakan pakaian. Kalau kamu membantah, maka bersiap-siaplah untuk mendapat hukuman," terang Raihan kepada Alin.
"Kamu minta dicium?" lanjut Raihan karena Alin yang malah memasang wajah begitu ketika sudah dinasehatinya.
"Ih, Kakak apa-apaan! Itu namanya pelecehan anak di bawah umur!" teriak Alin langsung berdiri dan lari ke kamar mandi.
"Dasar bocah bau kencur!" geram Raihan.
***
Setelah kejadian kemarin malam, Raihan tidur di sofa karena ke dahuluan oleh Alin yang menguasai tempat tidurnya. Kini giliran Raihan yang langsung tidur di ranjang tepat di tengah agar istrinya giliran tidur di sofa.
"Ish, keduluan. Giliran aku harus tidur di sofa," gerutu Alin sambil mengambil bantal dan selimut.
__ADS_1
Raihan yang pura-pura tidur pun, bersorak dalam hati. Dia merasa senang bisa menggoda anak gadis itu.
Alin pun tidur di sofa sambil mengarah pada Raihan. Dia tidak bisa tidur. Pikirannya kembali melayang bagaimana dia bisa sampai menjadi seorang istri dari Raihan.
"Jantung aku berdebar lagi," kata Alin bermonolog sambil memegang dadanya.
"Apa ini keberuntungan atau ke buntungan, ya, buat aku?" tanya Alin pada dirinya sendiri.
Cincin emas putih yang memiliki berlian putih kini tergantung di kalungnya. Harga perhiasan yang bisa bikin sebuah rumah itu, terasa berat menggantung di lehernya.
"Kenapa cincin kawin ini terlihat sangat cantik? Apa karena harganya mahal?" gumam gadis remaja itu sambil tiada henti mengagumi keindahannya.
Kilauan dari permata yang memancarkan berbagai warna yang berubah-ubah itu sangat indah di mata Alin. Tadi dia sempat menolak cincin kawin itu setelah tahu harganya dari Rania. Namun, ibu mertuanya meminta dia untuk menerima itu.
"Apa aku dan Kak Ian bisa saling mencintai?" gumamnya.
"Aku tidak mau ada perceraian."
Air mata Alin meleleh mengingat bagaimana dulu kedua orang tuanya sempat berpisah. Dia tidak mau mengalami hal itu dalam hidupnya. Mereka saling mencintai, tetapi menyakiti dan berujung pada perceraian.
Perceraian orang tua kadang meninggalkan trauma pada anak. Salah satunya Alin. Dia harus menjadi saksi bagaimana kisah cinta orang tuanya dulu. Dia juga ambil alih dalam menyatukan kembali cinta mereka.
"Aku tidak mau jadi janda," gumam Alin.
"Sejak kapan kamu janda?" tiba-tiba Raihan sudah jongkok di sampingnya.
"Kyaaaak!" teriak Alin saking terkejutnya.
***
__ADS_1
Akankah Alin dan Raihan bisa saling mencintai? Bagaimana kisah kehidupan rumah tangga mereka? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu kasih dukungan buat aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.