
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.
***
Bab 142
Usia kandungan Zulaikha kini sudah masuk lima bulan. Dia sudah tidak ngidam lagi. Namun, kali ini dia sering merasa sakit gigi. Sehingga, dia suka marah-marah, jika ada sesuatu yang membuat perasaannya sentimen. Mendengar suara mesin mobil saja bisa bikin dia marah. Apalagi saat mendengar suara tawa Yusuf yang sedang bertelepon atau video call bersama cucu-cucunya.
"Aang, sudah jangan teleponan terus. Sini, gigi aku sakit!" perintah Zulaikha.
"Giliran aku berteleponan dengan mereka kamu sakit gigi. Tapi, jika kamu yang berteleponan malah asik sendiri sampai lupa dengan sakit giginya," gerutu Yusuf setelah mematikan sambungan video call dengan Zafirah dan Zarfran.
Bab 142
Yusuf pun menghampiri Zulaikha dan memberikan kompresan pada pipinya. Dilihatnya sudah banyak sampah bekas susu murni dan cincau yang dibawakan oleh Rayyan sebanyak tiga bungkus pun sudah habis dimakan.
"Apa masih sakit?" tanya Yusuf sambil menatap istrinya dengan penuh cinta.
"Kalau Aang dekat dengan aku seperti ini tidak sakit. Tapi, jika berada di kejauhan sakit itu datang lagi," jawab Zulaikha dengan manja.
"Wah, berarti aku ini manusia obat, ya?" goda Yusuf sambil memencet hidung mancung milik Zulaikha.
"Kayaknya, bayi kita tidak mau berjauhan dengan Ayahnya," ujar Zulaikha dengan senyum lebar dan mata genitnya.
"Apaan, sih! Masa ingin ditengok terus tiap hari," kata Yusuf mendelikkan matanya.
"Hehehe, dede utun suka katanya," balas Zulaikha.
"Kayaknya, bukan dede utun, deh. Tapi, mamanya yang suka?" goda Yusuf.
"Ih, Aang tidak tahu kalau dede utun itu kan setiap hari ada di dalam perut aku. Jadi, aku pasti tahu apa yang sedang dia rasakan," jelas Zulaikha sambil mengusap rahang suaminya.
"Iya, Sayangku … Cintaku! Aku nanti akan jenguk dede utun lagi," kata Yusuf dan membuat Zulaikha senang.
***
Rania dan Rain sedang pusing mencari anaknya yang hilang. Mereka bertiga entah pergi ke mana.
__ADS_1
"Humaira, Sayangku. Mereka ke mana?" tanya Rain sambil mencari di kolong meja makan dan kursi-kursinya.
"Aku juga tidak tahu, Kak. Aduh, mereka ke mana? Di tinggal ambil makanan ke dapur semua pada hilang," ucap Rania menahan tangisnya.
"Pasti mereka tidak akan jauh dari sekitar rumah," kata Rain menenangkan istrinya.
"Trio F, kalian berada di mana? Ummi nangis, nih!" teriak Rain masuk ke ruang keluarga.
"Gimana, Kak? Ada di dalam sana?" tanya Rania.
"Tidak ada sepertinya. Suara atau tanda-tanda keberadaan mereka tidak terdengar di sini," jawab Rain. Keduanya pun melanjutkan mencari ke ruangan lainnya di dalam rumah.
Ruang makan, dapur, ruang keluarga, ruang tempat bermain, atau paviliun juga tidak ada. Rania sudah menangis tergugu karena sudah hampir 1 jam, anak-anaknya menghilang.
"Kita minta bantuan orang lain saja untuk menggeledah rumah," ucap Rain dan Rania pun setuju.
***
"Sayang, bagaimana bisa mereka menghilang?" Fatih datang dengan napas yang terputus-putus karena dia langsung berlari begitu mendengar ketiga cucunya menghilang.
"Lalu, pintu-pintu di rumah ditutup semua?" tanya Fatih.
"Itu … sepertinya, ada yang tidak tertutup dengan benar," jawab Rain tidak yakin.
"Rain, Apa kamu tidak periksa cctv di rumah kamu?" tanya Alex.
"Itu … Rain lupa menghidupkan lagi, setelah sempat mematikannya kemarin," jawab Rain dan mendapatkan pelototan dari Cantika, sehingga dia mengangkat kedua jarinya di tangan.
"Kita berpencar," lanjut Alex dan mereka berenam pun berpencar mencari di kembar yang baru bisa merangkak. Berdiri saja belum kuat lama.
"Fahima, Sayang. Oma punya permen, nih! Mau … tidak?" teriak Mentari saat berada di dalam ruang tamu.
Terdengar kasak kusuk di bagian pojok ruangan yang terhalang meja kecil. Mentari pun mencari di sebelah sana. Terlihat cucu perempuannya sedang tersenyum lucu padanya. Deretan gigi yang baru beberapa biji tampak menghiasi senyumannya yang menggoda.
"Fahima, cucuku … Sayangku! Sini, Oma akan gendong kamu," kata Mentari mencoba merayu anak paling bungsu dari anaknya Rania dan Rain.
Bayi itu pun merangkak ke luar setelah melihat Mentari mengeluarkan permen di tangan. Fahima merangkak dengan cepat ke arah omanya.
__ADS_1
"Dapat, satu!" teriak Mentari, lalu menciumi pipi gembul Fahima.
Sementara itu, Alex mencari ke teras samping rumah yang berhadapan dengan taman bunga yang sedang mekar. Dia mencari di sekitar taman itu. Terlihat ada beberapa tumbuhan bunga itu bergoyang-goyang. Langsung saja Alex membuka apa yang bergerak di balik kumpulan tangkai bunga itu.
"Ehe … hehe," Fahreza tersenyum senang saat kakeknya itu bisa menemukan dia.
"Tertangkap … kamu, ya!" Alex menggendong cucunya yang tertawa senang.
"Ummi sama Abi kamu cemas mencari kalian. Ini malah enak-enak main sendiri di luar," kata Alex bermonolog dan ditanggapi ocehan tidak jelas dari Fahreza.
Cantika mencari ke ruang kerja Rain yang ada di lantai bawah. Meski ruangan ini tidak di masuki setiap hari, ada kemungkinan cucunya masuk ke sana. Apalagi pintunya terbuka sedikit. Cantika pun menyalakan lampu ruangan itu.
"Sayang, nenek bawa mainan dan makanan yang enak, nih! Mau nggak?" kata Cantika sambil berkeliling mencari keberadaan cucunya.
Terdengar suara sobekan kertas dari arah kolong meja kerja. Lalu, Cantika pun mencarinya ke sana dan terlihat Fairel sedang merobek-robek kertas dengan anteng. Robekan kertas itu sudah banyak berserakan di lantai.
"Sayang, sedang apa?" Cantika pun menggeser kursi dan berjongkok di depan si sulung.
"Ehek." Bayi itu malah tertawa sambil mengangkat tangannya yang memegang kertas.
"Yuk, ikut nenek! Ummi sama Abi kamu khawatir karena kalian tiba-tiba menghilang," ucap Cantika sambil menjulurkan kedua tangannya dan di sambut oleh bayi itu dengan tawa riang.
Cantika mengendong Fairel dan membawanya keluar dari kolong meja. Bayi itu menurut tidak melakukan pemberontakan seperti biasanya , jika sedang asik bermain tidak mau di ganggu.
"Nia ... Rain, mama sudah menemukan si sulung!" ucap Cantika begitu keluar dari dari ruang kerja.
"Terima kasih, Ma. Ya Allah, Sayang. Kamu buat ummi khawatir, berkeliling rumah tidak ketemu. Tapi, kakek dan nenek langsung bisa menemukan kalian," kata Rania sambil menciumi pipi putranya.
"Lain kali, pintu harus di tutup. Apalagi pintu yang menuju ke luar rumah. Bahaya kalau ada apa-apa. Lihat, tadi papa menemukan Fahreza di taman bunga. Bagaimana kalau dia sampai tercebur ke kolam dan kalian tidak mengetahui atau terlambat tahu," ucap Alex mengingatkan anak dan menantunya.
"Iya, Pa. Maafkan kami yang sudah teledor," balas Rain dan Rania dengan penuh penyesalan.
***
Mendekati bab terakhir kasih dukungan pada aku, biar lebih semangat! Apakah bayi yang akan dilahirkan oleh Zulaikha itu laki-laki atau perempuan? Tunggu kelanjutannya, ya!
***
__ADS_1