
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.
***
Bab 124
Rania pergi ke kamarnya setelah bicara dengan semua orang. Garis kesedihan masih terlihat di wajahnya yang sendu.
"Maafkan aku, Ya Humaira," lirih Rain sambil memeluk secara tiba-tiba dari belakang.
Betapa terkejutnya Rania saat tiba-tiba suaminya memeluk dirinya. Kalau dulu pastinya dia akan merasa senang dan balik memeluk tubuhnya. Namun, saat ini dia tidak merasakan hal itu.
"Lepaskan aku!" bentak Rania.
"Nia, aku mohon sebentar saja. Aku sangat merindukan kamu. Bukannya kamu tahu sendiri aku tidak bisa jauh dari kamu. Betapa tersiksanya aku selama ini," kata Rain sambil menghirup wangi tubuh istrinya.
"Kalau tidak mau lepas sekarang juga. Selamanya aku tidak akan memaafkan kamu!" desis Rania dan sukses membuat Rain melepaskan pelukannya.
"Kenapa kamu begitu kejam kepadaku, Nia? Aku juga sedih dengan kehilangan calon bayi kita itu," ucap Rain.
"Aku menyesal … aku menyesali semua yang pernah terjadi pada diriku," ucap Rania masih memunggungi Rain.
"Mak-sud kamu?" tanya Rain tergagap.
"Aku tidak mau bicara lagi dengan kamu. Pergilah!" balas Rania dan melangkah hendak ke kamar mandi.
"Apa kamu menyesal dengan pernikahan kita ini?" tanya Rain dengan tatapan nanar melihat punggung Rania.
"Semuanya! Semuanya! Bahkan aku pun menyesal sudah mencintai kamu!" teriak Rania.
Rain tidak bisa berkata apa-apa. Hanya air mata yang lolos keluar dari matanya. Dia pun membalikkan badan dan pergi dari kamar Rania.
"Kamu jahat, Kak!" Rania menangis tergugu.
__ADS_1
***
Lima tahun kemudian.
Selama ini Rain tidak pernah mendapat kabar dari Rania. Bahkan dia tidak diberi tahu di mana keberadaan istrinya itu. Alasannya biarkan Rania menenangkan dirinya dan memuntut ilmu dengan tenang.
Jika, rasa rindu melanda diri Rain, maka dia akan mendatangi rumah mertuanya dan tidur di kamar istrinya. Hal ini bisa mengobati rasa rindu padanya. Bahkan dia sering bermimpi bertemu dengan istrinya.
"Nia, aku sangat merindukan kamu," ucap Rain sambil mengelus pipi mulus dan lembut kesukaannya itu. Tubuh mereka saling menempel karena berpelukan.
"Aku juga merindukan kamu, Kak," balas Rania.
"Kalau begitu pulanglah!" titah Rain.
"Tidak bisa. Aku harus menjadi wanita hebat dulu agar pantas bersanding dengan diri kamu, Kak," kata Rania menolak.
"Kamu hanya perlu menjadi diri kamu sendiri," bisik Rain sebelum mencium lembut bibir milik Rania.
"Percayalah hanya kamu yang aku cintai, tidak ada wanita lain," ucap Rain sambil membelai wajah Rania.
"Ya, aku percaya. Kalau Kakak selalu menjaga hati ini untuk aku," balas Rania dan mengambil tangan Rain yang ada di wajahnya. Tangan lebar itu diciumi olehnya.
Kening Rania dicium dengan lembut oleh Rain. Lalu, hidung mancungnya, dan kedua pipi yang kini terlihat agak tirus.
Lagi-lagi Rain tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Rania. Kebiasannya di dunia nyata terbawa sampai ke dunia mimpi. Dia mencumbu Rania dengan lembut penuh kehati-hatian.
Melodi-melodi indah keluar dari mulut Rania yang membuat Rain juga semakin bersemangat. Rasa cinta, rindu, dan sayang dia tumpahkan dalam mimpinya ini.
Jam 03.30 dini harinya Rain bangun dan melihat ke sekeliling. Sepi tidak ada siapa-siapa. Wanita yang dicintainya pun tidak ada, yang tersisa hanya wanginya saja. Bagi Rain mimpi itu selalu terasa nyata dan benar-benar sudah terjadi.
Sementara itu, di kamar Mentari dan Fatih. Ada tiga orang yang tidur di atas kasur, yaitu Fathir, Mentari, dan Rania.
"Aduh, ini bocah kalau tahu suaminya mau menginap di sini sibuk minta di jemput. Sudah lelah melayani, cepat-cepat pindah ke sini," gerutu Mentari yang merasakan tubuhnya di peluk dari belakang oleh putrinya.
__ADS_1
"Ahk, Bunda jangan ikut-ikutan meledek Nia. Cukup kak Raya saja yang meledek. Bunda harusnya dukung Nia," ucap Rania masih asik memeluk dan menempelkan muka dia di punggung ibunya.
"Jangan lupa di KB, nanti panik kayak dulu, takut hamil," goda Mentari.
"Nggaklah sekarang kan sudah pintar dan tahu. Kalau dulu itu kan tanpa persiapan. Tahu-tahu Kak Rain mengajak bercinta. Lucu juga dia selalu mengira kalau itu cuma mimpi," bisik Nia malu-malu.
"Iya … iya, sampai kamu panik karena kesulitan berjalan," kata Mentari sambil terkekeh teringat kejadian empat tahun yang lalu.
Muka Rania merona merah karena mengingat kembali saat dia menemui Rain yang sedang tidur di kamarnya. Niatnya hanya mau melihat saja, tetapi Rain bangun dan menyangka sedang bermimpi bertemu dengan dirinya. Rasa cinta dan rindu yang memuncak dalam diri Rania setelah tidak bertemu selama satu tahun. Membuat dia lupa diri dan mereka akhirnya bercinta sampai merasa puas. Gen keluarga Green dalam diri Rain dan Rania menguasai setiap syaraf dalam tubuh mereka. Efeknya, dia menelepon ayahnya untuk membawa keluar dari kamarnya karena takut Rain menyadari kalau itu bukan mimpi tapi kenyataan. Sejak itu, jika Rain menginap di rumah orang tuanya, maka Rania akan tidur bersamanya.
Kenapa Rania tidak kembali saja bersama Rain dan tinggal bersamanya? Itu karena masih kesal dan dia juga harus kuliah. Apalagi dia banting stir dari anak IPS masuk ke fakultas kedokteran.
Rania ingin menjadi dokter kandungan seperti Zahra. Dia mau melanjutkan tanggung jawab yang dulu dipegang oleh istri pertama ayahnya. Keluarga Hakim sengaja membuat Rumah Sakit Bersalin Harapan khusus ibu dan bayi untuk menantu mereka dulu. Sekarang rumah sakit itu dipegang oleh orang lain dan dalam pengawasan Ghazali. Padahal tempatnya berbeda dan lumayan jauh.
***
"Mega, kamu dengar tidak yang aku bicarakan barusan?" tanya Rain dengan sedikit kesal karena sepupunya itu malah sibuk dengan handphone miliknya.
"Iya aku dengar. Kalau kamu mimpi lagi bertemu dengan Rania. Terlihat sekali dari wajah kamu begitu masuk ke ruangan aku. Wajah berseri dengan senyum lebar kamu. Sudah bisa dipastikan kalau kamu sudah melepaskan rasa rindu pada istri kamu," jawab Mega dengan kesal. Setiap sepupunya datang pasti mengajaknya curhat selama berjam-jam.
"Hehehe, Nia terlihat semakin cantik dan dewasa meski dalam mimpi. Aslinya apa seperti itu juga, ya?" Rain tersenyum sambil membayangkan istrinya.
"Kalian itu pasangan yang aneh," gumam Mega.
"Itu karena kalian semua tidak memberi tahu aku di mana Nia sekarang ini!" Rain menatap sebal kepada sepupunya itu.
"Mega!" pintu kantor tiba-tiba terbuka dengan lebar.
"Satu lagi datang pengganggu!" lirih Mega meratapi nasibnya tidak bisa sayang-sayangan dengan kekasihnya yang baru saja pulang dari Amerika sebulan yang lalu.
***
Apakah Rain akan bertemu dengan Rania dalam keadaan sadar? Siapa yang datang itu? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1