
Alin, Chelsea, dan Rania sedang makan di cafe. Rencananya 1 jam lagi mereka akan menonton bioskop yang ada di mall. Tanpa sengaja ada Akbar dan teman-teman lainnya yang juga berkunjung ke sana.
"Hai, kalian sedang apa di sini?" tanya Barkah salah satu teman mereka.
"Ya, sedang makan lah? Masa kita sedang tiduran di sini," jawab Alin sambil mengunyah potato stik miliknya.
"Eh, ada Rania juga ternyata," ucap Barkah sambil tersenyum menggoda pada Rania.
"Iya, Barkah. Di mana ada Alin dan Chelsea di situ pasti ada Rania. Dan semua orang tahu itu," balas Rania dengan senyum tipisnya.
"Benar juga," kata Barkah sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum malu-malu.
"Bolehnya kita gabung di sini?" tanya Charles teman mereka yang turunan Inggris-Indonesia.
Ketiga gadis itu saling lirik. Lalu Rania menggelengkan kepalanya.
"Alin … Rania, masa kalian tega sama kita-kita, sih. Biar seru mending kita berkumpul bersama," ucap Akbar.
"Ya, boleh lah. Tapi, kursinya tersisa satu," balas Alin.
"Tenang saja. Aku akan minta dua kursi lagi," ujar Charles.
Tidak lama kemudian ada pelayan yang mengantarkan 2 buah kursi. Charles buru-buru duduk di samping Rania. Sehingga, Barkah mendengus karena dia juga mengincar posisi duduk di samping putri keluarga Hakim.
Akbar duduk di samping Alin dan mereka semua bersenda gurau dan tertawa terkekeh bersama. Tidak peduli dengan ke adaan sekitar. Hampir 1 jam mereka berada di sana. Barkah dan Alin adalah tokoh yang paling banyak bicara dan jadi bahan candaan mereka karena Barkah juga orangnya humoris.
Orang-orang di sana memperhatikan ke arah meja mereka. Apalagi sosok Chelsea yang berwajah bule tetapi berhijab. Berbeda dengan Rania yang terlihat gadis campuran bule meski paling cantik di antara mereka bertiga. Sosok mungil Alin di antara para penguni meja juga membuatnya lucu dan menggemaskan.
***
Mega yang sedang mengontrol keadaan di mall, tanpa sengaja melihat kelompok anak muda yang sedang asik bercengkrama. Dia melihat ada sepupu, ipar, dan kekasihnya di sana.
"Aku harus beri tahu mereka, nih!" Mega mengambil video para pemuda dan pemudi yang sedang tertawa bersama.
Mega pun kembali ke ruangannya. Dia meminta ruang kontrol untuk mengawasi kelompok anak muda itu.
Tidak sampai 15 menit kedua orang yang sedang dia tunggu-tunggu, akhirnya datang. Terlihat jelas aura ketidak sukaannya di wajah mereka.
"Jangan menatap aku seperti itu! Aku hanya memberi tahu kalian kalau banyak orang yang siap memangsa milik kalian," ujar Mega.
__ADS_1
"Kalau aku, sih, biasa saja. Karena Chelsea sudah cinta mati sama aku. Kalau kalian berdua," Mega diam sejenak sambil tersenyum jahil, "Masih samar-samar, 'kan?"
"Tidak, Alin sudah bilang cinta sama aku," ucap Raihan.
Kedua pemuda itu melirik ke arah Rain dan menatapnya penuh tanda tanya. Mereka penasaran akan perasaan Rania padanya.
"Apa? Kenapa kalian menatap aku seperti itu?" Rain tidak suka jika saudara-saudaranya itu mengintimidasi padanya.
"Rania itu suka nggak sama kamu?" tanya Mega.
"Salah. Yang benar itu harusnya tanya begini, apa hati kamu sudah suka sama Rania? Atau masih pada Amira?" tanya Raihan.
Rain bukannya menjawab dia malah pergi dari ruang kerja Mega. Hal ini membuat kedua pemuda lainnya melongo.
"Kok, dia malah kabur?" Mega dan Raihan pun pergi mengikuti Rain
***
"Hei, filmnya sebentar lagi akan diputar!" pekik Charles sambil melihat jam tangannya.
"Ayo, kita bergegas ke bioskop!" ajak Akbar dan menarik tangan Alin agar berjalan dengan cepat.
Rania mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka kalau teman sekolahnya itu akan melakukan hal ini. Belum juga Rania mengeluarkan kata-katanya, Rain sudah berdiri di samping Rania dan merangkul pinggangnya.
"Ada urusan apa kamu dengan kekasihku?" tanya Rain dengan nada datarnya.
"A-pa maksudnya Ra-nia itu kekasihmu?" tanya Charles.
Rania yang masih ngambek sama suaminya, hanya memasang wajah datar. Tidak ada tanggapan apapun dari gadis blasteran bule itu.
"Iya, kita adalah pasangan. Sebaiknya jangan ganggu Rania lagi," jawab Rain.
Lalu Rania dibawa oleh Rain. Meski kesal dan memasang wajah cemberut Rania tidak melawan saat Rain membawa pergi dirinya.
"Alin, Sayang. Ayo, kita nonton filmnya di bioskop yang ada di rumah saja," kata Raihan yang berdiri langsung dihadapan Alin.
"K-kak I-an?" Alin mendadak pucat wajahnya saat tiba-tiba saja ada suaminya di sana.
Tatapan Raihan begitu tajam pada Akbar yang sudah berani menggandeng tangan istrinya. Alin pun dengan cepat melepaskan tangannya dari genggaman tangan Akbar.
__ADS_1
"Maaf ya, teman-teman! Aku nggak jadi nonton di bioskop bersama kalian. Aku mau nonton di rumah saja dengan kekasihku," ujar Alin sambil merangkul lengan suaminya.
"Ayo, Kak! Bukannya tadi mengajak nonton di rumah," ajak Alin sambil berusaha menarik tubuh suaminya.
***
Melihat Raihan yang diam saja dan tidak berbicara, menandakan kalau saat ini dia sedang marah atau kesal. Hal itu membuat Alin berusaha keras agar bisa kembali lagi mood-nya dengan cara merayunya. Banyak kata-kata manis keluar dari mulut Alin agar Raihan bisa tersenyum kembali.
"Kak Ian, kamu jangan marah atau cemburu karena bagiku tidak ada laki-laki yang setampan, sekeren, sehebat, dan sebaik Kakak. Jadi, jangan marah, ya?" Alin menatap Raihan dengan tatapan mata puppy eyes.
"Awas kalau ketahuan lagi jalan bareng laki-laki lain, aku akan beri kamu hukuman yang sampai kapan pun tidak akan pernah kamu lupakan," balas Raihan sambil mencubit kedua pipi Alin.
***
Rayyan dan Asiah kini sedang berada di Bali. Sudah satu bulan mereka pergi berbulan madu. Mereka mengira kalau acara bulan madu pastinya akan diisi kesenangan dan kebahagiaan dalam menjalani. Namun, nyatanya tidak. Sifat pencemburu Asiah sering muncul hanya karena ada seorang wanita yang menatap Rayyan dengan begitu lama atau para gadis yang tiba-tiba saja bertabrakan dengan suaminya.
"Sudah dong, Sayang. Jangan keterusan ngambeknya. Aku salah apa?" tanya Rayyan pada Asiah yang tiba-tiba marah padanya.
"Aa tidak tahu kesalahan apa yang sudah dilakukan?" Asiah menatap Rayyan dengan sengit lalu mendorong tubuh suaminya dan jatuh atas kasur.
"Aku tidak tahu, Sayang." Rayyan membelai pipi Asiah dengan lembut.
"Aa, sudah tebar pesona pada banyak wanita!" balas Asiah yang kini menduduki tubuh suaminya.
"Kapan aku tebar pesona?" tanya Rayyan dengan wajahnya yang polos.
"Sejak di pantai, lalu di restoran, dan terakhir di lobi hotel," jawab Asiah yang wajahnya yang galak.
"Ya Allah, Sayang ... aku tidak melakukan apapun pada mereka. Tersenyum saja enggak. Kenapa aku dimarahi?" Rayyan memijit kepalanya yang mulai pusing.
"Pokoknya, aku akan mengurung Aa di kamar!" ancam Asiah.
***
Rasa cemburu mulai merasuki hati mereka baik secara sadar ataupun tidak. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk tambah penyemangat buat aku 🤗🤗.
Sambil menunggu Rayyan dan Asiah up bab berikutnya. Aku kasih bacaan yang rekomen banget buat teman-teman. Yuk baca karyanya.
__ADS_1