Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 65. Asiah Marah


__ADS_3

     Sulaiman pun ikut duduk bersama mereka di kursi yang ditempati oleh Rain. Dia pun berbincang-bincang bersama si Kembar dan Asiah. Sementara itu, Alin hanya diam saja dan memilih menikmati suasana pesta itu. Apalagi banyak penyanyi ibu kota yang memiliki suara emas hadir di sana, ikut memeriahkan acara pesta.


"Bagaimana kalau kalian juga ikut ke villa keluarga aku, untuk merayakan ulang tahun aku yang ke dua satu," ajak Sulaiman.


"Kapan?" tanya Asiah.


"Bulan depan," jawab Sulaiman.


      Asiah melirik ke arah Rayyan. Dia berharap suaminya juga ikut merayakan ulang tahun sahabat mereka. Namun, Rayyan tidak merespon ajakan Sulaiman.


"Oke," kata Asiah


"Maaf, kami tidak bisa," tolak Rayyan bersamaan dengan Asiah.


"Asiah bener, ya. Kamu ikut merayakan ulang tahun aku," kata Sulaiman.


"Raya, kenapa tidak bisa?" tanya Sulaiman.


     Rayyan dan Asiah saling menatap. Dia tidak menyangka kalau Asiah akan menyetujui ajakan temannya itu.


"Aku ada perlu jika itu bulan depan," jawab Rayyan.


"Ada apa sih, A?" tanya Asiah.


"Bukannya bulan depan itu ulang tahu pernikahan Ayah Yusuf dan Mama Zulaikha?" bisik Rayyan pada istrinya.


"Sulaiman, kamu ulang tahun tanggal berapa?" tanya Asiah.


"Tanggal tiga belas," jawab Pemuda yang murah senyum itu.


"Tuh keburu, ulang tahun pernikahan Ayah dan Mama itu akhir bulan. Ada jeda waktu lebih dari sepuluh hari," ucap Asiah pada Rayyan.


"Aku tidak bisa ikut karena Alin harus sekolah," balas Raihan.


"Tanggal tiga belas kan pas hari Minggu," ujar Sulaiman.


"Hm, ada agenda mingguan," bisik Raihan dan Sulaiman pun tertawa.

__ADS_1


"A, ikut ya?" Asiah mencoba membujuk suaminya.


"Nanti kamu kelelahan," balas Rayyan.


"Nggaklah, kan waktunya agak lama," ucap Asiah.


***


     Rain membawa Rania kembali ke ballroom hotel. Mereka memilih meja baru karena tempat Rain tadi ditempati oleh Sulaiman.


"Kak Rain … Nia, sini!" teriak seorang perempuan pada mereka berdua.


"Chelsea … Kak Mega? Kalian datang ke pesta ini juga?" tanya Rania saat melihat ada sahabatnya sedang duduk manis bersama sepupunya.


"Tentu dong, kan biar bisa bersenang-senang bersama ayang," jawab Chelsea dengan kerlingan mata menggoda kekasihnya.


"Kalian datang terlambat," ucap Rain.


"Iya, justru aku kira kalian tidak akan datang," kata Mega sambil melirik ke arah Rain.


     Seperti tadi, Rain menggeserkan kursi untuk Rania saat gadis itu hendak duduk. Dia pun duduk di sampingnya dan langsung merangkulkan tangannya pada bahu Rania karena laki-laki tadi juga mengikuti mereka ke ballroom hotel dan duduk di meja samping mereka. Dia terus saja melihat ke arah Rania dan membuat Rain kesal.


"Kamu lihat pemuda yang pakai baju silver dan duduk di meja samping?" Rain berbisik.


"Kenapa dengan dia?" tanya Mega sambil berbisik juga.


"Dia terus memperhatikan Nia," jawab Rain.


"Tunjukan padanya kalau Nia adalah milik kamu.


"Caranya?" tanya Rain dengan menatap Mega.


"Pakai otak pintar kamu itu!" titah Mega sambil tersenyum jahil.


      Rain pun memandangi Rania dan memikirkan cara apa yang bisa membuat laki-laki itu sadar diri. Kalau Rania itu adalah miliknya dan jangan mencoba untuk mengusiknya.


"Nia, sepertinya kepala aku sakit sekali," kata Rain sambil berbisik di telinga istrinya agar terdengar olehnya.

__ADS_1


"Apa? Kak Rain sakit! Mau ke dokter atau rumah sakit?" tanya Rania panik dan langsung memegang wajah Rain.


"Tidak perlu. Aku ingin pulang saja ke apartemen dan beristirahat saja," jawab Rain dengan tatapan memohon.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang saja!" Rania berdiri dan merangkulkan tangan Rain ke pundaknya. Sementara dia sendiri merangkul pinggang suaminya.


"Kak Mega … Chelsea, kami pulang duluan, ya!" ucap Rania saat pamit mau pulang.


      Laki-laki itu terus memperhatikan Rania. Setiap mimik wajah dan ekspresi gadis itu dia rekam dengan baik. Dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada Rania tadi. Jantung dia tiba-tiba berdetak kencang. Tubuhnya terasa tersengat listrik saat jari tangan yang halus itu menyentuh pergelangan tangannya saat menahan ujung jilbabnya.


'Nama perempuan itu adalah Nia, ya. Perempuan yang sangat cantik. Laki-laki itu siapanya dia? Apa dia kekasihnya?' tanya laki-laki itu dalam hatinya.


***


      Asiah dan Rayyan saling diam saat mereka pulang dari hotel. Mereka saat ini sedang marahan. Awalnya gara-gara Asiah ingin menghadiri acara ulang tahun Sulaiman, apalagi teman-teman TK dan SD mereka akan ikut hadir juga. Hitung-hitung sekalian reuni.


       Kini pergaulan Asiah sangat dibatasi oleh Rayyan. Dia sangat kesal, gara-gara suaminya itu, dia dikeluarkan dari grup chat teman-temannya saat di London. Bahkan nomor dia diblokir oleh mereka. Sekarang ini dia sudah tidak tahu lagi kabar teman-temannya itu. Bahkan pesan yang mereka kirim buat Asiah sangat menyakiti dirinya. Dia tidak bisa menjelaskan keadaannya saat itu kepada mereka semua. Semua akun sosial media miliknya juga diblokir oleh mereka.


       Asiah kini merasa kesepian, bahkan tidak ada teman untuk diajaknya bercanda dan berbicara selama seminggu ini. Teman-teman di kampus barunya pun baru berupa teman yang saling sapa saja. Belum ada teman yang bisa dia jadikan teman berbagi kisah dan cerita.


      Rayyan melirik ke arah istrinya. Dia tahu kalau saat ini Asiah sedang marah padanya. Dia menolak ajakan Sulaiman karena memikirkan manfaat atau tidaknya acara itu bagi Asiah dan dirinya. Takutnya malah banyak maksiat nanti di sana.


      Asiah langsung turun dan berjalan dengan cepat begitu mobil sudah terparkir di garasi. Dia tidak menunggu atau jalan bareng suaminya. Rayyan pun hanya diam dan berjalan cepat menyusul Asiah.


"Asiah, sekarang ini kamu sudah menjadi seorang istri. Harusnya kamu sudah bisa berpikir dan bersikap dewasa. Tidak baik pergi jauh-jauh hanya untuk merayakan ulang tahun teman laki-laki. Apalagi kalau sampai menginap," kata Rayyan dengan menahan rasa kesalnya.


"Aku merasa kalau sekarang ini tidak punya kebebasan. Rasanya hidup aku terbelenggu oleh dirimu! Apa-apa yang aku lakukan itu harus lapor padamu dan menunggu keputusan dari kamu, apa boleh atau tidaknya hal itu aku lakukan," ujar Asiah dengan nada kesal dan wajahnya sarat akan kemarahan.


"Aku lakukan semua ini demi kebaikan dirimu," ucap Rayyan dengan mata mereka yang saling beradu.


"Kebaikan demi aku dari mananya? Semua teman-teman baik aku kini pergi meninggalkan aku! Mereka sudah tidak mau lagi peduli dengan aku. Setiap orang itu memang punya kelebihan dan kekurangan. Kenapa kamu selalu menilai semua teman-teman aku dengan nilai yang buruk?" teriak Asiah dengan marah.


"Kamu benar, setiap manusia itu punya sisi baik dan buruk. Hanya saja kamu kebanyakan mencontoh mereka dari segi buruknya," pungkas Rayyan dengan tenang masih bisa menahan amarahnya.


***


Teman-teman aku up date-nya slow karena kondisi kesehatan yang sedang drop dari hari kemarin. Aku ucapkan terima kasih pada kalian yang selalu setia menunggu karya aku. Ini yang membuat aku masih bersemangat buat menulis.

__ADS_1


Sambil menunggu Rayyan dan Asiah up bab berikutnya. Yuk baca juga karya teman aku ini.



__ADS_2